Suddenly

Suddenly
Loving and Losing



Ken dengan dua orang di hadapannya. Seperti seorang Ayah yang berhasil menangkap basah anaknya yang ketahuan diam-diam berpacaran.


“Kalian kembali bersama?”


“Atau jangan-jangan kau kembali bersama Kai setelah kita bertemu waktu itu?”


“Wah, apa kalian masih remaja yang dengan mudahnya setelah belum lama putus dan kembali?”


“Aku tidak kembali bersamanya,” jawab Sky tanpa ada ekspresi di wajahnya.


“Maksudnya akan, tapi bukan hari ini,” jawa Kai yang juga tanpa ada ekspresi di wajahnya.


“Jadi yang benar yang mana?” Ken menggelengkan kepalanya. Dua orang itu menguras energinya. Bahkan, membuatnya muak. “Kenapa kau harus berurusan dengan orang sepertinya?” Ken menunjuk ke arah Kai dengan begitu dekat.


“Ken, kau tidak sopan. Kau juga, bagaimana kau bisa masuk ke dalam?” Sky menyingkirkan tangan Ken.


“Kau mematikan ponselmu lagi? Sudah kuduga kau tidak membaca pesanku.”


“Ibumu tiba-tiba datang dan membuat kekacauan. Bahkan marah hanya karena password. Aku mengganti passwordmu, ada diponselmu. Kau bisa menjaganya, kan?” Ken menunjuk lagi ke arah Kai. Lalu berbicara lagi, “Aku pergi.”


“Kau tidak bisa datang karena itu?”


“Tidak, aku pergi bersama pacarku. Karena Ibumu, semuanya menjadi kacau.”


“Kau membuat janji denganku tapi ternyata kau justru, kau bohong, Ken?”


“Tidak, kau pikir kau saja yang bisa menjalin hubungan dengan seseorang. Kau juga telah menolakku, apa kau sekarang menyesal?”


Kai menatap ke arah Sky dan langsung pergi begitu saja.


“Apa aku baru saja merusak suasana?” ucap Ken dengan tersenyum dan benar-benar keluar.


Sky mengganti passwordnya seperti semula. Ia berdiri ke arah pintu di sebelah, lalu menutup pintu. Tidak ada yang bisa ia lakukan, lebih baik baik diam dan, “Entahlah…”


Ia mematikan semua lampu di seleluruh ruangannya. Berlindung di dalam selimut dan membiarkan kedua matanya terlelap.


“Tidak bisa!” Sky kembali menyalakan lampu. Berjalan berganti pakaian. Membukan jendelanya dan juga pintu di balkon.


“Hei, apa yang kalian lakukan?” entah suaranya akan terdengar atau tidak. Sky melihat Kai dan Ken berada tepat menghadap gedung apartemen. Bukan lagi Rania dan Kai yang ia lihat seperti sebelumnya. Sky memastikan pintunya benar-benar tertutup rapat sebelum berlari dan berharap dua orang itu tidak akan melarikan diri.


Tidak bisa berpikir dengan jernih.


Sesampainya di lantai dasar, kakinya terasa nyeri karena terlalu terburu-buru. Bahkan, jari kakinya sempat tergores dan sedikit berdarah. Jari kali menatap tembok, sandal jepitnya juga terlalu licin.


“Hei, kalian!” jari tangannya menunjuk. “Diam di situ!” Kai dan Ken pun terdiam.


“Kalian saling membenci, apa yang kalian bicarakan dan untuk apa?”


“Tidak ada,” jawab Kai dan Ken kompak.


“Dan kau juga siapa?” ucap Kai.


“Kau mengenalku?” ucap Ken.


“Tidak ada yang kukenal,” jawab Sky.


“Aku tidak berbohong. Aku punya pacar,” teriak Ken.


“Ah, kau orang asing yang tiba-tiba berbagi cerita kalau kau punya pacar, seperti itu?” Ken benar-benar gila, tak kusangkah aku menanggapi ucapannya.


“Lalu, kau juga punya pacar dan berbicara dengan dengan sesama orang asing?” Sky melihat ke arah Kai.


“Kalau kau? Bukankah kau sendirian?” itu balasan dari Kai.


“Ya, sendirian. Aku memang sendirian. Seperti orang bodoh dengan seorang Ibu yang entah masih pantas menyebutnya dengan sebutan itu, membodohin diri sendiri dengan menunggu ketidakpastian seorang Ayah yang entah berada di mana. Ya, aku sendirian.”


“Bukan seperti itu maksudku,” Kai berjalan mendekat.


“Hei, tidak usah terlalu terbawa oleh suasa. Kau sudah cukup dewasa untuk tidak terlalu menunjukkan pada orang lain,” ucap Ken.


“Ah, begitu? Baiklah,” Sky justru tersenyum.


“Apa kau bisa pergi?” Ken mengatakan itu padaku.


“Tentu,” Sky pergi dengan perasaan yang aneh. Begitu menyakitkan tapi tidak juga. Langkah kaki menjadi lebih ringan. Ia berlari begitu kencang. Lalu kembali ke mode awal, mematikan semua penerangan dan kembali mencoba untuk terlelap.


Kehidupannya benar-benar aneh. Di kelilingi orang-orang aneh dan dirinya sendiri juga aneh. “Apa apa dengan kehidupanku?” teriak Sky lalu dengan cepat menutup mulut.


“Bukankah kau sendirian?”


“Bisakah kau pergi?”


“Wah!”


“Mereka benar-benar gila.”


“Apa mereka benar-benar mengatakannya dengan serius?”


“Apa semua ini?”


Itu membuatnya geli dengan ucapan Kai dan Ken. “Geli? Untuk apa? Ada apa denganku? Ada apa?” Sky kembali berteriak.


Apa ini mimpi?


Dia berada di dunia mimpinya?


“Kau sidah gila, Sky!”


Sky kembali menyalakan penerangannya. Membuka jendela. Membuka pintu balkon dan meraya seperti cicak. Mengintip pada cela balkon, “Mereka masih ada di sana. Apa mereka tengah merencanakan sesuatu?”


“Lagi-lagi untuk apa?”


“Hah?”


Sky menutup mulutnya dan kedua matanya menangkap seseorang yang ia kenal. “Kenapa ada Rania?”


“Wah!”


“Apakah ini sebuah lelucon kehidupan?”


“Apa yang sedang terjadi sebenarnya?”


“Teka-teki apa lagi dan untuk apa aku harus menebaknya?”


“Mereka akan bersenang-senang tanpaku?”


“Ken?”


“Ken dengan Rania? Hah?”


“Tidak mungkin!”


Ucapanku semakin melantur.


Mereka saling berpisah.


Kai tentu kembali masuk.


Ken juga tidak terlihat bersama Rania, perempuan itu pulang bersama supirnya.


Sky berjalan mengendap-endap bersembunyi di kamar mandi dengan pintu yang terbuka. Ia memasang telinganya lebar-lebar. “Tak kusangkah aku melakukannya,” Sky kembali merayap seperti cicak. Tubuhnya tertidur di antara lantai di luar dan di dalam kamar mandi. Kedua matanya mengintip di bagian bawah pintu. Seorang berlalu-lalang dengan arah yang berbeda. Kai akan berjalan dari bagian kiri ke kanan dan orang lain akan sebalinya. Kecuali, Kai benar-benar sudah kembali. “Kenapa suara pintunya tidak terdengar?”


Ada bayangan yang berhenti di hadapan pintunya. Orang itu berjalan sedikit lalu kembali dari arah kanan ke kiri.


“Sudahlah! Kau sudah gila,” suara Sky lirih.


Penyamakan beberapa penarangan yang masih belum kembali semula. Berjalan ke arah balkon dan penerangan di ruangan Kai yang yang terlihat dari arah balkonnya baru saja menyala. Sky membalikkan badannya dan menutup pintu balkon. “Ada apa denganmu? Ini juga tempat tinggalmu, kenapa kau melarikan diri?”


“Ponselku?”


Tidak ada di ranjangnya. Tidak ada juga di tas. “Itu di dasboard,” Sky menjabak rambutnya sendiri dan menahan dirinya untuk tidak berteriak.


Kembali seperti apa yang pernah terjadi.


Tanpa posel.


Tanpa pasangan.


Tanpa Ken.


Tanpa seorang pun.


Berjalan sendirian dengan tatapan banyak orang yang masih saja menyelidik dan apa yang baru saja kulihat?


Kai berjalan bersama…


Ken?


Rania?


Mereka telah menjadi pusat perhatian.


Bukan hanya pada mereka, pusat perhatian itu juga mengarah padaku.


Apa lagi ini?


Apa lagi yang opini yang akan tersebar setelah ini?


Sky yang dicampakkan?


...***...