Suddenly

Suddenly
Back in the Day



Pukul 3 sore.


Setelah terbangun di pukul 12 siang dan kertas itu datang di pukul 1 siang. Sampai pukul 3 sore membuatku masih terjaga di atas tempat tidur dengan makanan dan juga film yang kutonton untuk menemani ketegangan yang baru saja terjadi.


Kertas itu masih tertutup. Kuletakkan di atas meja di dekat sofa.


Kai akan selesai pukul 5 sore. Tapi, aku tidak membiarkannya untuk pulang sendirian. Jeff kebetulan akan bertemu dengan Kai.


Mereka akan datang menemaniku.


Ken?


Aku tidak ingin menghubunginya. Ken pun tidak menghubungiku beberapa hari ini. Kata Kai, Ken mengabaikannya di kampus.


Hmm, sebenarnya juga ada sesuatu yang menganjal.


Sesuatu yang sudah kuabaikan beberapa waktu yang lalu. Karena timbul kembali, rasanya aku telah melakukan yang seharusnya kulakukan seperti sebelum-sebelumnya.


Memang itu akan menyakitinya tapi sama sekali tidak bisa membohongi diriku sendiri.


Jadi, selama ini?


Ya, hanya mencoba untuk beradaptasi tapi itu tidak berhasil.


Kedua mataku terus mengarah pada kertas itu karena jaraknya juga tak begitu jauh.


Perasaan tidak tenang terus menghantuiku seperti ada yang mengawasiku.


Penerangan di seluruh ruang benar-benar menyalah karena tidak ada satu pun jendela tak terbuka.


Ting tong!


Sial!


Sky mengambil ponselnya. Tidak ada apa pun.


Kai akan menghubungi jika telah berada di depan pintu.


Ting tong!


Mendekat kembali dengan melihat pada layar yang dapat melihat siapa yang ada di depan pintu. Tidak ada siapa pun.


Apa orang itu berada di samping?


Srek!


Kertas itu datang lagi.


Ada 3 kertas.


Kubiarkan kertas itu berada di lantai.


“Pak, orang itu—da…”


“Halo?”


“Halo…”


Penjaga apartemen itu justru menutup teleponnya dan beberapa menit kemudian, orang itu meneleponku.


“Halo?”


“Pak, orang itu da—tang…”


“Sstttt!” ucapnya.


Ada apa?


Sky terdiam menjauh dari pintu dan kembali pada tempat semula.


“Orang itu masih berada di depan pintu.”—Penjaga Apartemen.


Jantungku berdetak kencang.


Keringat bercucuran di suhu yang dingin.


Meski penerangan cukup terang, pandanganku menjadi berkeliling. Tidak tenang. Melihat ke arah pintu dengan kertas-kertas yang serasa terlihat jelas.


Mengirim banyak pesan pada Kai dan Jeff.


“Kau tenang saja, selama kau tak keluar itu aman.”—Jeff


Sky menghela napas. Keringatnya mengalir semakin deras. Meski meminum air mineral beberapa kali tapi tetap tidak membuatnya tenang.


Jarum jam telah menunjukkan pukul 4 sore. Rasanya jarum jam itu terlihat berjalan dengan lambat.


Sky sengaja hanya memasang mode getar agar tidak terdengar suara apa pun dari luar. Film yang ia tonton juga tidak bersuara.


Srek!


Terdengar lagi, kurasa kertas itu bertambah lagi.


“Aku sebentar lagi bertemu dengan Jeff. Tenang saja. Penjaga apartemen juga menghubungiku.”—Kai


Sedikit lebih lega. Kai membalas pesanku.


Penjaga apartemen itu, bukan aku atau Kai yang datang untuk memberi tahu apa yang terjadi. Tapi justru penjaga apartemen itulah yang tiba-tiba datang padaku.


Karena pernah melihat beberapa kali ada orang yang berjalan di depan pintuku. Tapi orang-orang itu selalu berbeda.


Saat mendengarnya. Bukan hanya bulu kudukku yang merinding tapi semakin membuatku masuk dalam perasaan ketakutan yang benar-benar seperti menghantuiku.


Siapa orang itu?


Orang yang berbeda?


Atau memang bukan orang yang sebenarnya?


Orang itu bersembunyi dengan perantara orang lain?


Beberapa kali berjalan di depan pintuku?


“Seseorang itu manaruh paket di depan pintu. Tetap jangan keluar! Maaf, saya tidak bisa mendekat. Seperti yang saya bilang sebelumnya. Tapi, orang itu sudah pergi.”—Penjaga Apartemen


“Iya, Pak. Terima kasih, sudah atas bantuannya. Bapak tidak sendirian, kan?”—Sky


“Pasti, saya tidak sendirian. Sesuai ucapanmu, Nak. Jangan keluar dulu, ya!”—Penjaga Apartemen


“Iya, berbeda tapi sepertinya pernah melihatnya karena salah satu di antaranya yang pernah saya lihat.”—Penjaga Apartemen


Wah!


Mengapa suasana yang terjadi justru semakin menegangkan?


Melihat ke arah jarum jam berulang kali.


Kemudian beralih pada film yang kutonton tanpa tahu apa yang terjadi di dalamnya.


Sky masih mengirimi beberapa pesan pada Kai dan juga Jeff.


“Haruskah aku mengambilnya?”


Melihatnya dari kejauhan. Kertas-kertasku seakan memanggilnya untuk mendekat.


Sky berjalan pelan-pelan. Bahkan menggendap-endap. Memperhatikan jalannya. Kedua matanya membuka lebar saat tahu berapa banyak kertas yang masuk.


Kertas berserakan itu, begitu banyak…yang kukira hanya ada 4 atau 5.


Mengambilnya dengan cepat. Mengumpulkannya pada box bekas paket milikku yang baru sampai 2 hari yang lalu.


“Tenang, Sky.”


Mengumpulkan semua kertas itu termasuk kertas yang ia letakkan di meja.


“Membukanya…sekarang?”


1…,2…,3…


“Tunggu—tunggu sebentar!”


Menghela napas sekali lagi. Bersembunyi di balik selimut dengan hanya mempelihatnya wajahnya. Memakai earphone. Menyalakan musik dan, “Ayo, Sky!”


Kertas pertama…


Kertas yang pertama kali masuk.


“Hai…”


Hai?


Kau bilang, hai?


Kau siapa sebenarnya dan untuk apa?


Membuka kertas selanjutnya.


“Apa kau tahu…siapa, aku?”


“Kupikir itu membuatku semakin lelah karena justru membuatmu takut.”


“Apakah kita harus benar-benar harus bertemu?”


“Aku bukan orang jahat. Meski kau tak akan percaya itu.”


“Apa kau baik-baik saja? Maafkan aku, tidak melakukannya dengan benar.”


“Kurasa kita harus bertemu. Aku terus mengatakan itu. Tapi, aku terlalu takut untuk terlalu terlihat.”


“Dengan cara seperti ini, itu membuatku tenang. Apa itu benar-benar membuatmu takut?”


“Ada apa denganmu? Kenapa kau tidak keluar agar aku bisa melihatmu?”


“Kau pasti tahu di mana itu. Tak bisakah kita bertemu di sana?”


“Aku tidak akan berhenti sebelum kau bertemu denganku.”


“Sky? Bisakah aku memanggilmu seperti itu?”


“Kau benar-benar terlihat ceria meski kau sebenarnya tidak baik-baik saja.”


“Hari itu, aku melihatmu bersama laki-laki itu. Kenapa kau memilih bersamanya?”


“Tapi itu membuatku senang. Kau mengira kertas yang kau tahu dari laki-laki itu, kenyataannya kertas itu dariku. Haha…”


“Apa kau kecewa karena kertas itu bukan darinya?”


“Ah, tunggu dulu! Bukankah karena kertas itu membuat kalian bersama?”


“Wah, itu menjengkelkan…benar-benar menjengkelkan.”


“Aku akan menunggumu di sana. Kuharap kau datang, meski kemungkinannya kecil.”


“Aku tidak bisa berpaling darimu, Sky.”


“Kudengar laki-laki itu sempat membuatmu sedih. Seharusnya aku bersamaku saja. Kenapa kau memilih bersamanya?”


“Sky, kau benar-benar membuatku…hahaha.”


“Apakah sekarang kau beranggapan…aku adalah orang terdekatmu?”


“Benarkah? Ahahaha…”


“Kuharap kau penasaran denganku.”


“Bertemu denganku atau aku akan melakukannya seperti ini dengan suara bell? Ketukan pintu?”


“Sky!”


“Dia tidak mengangkat teleponku, Jeff.”


Krek!


“Sky?”


“Sky…”


Tidak ada keberadaan Sky.


“Sky, mau di mana?”


“Sky!”


...***...