
“Kau diam-diam pergi bersamanya?”
Suara pintu yang tertutup dengan keras karena angin yang cukup kencang.
“Aku bertemu dengannya di apotek dan Kak Grace memintanya untuk mengantarku.”
“Karena…itu kau?”
“Tidak. Kak Grace hanya khawatir padaku dan kebetulan ada seseorang yang mengenalku. Untuk itu Kak Grace…”
“Kau bisa menghubungiku, Sky.”
“Kau bilang kita sama-sama lelah dan akan bicara besok. Kau juga bersamanya.”
“Bagaimana bisa kau menutup pintu begitu saja?”
“Lalu aku harus bagaimana, Kai? Menyapamu dan Rania dengan berkata, hai—seperti itu?”
Kai menggenggam tanganku dari belakang. Tangan kanannya menyentuh keningku. “Kau tidak demam.”
“Memang tidak.”
“Aku akan menjelaskannya padamu, Sky.”
“Tidak sekarang dan tidak juga besok, Kai.”
“Tidak ada apa-apa denganku dan Rania.”
“Kau sudah tahu prioritasmu, Kai. Aku tidak punya seseorang yang benar seseorang yang berada di sampingku selain kau dan aku menjadikanmu prioritasku. Semua orang akan berbeda. Seperti kau dan aku yang kupikir akan memiliki prioritas yang sama.”
Sky melepas genggaman tangan itu dan berkata, “Bagaimana rasanya terlihat seperti pasangan yang sesungguhnya saat kenyataannya kau sudah memilikinya?”
“Bukankah kau juga melakukannya di hadapanku? Apa yang kulihat tadi? Bahkan kau menutup pintu begitu saja.”
“Aku tidak menyentuhnya. Tidak juga berpelukan atau bergandengan tangan.”
“Ah, jadi itu yang membuatmu marah? Kau melihatku dan Rania?”
“Kau hanya tidak tahu dengan perasaan yang kumiliki, Kai.”
“Dan kau tidak tahu rasanya jika kau peduli dengan sahabatmu sendiri. Itu tidak ada kaitannya dengan sebuah prioritas.”
“Iya, aku memang tidak tahu. Karena akan selalu ada diriku sendiri. Selamat malam, Kai.”
Sky meminum obat. Berbaring di ranjangnya. Mematikan lampu tidurnya dan membuat seluruh ruangannya menjadi gelap.
Terdengar suara pintu yang tertutup.
Keesokan paginya rasa sesak di dadaku berkurang. Efek mengantuk pada obat yang kuminum benar-benar membantuku.
Ia telah bersiap pergi ke kampus, pergi lebih awal.
Hari ini, ia tidak berjalan kaki. Kak Grace tiba-tiba menghampiriku dan kekeh untuk mengantarku ke kampus.
“Kau mau ke mana sepagi ini, Kak?”
“Hmm, sudah lama aku tidak melakukannya.”
“Apa terjadi sesuatu? Kita belum lama saling mengenal tapi terasa mengerti apa yang kau rasakan. Ada apa, Kak?”
“Kelasmu dimulai pukul berapa?” tanyanya.
“10 pagi.”
“Hah? Bahkan ini masih pukul 6 pagi, Sky.”
“Aku hanya ingin menunggu di ruangan club sampai kelas tiba. Sebenarnya ada apa, Kak?”
“Apa aku bersedia menggunakan waktumu untukku?”
“Ya, dengan senang hati.”
Kalau dilihat-lihat kedua mata Kak Grace seperti sehabis menangis dan terlihat lelah. Apa yang terjadi sebenarnya?
“Hmm, aku…”
“Eh…”
“Iya, Kak?”
Kak Grace menatapku sesaat. Sorot matanya membuatku semakin memikirkan sesuatu yang buruk sedang terjadi.
“Ah, iya.”
Apa yang terjadi?
Sementara dirinya yang masih bertanya-tanya dengan apa yang terjadi pada Kak Grace. Kai terlihat menaruh makanan di depan pintu tetapi makanan itu masih berada di tempat yang sama sejak 1 jam yang lalu.
“Sky…,” seseorang yang ia cari tidak ada. Beberapa kali menghubunginya selalu tidak ada jawaban.
Saat Kai baru bangun dan membuka kulkas. Ia baru menyadarinya. Sky mengembalikan semua pemberiannya. Tidak hanya itu, Sky juga mengembalikan kursi malas yang ia buat beserta selimut yang telah selesai dicuci.
Mengembalikan semua barang-barang milik Kai yang tertinggal di apartemennya, lalu Sky mengambil barang-barang miliknya yang ada di apartemen Kai.
Satu lagi, Sky mengembalikan buku-buku pemberian dari Kai.
“HAH? TIDAK MUNGKIN!” teriak Sky dengan bola matanya yang hampir keluar.
Telinganya tidak mungkin salah dengan tapi ia tidak bisa mempercayai kenyataan yang terucap dari mulut Kak Grace.
“Orang itu kembali bersama mantan pacarnya,” belum cukup untuk mencerna keadaan saat Kak Grace mengatakan pernikahannya dibatalkan. Sekarang justru semakin membuatku kesal karena mendengar alasan dibaliknya.
“Ah, orang dari masa lalu. Apa mereka adalah teman lama?” tanyaku.
“Iya, kau benar.”
“Sialan! Mengapa fakta itu terdengar sepert memberiku peringatan?”
“Ah, Kai dan perempuan itu?” Kak Grace semakin memperjelas.
“Apa itu akan terjadi padaku, Kak? Ah, maaf. Harusnya aku lebih mendahulukan persaan…”
“Tidak apa. Bukankah itu kabar yang baik untukku? Meski itu tidak mungkin tidak menyakitkan.”
“Tapi…Kak Grace benar-benar berharga. Sebelum pernikahan itu berlangsung. Kebusukan itu terbongkar. Bagaimana jika tidak? Bukankah itu akan lebih sulit dan semakin menyakitkan?”
“Dia laki-laki bodoh yang tidak berani mengungkapkan perasaan yang sebenarnya bahkan itu menjadi berlarut-larut. Untuk apa menunggu 9 tahun kalau laki-laki itu tidak yakin dengan perasaannya? Dasar laki-laki *******!” Sky melanjutkan ucapannya dengan kalimat brutalnya yang justru membuatnya lega seperti melepas amarah yang ada pada dirinya.
“Hahaha, wah! Apa itu membuatmu lega?”
“Iya,” Sky memeluk Kak Grace erat.
“Kak Grace, kau orang terbaik yang pernah ada di kehidupanku. Karena itu, kau berharga. Dunia tidak ingin Kak Grace menikah dengan laki-laki itu.”
Kak Grace tersenyum padaku dan berkata, “Sebenarnya, aku sudah melewati malamku dengan penuh tangisan dan amarah yang tak tertahankan tapi hari ini…ada seseorang seperti kau yang menemaniku dan membuatku lega sekaligus menjadi awal untuk membuka lembaran baru.”
“Bagus! Kau sudah melakukan yang terbaik untuk dirimu sendiri, Kak.”
Kak Grace memeluk lebih erat dan berkata, “Kau akan baik-baik saja dengan Kai.”
“Semoga,” balasku dengan suara yang lirih.
Waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi. KakGrace mengantarku ke kampus. Sepanjang perjalanan kita banyak mengobrol. “Orang itu, apa dia menyukaimu?” tanya Kak Grace sebelum aku membuka pintu.
“Tidak mungkin,” balasku.
“Aku akan menjemputmu nanti. Kau tidak keberatan, kan?” ucap Kak Grace dengan raut wajahnya yang terlihat lebih lega dari pada sebelumnya.
“Baiklah. Aku akan menghubungimu, Kak.”
“Kita akan makan enak.”
“Deal!” teriakku dengan melambaikan tangan pada Kak Grace.
Seseorang dari masa lalu tiba-tiba datang disela hitungan jari sebelum hari H pernikahan dan salah satu di antara mereka akan goyah atau justru tidak. Wah! Bukankah itu mengerikan?
Seperti memberi dan mengambil. Terlihat sama-sama menggenggam tapi dengan arti yang berbeda.
“Mengapa itu terlihat menakutkan?” Sky berbicara sendiri dengan langkah kakinya yang berjalan.
“Apa yang membuatmu takut?”
Suaranya terdengar tapi sorot matanya dan langkah kalinya ingin berpaling melewati suara yang terdengar di telinganya.
Sky melewatinya seperti dirinya yang selalu menganggap dirinya adalah hantu yang tak terlihat oleh jarak pandang manusia yang lainnya.
“Sky…,” tangannya hampir menyentuh bahunya tapi langkah kalinya lebih cepat dan berhasil melarikan diri.
“Kau benar-benar terlambat…”
...***...