Suddenly

Suddenly
The Game of Love



30 menit berlalu Kai masih tak terlihat seusai meninggalkanku di basement.


Kendaraan yang berlalu Lalang. Orang-orang yang berjalan usai berbelanja. Anak-anak yang sedang memakan permen dan menjilat ice cream. Itu semua pemandangan yang ada di depanku.


45 menit berlalu.


Kai juga meninggalkan ponselnya.


“Iya, Ken. Ada apa meneleponku berulang kali?” setelah mengabaikannya.


“Aku masih bersamanya,” itu bohong. Kai meninggalkanku, Ken.


“Tidak apa. Kami saling menjelaskan,” wah, itu juga tidak benar.


Telingaku menjadi terbakar kalau terus menaruh ponselku di telinga. Ken tidak mungkin tidak mengomel.


“Kau putus dengannya?” ucap Ken dengan suaranya yang keras.


“Tidak.”


“Bagaimana perasaanmu padanya?” entahlah, lama-kelamaan itu membuatku rishi. Akhir-akhir ini juga. Ken rasanya terlalu mencampuri kehidupanku.


Ya, aku tahu. Dia adalah Kakakku walau kakak sambung. Tapi entahlah, ada yang aneh. Menurutku berlebihan.


“Hei, apa maksudmu? Aku tidak mengerti,” ucapku.


“Kau dan Kai adalah pasangan yang aneh. Apa kau tahu apa kau tahu apa yang terjadi di kampus? Mereka sedang menebak pasangan mana yang sebenarnya bersandiwara. Mereka lebih percaya Rania sebagai pacar Kai.”


“Apa kau sudah selesai berbicara? Aku akan menutupnya,” sudah kubilang akhir-akhir ini aku tidak menyukainya. Ken kembali seperti dulu.


“Kenapa kau seperti itu?”


“Kau menyebalkan, Ken. Bukankah seharusnya kau tak membahas itu?”


“Maaf, Sky. Tapi kau baik-baik, kan?”


“Ya.”


“Ken, aku harus pergi bersama Kai. Bye, Ken!”


Tentu, itu hanya untuk mengakhirinya saja. Kai masih belum terlihat batang hidungnya.


“Kurasa aku harus naik atau pergi ke toserba?”


Ya, itu lebih baik.


Kunci mobil dan ponsel Kai ada padanya. Setelah memeriksa beberapa kali dan dirasa sudah aman. Barulah Sky meninggalkan tempat.


“Kai, aku berada di apartemenmu. Karena kau tidak mengganti passwordmu dan ya…”


Rasanya ingin kutarik kembali kata-kataku. Kenapa harus sekarang? Aku hanya…


“Rania, apa yang kau lakukan?” Kai tidak tahu harus dengan cara apa agar Rania menjadi mengerti.


“Kai, kenapa kau lama sekali?” langsung memeluk Kai.


Kai melepas pelukan itu. “ Maafkan aku…”


“Apa maksudmu? Bukankah kau menyukaiku? Tidak ada lagi yang mengerti selain kau, Kai.”


“Kau sahabatku tapi bukan berarti kau menggantikan posisi Sky.”


“Kau serius padanya? Sky tidak terlihat serius padamu.”


“Itu karena ada kau, Rania. Kau yang menghalang-halangi.”


“Itu artinya kau juga tidak serius, Kai.”


“Apa maksudmu?”


“Kalian sama-sama tidak serius. Bukankah kau yang sedang menjalin hubungan dengan Sky, mengapa dia harus menyerah hanya karena kehadiranku? Kau juga, kau juga menyerah.”


Kai terdiam.


Lalu menanggapi ucapan Rania. “Kau sengaja mempermainkan seolah kau di posisi yang benar, kau selalu seperti itu. Kupikir hanya berpegang pada persahabatan membuatku tidak kehilangmu.”


“Sekarang kau kehilanganku?”


“Tidak. Bukan aku yang kehilanganmu tapi kau yang kehilanganku.”


“Kau yakin, Kai?”


“Ya, aku tidak bisa lagi mengikuti permainanmu.”


“Baiklah, kalau itu maumu.”


Krek!


“Kai…”


Sontak membuat dua orang yang ada di hadapanku itu tentu melihat ke arahku dengan ekspresi muka yang sudah bisa ditebak.


“Oh, kau rupanya. Kau yang membuat Kai…”


“Ah, kau ingin merebutnya kembali?” potong Rania.


“Merebutnya kembali?”


“Iya, bukankah itu tujuanmu datang ke sini…untuk merebutnya?”


“Dia memang milikku, kau yang merebutnya.”


“Tanyakan saja pada yang bersangkutan, dia milik siapa…,” entahlah, itu yang kulihat dari mulutku.


Dia milik siapa?


Dia pemilik siapa?


Wah, bukankah itu membuatmu geli?


Itu sangat bukan gayaku.


Tak kusangkah aku akan mengatakannya.


Sky melihat ke arah Kai, Kai yang tengah menahan tawa dengan melihat ke arahku yang memasang muka masam.


“Kau mempermainkanku?” ucap Rania dengan kedua tangannya yang melingkar di leherku.


Aroma tubuhnya benar-benar seenak itu jika dibandingkan dengan aroma tubuhku. Kurasa dia sedang membicarakan aroma tubuhku di dalam benaknya.


Kepalanya mendekat di dekat telingaku dan tentu, Rania akan melakukannya. Berbisik di telingaku. “Kurasa Kai sudah buta…aroma yang Kai suka bukan seperti kau.”


Kepalaku juga mendekat di telinganya dan juga berbisik. “Bukankah itu yang tak ada pada dirimu? Jangan banding-bandingkan seseorang yang jelas-jelas terlihat berbeda. Kau tidak bisa sepertiku, begitu juga sebaliknya.”


“Apa kau tahu? Dia tidak mengganti passwordnya,” bisiknya.


“Lalu, kau memintaku untuk memberikan reaksi seperti apa? Seperti yang kau lakukan di kantin?”


Rania mendorong tubuhku dan pergi dengan suara pintu yang begitu kencang.


“Sky…”


“Jangan mendekat, bicara dengan jarak seperti ini…itu lebih baik.”


“Hei, kau yang memutuskan?”


“Kau tadi yang memutuskan dengan permainan konyol itu, saat ini aku yang memutuskan.”


“Baiklah, apa itu bisa dipercaya?”


“Tentu, aku tidak sepertimu.”


“Hei, terus saja memojokkanku.”


“Kita mulai dari sekarang,” ucapku.


“Apa yang kau suka dariku dan hal yang tidak kau sukai dariku? Setelah itu kau boleh bertanya padaku dengan pertanyaan yang sama atau berbeda,” entalah terpikir saja untuk melakukan hal seperti ini di pikiranku.


“Hmm…”


“Kau hanya punya waktu sebentar untuk menjawabnya, Kai.”


“Tidak seperti itu, kenapa harus membutuhkan waktu?”


“Cepat katakan dan jangan melalui pikiran saja tapi juga dengan hati.”


Kai terdiam dengan melihat ke arahku. Benar-benar tatapan yang serius tapi tidak begitu juga. Entahlah, bagiku itu tatapan milik Kai bukan orang lain.


“Karena itu kau dan kau juga seseorang yang ada di samping. Ya, kau pacarku. Entah, ini terdengar akan menjadi berlebihan atau tidak…yang pasti selama itu kau, aku suka semua yang ada pada dirimu.”


“Hal yang tidak kusukai…”


“Kau selalu membawaku masuk ke masa lalu yang tak semuanya bisa kuingat meski kau dan aku bertemu di masa lalu. Yang kutahu sekarang kau ada di hapanku, itu saja.”


“Dan jangan pernah lagi tiba-tiba menghilang,” lanjut Kai.


Sky berjalan beberapa langkah di depan Kai.


“Setelah menjawab pertanyaan langkah kaki di antara kita bisa maju atau mundur?” tanya Kai.


“Ya, sesuai apa yang kau pikirkan dengan hatimu juga.”


“Baiklah, giliranku,” Kai berseru senang. Orang itu benar-benar senang dengan hal seperti ini.


“Pertanyaan yang sama dan juga, bolehkah lebih dari itu?” tanya Kai lagi.


“Ya.”


“Ada apa dengan ucapan ulang tahun? Kau tidak menyukainya? Kenapa?”


“Satu lagi, kau tidak pernah menyukai Ken, kan?”


Pertanyaan dari seolah sedang menusukku bertubi-tubi.


Iya, aku tahu. Itu pasti mengganggu pikirannya.


Sama halnya dengan pikiranku soal Rania.


“Aku tidak pernah menyukai seseorang sepertimu, Kai. Kau yang begitu cepat menyatakan perasaanmu membuatku ragu tapi anehnya justru membuatku memiliki perasaan itu.”


“Rania…”


“Kehadirannya membuatku…melihatmu menjadi orang lain.”


...***...