Suddenly

Suddenly
All Day



“Kau yakin dengan keputusan yang kau pilih?”


“Kau hanya sebagai penyewa,” jawab Kai.


“Wah! Apa kau benar-benar telah melepasnya?”


“Bukankah kau menyukainya?”


“Apa kau akan baik-baik saja?“ Green yang menatap dengan tatapan yang serius tapi bagi Kai Green terlihat sengaja melakukannya.


“Bukankah kau seharusnya bersiap diri?”


“Sky akan menolakku, begitu maksudmu?” Green mengerti arah ucapan Kai padanya.


“Aku tidak mengatakannya. Ah, apa kau menjadi tidak percaya diri?”


“Bagaimana jika dia menerimaku?”


“Itu pilihannya dan tidak ada kaitannya denganku,” Kai mengambil berkas yang berada di tangan Green. “Baiklah, kurasa aku harus pergi.”


“Dia pernah menyukaiku,” ucapan Green membuat langkah kaki Kai terhenti.


“Senang mendengarnya,” Kai menutup pintu.


Kai menatap pintu di sebelahnya. Pikirannya menjadi kacau. Mengingat kembali apa yang terjadi di kehidupannya, terutama momen-momen itu.


Ia semakin mendekat. Benar-benar dekat. Jemari tangannya menyentuh tombol-tombol yang berada di pintu. “Apakah di menggantinya?” suaranya benar lirih dan tidak akan terdengar di telinga.


Ada perkelahian di dalam benaknya. Sesuatu yang tidak bisa ia kontrol terus mendorong a ya untuk melakukannya, perasaan yang tidak bisa dibendung.


Semakin mencoba untuk mengelak semakin tidak ingin membohongi diri sendiri.


Terdengar suara Green yang tengah mengganti password.


Tit…tit…tit…


“Tak kusangkah dia benar-benar pergi,” Green menutup pintu kembali.


Kai memejamkan matanya. Tidak percaya dengan apa yang ia lakukan. Ia menyesalinya tapi tidak juga.


Pukul 8 pagi di hari sabtu. Sky akan bangun di pukul 10. Tapi itu saat ia masih bersamanya. Langkah kakinya belum berpindah tapi pikirannya justru berkelana mengingat kebersamaan yang pernah ia lalui.


Lampu penerangannya masih padam. Ada bayangan dari lampu tidurnya yang masih menyala. “Kurasa…”


Krek!


Sial!


Kai menghela napas. Ia menginjak tutup parfume yang menggelinding. Sky pasti akan marah jika tahu ia yang menginjaknya tapi itu tidak akan terjadi. Hampir saja aku terkecau dengan emosi yang tak bisa kubendung.


Menghela napas sekali lagi. Langkah kakinya mulai melangkah perlahan. Ruangannya lebih bersih dari yang ia tahu sebelumnya. Apakah dia makan dengan benar?


Tak perlu melangkah lebih jauh. Keberadaan Sky telah membuatnya membeku. Seseorang yang ia rindukan tengah tertidur pulas.


Apa dia juga menungguku?


Karena itu, dia tidak mengganti passwordnya?


Kai semakin mendekat.


Jemari tangannya tidak sanggup lagi untuk menahannya.


Ujung jarinya mulai menyentuh rambut seseorang yang masih tertidur. Membuatnya tersenyum dengan hanya melihatnya. “Bukankah di antara kita sama-sama belum mangatakannya?” Kai berbicara di dalam benaknya.


Kai membalikkan badan sebelum terjadi sesuatu yang tidak ingin itu terjadi. Tapi itu menjadi semakin sulit baginya.


Bahkan, ia ingin tidur di sofa itu dan saat Sky akan akan tahu saat bangun nanti.


Apa aku harus melakukannya?


Tapi bukankah bukan waktu yang tepat?


Kai duduk di sofa itu. Sembari menatap wajah Sky.


“Mengapa kita berakhir seperti ini? Bukankah kita sama-sama tidak menginginkannya?”


Kai memejamkan mata dengan kedua tangannya yang gelisa.


Pertempuran di antara hati dan pikirannya masih berlangsung sengit.


Bahkan Kai tidak punya rencana jika hari ini ia akan tertangkap basah.


Bisa tertangkap basah oleh Sky atau Green?


Tapi dari pilihan itu, lebih baik tertangkap basah oleh Sky daripada Green yang harus mengatahui fakta bahwa aku sedang menyelinap.


“Aku tidak bisa lagi menahannya,” Kai membalikkan badannya dan…


Ya.


Cup!


Langkah kakinya bergerak cepat. Menutup pintu dengan perasaan campur aduk.


Meski tidak ada siapa pun yang melihatnya. Ia kembali masuk ke dalam dan mengembalikan apa seharusnya kembali tapi pada akhirnya ia hanya menjadi pengecut dan berlalu.


Pukul 10 pagi.


Kedua mataku terasa berat, ia menggigit bibirnya yang…


“Wah, jarang terjadi bibirku menjadi lembab…,” Sky tersenyum. Membuka sedikit jendelanya. Mematikan lampu tidurnya dan menyalakan penerangan di ruangannya.


Hari ini ia akan mengecek apartemen yang sebenarnya ada yang tak jauh dari apartemennya yang sekarang. Hanya saja itu tak sedekat dengan tempat-tempat yang biasa ia kunjungi.


Itu membuatnya kembali ragu dan berpikir berulang kali.


Seperti berada di antara percaya dan tidak percaya atau bertanya-tanya untuk apa ia melakukannya?


Ia seperti kabur dari kenyataan seperti yang sudah sebelum-sebelumnya. Apa dia akan selalu seperti itu?


“Wah!” Sky menemukan tutup parfume yang ia cari-cari pecah tergeletak di lantai.


“Pecah?”


“Kurasa aku tidak menginjaknya.”


“Untung saja sudah habis,” Sky memungutnya dan membuangnya ke tempat sampah.


Mengikutinya sepanjang hari.


Tapi bayang-bayang Kai selalu menemaninya.


Membuatnya terjaga untuk tidak lengah.


Mengingatkanku pada hari itu, siapa orang yang mendorongku?


“Bagaimana kau suka?”


“Kau suka?”


“Iya.”


“Baiklah, saya siapkan berkasnya.”


“Hah?”


“Bukankah kau sudah setuju?”


“Setuju?”


“Kau baru saja mengatakan, iya.”


“Sebentar…”


“Ada yang akan datang dan kau akan kehilangannya.”


Kehilangannya?


Tidak!


“Baiklah, setuju.”


“Bagus!” ucapnya.


Sembari mengambil berkas yang ia maksudnya. Orang itu berbicara banyak. “Orang yang baru saja kukatakan itu benar-benar memaksaku untuk memberikan apartemen itu padanya. Tapi…kau datang berulang kali dan sepertinya kau lebih membutuhkannya.”


“Benarkah? Bagaimana bisa berpikir seperti itu?”


“Kau ragu, kan? Keraguan itu mengingatkanku di masa lalu.”


Semua tentang masa lalu, mengapa seperti itu?


Bahkan aku datang karena masa lalu.


“Kira-kira orang itu kenapa mendesak Bapak?” tanyaku.


“Apa lagi kalau bukan…orang itu sudah mengenal dengan penghuni sebelahnya,” jawabnya.


“Sepertinya di antara mereka salah satu ada yang…”


“Iya, orang itu sepertinya menyukai penghuni sebelah.”


“Apa kau punya pacar?” tanyanya.


“Hmm, di antara tidak dan iya.”


“Karena itu kau datang ke sini?”


“Ya, benar.”


“Penghuni sebelah itu benar-benar tampan,” bisiknya.


“Oh…”


“Wah, kau baru saja putus, ya?”


“Sepertinya, iya.”


“Tenang kau masih banyak waktu untuk mendapatkan kesempatan kembali.”


“Terima kasih.”


Sky memeriksa kembali berkas-berkas yang benar-benar harus ia cermati.


Orang itu masih terus berbicara tentang masa lalu.


Semakin mengingatkanku pada Kai.


Apa yang akan terjadi selanjutnya?


Apa akan benar-benar berakhir?


Kai dan Rania, apa mereka bersama?


Menjalin hubungan yang semestinya?


“Itu dia penghuni sebelah yang kumaksud,” ucapnya.


Tapi aku tidak tertarik.


“Bersemangatlah!” ucapnya lagi.


“Apakah Bapak pernah menyesali sebuah perpisahan yang bahkan tidak perlu adanya perpisahan?”


“Apa kau berada di posisi itu?” orang itu justru memutar pertanyaannya untukku.


“Ya, apa itu terlihat jelas?”


“Ya, seperti yang kukatakan padamu. Kau membutuhkan apartemen ini.”


“Bapak sedang berbicara soal apartemen?”


“Hahaha, bukankah melelahkan berbicara tentang masa lalu?”


“Tapi Bapak bercerita panjang lebar soal masa lalu?”


“Karena itu menyenangkan tapi sekaligus melelahkan.”


Menyenangkan…


Melelahkan…


...***...