
“Apa kau bilang?” teriak Sky.
“Hei, aku menunggumu berjam-jam dan kau tidak bisa datang?” raut wajahku seketika berubah. Ken mengajakku bertemu, ia juga menyuruhku menunggu sebentar tapi kata sebentar bagi Ken seperti lelucon.
Tut…tut…tut…
Sky mematikan telepon sekaligus mematikan ponselnya.
“Kenapa kau cemberut?”
Sky melihat sepatu seseorang yang ia kenal. “Kenapa dia selalu ada di mana-mana?” ucap Sky dalam benaknya.
“Kau masih tidak ingin berbicara denganku?”
“Atau karena Rania?”
Sky seperti patung yang diberi nyawa. Kedua matanya hanya melihat Kai sekilas tanpa ada ekspresi di wajahnya.
“Kau mau ke mana? Tak biasanya pergi ke tempat yang jauh dari apartemen.”
Sky justru berjalan dengan Kai yang mengikutinya di belakang.
“Apa kau sudah makan?”
“Sky!”
“Tak bisakah melupakan sejenak dengan apa yang terjadi?”
Sky tetap bungkam.
“Baiklah…”
Kai berjalan mendahuluinya, membuat Sky menghela napas, dan berjalan berlawanan arah.
“Sky!”
Suaranya menghentikan langkah kakinya.
Kai…
Berada di hadapannya.
“Kau pikir, aku akan menyerah?” Kai menarik jemari tanganku perlahan. Kaki melangkah tepat mengenai ujung sepatuku. Jemari tangannya perlahan menggenggam tanganku, memasukkannya di kantung jaketnya.
Tanpa melakukan apa pun, seolah seperti yang pernah terjadi.
Kai membukakan pintu untuk dan rasanya seperti menyambutku untuk kembali.
Perasaan itu menjadi aneh. Aku dan Kai sama-sama terdiam.
Mulutku ingin berbicara tapi tidak tahu caranya atau tidak tahu caranya memulai.
Ponsel Kai berdering, tapi ia mengabaikannya. Apa itu rania? Pikiranku mulai memikirkannya. Ponsenlnya mulai berdering lagi, berulang kali.
“Dia selalu menghubungiku, bagaimana aku bisa membuatnya mengerti?” Kai melihat ke arahku. Tatapannya dalam. Seolah pertahananku tengah berada di ujung tanduk.
“Semua tergantung padamu,” ucap Sky lalu membuka pintu dan keluar.
Bayang-bayang Rania lebih besar dari pertahananku yang mencoba untuk runtuh. Aku menginginkannya, tapi rasanya…akan kembali terjebak. Tidak akan habisnya dan bukan hanya melelahkan tapi juga selalu berada pada tempat yang membuatku semakin tersesat.
Kai tidak menyerah, ia berjalan dan berhasil kembali menggenggam tanganku.
“Kumohon kali ini saja…”
“Setelah itu, aku tidak akan mendekatimu.”
Sky melepas genggaman itu, berjalan dengan berbalik arah. Membuka pintu dan duduk di samping Kai. Kai tersenyum padaku. Jemari tangannya menyentuh ujung kepalaku.
Entah dia akan membawaku ke mana. Rasanya ingin bertanya, tapi justru mengurungkan ucapanku sendiri.
Bahkan, melihat ke arahnya saja meski hanya sekilas…rasanya menjadi sulit dan menjadi lebih hati-hati—yang sebenarnya juga membuatku bingung.
Ponselnya berdering lagi.
Kai mematikan ponselnya, menaruhnya di dashboard di depanku.
“Kau terlihat lebih kurus. Kau tidak mungkin tidak makan, kan?”
“Ah, aku melupakannya—aku berbicara sendirian. Bagaimana kau bisa menahan untuk tidak berbicara?”
“Kau masih ingin hidup, kan?”
“Hahaha, baiklah.”
Pandangan Kai kembali fokus ke depan dengan masih berbicara, “Setidaknya, aku bisa mendengar suaramu.”
Sky hanya melihat ke arah Kai sekilas dan kembali melihat ke arah luar.
“Biar kutebak.”
“Kau…”
“Kau mematikan ponselmu, kan?”
Kai pun tertawa dengan puas dan menaikkan laju jalannya.
Ken berusaha menghubungi Sky kembali tapi tetap tidak ada jawaban. Kekacauan sedang terjadi. Ibu tirinya mengamuk di apartemen Sky dan memporak-porandakan semua terjangkau dengan tangannya. “Bagaimana kau bisa masuk? Kau bisa berbicara tanpa harus seperti ini,” Ken berusaha mengontrol ucapannya tapi tetap tidak bisa.
“Kau lebih baik baik diam. Kau juga bukan siapa-siapa,” balasnya dengan air matanya yang masih mengalir dan penuh amarah.
“Apa Ayah yang membuatmu seperti ini?”
“Sudah kubilang lebih baik kau diam,” Ibu tirinya mendorongnya sampai membentur tembok.
“Apa kau menyadarinya? Sky…”
“Tak seharusnya dia memiliki Ibu sepertimu,” Ken sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya.
“Kau juga tak pantas memiliki Ayah sepertinya,” senyumannya sinis.
“Kalau itu karena Ayahku, kenapa kau melimpahkannya pada Sky?”
“Dia hanya memikirkan Ayahnya yang pengecut. Menggunakan ulang tahun Ayahnya, aku berhasil masuk karena itu. Kau pikir, apa kau tahu bagaimana perasaanku?”
“Kau sendiri yang membuatnya menjauh, apa kau menyadarinya atau saat itu kau hanya terpengaruh oleh Ayahku?”
“Seperti kau yang terhasut oleh Sky, bukankah seperti itu? Kau pikir aku tidak tahu. Kau menyukainya, kan?” dengan suara tawanya yang mengganggu.
“Benar juga, tidak ada ikatan darah…kau tetap tidak bisa bersamanya.”
“Lebih baik pikirkan dirimu sendiri,” jawab Ken.
Tanpa diminta Ibu tirinya itu pergi begitu saja, Ken berjalan ke arah pintu mengganti password dan mengirim pesan pada Sky dengan menjelaskan apa yang terjadi.
Lalu menutup pintu kembali dan masuk ke dalam. Tatapannya yang kosong setelah melihat kekacauan di seluruh ruangan. Pikirannya pun berkelana.
Pukul 3 pagi, di tempat yang sama seperti saat itu.
“Itu juga bukan kesalahan,” ucap Kai.
“Lalu kau ingin mengulangnya kembali?” Sky menatap ke arah Kai.
“Dan mengulang seolah memulai dari awal? Tak lama, Rania datang dan memulai semuanya…”
“Kenapa kau selalu membahas yang belum tentu terjadi seperti apa yang kau pikirkan?” potong Kai.
“Kau baru saja menunjukkan kekesalanmu karena dia terus menghubungimu, bukankah itu terjadi sesuai apa yang kupikirkan?”
“Dia tidak akan melakukannya lagi,” jawab Kai.
“Itu bukan jawaban yang kuinginkan, Kai. Kau justru memaksakan sesuatu yang kau sendiri tahu, itu tidak bisa.”
“Kau sama denganku, Sky. Kau juga tidak ingin itu berakhir.”
“Tapi aku berusaha untuk mengakhirinya, Kai.”
“Tapi kau membohongi dirimu sendiri. Maafkan aku soal kemarin. Aku diam hanya tidak ingin membuatnya menjadi jauh lebih parah. Entahlah, ucapanku justru semakin membuatmu ragu,” Kai menatap ke arahku dengan tatapan yang sama seperti apa yang kubayangkan selama ini.
“Pada awalnya, aku tidak begitu memikirkan sikapmu pada Rania. Karena aku tahu, tidak akan ada yang berubah di antara aku dan kau. Tapi, apakah aku masih bisa terus berpikir dengan jernih seperti itu, Kai?”
“Kau menyerah begitu saja?” Kai semakin mendekat.
“Ya, aku menyerah.”
“Tidak bisa…”
“Belum saatnya kau menyerah.”
Kai jauh lebih mendekat.
Kedua tanganku mendorongnya menjauh lalu beranjak dan keluar.
Tapi langkah kakinya justru berhenti dan berjalan kembali menghampiri Kai. “Aku pergi bukan berarti aku menganggapmu seperti itu, kau tahu maksudku, kan?” ucap Sky.
Kai tersenyum dan berkata, “Kenapa kau tidak langsung menyebutnya? Apa kau takut itu terdengar menyakitkan?”
“Kau ingin aku mengatakan yang sebaliknya?” sahut Sky.
“Tidak, jangan! Baiklah, aku akan mengantarmu.”
Kai berjalan di sisi kananku dengan jarak yang aman.
Tanpa berbicara Kai membuka pintu.
Langkah kakiku mulai keluar.
“Sky?”
Langkah kakiku yang keluar, justru bertemu dengan Ken. Ken yang menyadari kehadiranku dan juga Kai.
“Kau di sini rupanya?”
...***...