Suddenly

Suddenly
The Day Our Eyes Met



“Ramen.”


“Nasi goreng.”


“Ah, tidak. Sate?”


“Ayam?”


“Ramen, titik!”


“Ayam, titik!”


“Oke, ramen.”


“Oke, ayam.”


“Hei!”


“Hei!”


Brrrrrrrr…


“Hahaha…”


“Hahaha…”


“Aku lapar.”


“Aku juga.”


“Jadi, kita makan apa?”


“Ramen dan ayam,” sahut Kai dengan senyuman di garis wajahnya.


“Oke.”


1 jam berputar-putar di jalan, tidak tahu makanan apa yang harus mereka pilih. Ujung-ujung selalu di tempat yang sama. Tempat yang sering mereka kunjungi.


“Eh, Kai. Sepertinya…”


“Kau merasa tidak enak?”


“Bukan, eh…”


Kai memutuskan untuk menepi. “Kenapa? Katakan saja,” Kai menggenggamnya.


“Kau tahu, kan…kalau warna putih itu rawan terkena noda?”


“Eh, iya.”


“Ah…”


“Apa, kau tahu?” berharap Kai akan tahu maksudnya.


“Waktu itu kau pernah bilang kalau kau kurang suka pakai baju warna putih. Wah, apakah aku pacar yang pengertian? Menepi hanya ingin mendengar pertanyaan yang entahlah…unik?”


“Kau sedang mengejek?”


“Apa terlihat seperti itu, haha? Katakan saja yang sebenarnya.”


“Hmm, kau tahu bendera jepang?”


“Haha, pasti ta…”


“Ah…,” kedua mata Kai terbuka lebar seolah instingnya baru saja bekerja.


“Oke, tenang. 10 menit kita akan sampai.”


Sky menggangguk.


Kencan pertamaku di awali dengan seperti ini, bendera jepang. Pantas mood dan rasa nyeri di perutku sedari tadi telah terasa.


Amarahku seperti ingin meledak-ledak tetapi di antara ingin marah dan tidak.


Benar-benar 10 menit sampai.


“Kai, eh…”


“Baiklah…,” Kai mengalihkan pandangannya ke arah liat dan Sky memastikan tidak ada noda di kurai kemudi yang ia duduki.


Sky tersenyum, “Aman.”


Kai memejamkan matanya tetapi kedua tangannya sedang melilitkan jacket di pinggang Sky.


“Terima kasih,” ucap Sky.


“Apa kau bisa berjalan?” tanyanya.


“Hei! Kedatangan tamu tak membuatku tidak bisa berjalan.”


Kai tertawa. Tubuhku tenggelam bersama tubuhnya. Kai tak membiarkanku berjalan sendirian.


“Sampai nanti,” ucapku.


“Siapa bilang aku akan menunggumu di bawah atau di apartemenku.”


“Hah, kau ikut masuk?”


“Iya.”


“Hah?”


“Iya, aku akan menutup mata.”


“Kai, kau membuatku…”


“Aku hanya menunggumu di ruang tv,” potong Kai.


“Tidak!” tolak Sky.


“Baiklah, sampai nanti.”


“Aku tidak akan lama.”


Kai melambaikan tangan padaku.


“Hampir saja,” napasku terengah-engah.


Melepas semuanya. Membersihkan noda merah itu dan wah, kalau tadi masih berada di luar…itu akan menjadi momen yang tak terlupakan.


Sky telah berganti pakaian tetapi bukan pakaian untuk pergi keluar, ia memakai pakaian rumah. Kembali ke kamar mandi untuk memastikan tidak ada yang tertinggal. Ia sudah memasukkan semua pakaian yang telah bersih dari noda itu ke dalam mesin cuci.


“Perasaan lampu ruangannya belum sempat kunyalakan, kenapa sudah menyala? Apa aku lupa? Ah, iya.”


“Haha, aku yang menyalakannya.”


“Akkkhhhh!”


“Aku baru saja masuk, hehe.”


“Kai, kau…”


“Psychopath…,” Sky melanjutkan.


“Bagaimana kau bisa masuk?” teriak Sky.


Bukannya menjawab Kai justru memasang ekspresi mukanya yang masam.


Sky mempertanyakan apa yang terjadi dan ya, jawaban itu datang. “Surprise, hahaha.”


Itu Ken.


“Hei, kenapa kau ada di sini?”


“Kau masuk bersamanya?” Kai berpaling dariku.


“Ya, benar sekali.”


Sky menghampiri Kai, “Hei, kau marah?” sambil memainkan kedua pipinya.


“Tidak. Dari awal, kalau sudah memanggilku seperti itu.”


“Tapi kau juga salah, kenapa tiba-tiba masuk? Untung saja aku masih…ah, sudahlah.”


“Maaf,” bisik Kai.


“Maaf juga,” bisik Sky.


“Sekarang bagaimana?” bisik Sky.


“Bagaimana cara menyingkirkannya?” bisik Kai.


Seperti bisa membaca suasana, Ken langsung berbicara. “Hahaha, dasar kalian! Baiklah, aku pergi.”


“Tunggu, Ken. Apa terjadi sesuatu?” tanyaku.


“Ya, ini soal Ayahku. Sebenarnya, aku ingin beberapa hari tinggal di sini tapi…”


“Oke, tinggallah sampai kau baik-baik saja.”


“Tidak bisa! Kalau begitu, aku juga akan tinggal di sini,” ucapan Kai dengan lantang.


“HAH?” Sky meletakkan kedua tangannya di kepala.


“Wah, hei! Kau punya tempat tinggal dan kau tinggal melangkah saja tanpa harus pergi jauh,” ucap Ken.


Kai dan Ken, justru berdebat sedang Sky sibuk mengambil pakaian dan berlindung di kamar mandi. Meski suara mereka masih menembus tetapi setidaknya tidak terdengar keras.


Sky menghela napas. Menimbang-nimbang pikirannya. Mereka pasti akan sama-sama membuatnya tidak punya pilihan lagi selain mengabulkan kemauan mereka.


Tetapi…


Krek!


“Sky…,” Kai dan Ken kompak.


“Bagaimana pendapatmu?”


“Iya, kau yang memutuskan.”


“Aku? Ah…”


“Karena itu adalah keputusanku…”


Kai dan Ken mendengar dengan seksama.


Menunggu kata-kata yang terucap dari mulutku.


“Hmm…”


“Kalian…”


“Tidak.”


“Tidak, apa?”


“Apa maksudnya?”


“Hmm…”


“Hei, Sky…”


“Kai, bisakah kau menolongku?” Sky tersenyum berseri-seri.


“Ah, perasaanku menjadi tidak enak,” sahut Kai.


“Hehe. Izinkan Ken tinggal bersamamu, ya? Aku mohon, Kai. Ya?”


“Tidak,” jawab Kai dengan cepat.


“Aku juga tidak mau. Biarkan aku tinggal bersamamu. Ya, Sky? Dia sudah punya tempat tinggal…”


“Kau juga sudah punya tempat tinggal,” Kai menepis tangan Ken yang sedang menggenggam tanganku.


“Diam kau!”


“Kau yang diam!”


“Baiklah, malam ini saja kalian tinggal di sini. Setelahnya hanya Ken yang tinggal bersamaku. Titik, tidak bisa diganggu gugat.”


Ken menjulurkan lidahnya pada Kai. “Wohoooo! Kau dengar itu? Hahaha…”


“Ayo, kita keluar,” Kai yang memasang muka masam mengandeng Sky dan pergi keluar.


“Bersenang-senanglah, aku menunggu kalian di rumah. Woohooo!”


Mereka berdua telah menjadi teman baik dan menjadi akur tetapi setelah aku resmi bersama Kai. Kai dan Ken kembali seperti pertama kali mereka bertemu.


Tidak di kampus. Di luar kampus dan di mana pun mereka bertemu. Selalu ada saja.


“Apa kau kesal?” tanya Sky.


“Sedikit.”


“Maafkan aku, maaf telah menyebutmu seperti itu. Tetapi kau memang seperti itu, hehe.”


Kai terdiam.


“Hei, kau benar-benar marah?”


“Kenapa aku tidak boleh?”


“Kai…”


“Iya, bercanda. Hehe…”


“Aku tahu kau marah.”


“Baiklah, kau benar.”


“Makan ayam, deh.”


“Tidak. Kau tadi bilang ramen.”


“Kau bilang ayam.”


“Mau sampai kapan kita seperti ini?” Kai tidak bisa menahan tawa.


“Bahkan perutku menjadi tidak lapar. Bagaimana kalau ke toko buku?” usul Sky.


“Ah, iya. Mereka juga punya ramen dan ayam.”


“Hahaha, baiklah.”


Ujung-ujungnya akan kembali di tempat yang sama. Seperti sebelum-sebelumnya.


Mencoba mencari tempat yang baru tetapi justru kembali dan kembali lagi.


Ramen dengan ayam karage di atasnya dan 2 gelas lemonade.


“Apa kalian berdua kembali bersama?” tanya pemiliki toko buku.


“Tidak kembali bersama tetapi baru saja memulai untuk bersama,” jawab Kai.


“Ah, senang mendengarnya.”


“Apa kau tahu, Sky? Dia berlari mencarimu di hari itu,” Pak Isyo melanjutkan ucapannya.


“Dia meninggalkanku.”


“Hei, kau ingin aku semakin menyesali perbuatanku?”


“Hahaha, tidak. Tapi terima kasih, setidaknya kau mencariku.”


“Selamat menikmati,” ucap Pak Isyo.


Toko buku ini tidak bagitu banyak berubah. Meski ada beberapa perbaikan tetap saja tidak ada yang melupakan toko buku yang sudah lama berdiri ini.


“Oh, ya Kai…”


“Hmm?”


“Kenapa waktu itu kau menyelipkan kertas di bawah pintuku?”


“Kertas?”


“Iya, kertas yang membawaku bertemu denganmu di toko buku di hari itu.”


“Kertas, hah?”


“Iya, kau yang menaruh kertas itu. Saat kau tiba-tiba menghilang.”


“Aku tidak tahu apa-apa soal kertas itu. Apa isi kertas itu?”


DEG!


Hah?


Kalau bukan Kai, siapa?


“Kai, jangan membuatku takut. Kertas itu, Kai.”


“Sungguh, Sky. Bukan aku. Kalau itu aku, tentu aku tidak mungkin bertanya-tanya padamu.”


“Baiklah, lupakan.”


“Apa ada seseorang yang mengganggumu?”


“Tidak juga. Tapi kertas itu dari siapa?”


“Ah, pantas. Di hari itu, kupikir itu adalah keajaiban. Karena kau tiba-tiba datang seperti doaku yang baru saja terkabul.”


“Baiklah, lupakan saja.”


“Kalau ada sesuatu yang mengganggumu. Kau harus mengatakannya padaku.”


“Iya, Kai pasti.”


Siapa orang itu?


Dan untuk apa?


Pikiranku menjadi berkelana.


Sekaligus ada rasa takut dan memikirkan sesuatu, sesuatu buruk yang bisa saja terjadi. Tetapi berharap itu tidak terjadi di kehidupanku.


Orang itu membawaku pada tempat yang penuh kenangan dan menjatuhkanku pada kenangan masa lalu yang bersemi kembali.


...***...