Suddenly

Suddenly
Something Between Us



Tetap menjadi topik panas yang hangat diperbincangkan.


Yuta dan Kale menjadi orang asing. Seperti tidak pernah ada cerita di antaranya, setelah beberapa tahun dilalui.


Benar, selama-lamanya kau bisa bersama orang terdekatmu. Kau hanya punya 2 pilihan. Orang itu meninggalkanmu karena tak bisa kembali di kehidupan atau kau bukanlah seseorang lagi baginya…garis besarnya, kau telah dibuang.


Kai dan Rania, semakin berkeliaran di lingkungan kampus. Menebarkan bunga-bunga keromantisan, kata mereka bukan aku yang bilang.


“Sky…”


Tanganku yang mengepal sukses mendarat tepat sasaran dan sukses melumpuhkan musuh yang sangat-sangat ingin kupukul.


“Haha, apa itu bisa disebut dengan sebuah pukulan?” Ken akhirnya muncul di hadapanku.


Sky tak menggubrisnya dan tetap berjalan dan Ken mengekor di belakangnya.


“Apa kau lapar?” bisiknya.


Ken sedari tadi mengikuti ke mana pun aku berada. Dia mengutarakan berbagai alasan yang tak bisa kuterima.


“Apa susahnya memberi kabar?” ucapku sebelum masuk ke dalam ruang kelas.


Ken menjelaskan soal dirinya dan Ayahnya ribut sejak hari itu. Membuat Ken tertekan dan ada seseorang yang sedang mengintainya, katanya itu ulah Ayahnya.


Banyak yang terjadi tapi, ia tidak bisa menjelaskan semuanya itu sekarang.


“Sedang apa kau di sini?”


“Kau lupa? Hari ini aku sekelas denganmu,” Ken duduk di sebelahku dan anehnya kicauan yang biasanya kudengar seketika berkurang tidak separah di luar.


“Oh…”


Hari ini adalah mata kuliah umum. Pasti dua sejoli itu juga ada. Kalau mereka mendapatkan jadwal yang sama denganku.


“Mereka datang,” bisik Ken.


Semua perhatian mengarah pada Kai dan Riana. Seolah mereka adalah panutan karena popularitas yang mereka miliki.


“Mereka tidak berpacaran seperti apa yang kau lihat,” bisik Ken lagi.


“Kau mengarang cerita. Kau pikir kau masih bisa dipercaya? Kau mengecewakan,” bisikku.


“Hei, dia yang mangatakannya padaku dan kau juga salah, Sky.”


“Katanya, kau tidak bisa keluar ke mana pun. Apa kau sedang mengarang cerita?”


“Kau juga salah,” bisikan Ken menusuk telingaku.


“Ah, kau berisik.”


“Kenapa kau mengabaikannya?”


“Hah, apa maksudmu? Dia yang memberiku jarak.”


“Tidak, kau yang menghindar.”


“Ken, apa kau tahu faktanya? Saat seseorang menghindarimu pasti ada penyebabnya. Seperti kau yang menghindariku, mengerti!”


“Wah, apa aku semarah itu?”


“Kau pikir saja sendiri.”


“Hei, apa yang terjadi? Ka—u…berkaca-kaca?”


“Sudah mulai, kau jangan berisik!”


“Apa memang terjadi sesuatu?” Ken berbicara di dalam benaknya.


Wah, mereka telah menjadi pusat perhatian. Semua mata tertuju pada mereka. Bahkan para dosen pun ikut bersimpati.


Itu berlebihan.


Tunggu!


Sepertinya kau harus berhenti. Lama-kelamaan cara bicaraku seperti seseorang yang dengki. Meski kau seperti ini karena amarah yang tak bisa kau bendung.


“Yuta dan Kale, benar-benar…”


“Hei, jangan mengotori telingaku dengan ucapan kasar itu!” masih berlanjut. Ken masih saja tidak bisa diam.


Aku pun mulai mengantuk.


Mata kuliah umum begitu membosankan. Walaupun katanya adalah wawasan tetapi entahlah. Apa yang sedang mereka bicarakan sebenarnya? Uang atau kekuasaan?


“Apa yang terjadi sebenarnya?” suara Ken semakin merasuk ke dalam telingaku.


“Apa kau bisa membaca pikiranku atau kau tahu sesuatu darinya?”


“Tidak. Aku tidak tahu apa-apa.”


“Tanyakan saja padanya, aku tidak peduli.”


“Benarkah, kau tidak peduli?”


“Entahlah, kau diam saja!”


Kelas berlangsung selama 2 jam penuh.


Perutku lapar bukan main. Tenggorokanku juga kering.


“Bersama seseorang yang populer ternyata cukup membantuku,” bisikku pada Ken.


“Ah, sudahlah. Kau harus makan,” Ken menggenggam tanganku erat. Seolah dia adalah pahlawan penyelamatku.


Mereka semua sudah tahu, bagaimana hubunganku dengan Ken. Tetap saja, akulah yang menjadi bahan ejekan.


“Ken, sebaiknya kita makan di luar atau di kantin yang lainnya.”


Lautan manusia yang punya banyak topeng di mukanya itu, meludak dengan bahan ocehan yang bermacam-macam. Energiku bisa habis dengan sekejap.


“Persiapkan dirimu,” bisik Ken.


“Hah?”


Ken hanya tersenyum padaku.


“Ada apa, Ken? Kenapa?”


“Sebentar lagi,” bisiknya.


“Apa, Ken?”


Itu menjengkelkan. Saat sudah mengatakan dan kau menariknya kembali.


Sering kali terjadi. Bagiku, saat tekadmu sudah bulat untuk mengatakan sesuatu pada orang terdekatmu misalnya, kau harus mengatakannya. Kalau ragu-ragu jangan coba-coba untuk memulai atau kau ingin coba-coba lalu memutuskan untuk tidak mengatakannya. Wah, itu yang kubilang menjengkelkan.


“Apa itu membuatmu penasaran?”


“Ken, dengan kau yang seperti itu semakin membuatku tidak percaya lagi padamu.”


“Haha, kau benar-benar tidak bisa sabar, ya?” Ken mengacak-ngacak rambutku.


“Ken!”


“Wah, kau cukup menyeramkan.”


“Sebenarnya, kau kenapa, sih? Ada apa sebenarnya?” Ken terlihat tidak tenang. Melihat ke segela arah. Seperti menunggu seseorang.


“Entahlah, kenapa dia lama sekali…semoga hari ini berpihak padamu, Sky.”


“Hei, katakan padaku! Kau menunggu siapa?”


“Menunggu…”


“Itu dia.”


Sky melihat ke arah yang Ken tunjuk.


Hanya ada lautan manusia yang justru membuatnya semakin pusing.


“Hei…”


Sky menoleh ke arah belakang. Ada yang mendekapnya. Ia mencium aroma seseorang yang ia tahu.


Sudah pasti terjadi, sekarang ia telah menjadi pusat perhatian.


Suara sorakan tertuju padanya dan seseorang itu.


Semua orang yang berada di sana seolah bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi, mereka seperti menontonku dengan tatapan remeh karena orang yang mereka tonton adalah aku.


Kedua mataku yang melebar seketika menjadi buram dan aku pun tak bisa berkata-kata.


Dalam dekapannya, menembus kerumunan dengan begitu mudah. Setidaknya itu yang bisa kugambarkan dari apa yang kudengar.


“Sky…”


“Kau sudah aman.”


Sky yang masih terdiam mendengarnya tetapi masih tidak bisa mencerna apa yang sedang terjadi.


Tubuhnya hangat, hujan langsung turun setelahnya. Hari ini, ia hidup seperti berada di sebuah drama dan dirinya yang menjadi tokoh yang lemah lalu diselamatkan oleh seorang tokoh yang superior.


Mereka terdiam di dalam mobil, lalu melaju menerjang hujan.


Tak lama mereka berhenti. Berhenti di tempat yang mereka tahu. Di tempat yang sama tetapi tidak tahu, apakah hari ini akan berpihak kepada mereka.


Cup!


“Apa cara ini cukup membuatmu sadar?”


BUK!


“Akhhh! Wah…”


“Kau melakukannya lagi,” Sky dengan mukanya yang datar.


“Apa kau sangat marah?” ucapnya.


“Apa kau perlu jawaban dariku?” Sky memalingkan pandangannya.


“Raina…”


“Kau sedang menjelaskan semuanya?” potong Sky.


“Kau salah paham, Sky. Tidak seperti yang kau lihat.”


“Bukannya sudah terlambat?” entahlah, mulutku ingin bertindak cepat.


“Hei, sudah kubilang aku tidak menerima penolakan. Jadi, di hari itu adalah hari pertama menjadi aku dan kau.”


“Aku dan kau? Hah?” itu menggelikan


“Hahaha, hei! Kau membuatku ingin menarik kata-kataku. Itu membuatmu geli?”


“Kai, kau selalu bertindak semaumu tanpa bertanya padaku lebih dulu. Kau juga sering kali membuatku bingung dengan apa yang kau pikirkan, aku ingin tahu itu.”


Cup!


“Apa itu cukup membuatmu lebih tenang?”


BUK!


“Akhhh!” pukulanku mendarat lagi di dekat bahunya.


“Wah, energiku terkuras habis…,” benar-benar tidak bisa meluapkan emosiku pada Kai.


Kai menurunkan kursiku dan tangannya berada di kepalaku.


“Kau jadi tidak bisa marah dengan leluasa, ya? Maafkan aku, maaf untuk semuanya. Ah, entahlah. Entahlah, apa aku pantas untuk mengatakannya. Apa aku bisa menggantinya, semuanya?”


“Entahlah…”


Sky memejamkan matanya.


“Hei, kau tidur? Bagaimana kau bisa tidur di saat seperti ini? Sky!”


“Aku hanya menangkan diri sebentar saja dan kau jangan berbicara sepatah kata pun!”


“Baiklah, kita akan berbicara nanti.”


“Ya.”


“Tapi ada sesuatu…”


Cup!


“Kau puas?”


Kai tersenyum.


...***...