
“Kau menyukainya?”
“Kenapa kau ingin tahu? Kau ingin melepasnya untukku?”
“Hei, kau pikir…”
“Ada apa dengan kalian? Apa yang kalian bicarakan?” ucap Sky dengan beberapa makanan ringan di tangannya.
“Kenapa kau tidak mengeringkan rambutmu?” ucap Kai dengan mengusap-usap kepalaku.
“Sudah,” jawabku dan duduk di antara dua orang yang duduk menjauh.
Kai berajak dari tempat duduk. “Kai sekalian ambil minuman di kulkas, ya?”
“Oke.”
“Oh, iya. Aku kau sudah melihatnya? Aku mengisi persediaan makanan untukmu.”
Sky menghampiri Kai. “Kau menyogokku?”
“Iya tapi tidak juga. Apa kau menerima permintaan maafku?”
“Entahlah…”
Kai memelukku dari belakang. “Hei, ada Ren di sini.”
“Aku tidak peduli,” bisik Kai.
“Ren, bukankah kau harus mengantar Ibumu?” ucapku untuk mencoba menghidupkan suasana.
“Apa yang terjadi? Kau tadi buru-buru pulang.”
Kai mengeringkan rambutku dengan mulutnya yang berisik berbisik di telingaku.
“Tidak. Aku mengantar Ibuku membeli buku.”
“Oh…”
“Apa ada yang terjadi semalam?” tanya Kai.
Sorot mataku dan Ren seperti memperjelas ada sesuatu yang terjadi.
“Kau mengaku…”
“Kurasa kau tidak akan melakukannya,” lanjut Kai.
“Ya, aku mengaku padanya…semalam.”
“Eh, sepertinya kita harus menonton film,” ucapku untuk memecah suasana yang ada.
“Kai tidak suka film horor tapi Ren suka. Tapi aku ingin menontonnya,” rasanya ucapanku menjadi aneh.
“Tidak apa. Aku suka apa yang kau suka,” ucap Kai.
“Kau yakin, Kai?” sahut Ren.
“Aku tidak penakut sepertimu. Yang melarikan diri setelah mengaku.”
“Eh, Ren…ini untukku, kan?”
“Iya, semuanya untukmu hanya kau yang boleh makan,” Ren menarik sekotak martabak yang letaknya lebih dekat dari Kai.
“Ini milikmu, hanya kau yang boleh meninumnya,” giliran Kai yang melakukannya.
“Ren juga perlu minum,” Sky menggeser minuman yang berada di dekatnya pada Ren.
“Bagaimana kau suka?” tanya Ren.
“Tidak usah ditanya lagi, Ren. Tidak pernah berubah rasanya. Kau dan aku dulu sering membelinya dan kau juga tiba-tiba datang seperti hari ini.”
“Sky, bukankah kita sedang menonton film?”
“Ah, iya. Kau benar, Kai. Selamat menonton,” seru Sky.
Kai menaruh ponselnya di atas meja. Pandangannya lurus ke depan. Tidak seperti biasanya. “Kau tidak takut?” bisik Sky pada Kai.
“Tidak, aku tidak pernah takut hanya malas melihatnya,” bisiknya.
Kai dan Ren saling merentangkan tangan mereka di belakangku.
“Hei, singkirkan tanganmu!” teriak Kai.
“Kau yang singkirkan tanganmu!” teriak Ren.
“Untuk apa tanganmu berada di belakangnya?”
“Kau juga, untuk apa tanganmu ada di belakangnya? Iya, tahu kau pacarnya tapi tak seharusnya seperti itu. Kau pikir aku tidak tahu…kau sengaja memamerkannya di hadapanku.”
“Wah, kau banyak bicara, ya. Sebenarnya apa tujuanmu datang ke sini? Bukankah untuk menjelaskan pengakuanmu semalam? Bahkan kau tetap mempertahankan alibimu.”
Apa ini?
Apa yang harus kulakukan?
“Aku benar-benar mengantar Ibuku.”
“Tidak, kau melarikan dirikan diri.”
“Baiklah, apa yang kau tahu soal Sky?” Ren tiba-tiba.
Mengapa jadi seperti ini?
Ada apa dengan, Ren? Dia sedang mengusulkan sebuah permainan? Untuk apa?
“Baiklah, kau duluan,” Kai memberikan respon.
Film yang seharusnya menjadi tontonan sekarang berganti. Film yang sedang menonton dua anak-anak yang sedang bermain game.
“Sky, kau yang memberi pertanyaan padaku dan Kai.”
Hah?
Mengapa mereka membawaku dalam permainan mereka?
“Kai yang mendorongku untuk melakukannya.”
“Hei, kau yang memulai, ya!”
“Kau.”
“Kau, Ren yang duluan.”
“Baiklah, aku akan memberikan pertanyaan.”
Kai dan Ren berganti posisi berada di hadapanku.
Saling menunggu pertanyaan dariku terlihat dari ekpresi muka yang mereka perlihatkan padaku.
“Entahlah, ini pertanyaan klasik…apa makanan yang paling kusukai?”
“Ramen,” jawab Kai.
“Makanan dengan dengan tempe dan tahu,” jawab Ren.
Sky memejamkan matanya. Itu membuatnya gugup.
“Hmm…”
Mereka benar-benar serius. Seperti sedang mengikuti perlombaan tingkat nasional misalnya.
“Eh…”
“Ren yang benar.”
“Hah? Sky, kau bercanda, kan? Kau suka ramen,” protes Kai.
Ren tertawa puas dengan menatap ke arah Kai.
“Ramen aku suka tapi karena Ren bilang tempe dan tahu, itu menjadi pilihanku karena aku sangat menyukainya.”
“Hahaha, itu menunjukkan aku lebih lama mengenalnya dari pada kau, Kai.”
“Tapi…sayangnya orang di masa lalu selalu menjadi seseorang yang terlambat,” sahut Kai.
Ren terdiam setelah mendengar ucapan dari Kai.
“Baiklah, pertanyaan selanjutnya,” ucapku.
“Dalam satu minggu aku akan pergi ke bioskop berapa kali dan marathon film berapa kali jika aku punya waktu luang atau saat libur tiba?
Entahlah, aku tidak bisa berpikir dengan jernih. Memikirkan pertanyaan-pertanyaan yang entah untuk apa sebenarnya?
“Pergi ke bioskop 3 kali dalam seminggu…marathon 1 kali,” jawab Kai dan Ren kompak.
“Benar. Whoaa!! Kalian benar-benar mendengar apa yang pernah kuceritakan?”
“Hei, kau mengikutiku.”
“Kau juga mengikutiku.”
“Jadi, kau juga bercerita padanya, Sky?”
“Iya, Kai. Aku berteman dengan Ren cukup lama.”
“Apa yang kutahu, Ren juga tahu?”
“Tidak juga, bukankah semua orang punya porsi tersendiri? Mana yang perlu kuceritakan pada orang terdekatku dan mana yang kuceritakan pada seseorang yang jauh lebih denganku.”
“Hahaha, kau cemburu padaku?” ucap Ren dengan tertawa puas dan menunjuk ke arah Kai.
“Aku, cemburu padamu? Tidak! Untuk apa? Aku lebih baik darimu.”
“Kau lebih baik dariku? Kau sedang membicarakan bentuk fisikmu yang lebih baik dariku?”
“Tidak. Kau yang berpikiran sempit. Kenapa kau tiba-tiba membahas bentuk fisik? Kenapa orang-orang melihatku seperti itu? Kenapa mereka selalu bilang Kai populer? Kenapa tidak Kai yang baik hati?”
“Karena kau menunjukkan dan memperlihatkan seperti itu.”
“Apa maksudmu dengan aku yang menunjukkan dan memperlihatkan yang membuat semua orang berpikir seperti itu?”
“Kurasa Sky akan tahu jawabannya,” ucap Ren.
“Hei, kenapa aku?”
“Bukankah kau pernah mengatakannya padaku, Sky? Kau sempat…”
“Sudahlah, mengapa harus membahas hal seperti ini? Kalian bukan sedang bersaing. Kai pacarku dan Ren teman baikku.”
“Kau menolakku, Sky?” Ren benar-benar menatapku.
“Entahlah…”
“Kurasa aku tidak perlu melanjutkan ucapanku.”
“Tidak apa, katakan saja padaku.”
“Tidak, Ren. Bukankah seharusnya hanya aku dan kau yang tahu?”
“Tapi…kau sudah mengatakannya. Kalau pun kau dimeperjelas maksudmu…bukankah itu sudah jelas?”
“Sebenarnya, aku tidak ingin mengatakannya. Tapi bagiku kau tetap Ren yang kukenal baik dulu dan bahkan hari ini. Aku mengerti semua orang juga berhak untuk memiliki perasaan seperti yang kau miliki.”
“Aku tidak akan merubah sikapku padamu, Ren. Terima kasih, kau sudah mengatakannya padaku,” lanjut Sky.
“Sepertinya, kalian butuh waktu untuk berbicara. Aku akan menunggu di luar,” ucap Kai.
“Tidak, tidak perlu. Aku harus pulang,” ucap Ren.
“Tapi, Ren…”
“Terima kasih, Sky.”
...***...