Suddenly

Suddenly
It’s over, suddenly…



“Itu membuatku kecewa, Kai.”


“Secara tidak langsung kaulah yang telah mengakhiri hubungan.”


“Kalau kita tidak bertemu di hari itu, apa kita tidak akan kembali bersama?”


Apakah benar kembali pada hubungan yang sempat berakhir meski dengan orang sama tapi terasa berbeda?


Tapi bukankah tergantung siapa yang menjalaninya?


Orang yang sama tapi terasa berbeda?


Atau perasaan yang ada yang sebenarnya telah berubah?


“Tak semudah itu bagiku untuk menjadi lupa atau menjalin hubungan dengan orang baru, Kai. Sekali pun pernah menyukainya di masa lalu.”


Apa yang kupikirkan tentang Kai…


Entah akan terpisah seperti di antara tidak adanya harapan, perasaanku akan sama. Kecuali, Kai memilih memulai hubungan dengan orang baru atau yang kukenal. Barulah menjadi akhir bagiku untuk mengakhirinya.


Bahkan tanpa melakukan apa pun. Tidak mendekat atau berusaha mendekat bahkan membuat jarak semakin tak terlihat. Perasaanku akan sama.


“Perasaanku akan sama, Kai. Kecuali kau tak menginginkan hubungan ini terjadi kembali atau kau memilih untuk memiliki hubungan yang baru.”


“Bukan…bukan kau yang salah. Perasaanku yang salah memahaminya,” ucap Kai setelah terdiam cukup lama.


“Kalau kau ragu katakanlah sebelum menjadi semakin ragu. Aku tetap sama, Kai. Seperti aku di hubungan pertama yang sama-sama kita tahu.”


Kursi di sebelahku yang seharusnya menjadi tempat duduk Green menjadi kosong bahkan film telah di mulai.


Green belum kembali sejak 20 menit yang lalu.


Apa dia sakit perut?


Dia hanya pergi sebentar, itu yang dikatakan Green.


Tapi sampai sekarang belum ada tanda-tanda Green kembali atau setidaknya memberiku kabar.


Tidak ada yang menang di antara Kai dan Green.


Rania tetap menonton bersama Kai dan…


Ya, Green mengajakku.


Kai mengirim banyak pesan padaku. Tapi tidak ada satu pun yang kubalas.


Kebetulan juga ponselku akan kehabisan daya. Bahkan aku tidak tahu bagaimana aku membalas pesan-pesan dari Kai dengan perasaanku yang bercampur aduk.


Kurasa berpacaran dengan bersembunyi-sembunyi bukan cara yang tepat.


“Mengapa perasaanmu tetap sama?”


“Kau bertanya mengapa perasaanku tetap sama? Lantas bagaimana perasaan yang ada padamu untukku?” Sky tak habis pikir dengan ucapan Kai.


Pagi yang terlalu dini menjadi benar-benar pagi dengan matahari yang telah menyapa.


“Kau juga menyukainya, bukankah begitu?”


“Siapa yang kau maksud, Kai?”


“Tanpa menyebut namanya, kau sudah pasti tahu. Kau juga menyukainya.”


“Kai, aku tidak menyukai Green bahkan aku telah menolaknya.”


“Bagaimana jika penolakkan itu karena kau tidak ingin menjadi ragu karenaku?”


“Kai, kenapa kau justru semakin berpikir yang tidak-tidak? Tidak ada orang lain, Kai. Untuk apa dan bagaimana bisa secepatnya itu aku…”


“Kau menyukainya, Sky.”


“Perasaanku tetap sama, Kai.”


“Maafkan aku, Sky. Kurasa aku…”


“Apa kau mulai menyukai Rania?”


30 menit telah berlalu…


Green masih belum ada tanda-tanda untuk kembali.


Kai…


Apa dia akan datang?


Tiba-tiba datang dan duduk di sampingku?


Seperti kemungkinan yang bisa terjadi atau hanya menghibur diri dan seolah akan terjadi.


Dia sedang bersama Rania.


Bolehkah aku marah?


Apakah aku punya hak untuk itu?


“Kenapa kau selalu membawa nama Rania?”


“Kai, cukup untuk hari ini sebelum semakin…”


“Aku ada di depan pintumu,” ucap Kai.


Tak lama ada seseorang yang berjalan dari pintu exit.


Pandangku tentu mengarah pada seseorang itu. Itu pasti…


“Green?” suaraku lirih.


“Ini hari tersialku,” bisiknya.


“Apa separah itu?” bisikku.


“Ya.”


“Kita pulang atau?”


“Aku baik-baik saja.”


“Kau yakin, Green?”


“Ya, baik-baik saja.”


Tapi…


Seseorang itu bukan Kai.


“Kau baik-baik saja?”


“Tidak,” jawabku pada Green.


“Apa kau ingin keluar?”


“Tidak, mari kita selesaikan.”


Padanganku ke arah depan seolah benar-benar menikmati.


Padahal hanya sebuah pandangan kosong dengan pikiran yang tengah berbicara.


Menjadi semakin ramai sampai terdengar di kedua telingaku.


Cukup keras.


Suara-suara semakin menggemaseolah memberi peringatan.


“Aku kembali bersamanya,” mulutku telah bertindak.


“Iya, itu terlihat jelas.”


Sky berada di balik pintu.


“Kau tidak membukanya?” ucap Kai.


“Bukankah kau sudah tahu cara untuk masuk?” jawab Sky.


“Aku telah memberi kesempatan pada Green untuk menyatakan perasaannya padamu. Bukankah itu tak seharusnya kulakukan?”


“Kau berpikir yang tidak-tidak karena itu, Kai?”


“Tidak apa, itu diluar kendalimu. Tanpa disadari semua orang bisa saja melakukannya, Kai.”


“Bukankah itu fatal? Bagaimana jika Green yang justru bersamamu?”


“Stop, Kai! Itu tidak terjadi.”


“Sky…”


“Meski apa yang ada pikiranmu benar-benar mengganggumu. Pikirkan apa yang ada sekarang saja, Kai.”


“Iya, aku tahu tapi…”


“Kau mulai memiliki perasaan itu? Apa aku juga terlambat, Kai?”


“Kita sama-sama terlambat,” jawab Kai.


“Baiklah, kau tidak perlu membuka pintu. Bukankah kita harus saling memberi jarak jika benar terjadi?” ucapku.


“Bahkan kau tidak menjawabnya, Kai. Apa kau mulai menyukai Rania? Atau memang dari awal seperti itu?”


“Kai!”


“Kai!”


Green menatapku dalam kegelapan.


Kedua matanya terlihat jelas mengarah padaku.


Kedua matanya yang pernah menjadi salah satu bagiku.


“Senang mendengarnya,” ucapnya padaku.


Kenapa?


Rasanya…


Ucapannya itu…


Ucapan Green…


Pintu itu terbuka. Kai ada di hadapanku. “Iya, kau benar.”


“Mana yang kau maksud?”


“Sesuai ucapanmu.”


“Aku tidak ingin itu terjadi, Kai.”


“Kalau kau tidak ingin terjadi, mengapa kau selalu memancingku dengan pertanyaan yang seolah akan terwujud melalui apa yang keluar dari mulutku?”


“Kau yang memulainya lebih dulu, Kai.”


“Aku hanya sedang berterus terang, Sky.”


“Apa yang kau lakukan? Hanya berdiri begitu saja?”


Green masih menatapku.


“Ada apa?” tanyaku pada Green.


“Hmm, entahlah…”


“Hei, ada apa?”


Pukul 11 malam. Green akan mengantarku pulang.


“Kurasa ini akan menjadi yang terakhir bertemu denganmu.”


“Hei, kenapa kau tiba-tiba pindah tanpa memberi tahuku?”


“Kupikir aku tidak akan bertemu denganmu lagi.”


“Ah, jadi kau pergi begitu saja?”


“Kau yang pergi begitu saja membuatku semakin merasa bersalah. Entahlah, aku berpikir kita bisa menjadi teman tapi apa aku terlihat kejam jika aku berpikir seperti itu?”


“Haha, iya kau kejam.”


“Kau akan ke mana lagi?”


“Hmm, kembali ke tempat yang seharusnya.”


“Apa itu lebih jauh dari sebelumnya?”


“Iya, sepertinya. Tapi bukankah kali ini berbeda?”


“Ah, kita sempat bertemu sebelum benar-benar tidak bertemu lagi.”


“Ya dan sepertinya ini aka lebih lama dari sebelumnya,” Green tersenyum padaku.


“Wah! Apa kita akan kembali bertemu di saat kita sama-sama menjadi tua?” ucapku.


“Apa aku bisa menjadi tua?”


“Hahaha, kau tidak ingin kehilangan ketampananmu?”


“Andai aku bisa menua, hahaha…”


Kai dan aku saling berhadapan.


“Kau benar…”


“Aku mulai menyukai Rania.”


...***...