Suddenly

Suddenly
Become a Stranger



Jadi orang itu bukan, Kai?


Lalu, siapa?


Tidak ingin merusak suasana jika aku terdengar seperti membahas yang tidak-tidak.


Ken dan Kai, menghidupkan suasana. Tetapi, aku justru bertaut dengan pikiranku.


“Kenapa, dia?” bisik Ken pada Kai.


“Entahlah, aku tidak yakin.”


“Apa kau tahu soal kertas itu?” bisik Kai.


“Kertas?”


“Katanya itu dariku. Tetapi itu bukan aku.”


“Jadi kau orang yang membuatnya kecewa malam itu?” bisik Ken dengan mencengkeram bahu Kai.


“Kau tahu soal itu?” Kai melepas cengkeraman itu.


“Harusnya aku sudah memukulmu. Kenapa kau meninggalkannya?”


“Maafkan aku, hanya waktunya kurang tepat.”


“Itu kesalahanmu. Kenapa kau menyalahkan waktu?”


“Maafkan aku, hanya itu yang bisa kukatakan.”


“Hei, kau!” Ken mencengkeram bahu Kai lagi.


“Hei, berhentilah! Kertas itu membuatku khawatir,” suara Kai semakin lirih. Takut Sky akan mendengarnya.


“Dia datang di hari itu karena kertas yang kau maksud? Apa isi kertas itu?” tanya Ken.


“Wah, kau cepat sekali menangkap maksudku sebelum aku mengatakannya.”


“Aku tidak tahu apa isinya.”


“Kau dan aku akan bertemu, apakah seperti itu?” ucap Ken dengan masih berbisik.


Ken dan Kai berpindah tempat agar Sky tak mendengarnya. Mereka berbicara di balkon dengan pintu yang tertutup.


“Bagaimana kau tahu isi kertas itu akan seperti itu?”


“Aku hanya mencoba untuk menebak.”


“Jika seperti itu, itu membuatku kesal. Siapa orang itu? Bisa-bisanya mendekatinya dengan cara norak seperti itu.”


“Apa itu norak? Kupikir itu tidak.”


“Apa kau sepertinya? Itu benar-benar norak. Saat kau menyukai seseorang. Katakan dengan benar. Bukan seperti itu. Ah, bukan norak tetapi menakutkan.”


“Menakutkan?”


“Seperti seorang penguntit.”


“Hei, Sky mengatakannya padaku kalau kau mengikutinya. Kau mengatakan orang itu penguntit tapi kau sendiri…”


“Orang itu benar-benar penguntit yang sesungguhnya.”


“Ah, tidak. Orang itu hanya tipe orang yang tidak berani untuk mengatakan secara langsung.”


“Kau membelanya? Jelas-jelas itu bisa membahayakan Sky. Kau dan aku harus menjaganya.”


“Tidak. Aku hanya berpikiran positif saja tetapi ucapanmu juga tidak salah. Kau juga, jangan lagi mengulang kesalahan yang sudah kau perbuat sebelumnya.”


“Tidak akan.”


“Tapi, Ken…”


“Apa lagi?”


“Itu sedikit mengusikku. Orang itu…”


“Sekarang kau jadi tidak percaya diri? Hei, Adikku tidak seperti itu. Justru kaulah yang membuatku khawatir.”


“Kenapa kau selalu berprasangka buruk padaku?”


“Kau terlihat seperti itu.”


“Wah, kau seperti musuh dalam selimut.”


Kai melanjutkan ucapannya. “Bukan Sky tapi orang itu.”


“Tidak akan terjadi apa-apa dengan orang itu,” Ken meninggalkan Kai yang masih berkecamuk dengan pikirannya.


Dua orang yang telah menghidupkan suasana itu seketika menjadi sunyi. Ken tidur lebih cepat. Kai melamun sampai tak ada satu pun suara yang menembus telinganya.


Ken tidur di sofa dan Kai tidur di matras yang ia bawa sendiri.


“Kai, kau sudah tidur?”


“Kai!”


“Ada apa dengannya?”


“Selama tidur,” Sky mematikan penerangan dengan sorot matanya yang tak berpaling pada Kai.


Tidak seperti Kai yang kutahu atau memang tak pernah tahu bagaimana dia di tengah malam.


Rasanya tidak ingin terlelap. Besok juga hari sabtu. Kupikir malam ini akan bersenang-senang bersama mereka. Marathon film misalnya, meski itu mauku atau berbagi kalori dengan memakan camilan di tengah malam? Sayangnya mereka sepertinya tidak menginginkan itu.


“Selamat tidur,” kupastikan kembali apa mereka benar-benar tidur.


“Kai…”


“Ken…”


“Baiklah, selamat tidur.”


“Hmm?”


“Kai, kau belum tidur?”


“Kira-kira orang itu siapa? Apa tujuannya? Dia tidak mungkin berniat buruk, kan?”


“Siapa yang kau maksud?


“Lupakan. Selamat tidur, Sky.”


“Hei, apa kau marah?”


“Marah karena kertas itu?”


“Sebenarnya tanpa kertas itu, aku pasti datang mencarimu.”


“Kai…”


“Hei, Kai!”


Terdengar suara Ken yang mendengkur. Tidak ada jawaban dari Kai.


“Kai!”


“Kau benar-benar marah?”


“Tidurlah, ini sudah malam.”


“Ini sudah pagi, Kai.”


“Belum terlalu pagi, tidurlah.”


“Tapi kau masih marah.”


“Itu aku bukan kau.”


“Tapi kau juga bagian dari aku. Kalau kau marah berarti ada hubungannya denganku. Kau sedang meragukan perasakanku, Kai? Dan itu yang membuatmu marah?”


“Siapa juga yang meragukan perasaanmu. Bahkan itu tidak ada dipikiranku.”


“Tapi kau terlihat seperti itu. Kau memikirkan momen yang sedang terjadi. Seperti memikirkan aku yang datang pada seseorang yang salah.”


“Apa itu yang ada dipikiranmu, Sky?”


“Setidaknya katakan tentang perasaanmu yang mengganjal itu padaku agar aku juga tidak bertanya-tanya.”


“Haruskah aku mengatakannya?”


“Karena kau dan aku telah menjadi kau dan aku. Itu yang kau bilang padaku, Kai.”


“Siapa bilang semua hal yang ada padaku semuanya bisa kau dengar, aku tidak mengatakan itu. Kau melewati batas, Sky.”


Tak kusangkah. Pagi yang masih terlalu dini itu menjadi saksi pertengkaran pertamaku dengan Kai.


“Baiklah, kalau itu maumu.”


“Apa kau ingin mengakhiri?”


“Apa maksudmu, Kai?”


“Bukankah kau kecewa karena orang itu bukan aku?”


“Apakah aku mengatakan kekecewaan itu padamu?”


“Baiklah, berakhir sudah.”


“Apa maksudmu berakhir sudah? Kau dan aku, maksudnya?”


“Iya.”


“Tidak semudah itu, Kai.”


“Kau yang memulai pertengkaran ini, Sky.”


“Aku minta maaf, Kai. Selamat tidur.”


“Sky…”


Sial!


Ada apa dengannya?


“Dasar kekanak-kanakan,” suara Sky lirih.


“Aku mendengarnya,” suara Kai tepat di telingaku.


“Hei!” bukan suara Kai yang tiba-tiba mengagetkanku tetapi sikapnya yang tidak bisa kutebak usai pertengkaran yang terjadi…itu yang membuatku lebih kaget.


Cup!


“Maafkan aku,” bisiknya dengan mengecup di pipi kananku.


Cup!


Kai mengecup lalu dagunya dibiarkan tetap menempel di pipi kananku. Tangannya menyentuh kepalaku perlahan.


“Maafkan aku,” bisiknya lagi.


Tangan kanannya menyentuh dahiku seolah sedang mengecek suhu tubuh. “Kau demam?” ucapnya.


“Tidak.”


“Maafkan aku,” Kai akan mengatakannya berulang kali sebelum mendengar ucapan yang keluar dari mulutku.


“Ya.”


“Hei, aku sedang tidak memberimu pertanyaan dengan jawaban ya atau tidak.”


“Tidurlah, Kai.”


“Kau demam, Sky.”


“Tidak.”


“Ah, ucapan Ken benar. Apa kau selalu seperti ini? Maafkan aku, justru aku yang nyatanya memulai pertengkaran yang terjadi.”


“Tidurlah, Kai!”


“Baiklah, kita bicarakan besok.”


“Ya.”


“Selamat tidur, Sky.”


Pukul 12 siang.


Ken dan Kai masih dengan suara dengkuran yang saling beradu.


Tidak kutemukan obat penurun panas pada persediaan obat-obatan yang kumiliki.


Ingus di kedua lubang hidungku serasa ingin terjun seperti rintik hujan yang menetes di permukaan.


Membangunkan Ken sama saja membangunkan singa yang meraung.


Membangunkan Ken membuatku kesal karena kejadian yang berlangsung beberapa jam yang lalu.


Apotek juga tak terlalu jauh bahkan begitu dekat.


“Kau flu lagi?” ucap Kak Grace yang menyadari kehadiranku.


“Iya, hehe.”


“Baiklah, yang kau butuhkan akan segera disiapkan.”


“Sepertinya ini yang kau butuhkan?”


“Hei, jangan mengodanya! Dia sudah punya pacar.”


“Baiklah, aku akan mengambilnya satu kotak.”


“Tidak. Kau tidak perlu itu, Sky. Dia Adikku, maafkan aku.”


“Haha, tidak apa aku akan membelinya.”


“Hei, jangan lakukan itu lagi!” Kak Grace dengan kedua matanya yang tajam menatap ke arah laki-laki itu.


“Totalnya…”


Laki-laki itu menepis tangan Kakaknya sendiri. “Ini gratis kau tidak perlu membayar,” itu yang diucapkannya padaku.


“Kau sudah gila, ya. Sudah kubilang jangan menggodanya!”


Struk obat yang hampir melayang itu sudah berada di tanganku. “Ini Kak Grace, terima kasih.”


Ponselku benar-benar berisik. Tak ada henti-hentinya berdering. Hanya melihat sekilas pada layar ponselku dan tidak ingin melihatnya lagi.


“Eh, tung—gu…”


Sontak membuat langkah kakiku terhenti. Meski memakai earphone, lagi-lagi tidak mungkin tidak mendengar.


“Iya, kau memanggilku?”


Laki-laki itu, Adik Kak Grace.


“Hai…,” ucapnya.


“Eh, hai…”


“Aku baru saja pindah, kau tinggal di unit berapa?” tanyanya.


“Oh…”


“Sebelas.”


“Ah, baiklah.”


“Kau ada di unit berapa?” tanyaku yang tidak enak juga jika tidak bertanya.


“Delapan. Terima kasih, sudah bertanya.”


“Oh, iya.”


“Apa terjadi sesuatu? Kau bertengkar dengan pacarmu? Ah, maaf abaikan saja pertanyaanku.”


“Apa itu terlihat jelas?” sahutku.


“Ah, benarkah? Maafkan aku, apa itu tidak apa? Ya, itu terlihat jelas.”


“Hmm, pertengkaran pertamaku dengannya.”


“Ah, apa kau baru saja…”


“Iya, baru saja.”


“Kupikir itu akan terjadi pada hubungan yang sudah berlangsung lama.”


“Entahlah, bukankah itu tergantung?” seperti biasa orang asing selalu terlihat seolah mengerti perasaanmu dan seolah seperti seorang teman yang kau kenal. Padahal tidak ada kaitannya dengan apa pun.


“Masuk akal juga.”


“Baiklah, aku harus…”


“Ah, iya. Senang berbicara denganmu. Semoga kau bisa berbaikan dengan pacarmu.


“Iya, senang berbicara denganmu. Terima kasih.”


“Eh, tunggu!”


“Iya?”


“Galf.”


“Sky.”


Tak kusangkah bertemu dengan orang asing selain Kai, orang asing yang akan menjadi seru jika perbincangan itu tetap berlangsung dan dunia tiba-tiba menjadi sempit.


Tit…tit…tit…


“Sky…mmbbpphh…”


“Kau membuatnya marah?” bisik Ken dengan tangannya yang masih menutup mulut Kai.


“Mmbbbph…”


“Kau membuatnya marah?” baru Ken melepasnya.


“Iya,” dengan kepala yang tertunduk.


“Kau tahu apa yang sedang Sky lakukan?” bisik Ken dengan hati-hati.


“Tidak tahu.”


“Dia sedang menganti passwordnya.”


“Benarkah?”


“Apa yang kau lakukan padanya? Kalau dia sudah melakukannya, itu artinya di antara kau dan aku tidak akan pernah bisa masuk dengan mudah.”


“Kau tidak ingat apa yang terjadi di liburan beberapa bulan yang lalu?” Ken melanjutkan.


“Ken, apa yang harus kulakukan?”


“Itu ulahmu. Kau yang harus membujuknya.”


“Baiklah.”


“Hei, kalau sampai melakukannya lagi tidak akan kubiarkan kau lolos. Mengerti!”


“Tidak akan kulakukan.”


“Karena itu kau, itu tetap membuatku ragu.”


“Ken! Kau tidak ingin memperkeruh suasana, kan?”


“Dia tidak akan melakukannya padaku.”


Tap…tap…tap…


“Ken, pulanglah! Ayahmu menghubungiku berulang kali. Kau pasti tahu, kan? Kalau aku tidak…”


Kai melirik ke arah Ken, seolah Kai puas mendengar apa yang terjadi.


“Kau juga. Kau punya tempat tinggal.”


Giliran Ken yang melakukan yang Kai lakukan padanya.


“Sudah kubilang kau demam, kan? Kau berbicara dengan siapa? Kau dari apotek, kan?” ucap Kai.


“Orang asing.”


“Sky, kau tahu…dia benar-benar penguntit. Kai mengikutimu dan berlari saat kau sudah mendekat,” jelas Ken.


“Tunggu apa lagi, bukankah kalian harus pergi?”


Ken dan Kai saling melempar tatapan.


“Sky…”


“Sky…”


BRAK!


...***...