
Baru saja kedua mataku menangkap sesuatu yang tak ingin kulihat.
Mereka terlihat berbicara dengan serius.
Ingin rasanya melewatinya saja tapi langkah kakiku justru terhenti begitu saja saat kedua mataku menyadarinya.
Lagi-lagi terlihat seperti pernah melihatnya—memang pernah. Apa ini akan baik-baik saja?
Tidak! Apa yang kulakukan?
Langkah kakiku justru mendekat bahkan semakin mendekat.
Ya, mendekati kedua orang itu sampai mereka juga menyadarinya.
Seperti aku juga memiliki hak untuk menjadi seperti ini.
Hak yang kumiliki seperti orang lain yang hanya ingin menanyakan apa yang terjadi dan hak sebagai pacar Kai.
“Lihatlah! Apa yang akan dia lakukan?” sorot mata Rania di hadapanku seolah aku tidak punya hak untuk ikut campur.
Kai menggenggam tanganku begitu melihatku. “Dia berulah lagi,” bisik Kai.
“Apa kalian tidak malu berbicara di tempat umum seperti ini? Apa yang terjadi?” ucapku.
“Apa pedulimu dan hakmu untuk mangatakannya?” Rania mendorong bahu kiriku dan Kai reflek menangkapku yang terlelap dari genggamannya.
Benar-benar lelah dengan posisi seperti ini—seperti sebuah drama yang berepisode.
“Haruskah aku menjelaskan sesuatu yang sudah kau ketahui?” langkah kakiku melangkah maju di hadapan Rania.
“Hahaha, bukankah sudah berakhir? Wah, kau benar-benar kasian. Kai, kau belum mengatakan padanya?” tatapan Rania pada Kai.
“Ah, sepertinya itu karena ulahmu. Bukankah seperti itu? Kai tidak akan melewati batas,” aku hanya asal bicara tapi tidak dengan pikiranku yang berkelana.
“Hahaha, apa kau tahu sesuatu?”
“Ya,” Rania dan Kai menatapku dengan tatapan yang menyelidik.
Kai mendorong tubuh Rania menjauh.
“Tak seharusnya kau melakukannya,” suara Kai terdengar keras.
Terdengar suara pintu yang tertutup dengan suara yang begitu keras. Kai mendongakkan kepalanya dengan tatapannya yang kosong. Suara gemuruh hujan terdengar jelas membuatnya memikirkannya, tapi ia justru bertahan dengan jarak yang seharusnya.
Waktu telah menunjukkan pukul 11 malam. Kai belum bisa mencerna dengan apa yang baru saja terjadi. Apa yang akan ia katakana dan bagaimana nanti ia akan menjelaskannya? Pikirannya tidak hanya kacau tapi dirinya sendiri yang sebenarnya membuat kekacauan itu.
“Aku harus mengatakannya,” Kai berjalan membuka pintu tanpa peduli dengan apa yang akan ia katakan nanti.
Kai telah berada di hadapan pintunya tapi tangannya kembali ragu untuk kesekian kalinya.
“Bukankah itu sudah terlihat?” Sky menatap ke arah keduanya secara bergantian.
“Apa yang kau tahu, Sky?” Kai menghampiriku.
“Bagaimana perasaan kalian? Itu yang ingin kutanyakan.”
“Sky?” Kai menggenggam tanganku.
“Hahaha, ternyata kau tahu…tapi kurasa bukan Kai yang mengatakannya. Wah, benar-benar tak terduga dan kau bertanya bagaimana perasaanku? Maksudmu perasaanku pada Kai?” Rania menggunakan jemari tangannya untuk menggertakku. Orang itu meletakkan jemari tangannya di rahangku.
“Hei, kau tidak harus bertanya untuk tahu…bukankah pertanyaan itu pantas kau tanyakan pada Kai?” Rania dengan senyumannya yang sinis.
“Sky…”
“Tidak, aku tidak salah. Aku bertanya padamu, bagaimana perasaanmu…setelah itu terjadi? Bukanlah itu membuatmu khawatir?” Sky menahan tangan Kai untuk membiarkannya berbicara.
“Kau yang menginginkan itu, Rania. Kai tidak menginginkannya.”
“Kau belum bertanya padanya…tapi apa kau akan baik-baik saja?”
Sungguh melelahkan selalu berada di situasi seperti ini.
“Apa kau tidak lelah? Berhentilah, Rania! Kau tidak perlu seperti ini.”
“Kau berbicara seperti itu seolah kau telah mendapatkannya. Kau bahkan sedang merampas apa yang menjadi milikku. Kau tidak berhak mengatakan seperti itu!” Rania kembali mendorongku.
“Baiklah, selesaikan pembicaraan kalian.”
Sky berjalan dengan membalikkan badan lalu langkah kalinya berhenti di dekat Kai. “Kau pasti tahu,” ucapku pada Kai sebelum berlalu.
“Kau tidak pantas bersanding bersamanya, memang kau yang seharusnya pergi!” terik Rania yang terdengar di belakangku.
Apa yang kulakukan? Aku tidak kembali tapi hanya menoleh ke arahnya dan mengatakan, “Maaf, aku tidak bisa melakukannya. Apa itu cukup membuatmu mengerti?” Kai tersenyum padaku.
Sky tidak berjalan tapi ia berlari seperti sedang mengelabuhi dirinya sendiri.
Memikirkan ucapan yang baru saja keluar dari mulutnya.
Ada yang menetes tepat saat hujan turun.
Seperti sedang membaca situasi.
Langkah kakinya menjadi jauh lebih ringan usai berlari.
Bajunya sedikit basah tapi tak membuatnya basah kuyup.
Seperti mengulang apa yang telah terjadi. Kedua matanya menjadi saksi, mengawasinya dari ketinggian. Kai dan Rania dengan urusan mereka yang entah kapan akan selesai.
Mulutku terus-menerus mengatakannya, aku tidak menyesal dan tidak juga melakukan kesalahan.
Semua kembali pada pilihan.
Orang lain mengatakan itu buruk, belum tentu diri kita mengatakan hal yang serupa. Tergantung siapa yang menjalani dan itu telah menjadi resiko atau sesuatu memang harus dijalani.
Berkali-kali mengatakannya.
Perasaanku tetap sama, untuk Kai.
Tidak ada siapa-siapa lagi.
Hanya untuk Kai.
Kai tidak menyakitiku secara langsung entahlah, aku belum menemukan jawaban yang pantas kudengar.
Benar-benar merindukannya.
Seperti yang pernah ada dan terjadi.
Kai di malam itu, begitu tulus.
Aku juga telah menyakitinya secara tidak langsung karena egoku yang selalu ingin untuk melarikan diri dan membuat sebuah jarak.
Meski itu menjadikanku bertaut akan waktu, rasanya justru waktu yang membantuku untuk berpikir dengan tenang.
Kembali, kembali, dan kembali…bukankah itu juga disebut dengan pilihan?
Kedua mataku sudah tidak sanggup lagi untuk melihat Kai dan Rania, meski dengan tempat yang berbeda tetap saja itu akan terlihat sama.
“Aku pulang,” ucap Sky yang pastinya menyambut dirinya sendiri.
Sky membuka seluruh gorden di dekat ranjangnya. Air yang mengalir membasahi jendela kaca yang tembus pandang. Ia berbaring menghadap jendelanya itu dengan menengelamkan diri bersama selimut.
Rasa kantuk mulai terasa.
Akhir-akhir ini jam tidurnya berantakan.
Tatapannya yang kosong justru membawanya pada ingatan lain.
Ibu akan membuatkanku banyak camilan saat hujan turun dan mengantarkannya di kamarku. Lalu menintim film bersamanya dengan memakai selimut yang sama.
Tak lama Ayah datang dengan dua tangannya yang penuh kantung kresek. Ayah memberi ayam goreng masih panas dan juga pizza.
Ayah akan menaikkan volume suaranya, “Kesayangan Ayah, adakah yang ingin menolongku?” Ayah basah kuyup karena selalu malas membawa payung dan ia hanya menyelamatkan makanan yang ia bawa dengan kantung yang Ayah sebut dengan kantung ajaib.
Entahlah, di mana sekarang kantung ajaib itu berada.
Aku tidak mungkin tidak merindukan saat itu.
Itu sangat berarti.
Mengapa cepat berlalu?
Apa benar terlalu bahagia akan menjadi sirna seketika?
Atau saat itu hanya tidak menyadari jika kebahagiaan selalu beriringan dengan sebuah kesedihan?
“Apa yang kau pikirkan?”
Kai telah berada di dekatku dengan senyumannya.
“Maafkan aku, entahlah apakah aku pantas mengatakannya atau apakah aku pantas…”
“Kai…”
“Kau tetap Kai dan itu sudah cukup.”
...***...