
“Dia pergi duluan,” bisik Kiya padaku karena tidak ada satu pun yang berbicara.
“Ren?”
“Ssttt!”
Apa yang terjadi pada malam itu?
“Aku menyukaimu, Sky.”
PLAK!
“Apa yang kau lakukan?” suara Kiya di dekat telingaku.
“Memukul diriku sendiri.”
“Hei, kau tidak bisa tidur nyenyak, ya?”
“Hei, kau salah memberikan pertanyaan padaku.”
Kiya tertawa dalam bisikan membuat telingaku geli.
“Apa sikapku semalam terlihat kejam?” bisikku pada Kiya.
“Sedikit tapi kau tidak berniat seperti itu, itu juga serangan tiba-tiba. Semua orang juga akan memiliki berbagai reaksi.”
“Kau berkata seperti untuk menghiburku?”
“Terlalu jelas, ya?”
“Wah, kau!”
Malam itu…
“Bukankah kita harus bangun pagi besok?” dan aku langsung pergi begitu saja.
“Ren, benar-benar pergi duluan?”
“Iya, tepat setelah membereskan barang-barang. Katanya, ia harus menemani Ibunya. Bukankah itu hanya alasannya saja?”
“Entahlah, aku tidak tahu harus seperti apa. Dari tadi aku berusaha menghindar.”
“Hanya hari ini saja, di kampus sebisa mungking kau berusaha tidak canggung dan seperti biasanya.”
“Apa aku bisa?”
“Bisa, kau pasti bisa. Kau tahu, kan…maksudku? Kau tahu juga Ren seperti apa.”
Kai melihat pada layar ponselnya, “Sudah kuduga akan seperti ini.”
Ting tong!
“Sky…,” Kai terlihat berlari dan setengah terbang bahkan tidak bisa tenang semalaman karena menunggu hari esok bertemu dengan Sky.
“Sk…”
“Hai!”
Kai terdiam dengan raut wajahnya yang tentu kecewa. Bukan seseorang yang ia tunggu-tunggu.
“Apa kau sudah melihatnya? Bagaimana ini?” Rania menunjukkan apa yang ada pada layar ponselnya.
“Kai?”
“Kau datang untuk ini?” ucap Kai tanpa ada ekspresi di mukanya.
“Sssttt!” Rania mendorongnya masuk ke dalam.
“Hei, apa yang kau lakukan?”
“Ada seseorang yang melihat. Bukankah akan menjadi aneh kalau tiba-tiba pergi?”
“Hei, seharusnya kau pergi. Kalau seperti ini justru semakin tertangkap basah. Kau tidak sengaja melakukannya, kan?”
“Kai, kata-katamu menyakitiku.”
“Seharusnya kau tidak datang ke sini.”
“Kau mengabaikan dan itu membuatku semakin tidak tenang.”
“Apa kau tahu itu akan semakin memperparah keadaan? Bagaimana nanti kau akan menjelaskannya pada Sky?”
“Sky akan mengerti.”
“Tidak semudah itu. Apa kau tahu…aku tidak berada di sampingnya karena harus menepati janjiku padamu.”
“Sekarang kau marah karena pengakuanku semalam? Ternyata kau lebih memilih orang lain dari pada aku yang sudah mengenalmu begitu lama, Kai?”
Perjalanan yang cukup panjang telah sampai mendekati kota. Masing-masing ponsel telah berada di genggaman mereka seperti menandakan kehidupan saat ini.
“Sky, apa kau…”
“Mbbmmmp…,” Kiya membekap mulut Joes.
“Ada apa?” tatapan Sky bertanya-tanya karena teman-temannya menatapnya seolah sama-sama ingin berbicara.
“Hmm, di mana ponselmu?” ucap Kiya dengan gerak-gerik yang aneh.
“Di dalam ranselku.”
“Ah, bukankah ponselmu masih…”
“Iya, aku mematikannya.”
“Ah…”
“Ada apa? Kenapa kalian melihatku seperti itu? Kalian juga, memperhatikan ponsel dengan begitu serius. Ah, apa ada postingan baru di portal sampah itu?”
“Hei, kau pikir sehari saja kita bisa hidup tanpa ponsel?”
“Iya, kita hanya melihat apa yang ada pada ponsel kita masing-masing. Bukankah seperti itu?”
“Hahaha, itu benar adanya.”
“Tatapan kalian mencurigakan. Kiya kau tidak berbohong padaku?”
“Ti—dak.”
“Kiya!”
“Tidak ada apa-apa, Sky.”
“Kau tidak bisa bohong, Kiya.”
“Apa itu soal Kai dan Rania?”
Semua mengalihkan pandangan mereka. Seperti membenarkan ucapanku. “Ah, jadi benar. Baiklah, aku akan melihatnya nanti.”
Tidak ada yang menjawab.
“Tidak apa, itu bukan salah kalian. Sesegera mungkin aku juga akan tahu.”
“Hei, aku baik-baik saja. Bukankah kalian menyuruhku untuk bersenang-senang?”
Tidak ada jawaban lagi
“Hahaha, baiklah…aku akan melihatnya sekarang.”
Barulah mereka bereaksi.
“Setidaknya saat kau sudah benar-benar sampai.”
“Kau mengerti, Sky? Kau tidak bisa membukanya sekarang.”
“Hahaha, iya aku mengerti.”
“Apa mereka pergi makan malam?” tanya Sky saat teman-temannya tidak lagi fokus pada ponsel.
“Sky, kau bisa melihatnya nanti.”
“Jangan coba-coba melihatnya sekarang!”
“Aku hanya menebaknya, apakah seperti itu?”
“Ya,” jawab Kiya.
“Kiya!”
“Bukankah itu sudah bisa ditebak? Sudah kuduga akan seperti itu.”
Apa mereka makan malam bersama di tempat favorit Kai?
Apa yang mereka bicarakan?
Mereka bersenang-senang?
Apa itu hadiah ulang tahun dari Kai?
Sky menghela napas. Melihat ke arah luar lalu menghela napas lagi. Bersandar di bahu Kiya dan berakhir memejamkan mata meski bukan saatnya untuk terlelap karena hanya menyisahkan beberapa menit untuk sampai ke kampus.
“Kau, sih!” Joes berbisik di telinga Kiya.
“Ssstt! Dia bisa mendengarnya.”
Terlelap dalam bayang-bayang wajah Kai dan juga Rania.
“Kau mengusirku?”
“Tidak seharusnya kau berada di sini, Rania.”
“Bagaimana aku bisa keluar?”
“Iya, benar ini salahku harusnya aku tidak mengabaikanmu.”
“Iya, kau bersalah.”
Membukanya sekarang?
Atau nanti?
Membukanya?
Sekarang?
Tidak!
Jangan!
Seperti biasanya, suara langkahku berirama dengan suara di dalam pikiranku.
Langkah kakinya berhenti di depan toserba. “Hai, Nak!” sapanya.
“Selamat pagi, Bu.”
“Kau baru saja berlibur?” tanyanya.
“Tidak, hanya berkemah.”
“Hei, bukankah itu sedang berlibur?”
“Sepertinya…bukan.”
“Ada apa? Kau bertengkar dengan Kai?”
“Hmm, tidak.”
“Bilang saja…iya.”
Sky menaruh apa yang ia beli di atas meja kasir.
“Kau bisa membawanya…ini untukmu.”
Sky bingung dengan apa yang ia dengar. “Iya, Bu?”
“Kau bisa membawanya, ini gratis untukmu.”
“Hah?”
Pemilik toserba itu memasukkannya dalam kantung kresek dan meletakkannya pada jemari tanganku. “Anggap saja kau sedang berbahagia hari ini.”
“Tapi, Bu…”
“Tidak apa. Kau akan pulang, kan? Makanlah sembari menonton film dan juga tidurlah dengan nyenyak.”
“Bu…”
“Sudah, tidak apa.”
“Bu…”
Pemilik toserba itu mengantarnya sampai keluar. “Sudah, tidak apa,” Ibu itu mengusap-usap kepalaku dengan lembut.
“Terima kasih,” berulang kali Sky mengucapkan terima kasih dengan menundukkan kepalanya. Dari kejauhan pemilik toserba itu melambaikan tangan padanya serasa dia adalah Ibunya.
Langkah kakinya menjadi cepat.
Semakin mendekat.
Tinggal beberapa langkah lagi.
Sky sudah berada di depan pintu. Membuka ponselnya dan ya…
“Apa itu…”
“Sky?”
Kai berjalan mendekat.
“Suara kalian berisik,” Sky berjalan masuk melewati Kai dan Rania.
“Kalian sedang meributkan soal ini?” Sky mengangkat ponselnya.
“Sky, itu tidak seperti yang kau bayangkan,” Kai berada di hadapanku.
“Itu bukan apa-apa, Sky. Kau juga tidak berpikir seperti itu, kan?” jelas Rania.
“Selesaikan masalah kalian. Aku hanya mengambil tasku yang tertinggal,” Sky berjalan ke kamar Kai dan mengambil tas miliknya.
Berjalan keluar dan berkata, “Selesaikan masalah kalian.”
“Kau mau ke mana?” Kai menggenggam tanganku.
“Pulang dan tidur,” Sky melepas genggaman itu.
“Oh, ya. Selamat ulang tahu, Rania.”
...***...