
“Ken?”
“Bolehkah aku masuk?”
Ken masih dengan luka-lukanya. “Hei, untuk apa kau ke sini? Kau seharusnya istirahat. Wah, kau!”
“Ada yang lebih penting dari luka-lukaku ini.”
“Ada apa? Tak bisakah hanya meneleponku saja atau biar aku saja yang datang padamu?”
“Tidak bisa.”
“Wah, kau benar-benar, ya. Ada apa? Katakan padaku!”
“Sky…”
“Dia rupanya datang menemui Ibunya dan ya, kau pasti tahu apa yang terjadi.”
“Untuk apa di datang ke sana?”
“Kau tidak membaca pesanku?”
Kai memeriksa ponselnya. “Ah, bahkan aku sampai melupakannya. Di mana kau sebenarnya, Sky?”
“Kau tidak goyah, kan?”
“Apa maksudmu?”
“Kau terlihat berbeda. Kau goyah, kan?”
“Entahlah, aku tidak tahu. Tapi yang kau maksud itu, bukan seperti itu, Ken.”
“Kau goyah, Kai. Itu terlihat jelas.”
“Ken, sudahlah…bukankah kau juga lelah?”
“Bilang saja kalau kau goyah, Kai.”
“Apa kau tahu? Orang asing itu, laki-laki yang mengusikmu itu. Dia berusaha mendekati Sky. Beberapa hari yang lalu, aku melihatnya.”
“Ken, sebenarnya apa yang kau ucapkan itu pengarah pada siapa? Aku taku, kau tidak pernah menyukaiku. Tapi kau tidak membenciku.”
“Tapi kau goyah, Kai. Kau goyah!”
“Bukan seperti itu, Ken.”
BRAK!
“Ken!”
Hah, ada dengannya?
Goyah?
Sebenarnya siapa yang dia maksud?
Kai menutup kedua matanya. Meletakkan ponselnya meski ia tahu ponselnya tengah berdering. Rania berulang kali meneleponnya bahkan di tengah malam.
Pikirannya kacau.
Ada perasaan aneh yang terus-menerus mengusiknya.
Pukul 12 malam.
Sky tidak meninggalkan tempat. Meski Ibunya telah memberikan penolakkan.
“Bu, tak bisakah melihatku sebentar?”
Langkah kaki yang terdengar cukup kencang mendekatiku.
“Apa kau tidak mengerti arti dari ucapanku?”
“Bu, ucapkan sekali saja. Kumohon!”
“Tidak akan.”
“Aku mohon, Bu!”
“Pergilah, sebelum benar-benar melakukan sesuatu padamu.”
“Tidak apa. Bagiku itu tidak masalah.”
“Sky, pergilah!”
“Ibu, sebenarnya membohongi diri Ibu sendiri, kan? Hanya karena menikah dengan orang lain.”
“Jangan bawa orang lain kalau itu menyangkut dirimu sendiri, Sky.”
“Ibu juga melakukannya. Merubah sikap Ibu hanya karena menikahi orang lain.”
“Kau sendiri yang tidak bisa menerima kenyataan, apa kau sadar itu? Kau menyedihkan.”
“Ibu lebih menyedihkan. Bukankah Ibu juga kesepian? Bagaimana bisa Ibu yang kukenal bisa menjadi seseorang yang berbeda?”
“Hahaha, apa tujuanmu sebenarnya?”
“Tak bisakah Ibu kembali padaku seperti…”
“Kembali katamu? Hei, lebih baik kau sendiri yang kembali. Kau membuatku muak, pergilah!”
“Bu…”
“Selamat ulang tahun dan pergilah!”
Sky menggenggam jemari tangan Ibunya…
Ya, Ibu menepisnya.
“Pergi!”
“Selamat ulang tahun, Ibu.”
Keen berada tepat di belakangku saat aku berbalik. Tatapannya yang tajam seperti sedang menghakimiku. “Kau merusak suasana,” ucapnya.
Keen menghampiri Ibu dengan pelukan.
Mereka terlihat selayaknya pasangan suami istrin yang memberikan kejutan ulang tahun.
Senyuman Ibu dan Keen saat itu terlihat tulus di mataku. Entah karena perasaan yang telah menyerah atau hanya kedua mataku yang mencoba buta. “Baiklah, saatnya benar-benar pergi.”
Ponsel tidak ada.
Tidak mungkin pergi ke tempat Ken.
Mencoba kembali untuk datang tiba-tiba di hadapan Kai? Kurasa itu bukan pilihan setelah apa yang terjadi.
Sky meninggalkan koper yang ada digenggamannya. Karena itu bukan miliknya.
“Selamat ulang tahun, Sky.”
Tyana?
“Tyana?”
Perempuan itu tersenyum.
“Wah, rupanya ingatanmu benar-benar buruk. Aku akan selalu datang sebelum kau tahu namaku, setelah itu…sungguh aku akan pergi.”
“Dan satu lagi, kau tak berhak untuk marah.”
Kau tak berhak untuk marah? Bolehkah aku memukulnya? Wah, semua yang keluar dari mulutnya…menyebalkan.
“Wah, apa itu keahlihanmu? Pembual?”
“Haha, terima kasih atas pujiannya,” ucapnya lalu beranjak dari tempat duduknya.
“Ah, satu lagi…”
Kai hampir melukai tanganku hanya karena manahan amarah. Kai benar-benar meremas jemari tanganku.
“Apa lagi?” Kai yang sudah tidak tahan lagi.
“Aku akan datang ke kampus bertemu dengan Rania. Kau juga datang.”
“Tidak akan.”
“Kalau begitu, kau dan aku datang di toko buku itu…tanpanya.”
“Itu juga tidak akan terjadi.”
“Pasti terjadi.”
Wah, kepalaku rasanya benar-benar…
“Bukankah kau akan pergi?” ucapku.
“Hei, kau tak berhak berkata seperti itu padaku.”
“Kai dan aku, akan bertemu denganmu di kampus. Jika kau ingin bertemu dengannya.”
“Aku tidak akan pergi tanpanya,” ucap Kai.
“Baiklah, tapi kau akan menyesalinya jika kau datang bersamanya.”
“Apa maksudmu? Kau mencoba untuk menggertakku?” wah, dia benar-benar seseorang yang akan menguras energiku.
Sial!
Benar-benar tidak bisa berkata-kata lagi karena akan menjadi semakin panjang dan semakin melelahkan.
“Bye, Kai! Terima kasih. Kau tak perlu mengatarku, orang di sampingmu…sungguh membuatku takut,” dengan tersenyum pada Kai.
Tubuhku lemas. Rasanya ingin berteriak sekencang mungkin.
“Kau tidak apa?”
“Menurutmu?” hormon di dalam tubuhku seolah tengah meledak-ledak.
Kai memelukku. “Tidak apa. Kau sudah melakukannya dengan benar.”
“Ya.”
“Wah, kau menakutkan.”
“Hei, kau setuju dengannya kalau aku menakutkan?”
“Hahaha, tidak. Lupakan saja orang aneh itu, oke?”
“Iya, baiklah.”
Keesokan harinya. Kai dan aku tidak pergi bersama. Selain jadwal perkuliahan yang jauh berbeda. Sama-sama memiliki kegiatan lain yang perlu diselesaikan terlebih dahulu.
“Tak kusangkah, Rania dan Kai yang sesungguhnya bersandiwara.”
“Mereka orang-orang kaya terkadang juga menyedihkan, harus melakukan hal yang tak semestinya dilakukan. Seperti berjodohan misalnya.”
Itu yang kudengar saat aku baru saja masuk ke ruang kelas.
Kehidupan perkuliahanku normal kembali.
“Sky, kau terlihat bahagia akhir-akhir ini. Apa itu karena Kai yang membuatmu bahagia?” ucap seseorang di belakangku.
Wah, setelah mengatakan yang tidak-tidak. Sekarang berkata seperti itu padaku.
“Kau begitu ingin tahu?”
Semuanya duduk mengelilingiku dan menunggu jawaban yang keluar dari mulutku.
“Sebenarnya, lebih bahagia jika kita tidak mencampuri urusan orang lain,” ucapku yang sekaligus membuat orang-orang itu seketika menjauh dariku.
“Sebentar lagi aku selesai.”—Kai
“Aku sedikit lebih lama.”—Sky
“Tidak apa, aku akan menunggumu.”—Kai
“Sky…”
“Iya?”
“Ada yang mencarimu.”
“Siapa?”
“Itu…”
Wah!
Energiku akan segera terkuras.
Orang aneh itu ada di depan pintu dengan tersenyum seolah aku dan dirinya adalah teman baik.
“Orang aneh itu datang di kelasku.”—Sky
“Kau mau apa?” ucapku.
“Haha, kau menganggapku musuh? Tenang dulu, aku hanya menyapamu saja.”
“Kau tidak terlihat seperti itu.”
“Ah, benarkah? Apa itu terlalu jelas?”
“Kau ingin menghalang-halangiku untuk datang?”
“Haha, memang seharusnya kau tak datang.”
“Baiklah, kau memintaku untuk tidak datang, kan? Iya, aku tidak akan datang.”
“Benarkah?” orang itu tersenyum padaku.
“Ya, aku tidak akan datang.”
Sky tersenyum ke arah yang berbeda.
“Sky…”
“Kai…”
Kai sudah ada sejak tadi.
“Kita tidak akan datang,” ucap Kai.
“Kau sudah janji padaku.”
“Siapa?”
“Kau, siapa lagi.”
“Tidak. Kupikir itu kau saja yang berjanji dengan dirimu sendiri dan kau juga yang berencana.”
“Kai, kau tidak bisa seperti itu padaku.”
“Kau juga tidak bisa bersikap semena-mena. Untuk apa kau datang menemuinya?”
“Untuk menyapanya.”
“Wah, kau sudah gila.”
“Kau harus menemuiku dengan Rania.”
“Aku tidak akan menemuimu jika itu tanpa Sky.”
“Baiklah,” ucapnya.
“Wah, kau benar-benar gila.”
Kai dan aku saling melempar pandangan. Seperti tidak habis pikir, ada apa dengan orang ini? Benar-benar aneh.
“Di toko buku,” ucapnya lagi.
“Baiklah,” jawabku.
“Aku tidak berbicara denganmu.”
Wah, baiklah. Seharusnya aku tidak berbicara.
Kai mengandeng tanganku.
“Haruskah kalian melakukan itu, bergandeng tangan?”
Sky memejamkan matanya. “Bolehkah aku memukulnya?” bisikku pada Kai yang hampir membuatnya tertawa.
“Hei, sebenarnya apa yang ada dipikiranmu?”
“Kalian hanya sebatas itu, tidak perlu berlebihan.”
Wah!
“Kupikir…sebaiknya kau pergi menjemput Rania.”
“Kenapa, aku?”
Kai menunjukkan ponselnya pada orang itu.
“Ah, baiklah.”
“Kita tidak akan kabur,” ucap Kai.
“Bye!” Kai berseru senang.
Orang itu pergi.
“Wah!”
Kai memelukku. “Tidak apa.”
“Apanya yang tidak apa? Wah!”
“Mau makan ramen?”
“Tidak, Kai. Aku ingin pulang.”
“Haruskah kita pulang?”
“Hahaha…”
...***...