Suddenly

Suddenly
Anything Goes



“Apa kalian punya maka…”


Bruk!


Kepalaku membentur pintu dengan posisi duduk dan juga dengan wajah yang pucat.


Energiku terkuras.


Kuliah berakhir pukul 5 sore dengan posisi perut yang harus beradaptasi untuk menahan lapar.


Begitu berakhir, setidaknya harus sampai ke ruangan club sebelum mempermalukan diriku sendiri karena tergeletak di jalanan.


Buram hanya itu yang bisa kusadari dengan suara-suara orang yang berbicara tapi tidak terdengar jelas di telingaku.


Rasanya seperti terbang dengan tubuh yang seimbang. Lalu mendarat dengan sempurna. Ada rasa perih seperti luka baru yang menyentuh salep luka. Ada sensasi dingin tapi rasa perih itu lebih mendominasi.


Kepalaku juga terasa berat. Seperti sansak yang telah menjadi bulan-bulannan dengan sarung tinju yang dipakai lebih dari satu orang.


Skenario-skenario di dalam pikiranku bermunculan lagi. Seperti Kai dan Rania menjadi pasangan yang sesungguhnya setelah meninggalkanku atau aku yang bertemu stranger lalu menjadi pasanganku.


Kai yang tiba-tiba pindah tanpa memberi tahuku. Ayahku yang tiba-tiba menjadi seseorang yang memencet bell lalu aku mematung karena tidak menyangkah seseorang yang kurindukan ada di hadapanku.


Ken yang semakin menjauh dariku atau Yuta dan Kale yang tiba-tiba kembali padaku.


Rania yang melakukan aksi gilanya sesuai skenarioku waktu itu atau Ibu dan Keen berpisah.


Isi kepalaku penuh dengan skenario-skenario kehidupan yang terkadang dari sesuatu yang kita pikirkan dan rasakan.


Kedua mataku mulai terlelap.


Ada rasa kantuk yang tidak bisa lagi di tahan tapi masih ada cela-cela di mataku yang mulai terlihat.


Jemari tanganku juga terasa hangat. Bersentuhan dengan tangan seseorang. Kuharap itu adalah Kai.


Pendengaranku telah kembali, suara-suara memanggil namaku terdengar berulang kali.


Kupejamkan kedua mataku dan berkata, “Kau harus kembali.”


“Kau harus kembali.”


Tringgggg!


Kedua mataku terbuka seolah kembali dari perjalanan tanpa penerangan dan sampai pada ruang yang lebih terang. Rasanya seperti itu.


Napasnya teengah-engah. Seperti sehabis dikejar-kejar dan juga ada lelah yang tiba-tiba terasa meski tidak melakukan kegiatan yang melelahkan.


Sky mencoba untuk bangun. Mematikan jam weker milih Kai yang tertinggal. Jam weker itu akan berbunyi pada pukul 5 sore.


Pakaian yang ia pakai masih lengkap. Pakaian sehabis berkemah.


Tenggorokannya kering. Kepalanya pening. Kelopak matanya menebal. Sekujur tubuhnya serasa penuh memar.


“Apa Rania masih bersamanya?” Sky berbicara dalam benaknya.


Kedua matanya berkerut karena rasa nyeri pada kepalanya menjalar sampai di ubun-ubun. Ia terbangun dengan kondisi tubuh yang tidak fit. Akhir-akhir ini juga, kesehatannya menurun.


Ia selalu menyebutnya, saat terlalu memikirkan banyak hal—penyakit akan datang membuka pintu.


Sky berjalan dengan hati-hari karena kepalanya mulai membuatnya berputar. Ia mengambil air mineral yang masih utuh di atas meja. Meminumnya seolah benar-benar kehilangan cairan tubuh.


Ting tong!


Kedua matanya sesekali menutup dan membuka. Seperti sedang menahan rasa sakit.


Suara bell yang ia dengar tidak ada habis-habisnya. Ia berjalan dengan tangan yang meraba tembok.


Berjalan seperti itu membuatku menyadari bagaimana jika di balik pintu itu, bukan seseorang yang kukenal? Apa yang akan terjadi?


“Itu bukan Kai,” kedua mataku melebar dan sedikit demi sedikit membuat berpikir dengan jernih.


Langkah kalinya melangkah mundur. Sebelum membukanya, ia harus tahu siapa seseorang yang ada di balik pintu.


“Ren?”


Sky membalikkan badannya. Kembali ke kamarnya dan melihat potret dirinya di balik cermin. Ia mematung dengan apa yang ia lihat. “Kau benar-benar berantakan,” dengan rambut yang acak-acakan. Noda makanan di pipi. Pakaian yang lusuh karena sehabis melewati jalanan yang berdebu, lalu raut wajahnya seperti zombie.


Tapi dia hanya Ren.


Sky kembali berjalan menuju pintu. Tanpa memikirkan soal potret dirinya di balik cermin. Ia membuka pintu dilihatlah Ren dengan tersenyum lebar tanpa peduli penampakan menyeramkan yang berada di hadapannya itu.


Sudah kubilang dia hanya Ren.


“Kau belum berganti pakaian?” ucapnya tanpa rasa canggung setelah kejadian semalam.


Kurasa Ren dan aku, tidak akan berubah menjadi canggung. Karena itu aku dan itu Ren. Seperti itu hubungan di antara kita yang kutahu. Setelah menyadari semuanya, kesadaranku telah kembali dari mimpi panjang yang begitu melelahkan.


“Ya, aku baru bangun. Ada apa kau ke sini?”


Ren mengangkat kantung kreseknya. Aroma yang cukup familiar. “Martabak?” seru Sky dengan ekpresinya yang Ren pasti tahu.


“Entahlah, diperjalanan membuatku berpikir sepertinya aku harus menemuimu.”


“Ah…”


“Masuklah, tapi kau menunggu sedikit lama tidak apa?” tanyaku.


“Kau mau ke mana?”


“Hei, kau buta atau bagaimana? Kau tidak lihat bagaimana aku sekarang?”


“Oh, tidak apa-apa bagiku. Kau hanya terlihat lelah.”


“Ren, kau berpura-pura tidak mengatakan yang sebenarnya atau kau hanya membual?”


“Hahaha, kau tetaplah kau Sky. Aku juga datang tiba-tiba. Bukan salahmu juga dan aku tidak terlalu peduli dengan mengomentari penampilan seseorang.”


“Ah, baiklah. Tapi aku tetap harus membereskan semuanya. Kau duduk saja atau kau bisa menyalahkan TV, oke?”


“Ya, kau juga tidak usah terburu-buru.”


“Oh, Ren. Apa yang kau bawa itu milikku, kan?”


“Hahaha, iya…kau bisa menghabiskan semuanya.”


Ting tong!


Kai membuka pintu. “Apa lagi?”


“Sebenarnya…aku bohong soal seseorang yang melihat kita. Karena aku ingin bersamamu.”


“Karena Sky tidak ada jadi, kau bebas melakukannya?”


“Ya.”


“Rania, semakin kau melakukan hal semacam ini semakin membuatku ingin menjauh. Kau tidak ingin itu terjadi, kan?”


“Kau tidak akan melakukan itu.”


Kai melewatinya.


“Kau mau ke mana?” teriak Rania.


Kai membuka pintu di hadapannya.


“Ah…kau begitu bebas, ya? Apa kalian sama-sama seperti ini? Saling masuk tanpa


sepengetahuan pemiliknya?”


Kai tidak peduli dan menutup pintu. Ia melihat sepasang sepatu yang membuatnya bertanya-tanya. “Sky?”


Tidak ada jawaban tapi ia mendengar suara air yang mengalir. “Kau mandi?”


Kai mengambil tas ransel milik Sky yang berserakan di lantai dengan seisi tasnya yang juga berantakan. “Apa kau begitu…”


“Ren?”


“Eh, Kai…”


“Sedang apa kau di sini, Ren?”


Suasana yang ada.


Tatapan yang saling terselubung di antara keduanya.


Serta isi hati yang hanya masing-masing dari mereka yang tahu.


“Kau sendiri…sedang apa kau di sini?”


Kai bersembunyi dibalik tawanya. “Bukankah kau seharusnya berkata…kau datang untuk Sky, ya?”


“Bukankah itu juga berlaku untukku?” Ren juga bersembunyi dibalik tawanya.


“Ah, kau membawa ini…untuk apa?”


“Kau tidak tahu…apa yang dia suka?”


Krek!


“Ren…”


“Ren, apa kau menung…”


Oh, tidak!


...***...