Suddenly

Suddenly
End of the Day



‘The Day Our Eyes Met’, nama itu masih tetap sama meski bertahun-tahun telah berlalu.


Jeff menghampiriku begitu tahu kehadiranku yang hanya berdiri memandangi tulisan itu.


“Hei, apa yang terjadi…kau membawa koper?” Jeff membawa koperku turut masuk, ia mengomel karena aku tidak langsung masuk.


Cuaca yang tak menentu membuat hawa di luar juga mulai terasa tidak enak. Angin yang kencang, terkadang hujan turun, dan terkadang terlalu panas untuk keluar rumah. Rentang terserang flu sepertiku saat ini.


“Wah, kau flu lagi?” tanyanya berulang kali, sepertinya…dari mulutnya bergerak. Selain tidak fokus. Entahlah, rasanya saat ini tidak semuanya bisa kucerna dengan keadaan yang tidak fokus.


“Sky?”


“Kau…baik-baik saja?”


Suaranya memang terdengar tapi entahlah.


Suara gelas yang menyentuh permukaan meja ada di hadapanku. Jemari tanganku menyentuhnya. “Panas!” di dalam gelas itu ada minuman berwarna terang tapi tak begitu terang juga. “Jahe,” ucapku.


“Hei, kau tahu itu jahe tapi kau sama sekali tidak fokus pada dirimu sendiri. Kau harus menghabiskannya, mengerti?”


“Iya, baiklah.”


“Panggil aku jika kau butuh sesuatu,” Jeff yang tampak sibuk karena malam itu toko buku ramai pengunjung.


Jeff baru saja meninggalkanku beberapa detik, dia menghampiriku. “Hei, apa yang terjadi…kau mau ke mana dengan koper itu?”


“Hmm, entahlah. Hehe…”


“Apa itu soal Kai atau yang lainnya?”


“Yang pasti…”


“Baiklah, aku tidak akan memberi tahu Kai,” Jeff sudah pasti tahu maksudku.


“Terima kasih, Jeff. Kau tahu maksudku.”


“Tapi, kau mau ke mana?”


“Ibuku.”


“Hah, kau yakin akan ke sana?”


“Hanya mencobanya. Mungkin percobaan terakhir.”


Jeff menyadari sesuatu. “Ah, besok ulang tahunmu. Bukankah di tahun sebelumya kau juga pernah mencobanya?”


“Iya, justru itu yang membuatku ingin mencobanya. Tapi, mungkin aku tidak akan menaruh ekspetasi apa pun.”


“Kalau kau tidak menaruh ekspetasi apa pun, sudah cukup menjamin kau bisa menerima kenyataan?”


“Hmm, setidaknya versi diriku yang sekarang jauh lebih baik. Bukankah seperti itu? Kau pasti tahu bagaimana aku.”


“Iya, kau memang jauh lebih baik. Tapi…kau tidak lelah, Sky?”


“Bukan hanya lelah tapi sudah muak…”


“Entalah, Jeff. Pikiranku juga kacau. Rania bersama Kai…”


“Wah!” ekspresi muka Jeff berubah saat aku baru saja menyebut nama Rania.


“Kau tahu, aku sudah memperingatkan soal Rania pada Kai. Aku tahu Kai tidak mungkin menyakitimu dengan alasan Rania. Kecuali kalau kau tengah mengabaikannya.”


“Kau lebih lama mengenalnya daripada kau mengenalku, Jeff. Kau percaya takdir? Dunia serasa semakin sempit.”


“Ya, kau benar. Kau dan Kai, orang-orang kepercayaanku. Entahlah, percaya tidak percaya. Kau benar sudah yakin, Sky?”


“Kalau hasilnya akan sama. Aku akan datang padamu, Jeff.”


Sky memberi pelukan hangat seperti biasa Jeff memelukku erat seolah tidak ingin melepasku. Dalam situasi yang buruk, aku selalu datang padanya.


“Hubungi aku…aku pasti datang padamu,” ucap Jeff dengan melambaikan tangan padaku.


“Pasti,” membalas lambaian tangan itu.


Kai yang ada di hadapan sekarang ini justru seperti tak terlihat di mataku, tertutupi dengan bayang-bayang Rania yang masih terus menatapku dengan tatapannya yang memintaku uda menyerah.


“Rania…”


“Kehadirannya membuatku…”


“Melihatmu menjadi orang lain, Kai.”


Kai terdiam dengan kaki yang melangkah mundur.


Apa artinya?


Kakinya melangkah mundur.


Pukul 9 malam. Jantungku berdetak sekencang itu dengan pikiranku yang campur aduk.


Sky masuk dengan hati-hati.


Suasana rumah tetap sama sunyi dan membuatku selalu tidak nyaman meski pernah tinggal cukup lama dan kembali beberapa saat tetap saja bagiku itu bukanlah rumah yang sesungguhnya.


Baru melangkah beberapa langkah Ibu dan Keen sudah di hadapanku. Sepertinya mereka selalu memantau CCTV.


Sedangkan Keen hanya menatap tajam ke arahku dah melihatku seolah aku adalah sampah yang tengah mengotori lantainya.


“Aku hanya perlu bicara dengan Ibu.”


“Ah, seperti tahun-tahun sebelumnya. Kau tidak menyerah juga, ya? Baiklah,” Ibu memberi kecupan pada Keen sebelum Keen pergi, entah pergi ke arah luar dengan menatapku dengan tatapan…menjijikan?


“Kenapa dia selalu memberiku tatapan seperti itu?”


“Karena kau tak pernah menghormatinya,” jawab Ibu.


Ibu menatapku dengan seksama. “Bicaralah,” ucapnya.


“Aku bertemu dengan Ayah…”


“Lalu?”


Ibu terlihat tenang seperti tidak peduli tapi entah apa yang ada di lubuk hatinya.


“Tapi tidak juga,” Sky melanjutkan ucapannya.


“Sudah kuduga akan seperti itu. Kau selalu buang-buang waktu, Sky. Kau tidak ingin berganti nama? Namamu itu dari Ayahmu.”


“Ini untuk Ibu…,”Sky memberikan sebuah kotak berwarna merah.


“Dari ayah.”


Sepulang dari kampus ada paket di depan pintuku. Kupikir adalah paket yang kubeli ternyata…


Ayah mungkin datang atau dengan perantara orang lain, entahlah.


“Kenapa tidak dibuang saja?” raut wajah Ibu langsung berubah.


“Siapa tahu…”


“Sudah tidak ada lagi, sudah selesai. Kau buang-buang waktu, Sky. Kau datang ke sini hanya untuk itu?”


“Besok ulang tahunku, Bu.”


“Lalu?”


“Ibu tak ingin melewatkan waktu bersamaku?”


“Untuk apa? Bukankah sudah berakhir juga?”


“Bu, tak bisakah hanya melewatkan waktu di setiap ulang tahunku? Setelah itu sama-sama menjadi orang lain.”


“Bukankah kau tidak menyukai apa pun itu tentang perayaan ulang tahun? Kau benar-benar marah akan itu.”


“Iya, aku tahu. Tapi, aku ingin mencobanya.”


“Mencobanya? Lupakan semua omong kosongmu itu! Adanya kau di hadapan Ibu…sudah cukup membuat Ibu muak.”


“Bu ini aku bukan Ayah. Mengapa Ibu selalu melihatku seperti Ibu melihat Ayah?”


“Karena kau bukan anak Ibu lagi, kau belum mengerti ucapanku?”


“Tapi tetap saja masih ada diingatan Ibu, bukankah seperti itu, Bu?”


“Pergilah! Sebelum aku mengatakan yang lebih dari yang kau dengar sebelumnya.”


“Bu, bukankah itu juga membuatmu lelah dengan hidup seperti ini? Aku tidak membenci Ibu. Bagaimana aku bisa membenci Ibuku sendiri. Aku juga tahu, apa yang diucapkan Ibu tak sepenuhnya seperti yang Ibu inginkan.”


“Pergilah! Apa yang kau pikirkan tak seperti apa yang kau bayangkan. Kau mengerti maksudku? Saat ini kau sedang melihat kenyataan yang tengah ada di hadapanmu.”


“Bu…”


“Pergilah!”


Langkah kaki Kai tetap pada jarak yang sama. “Aku tidak pernah merayakan ulang tahunku, aku tidak pernah menyukainya.”


“Kenapa kau tidak menyukainya?” tanya Kai.


“Bukan waktuku untuk menjawab, Kai. Kau sudah memberiku pertanyaan dan aku telah menjawabnya. Sekarang giliranku untuk memberimu pertanyaan.”


Kai melangkahkan maju.


“Kenapa kau melangkah?”


“Bukankah kau mengatakan sesuai dengan hati dan pikiran?”


“Ah, sudahlah. Lagi-lagi itu hanyalah sebuah permainan,” Sky duduk di sofa. Memejamkan mata dengan kepalanya yang mendongak ke atas.


Kai juga melakukan hal yang sama.


“Mari akhiri saja?” ucap Kai yang tengah bersandar di pundakku.


“Iya, akhiri saja.”


Berakhir sudah, berakhir dengan cepat. Tak seperti hari-hari biasanya.


...***...