Suddenly

Suddenly
Vanilla



Kuharap akan semudah itu terjadi.


“Kuharap akan semudah itu,” suaranya lirih di balik pintu.


Tatapanku hanya sekali bahkan, tidak seperti sedang menatap. Hanya sekejap karena sistem di dalam tubuhku memberi peringatan.


Baru saja membicarakannya dengan kerinduan yang masih bersamaku. Mereka bersama lagi, seperti sebelum-sebelum. “Dejavu yang berulang,” suara Sky semakin lirih.


Langkah kakinya menjauh dari pintu.


Sky baru saja pindah. Seluruh ruangannya lebih kacau dari apartemen Ken. Ia berencana untuk tidak pemberbaruhi tatanan di seluruh ruangannya. Membiarkannya tetap sama, seperti pada awalnya. “Tapi, justru membuatku mengingat semuanya.”


“Aku merindukannya…”


Jemari tangannya dengan cepat menutup mulut. Meskipun tidak menyebut namanya, itu sudah pasti tertuju padanya. Ia berbaring dengan menatap ke arah barang-barangnya yang berserakan. Bahkan, itu belum semuanya. Masih ada beberapa barang yang ada di apartemen yang hanya baru ditempatinya beberapa bulan.


“Kau harus bergerak, Sky!”


“Kalau kau bermalas-malasan seperti ini, itu akan semakin terasa…kau merindukannya.”


Sky memejamkan matanya. Membuka seluruh tirai di jendelanya. Sial! Ia justru melihat Kai dan Rania berada di balkon dengan bau aroma ramen yang sudah pasti ia tahu di mana ramen itu berasal.


Hanya sekedar kedua mata yang bertemu. Sky langsung berpaling. Membuka pintu balkonnya. Menyalakan playlist lagunya yang sudah pasti Kai akan tahu dan memulai untuk menatap semua barang-barangnya.


Ia akan bekerja lebih cepat dari sebelumnya. Lagu yang ia putar sudah cukup terdengar di seluruh ruangan. Tapi, ia justru memakai earphone dengan mendengarkan lagu yang sama.


Beberapa kali ponselnya berdering, Ken mengirim banyak pesan.


“Apa memang ini adalah sebuah kebetulan atau kebetulan yang disengaja?” suara Sky dalam benaknya.


Jadi…


Dia akan tinggal di sini lagi?


Beberapa hari yang lalu apartemen itu benar-benar kosong.


“Apakah aku akan sering bertemu dengannya?”


Aneh.


Bukankah itu aneh?


Rania tidak berbuat apa-apa.


Tidak seperti biasanya.


“Apa dia telah berhasil mendapatkannya?”


“Mereka berpacaran dan…”


“Akan menikah dalam waktu dekat?”


PLAK!


“Fokus, Sky!”


Brrrrrrrrr!


Aroma ramen yang masuk bersama embusan angin, membuatnya lapar. Ia akan kalah telak dengan aroma ramen yang membuatnya jatuh cinta, bahkan telah menjadi saksi.


“Siapa?” seseorang mengiriminya pesan dengan nomer yang tak ia kenal.


“Temui aku di tangga darurat, Sky.”


“Seorang penipu yang hanya tahu namaku dan itu bisa saja terjadi,” Sky meletakkan ponselnya di dalam laci dan menguncinya.


Menutup kembali pintu balkon lalu bergerak lebih cepat. Keringatnya pun terus bertetesan. Ia akan terus bekerja cepat. Selain membuatnya muak, pikirannya akan merasuk kembali jika dirinya terus beristirahat.


“Kau merindukannya?” Rania menyadari tatapan Kai tak bersamanya.


“Kenapa kau bertanya?” Kai masih dengan tatapannya yang kosong.


“Kau merindukannya, kan?”


“Kau tidak perlu tahu apa yang kurasakan,” jawab Kai.


“Kai, kenapa kau seperti ini? Bukankah sebelumnya baik-baik saja? Kau hanya melihatnya sekilas tapi…”


“Aku tidak ingin membahasnya, Ran.”


“Kau ingin lari kembali ke dalam pelukannya? Bukannya kau bisa melakukannya?”


“Ada apa denganmu? Apa kau menginginkan itu terjadi?” Kai menepis tangan Rania yang tengah merangkulnya.


“Kau dan aku akan seperti ini, Kai.”


“Kau harus pulang, Ran. Aku juga harus merapikan semua barang-barangku.”


“Kau yakin akan kembali tinggal di sini, Kai? Masih ada tempat yang lebih memadai dari ini, Kai.”


“Itu kau bukan aku. Supirmu menunggumu di bawah.”


“Kau saja yang mengantarku pulang.”


“Tidak, aku tidak bisa.”


“Baiklah, kalau begitu aku akan datang padanya dan berbicara.”


“Berhentilah berbuat ulah! Apa kau akan hidup seperti ini?” Kai seolah menahan amarahnya.


“Aku hanya menyapanya, itu saja.”


Ting tong!


Sky menghela napas mendengar suara bell yang sampai saat ini membuatnya terganggu. Sekaligus membuatnya kembali mengingat, mengingat, dan mengingat.


Ia baru saja mandi. Rambutnya yang masih basah, dibiarkan tergerai. “Haruskah aku berganti pakaian?”


Sky mengaitkan besi yang terhubung di pintunya, karena tidak terlihat siapa yang berada di balik pintu. Meski seseorang itu menekan bell berulang kali.


“Siapa?” ucap Sky.


“Hai, Sky!”


Sial!


Sky melepas besi mengait di pintunya. Membuka pintu dengan…


Sial!


Sudah berapa kali aku mengatakannya, sial!


Kai ada di samping Rania.


“Bukankah itu punya Kai? Kenapa kau memakainya?”


“Ini milikku,” jawab Sky.


Sial!


Dia masih saja berbuat ulah.


“Tapi aku pernah memakainya,” ucap Rania Tangannya merangkul di lengan Kai. Seperti biasanya—Kai hanya diam dan mematung, membuatku berpikir itu benar adanya. Sama seperti yang pernah terjadi, itu yang ada dipikiranku.


“Oh…”


“Oh?”


“Ada apa denganmu?”


“Lalu aku harus menjawabnya seperti apa?” Sky dengan raut wajahnya yang datar.


“Apa kau ingin makan malam bersamaku dan…Kai?”


Nada suaranya dibuat-buat dan disengaja. Rania melakukan penekanan saat menyebut nama Kai.


“Tidak.”


“Tidak? Bukankah kalian lama tidak bertemu? Ayolah, kalian masih bisa berteman…hm?”


Berteman?


Rasanya ingin…


Api yang membara tengah berada di atas kepalaku.


“Aku tidak makan malam.”


“Kau terlihat kurus, apa kau sedang diet?”


“Kenapa kau ingin tahu?” amarahku semakin menjadi-jadi meski aku berusaha untuk menahannya.


“Wah, kau dingin sekali. Apa kau sedang kesulitan dan kau butuh seorang teman? Kau tidak boleh sendirian atau kau belum terbiasa sendirian?” suara Rania terdengar mengganggu indera pendengaranku.


“Sepertinya kau salah memilih lawan bicaraku,” jawab Sky.


“Ah, kau benar. Kau selalu sendirian jadi, kau tidak mungkin kesepian. Kau tidak merindukannya?” Rania menunjuk ke arah Kai.


“Tidak,” Sky menatap ke arah Kai.


Sial!


Kuharap dia tidak melihatku sedang berbohong. Walau sepertinya Kai akan menyadari itu.


“Bagaimana jika Kai merindukanmu?”


“Aku mengerti maksudmu. Tapi, kau tidak perlu melakukannya. Kau tidak perlu melakukan hal seperti ini dan tidak perlu lagi merasa khawatir dengan apa yang kau lihat,” amarahku seperti telah memberiku lambaian tangan.


“Benarkah? Bagaimana jika kami berpacaran?”


“Kenapa kau tanya padaku? Apa aku cukup bisa disebut seorang teman sehingga kau meminta pendapatku?” Sky menatap lawan bicaranya seolah Kai tidak ada di dekatnya.


“Bagaimana jika hari ini kau dan aku resmi menjadi teman?”


“Kau menyukainya, kan?” Rania menunjukkan ice cream rasa lemon.


“Aku punya banyak rasa vanilla,” jawab Sky.


“Ah, kau tidak lagi menyukainya?”


“Apa itu membuatmu penasaran?”


“Wah, kau benar-benar dingin sekali, Sky. Hei, kalian hanya berpisah. Kenapa kau tak lagi memakan ice cream yang kau suka?”


“Aku hanya menolak pemberianmu.”


“Apa kehadiranku membuatmu kesal? Kau terlihat kesal dengan sikapmu yang dingin.”


“Tidak, aku hanya menjawab pertanyaanmu.”


“Tunggu!”


“Ada apa dengan kakimu? Apa kau terluka?”


Luka memar yang kudapat saat tiba-tiba jatuh terjungkal di tangga darurat.


“Bukan apa-apa.”


“Itu cukup serius, kau baik-baik saja?”


“Ya.”


“Maaf, aku harus keluar. Apa kau sudah selesai?”


“Kau akan bertemu dengan seseorang?”


“Ya, bertemu Kakakku.”


“Bye, Sky! Senang bertemu denganmu.”


Sky menutup pintu.


...***...