
“Kau tidak mungkin tidak pernah menyukaiku, Kai.
Rania dengan cara bicaranya yang meledak-ledak dan sulit dikendalikan.
“Jawab aku, Kai! Kau bohong kalau tidak pernah menyukaiku.”
“Ran, itu dulu dan kau bahkan tidak ingin itu terjadi. Jadi, haruskah aku mengatakannya bahwa kau terlambat?”
Rania meremas kedua bahu Kai dengan kuat. Seperti tatapan yang ia berikan.
Persahabatan di antara perempuan dan laki-laki sulit untuk dipertahankan. Ya, Rania benar. Aku tidak mungkin tidak menyukainya.
“Harusnya kau bertahan untuk tetap menyukaiku, bukankah aku sudah mengatakannya? Kau dan aku akan selalu seperti ini, tidak akan berubah. Aku tahu kau menyukaiku dan begitu juga denganku. Kau juga selalu mengatakan itu, Kai.”
“Kau tidak bepikiran seperti itu, bagiku itu menjadi sepihak. Kau selalu tidak ingin adanya suatu hubungan meski tahu perasaan masing-masing,” Kai melepas kedua tangan Rania yang ada di bahunya.
“Itu sudah berlalu, Ran. Perasaan manusia juga bisa cepat berubah dan begitu juga dengan apa yang kupikirkan. Aku benar-benar menyukai, Sky. Tapi sayangnya selalu tidak berjalan dengan baik. Karena kau selalu menghalang-halanginya, bukankah seperti itu?” Kai melanjutkan ucapannya.
“Menghalang-halangi? Kupikir hanya Sky saja yang tidak mau berjuang, apakah itu sama dengan apa yang kau pikirkan? Kai, aku sangat mengenalmu.”
“Dia terlihat ingin mengakhiri hubungan. Sedangkan kau berada dipihak yang tetap mempertahankan bagaimana pun caranya. Bukankah itu akan menjadi sepihak? Kau tidak sebodoh itu, Kai.”
“Tapi…ada yang aneh. Kau meninggalkannya demi aku? Kau memilihku. Kurasa aku telah menjadi prioritasmu.”
“Tapi mengapa kau tidak menyukaiku, Kai?” teriak Rania.
“Bukankah sekarang waktu yang tepat, hmm? Kau akan bahagia bersamaku, Kai. Sadarlah! Hubunganmu dan Sky berakhir setelah ini.”
“Teruslah menyukaiku, Kai!”
“Seperti Kai yang dulu selalu ada untukku. Mengapa orang sepertinya yang menggantikan posisiku?”
“Mengapa bukan aku, Kai?”
“Kai, kau tidak mungkin seperti ini. Kau ditakdirkan untuk bersamaku. Kita sama-sama punya segalanya, bagaimana dengannya? Sky justru akan menyakitimu.”
“Teruslah menyukaiku, Kai!”
“Belum terlambat, Kai. Kau bisa memulainya kembali dengan perlahan. Tidak apa, kau tidak menyakitiku.”
“Ran! Kau tak perlu seperti ini. Kau tidak bisa memaksakan kehendak sepert itu tanpa memikirkan dirimu sendiri. Itu tidak akan berubah apa pun. Bagiku, perasaan yang pernah kumiliki untukmu…itu sudah selesai.”
“Tidak! Itu belum selesai. Kau bisa memulainya kembali, Kai. Kau bisa…”
“Ran!”
“Kau bisa melakukannya, Kai!” suara Rania terdengar keras.
“Ran, kumohon jangan seperti ini!”
“Aku harus berjuang untukmu, Kai. Apa kau tidak melihat mana yang lebih berjuang untukmu? Apa Sky melakukan hal yang sama? Sepertinya…Sky hanya bisa marah padamu.”
“Kai!”
“Jangan lakukan itu, Ran!”
“Aku tidak akan menyerah, aku…”
“Aku menyukaimu, Kai.”
“Jawab aku, Kai! Mengapa kau berhenti menyukaiku?”
“Bukankah sudah jelas? Kau tidak menginginkan hubungan itu terjadi dan membiarkan itu terus-menerus terjadi. Begitu juga dengan apa yang terjadi dengan perasaanku yang semakin berubah-ubah dan pada akhirnya, aku benar-benar mengakhirinya.”
“Itu hanya sepihak, kau tidak berusaha menjelaskannya padaku.”
Rania masih tetap kekeh dan…
Sky akan melihat semuanya.
Semua yang terjadi.
Apakah hubunganku akan berakhir?
Aku tidak ingin itu terjadi.
“Itu masa lalu, Ran. Aku tidak ingin mengungkitnya lagi.”
“Kalau itu berada di masa lalu, kenapa kau tidak meninggalkanku saja pada saat itu?”
“Kau pikir semudah itu? Sama halnya denganmu. Tapi aku tidak segila yang kau lakukan.”
“Segila yang kulakukan?”
“Iya, bukankah kau yang melakukannya?”
Rania menundukkan kepala dengan dua tangannya yang menutup kedua matanya. Lalu berkata, “Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya…”
Rania menangis.
“Apa kau tahu…apa yang kau lakukan itu juga bisa mengbahayakan dirimu sendiri? Apa yang ada dipikiranmu? Kau ingin aku lebih menjauh darimu?”
“Kai, maafkan aku. Aku benar-benar kacau. Aku…”
Kai memeluknya.
BRUK!
Suara benturan di kapalaku benar-benar sekeras itu.
Bagaimana aku bisa berakhir seperti ini?
Apa aku akan selalu seperti ini?
Menyedihkan seperti ini?
“Sky?”
“Apa kepalamu baik-baik saja? Kau membenturnya lagi.”
“Sky?”
Green menahan pintuku. “Hei, kau tidak penyapa tetangga barumu ini?”
“Hai!”
“Hai? Itu saja?”
“Kau mau bagaimana?”
“Bukankah kita harus makan bersama sesama tetangga baru?”
“Sepertinya aku tidak akan lama menjadi tetanggamu,” ucap Sky dengan tatapan yang kosong.
“Maksudnya?”
“Entahlah,” Sky tersenyum dan menutup pintu meninggalkan Green yang masih bertanya-tanya.
Sky tidak masuk begitu saja. Ia berdiri melihat sekitar. Melihat apa yang ada di hadapannya. Serta pikirannya yang memutar momen di setiap ruang yang ada di tempat tinggalnya.
Bukan waktu yang sebentar.
Meski itu sudah berlalu.
Rasanya baru kemarin ia memutuskan untuk tinggal sendiri dan masih berharap Ayahnya akan menghampirinya.
Namun, sampai sekarang masih menjadi tanda tanya. Meski Ayahnya sudah pasti tahu di mana harus mencarinya. Tapi nyatanya belum ada tanda-tanda yang menunjukkan Ayahnya tengah mencarinya.
“Aku merindukannya,” suara Sky lirih.
“Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa.”
“Seperti tidak punya hak lagi.”
“Apa kau menyesalinya sekarang?”
“Tapi…aku pun sama dengan yang lainnya. Yang berhak untuk memiliki perasaan seperti ini. Perasaan yang melelahkan.”
“Kenapa semua orang bisa dengan mudahnya membenciku?”
“Apa yang kulakukan?”
“Mengapa orang sepertiku tidak bisa bersanding dengannya?”
“Apa artinya dengan sebanding?”
“Mengapa jatuh cinta dengannya justru membuatku seperti seorang pelaku kejahatan yang tidak pantas menerima cinta?”
“Bukankah aku juga bagian dari mereka?”
“Mengapa harus seperti itu?”
“Aku merindukannya…”
“Aku merindukannya…”
“Menyebut namanya membuatku…”
Sky menyeka air matanya dengan cepat. Karena bukan saatnya ia berlarut-larut. Isi kepala sudah cukup menumpuk dengan hal yang sama.
Ia mulai menimbang-nimbang lagi.
Apakah dia benar-benar akan melakukannya?
Apakah itu adalah keputusan yang tepat?
Tapi air matanya justru kembali tumpah dan tak sanggup lagi berkata-kata.
Ting tong!
“Kai…”
“Stop!” Kai menepis tangan Rania.
“Kenapa?”
“Kau tidak ingat dengan apa yang kuucapkan?
“Baiklah,” Rania memasang muka memelas.
“Kau baik-baik saja?”
“Seperti yang kau tahu. Untuk apa kau ke sini?”
“Wah! Kau kejam sekali. Aku hanya khawatir padamu. Apa kau sudah bertemu dengannya?”
“Sering…”
“Tapi tidak secara langsung.”
“Tidak secara langsung?” Rania tidak mengerti.
“Hanya aku yang tahu.”
“Apa kau tahu…Sky menjadi populer akhir-akhir ini? Banyak yang mendekatinya. Meski sudah di tolak, bukannya menyerah tapi justru membuat mereka semakin mengejar Sky. Apa kau baik-baik saja?”
“Aku merindukannya.”
Rania terdiam.
“Aku merindukannya, benar-benar merindukannya.”
“Apa maksudnya kau bilang sering dan tidak secara langsung?”
“Hanya aku yang tahu,” tatapan Kai kosong.
...***...