
“Apa—kau mengenalnya?” pemilik toserba berbisik di telingaku dengan pelan-pelan dan mengulang ucapannya.
Sky yang terlihat bingung melihat ke arah kanan-kiri—tidak ada siapa pun selain dirinya dan sang pemilik toserba.
“Sudah kuduga, kau tidak mengenalnya.”
“Siapa?” bisikku.
“Laki-laki yang mengikutimu.”
“Benarkah? Hmm…itu tidak membuatku takut,” Sky tersenyum.
“Itu sebabnya kau selalu datang di tengah malam?”
Sky mengangguk.
“Hei, berhati-hatilah kau perempuan.”
“Terima kasih, sudah peduli padaku.”
Pantas suara langkah kaki di belakangku…
Berjalan dengan perlahan membuatku menjadi sok tahu seperti mengira-ngira orang yang berada di belakangku memiliki niat jahat atau hanya sekedar menemaninya berjalan…karena di malam hari.
Entahlah, aku merasakannya…
Orang itu tidak berada benar-benar tepat di belakangku.
Kalau sampai mendekat, itu artinya harus berlari sekencang mungkin atau jika perasaanku tidak enak…sebaiknya berada di toserba sampai pagi.
Ponselku berdering. Pemilik toserba itu mengirim pesan. “Tidak usah khawatir, sepertinya dia hanya menemanimu.”
“Kenapa kau meneleponku?” seolah Ken sedang meneleponku padahal sama sekali tidak ada.
“Jangan menelponku!”
Langkah kaki di belakangnya pun ikut berhenti dan menjadi senyap.
Tidak membutuhkan waktu yang lama. Sebentar lagi akan sampai.
Sky menoleh ke arah belakang.
Sudah kuduga. Orang itu akan bersembunyi di rumah itu.
Berjalan beberapa langkah lagi dan sampai. Setelahnya memilih berlari. Sebenarnya lorong di apartemen lebih menyeramkan daripada berjalan di luar.
Pukul 6 pagi, 20 Juni.
“Apa yang kuingat?”
Kai justru menatap ke arahku dengan tatapannya yang bingung. Lalu memeriksa ponselnya berulang kali.
Itu sebuah reminders dengan mencantumkan tanggal.
“Ada apa di 20 Juni?”
“Hei, kau yang membuatnya sendiri tapi kau justru menjadi bingung.”
“Aku ingat sesuatu tapi tidak terlalu ingat.”
“Apa yang kau ingat?”
“Hmm, selain bertemu dengan seseorang di tanggal itu…aku tidak tahu dengan siapa orang itu.”
“Bukan orang aneh itu, kan?” ucap Sky dengan instingnya.
“Tidak mungkin dengan orang aneh itu.”
“Tapi…dia tahu namamu dan Rania.”
“Lebih anehnya lagi, bagaimana dia bisa tahu tempat tinggalmu, Kai?”
“Iya, juga…bagaimana bisa tahu?”
“Kau bilang, orang suruhan Rania tapi sepertinya Rania tidak akan melakukan itu.”
“Bagaimana kau bisa tahu bahwa Rania tidak akan melakukan itu? Rania pernah melakukannya padaku dan kau…”
Seketika air tengah berada di mulutku itu…
Menyebar luas di permukaan seperti air hujan yang deras.
“Hahaha…”
“Kai!”
“Itu membuatmu kaget?”
“Hei, menurutmu saja bagaimana, hah?”
“Hahaha…”
Sky membersihkan air sudah membasahi lantai itu dengan menggunakan kaos milik Kai yang ada di sofa.
“Hei, kenapa kau pakai itu?”
“Hahaha, kupikir kau sudah tidak memakainya.”
“Kau!”
“Baiklah-baiklah, akan kucuci nanti haha….”
“Kemarilah kau, Sky!”
“Pergilah, haha…”
Ting tong!
Kai dan aku saling menatap seolah suara bell menjadi suatu hal yang membuat mereka waspada.
“Orang aneh itu,” ucap Kai.
Perasaanku tidak enak.
Selalu.
Mengapa seseorang dari masa lalu selalu menjadi jembatan di mana kita yang tengah menjalani suatu hubungan masih dalam perjalanan dan harus melewati jembatan itu?
“Kita hadapi bersama,” ucap Kai dengan menggenggam tanganku dengan erat.
“Kai sepertinya memang benar,” bisikku padanya.
“Jangan berpikir macam-macam, tenang saja,” bisiknya.
Krek!
“Kai…,” senyumannya mengarah pada Kai.
Kai tidak menjawabnya. Bahkan mukanya tanpa ekspresi.
Perempuan itu tersenyum. “Kau pasti sudah mengingatnya. Bolehkah aku masuk?”
“Aku tidak mengenalmu.”
“Bukankah sekarang 20 Juni, Kai?”
Perasaanku semakin enak.
Perempuan itu berusaha untuk masuk.
“Apa yang kau lakukan? Singkirkan tanganmu itu!” ucapnya padaku.
“Kau pikir kau siapa?” tangan Kai menghadang dan aku berada dibalik punggungnya dengan satu tanganku yang juga masih dalam genggamannya.
“Kau berjanji padaku, Kai. Kau tahu, kan? Hari ini kita akan bertemu.”
“Aku tidak pernah bertemu dengamu. Kau salah orang.”
“Lalu bagaimana aku bisa menemukan tempat tinggalmu…apakah kau tidak penasaran?”
“Aku sedang bersamanya.”
“Ah, kau ingin hanya kita berdua? Bertemu di luar misalnya atau di toko buku itu? Maafkan aku yang kurang peka. Baiklah, aku akan menunggumu di toko buku itu.”
“Hei, siapa juga yang menginginkan itu dan kenapa juga kau yang memutuskan?”
“Kai, coba ingat kembali. Aku tidak ingin kau menyesal. Kupikir kau akan bersama Rania. Ternyata kau justru bersama seseorang yang bukan seleramu.”
Orang itu menatapku dari atas sampai ke bawah, seperti tatapan Keen padaku.
“Tutup mulutmu! Kau tidak berhak mengatakan seperti itu.”
“Bolehkah aku masuk, Kai? Kau tidak ingin orang-orang sekitar melihatmu dengan penilain mereka bahkan kau sedang…”
Wah, mulutnya benar-benar penghasut.
“Justru kau yang seharusnya pergi.”
“Kau yakin, Kai? Hei, tenang saja. Aku datang hanya untuk menyapa dan memastikan. Setelah itu aku akan pergi.”
“Baiklah, masuklah.”
“Kau tenang saja,” bisik Kai padaku.
Perempuan itu tersenyum terselubung di hadapanku.
Kai tetap menggenggam tanganku.
Perempuan itu duduk di hadapanku dan Kai.
“Apa yang ingin kau pastikan?” Kai dengan ekpresi mukanya yang serius.
“Wah, kau benar-benar sama sekali tak mengingatnya?”
“Wah, benarkah? Kau tidak mengingatku? Semuanya? Apa pun itu?”
“Bagaimana bisa seseorang telah melupakannya begitu saja?”
“Baiklah, hari ini setelah semalam apa kau tahu aku akan datang?”
“Ya,” sahut Kai. Membuat perasaanku semakin bercampur aduk.
“Ah, rupanya kau tidak lupa tentang pengingat itu. Oke, itu cukup membuatku sedikit ada harapan.”
Harapan, apa maksudnya?
Sebenarnya perempuan ini, siapa?
Yang membuatku semakin ditenggelamkan adalah…
Kemungkinan besar Kai dan perempuan itu pernah bertemu di toko buku.
Bertemu seperti aku dan Kai?
Sebagai sesama orang asing yang tidak sengaja menemukan sebuah bercakapan?
Itu artinya…
Apa ingatan Kai tentangku dan tentang perempuan itu…bisa tertukar?
Ah, tidak!
Wah!
Rasanya…
Wah!
“Kita pernah bertemu di toko buku itu, Kai.”
“Kita saling berbagi cerita. Kau menceritakan tentang persahabatanmu dengan Rania dan juga dengan seseorang yang pernah kau temui juga di toko buku.”
“Siapa, ya?”
“Eh…”
“Bukankah itu…”
Jantungku berdetak kencang.
“Kau mengarang cerita. Aku tidak pernah bertemu denganmu.”
“Wah, kurasa kau perlu mengikuti saranku…berbicara di luar hanya kita berdua tanpa ada orang lain.”
“Dia bukan orang lain bagiku dan untuk apa juga mendengar saranmu itu.”
“Mengapa kau mengelak, Kai? Karena orang di sampingmu itu…kau jadi menutupi semua ingatanmu itu?”
“Jangan asal bicara!”
“Baiklah, aku akan bercerita bagaimana aku bisa sampai di sini.”
“Kau pernah mengatakannya padaku.”
“Kau akan tinggal tak jauh dari toko buku itu.”
“Haha…”
Tiba-tiba perempuan itu dengan tawanya lalu menatap ke arahku dan Kai secara bergantian.
“Memikirkan soal tempat tinggal dan cukup bisa di mengerti, kau seorang mahasiswa. Hanya apartemen ini satu-satu yang terdekat dengan toko buku dan bukankah kau berada di kampus itu?”
“Ah, aku mengingat namanya. Bukankah orang yang kau ceritakan itu…”
“S…Sky?”
Kai melepas genggamannya.
Seketika sorot mataku tak bisa lepas dari perempuan itu.
“Kau berbicara banyak tentangnya.”
“Haha, kau seorang penguntit?” sahut Kai.
“Penguntit? Boleh saja kau memanggilku dengan sebutan itu.”
“Sekarang kau tidak bisa mengelak. Kau ada di masa laluku dan aku juga ada di masa lalumu, Kai. Tidak mungkin kau tidak mengingatnya.”
“Apa kau menyukainya?”
“Untuk apa kau bertanya?”
“Bukankah Rania lebih baik bersamamu?”
Kurasa perempuan itu tidak mungkin tidak tahu kalau aku adalah Sky.
“Kapan kau bertemu dengannya?” akhirnya aku berbicara.
“Kau tidak perlu bertanya padaku. Kecuali kalau kau memang Sky.”
Kai menggenggam tanganku. Seolah menahanku untuk tidak berbicara atau menyebutkan namaku.
“Baiklah, kembali lagi. Tidak ada satu pun yang membuatmu ingat? Seperti untuk apa kita bertemu di tanggal 20 Juni, kau ingat?”
Kai semakin membuatku bertanya-tanya.
“Hei, Kai! Bukankah kau perlu memberiku…minum?”
“Biar aku saja,” bisik Kai.
Tatapannya beralih mengarah padaku.
“Kau sungguh bersamanya?” tanyanya.
“Kau tidak perlu bertanya padaku,” balasku.
“Ah, kau balas dendam. Kau tahu tidak, kau sama sekali tidak pantas bersamanya.”
“Dia hanya menyukai Rania.”
“Bukan urusanmu.”
“Memang, aku hanya berurusan dengan Kai. Kau bahkan tidak dianggap. Kau bukan siapa-siapa. Bukankah seperti itu, Kai?” ucap perempuan itu dan mengambil lemonade yang berada di tangan Kai.
“Ah, kau masih menyukainya? Dan juga cheesecake? Di toko buku itu benar-benar enak. Kau pasti menjadi pelanggan setia.”
Kenapa harus?
“Maafkan aku,” bisik Kai yang tentu mengerti tanpa aku harus mengatakannya.
“Lalu, seseorang bernama Sky itu berada di mana? Kau sudah bertemu dengannya? Atau justru tidak?”
“Aku bertemu dengannya. Dia benar-benar cantik, sama seperti saat pertama kali bertemu dengannya.”
“Kau bisa memanggilnya untuk bertemu bersama kita?”
“Tentu, bisa. Tapi untuk apa?”
“Untuk membuatmu mengerti, ingatan yang kau punya seberarti apa untukmu.”
“Kenapa kau seolah-olah sedang mengaturku?”
“Hei, itu tidak adil. Mengapa kau sama sekali tidak mengingatku. Setidaknya ada sebuah nama yang kau ingat.”
“Maaf, tapi benar-benar tidak ingat. Untuk itu, aku beberapa kali mengatakan kalau aku tidak mengenalmu.”
Suasanya semakin tidak membuatku nyaman.
Selain rasa kantuk yang mulai terasa. Pikiranku yang berkelana semakin menjadi-jadi.
“Hei, kurasa kau harus pergi,” ucap Kai.
“Sudah kubilang, aku datang untuk memastikan. Setelah itu aku akan pergi.”
“Aku benar-benar tidak mengingatmu.”
“Kau bohong, Kai. Kalian hanya sepasang kekasih. Untuk apa kau terlalu menjaga perasaannya?”
“Wah, kau gila, ya?” sahutku.
“Hahaha, kenapa? Kalau kau tidak berkenan. Kau boleh meninggalkan tempat.
“Hah, meninggalkan tempat?”
“Iya, kau yang seharusnya meninggalkan tempat.”
Kai berbisik di telingaku. “Aku benar-benar tidak bisa mengingatnya.”
“Berpikirlah dengan ingatanmu yang sudah berlalu secara perlahan,” bisikku.
“Hahaha, kau sedang membantunya untuk mengingat?”
“Tidak.”
Perempuan itu berusaha mengingatkan kembali dengan berbagai upaya yang perempuan itu ucapkan.
“Buku yang kita pinjam, Kai.”
“Kita berjanji bertemu di 20 Juni.”
“20 Juni, hari di mana kita berpisah dan berjanji akan bertemu di 20 Juni di tahun ini.”
“Tyana?” sahut Kai.
Perempuan itu tersenyum.
...***...