
Hujan membasahi permukaan saat kedua kakiku baru saja melangkah.
Hari sudah gelap. Tidak ada siapa pun yang bersamaku.
Seperti tidak ada tujuan selain menunggu hujan reda di hari yang semakin gelap. Pukul 11 malam berada di stasiun.
Ibu selalu tidak ada di rumah setelah kepergian Ayah.
Apa yang terjadi, membuatku pergi dengan sendirinya. Ke rumah temanku atau ke tempat-tempat yang sering kukunjungi.
“Kau menunggu seseorang untuk menjemputmu?”
Seseorang duduk di kursi kosong yang berada di dekatku, hanya berjarak satu kursi di antaranya.
“Apa kau juga?” dia lebih dariku sepertinya tapi orang itu juga tidak setua itu. Belum menginjak angka 20 sepertinya kalau dilihat dari wajahnya.
“Tidak.”
“Hujannya benar-benar parah hampir sepanjang hari.”
“Jika sampai besok,” balasnya.
“Ya.”
“Kau sendirian?” tanyanya.
“Seperti yang kau lihat. Kau sehabis berpergi an atau sehabis liburan?”
“Keduanya.”
“Ah…”
“Kau baru saja kabur?”
Seperti telah tertangkap basah. “Apa itu telihat?”
“Tidak.”
“Bagaimana kau bisa tahu?”
“Karena kau sendirian.”
“Ah, itu alasan klasik.”
“Maksudnya?”
“Semua yang terlihat sendirian bukan berarti tidak ada tujuan.”
“Jadi, kau punya tujuan?”
“Pasti, bukankah hidup harus punya tujuan meski kau tersesat?”
“Wah, apa hidupmu begitu berat? Tunggu…”
“Bukankah kau besok pagi harus sekolah?”
“Ya, besok hari senin…memangnya kenapa?”
“Wah, apa kau selalu seperti ini?”
“Seperti apa kau lihat,” ucapku.
“Sebentar lagi hari berganti dan kau masih di sini? Di mana orang tuamu? Apa kau tidak takut dengan orang-orang yang bisa saja atau bahkan aku?”
“Orang dewasa selalu mengatakannya seperti itu. Tapi bukankah di antara orang baik dan jahat tidak akan mengakui di depan orang lain?”
“Benarkah? Ada yang memberitahu soal itu?”
“Wah, berarti kau belum cukup dewasa meski kau terlihat dewasa,” berbicara dengan orang asing entahlah…begitu menyenangkan.
“Whoaa! Kau baru saja memberiku penilaian?”
“Tidak juga.”
‘The Day Our Eyes Met’, pukul 3 sore.
“Halo, Pak!” sapaku pada Pak Isyo yang kebetulan ada di toko buku.
“Kau tidak kabur lagi, kan?”
“Pak, bukankah ini rumahku yang sesungguhnya?”
“Baiklah, anggap saja rumahmu sendiri. Tapi kau baik-baik saja, kan?”
“Seperti yang Pak Isyo lihat. Terima kasih sudah bertanya. Pak Isyo…,” dengan tersenyum lebar.
“Akan kubiarkan apa yang kau suka,” ucapnya.
“Andai Ayahku seperti Pak Isyo.”
“Bukankah aku sudah menjadi Ayahmu?”
“Iya, tapi tidak bisa memanggil dengan sebutan ‘Ayah’…”
“Anak Pak Isyo memusuhi karena itu, hahaha…”
“Dia hanya menggodamu.”
“Haruskan aku memanggil Pak Isyo, Ayah?”
“Iya, kapan pun kau bisa memanggilku seperti itu.”
“Pak Isyo…”
“Sky, pikirkan kebahagiaan yang ingin wujudkan…itu saja.”
“Iya, Pak Isyo…”
“Bagus!”
“Ah, kau rupanya…si gadis tua itu?”
Sky menoleh ke arah sumber suara di belakangnya.
Keduanya matanya berkedip beberapa kali. Seperti tidak percaya apa yang dia lihat. Sky pikir hanya dirinya yang akan ingat, orang asing yang ia temui tidak akan ingat.
Orang itu ada di hadapanku. “Jeff?”
“Kalian saling mengenal?” Pak Isyo menunjuk ke arahku dan orang asing itu.
“Tidak.”
“Tidak.”
“Hei, Pak Isyo. Kenapa menyebar luaskan julukanku itu?”
“Dia anak dari temanku yang selalu berkeluh kesah sepertimu di toko buku ini dan aku bercerita soal kau sebagai contoh, itu artinya kau luar biasa di mataku di usiamu yang masih muda,” ungkap Pak Isyo.
“Benarkah? Apa yang kau dengar dari Pak Isyo?”
“Itu membuatmu penasaran?” sahut Jeff.
“Tidak.”
Itu adalah pertemuan kedua dan tak kusangkah…itu berlanjut.
Tidak ada tempat lain selain di toko buku.
Sepulang sekolah, selalu ada Jeff dan aku sebelum toko buku benar-benar buka.
Jeff juga mengerjakan tugas kuliahnya di sana begitu juga denganku mengerjakan pekerjaan rumah anak sekolahan yang menumpuk.
Pak Isyo seperti sedang mengadopsi dua anak. Dua anak yang selalu berkeluh kesah.
Pertemuan itu semakin berlangsung. Hampir disetiap harinya. Di momen apa pun selain perayaan ulang tahun.
“Bolehkah hanya mengucapkannya saja? Setidaknya…”
“Hmm…”
“Baiklah, tapi hanya sekedarnya saja.”
“Kau pikir aku akan mangatakan sesuatu yang membuatmu sampai terharu dan…”
“Stop, Jeff!”
“Haha, baiklah. Selamat ulang tahun, Sky. Seperti itu?”
“Ya.”
“Terima kasih, Jeff.”
“Kau benar-benar tidak akan datang ke ulang tahunku?”
“Ya, kecuali kau pacarku.”
“Jadi, kau ingin menjadi pacarku?”
“Aku dan kau? Kita tidak cocok Jeff, hahaha…”
“Wah, kau baru saja menolakku.”
“Ah, apa itu sebuah pernyataan cinta?”
“Kau ingin yang lebih serius?”
“Tidak, simpan saja semua kata-katamu itu untuk seseorang yang tepat.”
“Hahaha, baiklah. Semoga kau juga bersama seseorang yang tepat.”
“Entahlah, apa sebenarnya definisi dari seseorang yang tepat?” ucapku.
“Bersama sampai akhir?”
“Hei, apa pada seseorang yang sama, Jeff?”
“Hmm, kupikir itu akan sulit tidak semua orang bisa seperti itu. Bukankah seperti itu, Sky?”
“Iya, meski telah berusaha. Tidak pernah tahu kapan hati dan seseorang bisa berubah. Apa kau juga akan berubah, Jeff?”
“Wah! Apakah kita sedang meramal masa depan? Entahlah, apa kau juga akan berubah, Sky?”
“Kalau salah satu dari kita berubah. Siapakah orang itu, Jeff?”
“Bisa keduanya. Bukankah aku selalu menjawabnya seperti itu, Sky?”
“Wah, bukankah itu membuatmu takut, Sky?”
“Takut dengan apa yang akan terjadi di masa depan maksudmu?”
“Ya.”
“Hei, Jeff! Di masa lalu, masa depan, dan saat ini…bukankah sama saja? Kau pernah ada di semua masa itu.”
“Tapi bukannya berbeda?”
“Bukankah harus berbeda, Jeff? Kalau seluruh kehidupanmu sesuai apa yang kau mau, bukankah itu membosankan?”
“Tidak.”
“Kenapa tidak?”
“Aku harus mendapatkan apa yang kumau meski seseorang tengah mengambilnya. Bukankah hidup juga perlu bersaing?”
“Wah, kau akan lelah jika hidup seperti itu, Jeff.”
“Justru kehidupanmu yang membosankan, Sky.”
“Hahaha, kembali itu pilihan, Jeff.”
“Baiklah, aku akan kalah telak jika orang itu Kau. Kira-kira siapa seseorang yang akan bersamamu, Sky?”
“Yang pastinya…”
“Tak diduga-duga.”
“Maksudnya?”
“Sesuatu yang datang tiba-tiba.”
“Ah, kau tipe orang yang cinta pada pandangan pertama?” tanya Jeff.
“Tergantung situasi, Jeff.”
“Aku tidak tahu jalan pikirmu, Sky.”
“Sudah kubilang kita tidak cocok.”
“Ah, benar…aku mengerti.”
“Apa yang kau tahu, Jeff?”
“Hahaha, kau sulit untuk digapai.”
“Benarkah? Itu berlibahan tapi membuatku senang mendengarnya.”
“Kalau salah satu dari kita berubah. Siapakah orang itu…”
Jeff.
“Kau yang berubah Jeff. Apa kau ingat itu?”
“Apa karena itu…dibalik alasanmu untuk melakukannya?”
“Jeff!”
“Bicaralah, Jeff!”
“Aku harus mendapatkan apa yang kumau meski seseorang tengah mengambilnya. Bukankah hidup juga perlu bersaing? Apakah kau juga ingat itu, Sky?”
...***...