
Bagai sedang terjadi teror dengan mendukung suasana yang ada. Pemandangan terjadi secara tiba-tiba.
Sky mendekap kedua kakinya tanpa bersuara.
Semakin aneh jika itu terjadi, Kai dan Jeff yang tiba-tiba menghilang. Seolah aku sedang berada dalam pengaruh mimpi burukku sendiri atau ‘shooting film horor’ misalnya?
Tidak ada yang bersuara. Kai dan Jeff berjalan mendekat dengan penerangan di ponsel mereka. Bahkan, aku tidak tahu di mana keberadaan ponselku.
“Orang itu menghilang begitu pemadaman terjadi,” ucap Kai dengan terdengar suara napasnya.
“Tentu, kau tidak melihatnya.”
“Hei, setidaknya telingaku masih berguna. Orang itu berpindah dengan suara kakinya yang turun melalui tangga.”
“Kau benar juga,” suara napas Jeff juga terdengar.
Sky yang mematung mencoba berbicara. “Ada foto-foto di paket itu.”
“Kau sudah membukanya?”
“Kau membukanya, Sky?”
Kai dan Jeff terbelalak dengan kedua mata mereka yang membuka lebar.
Foto-foto itu—memperlihatkan kebersamaanku dengan Kai sehari-hari.
“Kau punya lampu emergency, Sky?
“Semua ada di laci dekat sofa, Jeff.”
“Biar aku yang ngambilnya,” ucapnya.
“Orang itu benar-benar gila. Semua foto-foto ada di tempat-tempat yang terdekat dari tempat tinggal kita, Kai. Siapa orang itu sebenarnya? Yang membuatku takut—orang itu mengambil banyak foto di dekat apartemen bahkan…”
“Lebih parahnya lagi, ada foto diriku sendiri sehabis pulang dari kampus berdiri di depan pintu. Bukankah orang itu berada di dekatku?” Sky melanjutkan ucapannya.
“Apa kalian punya musuh?” tanya Jeff.
Jeff berhasil membuat ruang menjadi lebih terang dan memperlihatkan foto-foto itu dengan jelas.
“Kurasa tidak ada. 20 Juni dan kertas itu, apa itu berkaitan?” Sky memejamkan mata dengan kedua tangannya yang menutup muka.
“Tidak ada. Kurasa penguntit itu hanya tidak menyukaiku tapi karena Sky bersamaku, itu caranya untuk mengusikku.”
“Tapi, Kai…kau belum melihat isi kertas-kertas itu. Kertas yang kau ambil tadi ada padamu, kan?” Jeff mengingatnya.
“Penguntit itu juga membenciku, Kai.”
“Benar-benar penguntit sesungguhnya. Foto-foto itu ada di toko buku dan kalian memang terlalu sering berkunjung. Tapi tak ada satu hal yang mencurigakan. Aku tahu soal paket itu tapi baru-baru ini Kai bercerita soal kertas-kertas itu.”
“Aku harus mengeceknya di CCTV dan akan memberi tahu kalian secepatnya,” Jeff dengan mukanya yang serius.
Sky mengambil box kertas-kertas itu di kolong di bawa ranjangnya. Menaruhnya di tengah bersama foto-foto itu.
“Periksalah!”
Kai dan Jeff saling membaca satu per satu dari kertas-kertas itu.
Dalam diam dengan raut wajah berubah-ubah.
Kertas yang terakhir kali masuk sebelum listrik padam, ada di tanganku.
Menghela napas berulang kali kali, kuharap itu adalah kertas kosong. Tapi lebih menakutkan jika kertas itu kosong. Seperti mencari sebuah teka-teki atau bisa juga orang itu mengganti sesuatu dengan yang lainnya sebagai pengganti dari kertas yang kosong?
“Tidak!”
“Kenapa, Sky?”
“Ada apa, Sky?”
Kai dan Jeff sontak meletakkan kertas-kertas itu di lantai.
“Wah, pikiranku ke mana-mana. Apa kalian sudah selesai membacanya?”
“Orang itu tidak hanya gila tapi sakit. Hal yang kutakutkan adalah orang itu menyakiti di antara kalian berdua. Entah, itu adalah orang yang sama atau tidak. Yang pasti, apa yang terjadi pada kalian benar-benar menakutkan.”
Jeff melamun dengan meremas kertas yang ada digenggamannya.
“Kalau kau tidak ingin membacanya…biar aku saja,” ucap Kai. Kai juga terlihat sama kacaunya denganku.
Sky memberikan kertas itu pada Kai.
“Kau yakin, Kai atau biar aku saja yang membacanya?” Jeff menawarkan diri.
Melihat mereka berdua seperti itu.
Membuatku…
Tidak merasa sendirian.
Sebagai ganti sesuatu yang tidak kumiliki.
Sesuatu yang hilang dari kehidupanku.
“Hei, bagaimana kalau melihatnya bersamaan? Hahaha, tadinya itu membuatku ketakutan tapi tingkah kalian membuatku serasa dibuat lupa dengan apa yang terjadi walau beberapa saat. Wah, apakah aku terlihat kacau sampai terlalu banyak berbicara? Aku benar-benar tidak mengerti, mengapa harus terjadi seperti ini?”
Sky menundukkan kepalanya lalu melihat ke arah Kai dan Jeff.
Kai menggenggam tanganku, begitu juga dengan Jeff.
“Orang itu bukan kau, kan? Jeff?” ucap Kai tiba-tiba.
Jeff terdiam dengan wajahnya yang memelas.
“Kau pikir, aku sudah gila? Wah, jangan-jangan kau orangnya, Kai? Itu akan menjadi lebih gila. Benar-benar gila. Bagaimana jika seperti itu?” Jeff memainkan raut wajahnya dengan mendekat di hadapan Kai. Padaku juga, tapi Kai memberi pembatas dengan menutup mukaku dengan tangannya.
“Hei, aku memang menguntitnya tapi bukan seperti itu,” Kai tersenyum lebar.
“Wah, iya. Kau tahu apa terjadi? Sky berkeluh kesah padaku saat itu…kalau ada orang gila yang tiba-tiba menarik maskernya. Dia berbicara panjang lebar padaku.”
“Jeff, kenapa kau membahasnya? Itu hal memalukan yang ingin kulupakan.”
“Hahaha, bagaimana bisa terpikirkan olehmu saat itu dengan menarik maskerku?”
“Entahlah, hahaha. Kau pasti mengumpatiku saat itu. Iya, kan? Tapi jika bukan karena itu, kau dan aku…”
“Ah, sudah-sudah. Kalian tidak memikirkan perasaanku, hah?”
“Hahaha, bukahkah kau kemarin terlihat begitu…”
“Rania, maksudmu, Kai? Ah, iya. Bagaimana dengan Rania, Jeff?”
“Wah, kalian sedang menginterogasiku?”
“Semacam itu,” Kai melirik ke arahku.
“Kurasa, aku bukan seleranya. Bukankah dia terlalu baik untukku? Seperti Sky terlalu baik untuk Kai.”
“Hei, apa maksudmu? Tapi, kau tak sepenuhnya salah. Hahaha…”
“Sky terlalu baik untukmu.”
Listrik tak kunjung menyala. Sama saja seperti sedang terkurung di tempat tinggal sendiri.
Tapi dibalik semua itu kembali lagi, masih ada seseorang di sampingku. Kurasa aku telah mengulang kembali ucapanku.
Kertas itu…ada berada di lantai. Masing-masing terlunjuk saling menyentuh kertas.
“Hei, kalau kita sama-sama menyentuhnya dari berbagai sisi bagaimana kertas ini bisa terbuka?”
“Hahaha, kau benar juga, Jeff. Tapi bukankah memang kita sengaja melakukannya untuk mengulur waktu?” Kai mulai tertawa dan suasana menjadi semakin bercampur aduk dengan penuh tawa untuk mengelebahuhi yang sedang terjadi.
“Kertas ini benar-benar menyusahkan!”
“Ah, kau masih dipenuhi dengan hormone kedatangan tamu itu rupanya?”
“Hei, Kai!”
“Hahaha, wah! Begini rupanya cara berkomunikasi kalian? Sekali lagi, kita bertiga semakin berusaha berubah suasana seperti tidak terjadi apa-apa.”
“Kau yang memulai, Jeff. Tapi itu berguna, Haha. Kau berbeda berapa tahun dariku dan Kai?”
“Wah! Kau random sekali tiba-tiba bertanya soal pebedaan umurku dengan kalian. Hmm, 3 atau 4?”
“Hah, benarkah sejauh itu?” Kai yang tampak heran.
“Sudah kubilang, bukankah aku baru saja bercerita padamu, Kai?”
“Apa yang kau ceritakan pada Kai?”
“Hahaha, rahasia.”
“Hei, kau menjelekkanku di depan Kai, ya?”
“Semacam itu. Bagaimana, Kai?”
Kai hanya tersenyum padaku lalu mengacak-acak rambutku. Jeff juga mengikuti apa yang dilakukan Kai.
“Hei, jadi tidak kita membuka kertas ini?”
“Kurasa tidak,” Jeff melepas kertas itu.
“Sesungguhnya aku tidak sanggup,” Kai juga.
“Baiklah.”
“Apa?”
“Apa?”
“Hmm, tidak usah dibuka tapi…”
“Kai…”
“Jeff…”
Sky terdiam.
“Kenapa?”
“Ada apa?”
“Kurasa aku harus mengatakannya.”
“Wah, raut wajahmu membuatku takut.
Bukankah begitu, Kai?”
“Ada apa, Sky? Apa kau tahu sesuatu? Katakan saja.”
“Kau ingin aku mengatakannya tapi kau menutup telingamu, Kai.”
“Baiklah, katakan.”
Kai dan Jeff melihatku dengan sesakma.
“Hmm, aku tidak ingin memikirkannya…”
“Tapi itu semakin melekat di dalam pikiranku.”
“Apa orang itu…”
“Orang itu…”
“Ken?”
“Orang itu…Ken?”
Kertas itu seperti sedang mempermainkan sama seperti menguntit itu. Kertas itu terbuka bersamaan dengan listrik yang kembali menyala. Kipas postable di tangan Jeff, membuat kertas itu terbuka.
Kembalinya penerangan membuatnya semakin jelas…
‘K’
Aku, Kai, dan Jeff…
“Apakah itu akan menjadi benar?
“K?”
...***...