Suddenly

Suddenly
Unbelievable, suddenly…



“Tidak ada di sini,” Kai menyerah.


“Sudah kubilang. Itu tidak masuk akal.”


“Kau sepertinya tahu di mana tempat sebenarnya?”


“Hei, kau bercanda padaku, Kai?” jawab Jeff.


“Hahaha, kau benar juga. Kau bodoh.”


“Kau juga, sama bodohnya.”


“Hei, kalian berdua! Sepertinya kita hanya dibodohi dengan omong kosong penguntit itu,” ucapku.


“Hei, kau yang terlambat menyadari! Bukankah memang sudah jelas? Kau saja yang berlagak menjadi detektif,” ucapan Jeff yang membuatku bertanya-tanya.


“Jeff, kau yakin dengan apa yang kau ucapkan? Kurasa kau sedang tidak bercanda.”


“Iya, kau marah padanya?” tanya Kai pada Jeff.


“Hahaha, ada apa dengan kalian? Bukankah kalian telah mengenalku begitu lama? Tentu saja aku bercanda, aku tidak serius dengan ucapanku.”


“Ah, kurasa semuanya lelah. Baiklah, sampai di sini saja. Kita bisa pulang masing-masing. Terima kasih dan maafkan aku, 2 hari ini membuang waktu kalian.”


“Sky, bukan seperti itu.”


“Lebih baik kau pulang, Jeff. Kau harus bekerja besok,” sambung Kai.


“Kenapa jadi seperti ini? Padahal, aku hanya…”


“Kau juga lelah, Jeff.”


“Aku pulang,” ucapku.


“Beristirahatlah…”


“Dan kau juga, Jeff.”


“Baiklah, aku pulang,” ucap Jeff.


Senin, pukul 8 pagi.


Kelas di mulai pukul 7 pagi. 45 menit lagi kelas berakhir. Pikiranku masih kacau. Sepanjang perkuliahan hanya mengandalkan recorder yang sengaja kubawa hari ini untuk merekam penjelasan dosen karena tidak bisa benar-benar fokus.


“Kau baik-baik saja?”


Apa yang terjadi denganku dan Kai sudah menyebar luas. Entah, siapakah orang yang ada dibaliknya?


“Tidak apa,” jawabku singkat.


Pasti 98% hanya untuk mengorek-gorek dan sisanya menanyakan keadaan.


Begitu kelas selesai, kurasa aku harus melarikan diri sebelum dikepung dengan berbagai pertanyaan yang seharusnya tidak perlu kujawab.


“Apa Kai juga baik-baik saja?”


“Bukankah dia terlihat kurus? Apa dia baik-baik saja?”


Haruskah aku menjawabnya?


“Semuanya baik-baik saja,” Sky tersenyum.


Ah, recordernya…


Itu pasti akan terdengar.


Selama suaranya tidak menutupi, tidak menjadi masalah. Hanya terdengar menyebalkan saja.


“Kurasa kau harus lebih menjaganya dan lebih memperhatikannya.”


“Kalau aku jadi pacarnya, kurasa itu tidak akan terjadi.”


“Ah, benarkah? Sayang sekali kau bukan pacarnya,” balasku.


“Sampai jumpa di pertemuan selanjutnya…”


Kelas selesai, bye!


“Halo, Kai?” dengan senyuman yang lebar. Tak kusangkah aku telah melakukannya. Hal semacam itu.


Tapi setidaknya itu benar-benar terjadi. Kai meneleponku.


Kai menungguku di kantin. Hari ini pertama kalinya, Kai dan aku terlihat bersama setelah kejadian bersama Rania waktu itu.


“Benar-benar ramai,” seperti masuk ke dalam kadang harimau.


Baru saja melangkahkan kaki, orang-orang di sekitar seolah sedang siap-siap menerkam.


Kai melambaikan tangannya padaku, saat itu juga suasana berubah. Tentu dengan suara-suara yang cukup jelas terdengar di telingaku.


“Hai,” sapaku.


“Kau terlihat tidak nyaman berada di sini.”


“Aku? Tidak. Hanya sedikit…”


“Apa mau berganti tempat?”


Sky menggeleng. “Bukankah kau ada kelas setelah ini?”


“Iya.”


“Kau gugup, ya?” tak kusangkah aku menyadarinya.


“Apa itu terlihat?”


“Iya, ada apa denganmu? Kau bisa gugup juga rupanya?”


“Hei, kau pernah bilang…apa yang terlihat luar biasa belum tentu juga seperti apa yang kita lihat.”


“Ah…”


“Sky, kau membuatku semakin gugup.”


“Hei, ekspresimu yang murung juga menyusahkan bagiku. Jika aku menjadi pacarnya, aku tidak akan membiarkannya seperti itu. Orang-orang itu mengatakan seperti itu padaku.”


“Ah…”


“Kai!”


Kai mengacak-acak rambutku dan apa yang terjadi?


Waktu seolah berhenti. Orang-orang yang berada di kantin menghentikan aktivitasnya. Menjadikanku dan Kai pusat perhatian bagi mereka.


Kai beranjak dari tempat duduk. Berjalan mengambil kantung kresek berwarna hitam. Lalu kembali ke tempat semula, mengandeng tanganku dan keluar dari kantin.


“Kau lega?” tanyaku usai merasakan betapa dinginnya tangan Kai.


“Belum, kita belum sampai di parkiran.”


“Parkiran?”


“Iya, kita makan saja di dalam mobil.”


“Hah?”


Kai cepat-cepat membuka kunci dan masuk ke dalam.


“Wah, baru kali ini melihatmu seperti itu, Kai.”


“Begitulah aku sebenarnya.”


“Benarkah?”


“Ah, selama ini kau ternyata…”


“Iya, bukan diriku yang sesungguhnya. Apa kau tahu…apa yang ada di kantung kresek ini?”


“Kuharap itu di antara ketoprak dan gado-gado,” perutku terasa meronta-ronta.


“Dan kuharap kelas dibatalkan.”


“Hei, kenapa begitu? Kau juga tidak fokus?”


“Iya, kau juga?”


“Ya, tidak seperti biasanya.”


“Ayo, kita makan!”


Kai membuka kantung kresek itu dan…


2 porsi ketoprak dan 2 porsi gado-gado dengan ekstra kerupuk.


“Whoaa! Kau gila, ya?” perutku benar-benar sudah tidak tahan lagi.


“Kita harus menghabiskannya,” ucap Kai.


“Whoaa!”


Kai benar-benar se—prepare itu. Membawa kontainer berukuran sedang yang di dalamnya ada beberapa piring, mangkuk, dan alat makan.


Bukan hanya itu saja. Ada banyak snack. Kai langsung mengambil minuman dingin karena ia takut itu akan menjadi percuma. “Kau harus meminumnya sebelum es batu di dalamnya meleleh,” ucapnya.


Aromanya ketoprak dan gado-gado mulai menguasai ruang. Bukan hanya aromanya yang semerbak tapi juga rasanya yang memang seenak itu. Kai membuka jendela sedikit. Kai dan aku, benar-benar menggila. Memakan 2 porsi sekaligus.


Kai selalu membawaku pada situasi seperti saat ini. Memakan porsi besar saat pikirannya kacau.


“Apakah kita sedang piknik?”


“Iya, di dalam mobil,” Kai mengecup di kepalaku.


“Kau tidak mengoles sisa bumbu kacang di rambutku, kan?”


Kai hendak mengulang kecupannya. “Hei, banyak kaca spion yang memperhatikan,” ucapku.


“Tidak peduli.”


Cup!


“Terima kasih.”


“Kau tidak pernah…”


“Pernah, saat kau tidur.”


“Hah?”


“Iya, saat kau tidur.”


“Kau datang setiap malam hanya untuk memberikan sebuah kecupan padaku?”


“Hah? Apa yang kau pikirkan, Kai?”


“Aku pernah melihatmu mengigau,” lanjut Sky.


“Ah, kupikir…”


“Hahaha, apa kau kecewa?”


“Menurutmu, apa aku kecewa?”


Sky mengacak-acak rambut Kai dan…


“Sudah, kan?”


Kai tersenyum.


“Kai, hahaha…”


“Iya, kenapa?”


“Ada bumbu kacang di rambutmu, haha…”


“Tidak masalah, haha…”


2 hari setelah hari ini…


“Ternyata kau rupanya?” Kai terlihat tidak bisa menerima kenyataan.


“Kenapa harus kau, Jeff?” sama halnya denganku.


Jeff hanya terdiam.


“Hei, kau bersembunyi dibalik apa yang kau lakukan dan membuatku menjadi yang tertuduh? Jeff, bukankah semuanya baik-baik saja? Kau merusaknya, Jeff.”


“Semua baik-baik saja, Jeff. Kenapa harus kau orangnya? Apa yang ada dipikiranmu selama ini? Apa kau tidak ingat momen yang kau miliki bersama kami?” lanjut Ken.


“Kenapa kau…”


“Kenapa kau orangnya?”


“Kenapa…”


Jeff masih bungkam. Tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya.


...***...