
“Apa kau sudah dengar? Dia dipermainkan, haha…”
Baru saja menginjakkan kaki tapi telingaku harus mendengar omong kosong.
Iya, benar. Kai melakukan seperti apa yang mereka katakan tetapi sampai sekarang masih membuatku bertanya-tanya, bagaimana bisa Kai melakukan itu?
Bukan membelanya tetapi ada yang menganjal seperti ada yang Kai sembunyikan.
“Apa kau baik-baik saja?” seseorang di kelasku hari ini. Orang itu berjalan seolah ia tidak sengaja mengenai bahuku dan langsung bertanya padaku untuk pertama kalinya.
“Kau peduli atau membual?” jawabku.
“Hahaha, siapa juga yang peduli padamu.”
“Apa kau buru-buru hari ini? Kaos kakimu itu membuatku malu.”
Yes!
Orang itu memakai kaos kaki yang berbeda warna.
Apa yang kukatakan barusan itu, spontan.
“Ah, kau tidak tahu apa-apa soal berpakaian,” orang itu langsung pergi.
Tidak hanya itu saja.
Seisi kelas sedang bergossip ria.
Mau tidak mau telingaku juga mendengarnya.
“Wah, dia benar-benar bodoh.”
“Apa dia tidak pernah menyadari itu, kalau dia bukan siapa-siapa?”
“Kai sudah punya pacar.”
“Pacarnya juga tak kalah populer.”
“Kau tahu bagaimana tubuhnya? Whoaa! Membuatku iri.”
“Kurasa Sky habis menangis. Dia tidak tahu diri.”
“Dia jelek. Tidak ada apa-apanya dibanding Rania.”
Begitulah, aku mendengarnya.
Jadi, dia anak kampus ini juga. Dia populer? Entahlah, mengapa aku tidak tahu menahu siapa-siapa yang populer di kampus ini. Bahkan, Kai pun. Kalau tidak ada pertemuan itu, mana aku tahu.
Tak lama dosen pada mata kuliah di hari ini tiba tetapi memberi kabar, kalau tidak ada kelas dan digantikan dengan tugas yang dikumpulkan nanti malam melalui email.
Sky tersenyum lebar sembari meninggalkan kelas. Semua pasang mata melihat ke arahnya.
Haha, mereka tidak tahu apa-apa.
Sebenarnya…
Ada beberapa tugas yang dikumpulkan melalui email, mendekati liburan. Tugas itu dikirim ke dalam satu email yang sama dan mereka semua menumpahkan seluruh file tugas mereka padaku.
Aku menerimanya dan tidak mengeluh sama sekali.
Sama sekali tidak ada dipikiranku. Dosen itu mengatakannya padaku, kalau di hari pertama perkuliahan dia akan memberi tugas dan aku bisa menyiapkan lebih awal.
Tugas itu benar-benar gila, apa yang didengar tadi? Tugas itu harus terkumpul paling lambat pukul 12 malam.
Dosen itu benar-benar mengatakan yang sebenarnya, tugas yang akan ia berikan.
Wohooo! Aku sudah mengerjakannya sejak dosen itu mengatakannya padaku.
Plak!
“Ah, sorry. Haha…”
Seseorang melempar botol minum kosong di kepalaku.
Seperti biasa tidak membuatku terpengaruh. Terus berjalan tanpa peduli meski telingaku masih mendengar banyak hal.
“Neng, gak apa?” tanya Bu Ijan, penjual bakso di kantin kampus.
“Kenapa, Bu Ijan?”
“Itu anak-anak.”
“Gak apa, Bu.”
“Kalau butuh bantuan bilang Ibu, ya.”
“Ah, Si Ibu. Terima kasih, ya.”
Suasana kantin membuatku menjadi tahan tawa. Mereka menatapku seolah ingin memangsaku dan di antara mereka sedang menjadikanku tawanan yang diperebutkan.
Mata mereka melebar seakan-akan keluar.
Earphone sudah berada di telingaku. Walau masih tetap mendengar tapi itu lebih baik.
Ponselku berdering.
Yuta?
“Kau tidak salah?” sahutku.
“Oh, oke.”
Yuta mengajakku berbicara di rooftop di gendung perkuliahan.
Setiap langkah kakiku melangkah. Soalah telah menjadi topik hangat yang entah sampai kapan akan mereda.
Semakin banyak bumbu-bumbu yang terlalu di lebih-lebihkan.
Benar-benar tidak habis pikir. Waktu mereka sangatlah luang.
“Lift atau tangga darurat?” Sky berpikir keras.
Itu ada di lantai 10. “Tidak mungkin. Tidak mungkin dengan tangga darurat, oke!”
Earphone masih berada di telinganya.
Tit…tit…tit…
“Hei, kau keluar!”
“Woy, keluar!”
Seseorang mulai mencoba mendorongku dan bersorak menyuruhku untuk keluar. Begitu juga dengan yang lainnya.
“Oke, aku keluar.”
Tit…tit…tit…
“Hahaha, bye!” aku berhasil mendapatkan lift yang masih kosong.
Pikirannya terus berkelana. Memikirkan apa yang terjadi.
Semua orang memiliki alasan ketika melakukan sesuatu.
Tetapi jika orang itu tetap bersembunyi tanpa menjelaskan apa pun.
Wah, orang itu benar-benar egois. Meninggalkan jejak yang berbekas.
Iya, Kai egois.
Ting!
Wah, benar-benar panjang umur.
Orang yang sedang kubicarakan dalam benakku, ada di hadapanku.
“Sky…”
Sky hanya mengangguk tanpa tersenyum atau seperti apa yang seharusnya Kai tahu.
Lift kembali melaju.
Suasananya menjadi aneh.
Kau mengenal seseorang itu tapi kau tidak bisa leluasa.
Tidak tahu, Kai akan berhenti di lantai berapa.
“Sky, apa kau marah?”
Hah?
Apa maksudnya?
Dia sedang mengajakku berbicara setelah apa yang terjadi?
“Sky, apa kau tidak penasaran dengan apa yang terjadi?”
Tidak ada jawaban dariku.
“Apa kau melihat semuanya itu kenyataan?”
“Sky…”
“Kenapa kau tidak berusaha lebih berani?”
“Ah, apa itu menyakitimu?”
Wah…
Sungguh, aku tidak mengerti harus bertindak seperti apa.
Jelas-jelas dia yang memberikan jarak. Sekarang apa? Dia mencoba untuk menarikku kembali setelah dia sendiri yang memberiku jarak?
Ucapannya itu ambigu. Lebih tepatnya dia seperti sedang menipuku tapi tidak juga.
Itu membingungkan.
Dia mengatakannya, menyukaiku. Dia pun juga tahu, aku juga menyukainya meski aku belum mengatakannya secara langsung.
Apa dia tidak mengingat apa yang terjadi sebelumnya?
Kecuali kalau memang dia sedang bermain-main.
Tetapi itu menggangguku, apa dia sedang main-main denganku?
Sebelum dia menjelaskan padaku, bagiku kenyataan itu belum terbukti.
Aku dan Kai, sama-sama merasakan hal yang sama. Tetapi mengapa?
“Kau ingin jawaban seperti apa dariku?” ucapku pada Kai.
Ting!
Sky turun di lantai 8. Ia berlalu begitu saja. Menaiki tangga darurat yang menyisakan 2 lantai.
Ia menaiki tangga dengan mulutnya yang mengomel.
Sampai tak terasa, ia sudah sampai.
Krek!
Selain Yuta, Kale, dan dirinya. Tidak ada siapa pun lagi.
“Ada apa?” ucapku tanpa berpaling.
“Kau yang ada apa?” Kale yang biasanya tak banyak bicara tiba-tiba langsung mengatakan itu padaku.
“Hah?”
“Kai, apa yang terjadi?” sahut Yuta.
“Hah? Tidak salah mengatakan itu padaku? Jangan bilang kalian akan meminta maaf dan beralasan kalau kalian peduli padaku, kalian seperti itu?”
“Sky, kau pikir kita sudah kenal berapa lama? Kau berpikir kita berdua setega itu padamu?” Yuta berjalan mendekat.
“Kau keterlaluan, Sky. Kau pikir kita siapa, seharusnya aku tahu itu,” Kale mendorong bahu kiriku.
Sky tersenyum. “Aku tidak mengerti, apa tujuan kalian sebenarnya. Kupikir kalian akan berterusterang tetapi nyatanya hanya aku saja yang berharap.”
Aku, keterlaluan?
Bisa-bisanya mereka berkata seperti itu.
“Kau harus pulang, Sky.”
Sky bertemu lebih banyak orang yang masih berbicarakannya secara terang-terangan.
Ia menjadi lebih diam, mencoba berusaha bertahan. Percuma juga berbicara, di mata mereka selalu salah.
...***...