Suddenly

Suddenly
Happy New Year!



Menghabiskan waktu liburan semester tidak pergi ke mana pun, seharusnya menjadi hal yang biasa bagiku.


Tetapi kali ini terasa berbeda.


Setelah hari itu.


Ken maupun Kai, tidak ada yang menghubungiku.


5 hari lagi malam tahun baru.


Tahun lalu, tentu saja bersama Yuta dan Kale. Tahun ini tidak ada rencana apa pun. Selain mendekap di kamar dengan banyak camilan dan menonton beberapa film baru.


Sudah mencobanya, menghubungi Ken tapi tidak ada jawaban. Wah, sekarang aku telah merasakan apa yang dirasakan Ken selama ini.


Kalau Kai, aku tidak pernah menghubunginya. Tetapi sesekali memencet bell tapi seperti tidak ada penghuninya.


Pagi-pagi sudah disambut hujan. Perlu amunisi yang lebih banyak sebelum malam tahun baru tiba dan takut kehabisan stock.


Saat mendekati malam tahun baru, banyak orang-orang brutal yang membabi buta. Bahan yang tidak mungkin langkah akan menjadi langkah, hilang dengan sekejap.


Ya, mungkin akan ada di toserba yang lainnya tapi mau sampai kapan kau akan berkeliling sampai dapat?


Hujan tak begitu deras. Pakaianku rata-rata berwarna pastel dan itu menjadi menyebalkan saat kondisi hujan seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi. Masih bisa mencucinya.


Sky mendorong troli belanjanya dengan perasaan yang hampa. Ia menjadi lebih fokus, seperti ingin cepat selesai. Padahal berkeliling berjam-jam adalah kegemarannya.


“Selesai,” ia membawa dua kantung belanja yang cukup besar. Satu kantung berada di bahunya dan satunya berada di tangan kirinya karena payung yang ia bawa ada di tangan kanan.


Sky memainkan langkah kakinya karena bosan. Jarak menuju apartemen sedekat itu tetapi serasa tidak ingin pulang.


“Apakah aku akan datang bulan?” suasana hatiku benar-benar tidak membuatku nyaman.


Uring-uringan.


Kesepian.


Hampa.


Entahlah…


“Baiklah, pu—lang…”


“Kai?” garis senyumku seketika kembali.


Langkah kakiku begitu lebar. “Kk—ai…”


Kai tidak sendiri.


Ada orang lain di kemudinya.


Ya, perempuan.


Perempuan itu turun dari mobil Kai dan perempuan itu pergi dengan taxi.


Siapa perempuan itu?


Kai terlihat bahagia. Bahkan sebelum mereka berpisah, keduanya terlihat nyaman dan alami. Seperti kau saat bersama pasanganmu. Terlihat seperti itu.


Sky menghela napas dan memutuskan untuk kembali.


Terjadi keributan di kepalaku.


Siapa perempuan itu?


Apakah ucapannya padaku, omong kosong belaka?


Apa Kai sebenarnya berkomplotan dengan orang-orang yang merundungku?


Itu pasti pacar…


“Sudahlah, Sky.”


Pikirannya benar-benar kacau. Bukannya naik ke lantai atas menggunakan lift, ia justru menggunakan tangga darurat.


“Kau bodoh, Sky!”


Mau berbalik menjadi percuma, ia sudah terlampau jauh.


Ia juga beberapa kali mengecek ponselnya tapi sama sekali tidak ada notifikasi, yang ada justru yang tidak penting.


“Satu lantai lagi, Sky.”


Keringat mulai bercucuran. Tapi, ia tidak sempat memikirkan betapa panasnya berjalan dengan bertumpuh dengan kakinya dan juga kantung belanjanya. Hanya Kai yang ada dipikirannya.


“Sam—pai…,” napasnya terengah-engah.


Sayangnya hari ini tidak berpihak padanya. Kai dan dirinya saling menyadari tapi, mereka hanya bertatapan dan saling berpaling tanpa mengucapkan satu kata pun.


BRAK!


Kai menutup pintunya dengan keras.


Kedua tanganku bergetar. Ada rasa pahit di ludahku. Dari dalam perutku seperti ada yang mendorong sampai ke atas. “Huwekk…”


BRAK!


Bagai bencana yang membuatku ingin berteriak sekencang mungkin.


Aku harus mengepel lantai. Membersihkan kekacauan yang kulakukan sendiri. Indera penciumku benar-benar ternodai.


Dalam hati aku mengatakan, “It’s okay, Sky.”


Tiga potong cookies dan susu yang belum lama kumakan, keluar dari perutku.


“Di antara kita, apa akan seperti itu, Kai?”


“Ya, mungkin itu akan menjadi kenyataan. Apa salahku, huh?”


Sky tenggelam di balik selimutnya setelah mengeringkan rambutnya. Selera makannya sirna, ia hanya minum susu. Tidur adalah cara yang tepat untuk melupakan sejenak.


“Haruskah aku melakukannya?” ia menatap ke arah ponselnya dan menimbang-nimbang di dalam pikirannya.


Pilihannya sudah bulat. “Sampai malan tahun baru,” Sky mematikan ponselnya, meletakkan ponsel itu pada laci di sebelah ranjangnya lalu mengunci laci itu.


Tekadnya sangat kuat, kemungkinan kecil tidak akan goyah.


Ia benar-benar datang bulan, pantas saja ia merasa berantakan.


Masih pukul 10 pagi. “Selamat tidur, Sky.”


Ting…tong…


Sayangnya Sky sudah terlelap.


Keesokan harinya, ting…tong…


Tidak ada jawaban.


2 hari menjelang malam tahun baru, ting…tong…


Beberapa jam sebelum malam tahun baru tiba, ting…tong…


“Ah, lupakan. Aku tidak akan bertemu siapa pun,” Sky memakai earphonenya kembali.


Pukul 3 sore. “Whoaah! Ayah memilih apartemen yang tepat,” ia bisa melihat matahari terbit sampai tenggelam begitu dekat.


Cahaya yang memantul pada kaca memberikan kesan pada ruangan tanpa harus menyalakan lampu ruangan.


Hujan kali ini tidak turun, “Hmm, mungkin nanti malam.”


Sky duduk dengan mendekap kedua tangannya dan dagu yang menempel lengannya.


Di luar terlihat kacau. Bunyi klakson terdengar jelas. Saling berirama bergantian. “Ke mana mereka akan pergi?”


Ting…tong…


“Ah, siapa lagi?”


Sky tetap tak ingin membuka pintu.


Suara bell semakin menjadi-jadi. “Tidak peduli,” Sky menutup kembali gorden yang akan menutup akses matahari untuk masuk ke dalam ruangan. Ia juga tidak menyalakan lampu ruangan sama sekali.


Sky kembali bersembunyi di balik selimutnya.


“Tak ada yang berjalan sesuai rencanaku,”


Pandangannya ke arah langit-langit di kamarnya. “Haha, bahkan itu tak telihat sama sekali.”


“Kau mengoceh dengan dirimu sendiri, huh?”


Suara bell yang mengganggu itu, sudah tidak terdengar.


Ia belum membuka ponsel sampai sekarang.


“Apa kau tak butuh ponsel?”


“Tidak mungkin, haha.”


“Apa kau tak penasaran, Sky?”


“Memangnya apa akan terjadi sesuatu?”


“Ah, sudahlah.”


“Tak mau menaruh ekspetasi seperti sebelum-sebelumnya, sejak kapan kau menaruh ekspetasi untuk apa pun atau kepada siapa pun?”


“Ah, malam tahun baru, ya?”


“Hahaha, tidak ada.”


“Wah, kurasa aku sudah gila.”


Sky menimbang-nimbang di dalam pikirannya lagi. “Haruskah aku membukanya?”


“Tidak!”


“Bukan.”


“Maksudnya, nanti saja.”


Sky menyalakan lampu ruangan. Dilihatnya pada jam diding yang tepat sejajar dengan penglihatannya. Waktu menunjukkan pukul 5 sore.


“Mandi? Kau mau mandi, Sky?”


“Baiklah, setidaknya kau harus tetap bersih walau kau tak pergi ke mana pun.”


Ting…tong…


Pukul 6.


Pukul 7 malam, “Selesai…”


1 jam melamun.


30 menit mandi.


20 menitnya lagi masih melamun.


10 menit berganti baju.


“Kau mau makan apa?”


“Pasta.”


“Yes!”


Sky belum juga membuka ponselnya.


Suara kembang api dan petasan yang berisik sudah terdengar keras.


Padahal belum saatnya tiba.


Sebenarnya…


Ia tidak begitu tenang.


“Bagaimana kalau itu di malam tahun baru?”


“Apa artinya aku tidak menepati janji?”


Kegelisahan mulai menggerogoti dalam benakku.


Keributan di kepalaku semakin menjadi-jadi.


Semakin bertaut dengan waktu semakin terasa waktu sedang mengejarmu.


Pukul 11 lewat 30 menit.


Tap…tap…tap…


Suara langkah kaki yang tak beraturan mengagetkan banyak orang.


“Maaf…”


“Hati-hati, woy!”


Ia sedang menatap jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 11 lewat 50 menit.


Pikirannya kacau.


Jarak yang seharusnya bisa ditempuh hanya beberapa menit saja, kali ini situasinya berbeda.


Semua orang sedang berada di sepanjang jalan. Selain ada kendaraan yang membuat kemacetan di jalan, ada juga barisan orang-orang pejalan kaki yang berjalan menuju pantai di dekat toko buku itu. Ya, aku akan ke sana. Pertahananku telah runtuh.


Hanya lautan manusia yang bisa kulihat.


Telah memenuhi di sudut mana pun.


Pandangan matanya berkeliling.


Mencari keberadaan seseorang yang semestinya orang itu ada di tempat ini.


Kai, kau di mana?


Sky lupa membawa ponselnya.


Bahkan, ia juga belum membuka ponselnya.


Ia hanya mengandalkan pikirannya dan hatinya.


Sky berjalan mendekati toko buku.


“Tidak…”


“Tidak mungkin…”


Ada rasa sesak di dadanya.


Mencoba untuk mengantur napasnya.


“10,…9,…8,…”


“7,…6,…”


Apa aku terlambat, Kai?


“Kai…,” Sky melihatnya dari kejauhan.


Kai pun menyadari itu.


Seperti sebelumnya, mereka hanya saling menatap tanpa saling mendekat.


Kai bersama perempuan...


Perempuan yang sama di hari itu.


“Kai…”


“Aku menyukaimu, Kai.”


“3,…2,…1…”


Terlambat sudah.


Kau terlambat, Sky.


“HAPPY NEW YEAR!”


...***...