Suddenly

Suddenly
Clouds



Jeff telah mengakui semua perbuatannya.


Ren adalah kaki tangan Jeff.


Penjaga apartemen itu…


Ya, Ayah Jeff.


Ren…


Ya, siapa lagi kalau bukan Adik Jeff.


Semua kertas-kertas itu ditulis oleh Jeff tapi dua saudara itu secara bergantian meletakkannya dengan pengawasan Ayahnya.


Selain hidden camera yang ada pada boneka. Ada pada barang-barang pemberian Jeff untukku.


Jeff memberiku banyak pena karena melihat banyak pena yang kupunya.


Saat aku baru saja pindah ke apartemen, Jeff orang yang membantuku menata semuanya dan itu tidak terpikirkan olehku.


Jeff memberiku banyak gantungan pakaian sebagai hadiah kepindahanku ke apartemen.


Kaca mataku yang terjatuh saat berada di toko buku terinjak kaki Jeff lalu dia menggantinya dengan yang baru.


Tanpa sepengetahuanku. Jeff menaruh di beberapa tempat di apartemenku.


Jeff tak perlu menjelaskan panjang lebar dibalik alasannya dibalik perbuatannya.


“Aku harus mendapatkan apa yang kumau meski seseorang tengah mengambilnya. Bukankah hidup juga perlu bersaing? Apakah kau juga ingat itu, Sky?”


20 Juni?


Apa itu Tyana?


Atau orang terdekat lagi?


Kai memelukku erat. Tanpa berbicara apa pun. Sepanjang perjalanan pun suasana tidak seperti biasanya.


Aku dan Kai, lebih banyak diam. Tak jarang juga air mataku tiba-tiba menetes dan Kai menyadari itu.


Bagaimana perasaanku? Jangan tanya!


Sampai aku tidak tahu bagaimana rasanya atau tidak tahu mendahulukan perasaan mana yang seharusnya…


Kesunyian yang dulu menjadi keseharianku mulai terasa kembali meski tak seharusnya seperti itu.


Meski aku tahu itu pasti akan berlalu…


Ya, jika hanya diucapkan—terasa mudah.


“Haruskah kita menonton film?”


“Atau makan sesuatu yang enak?”


“Ya, kurasa kita perlu mencobanya, Kai.”


1 minggu yang lalu. Kai dan aku mengurung diri masing-masing. Di kampus pun tidak bertegur sapa. Tidak saling berkomunikasi. Tidak juga pergi tempat-tempat yang biasa kita kunjungi.


The Day Our Eyes Met? Ya, itu juga.


“Kau yakin?”


“Iya, bukankah akan lebih melelahkan jika kita terus-menerus seperti ini, Kai?”


Kai tersenyum sorot matanya yang tidak bisa berbohong. “Baiklah.”


Kai. Yang kusuka darinya…


Tak pernah bertanya secara langsung tentang bagaimana perasaanku? Apa kau baik-baik saja? Setelah kejadian itu. Kai lebih memilih mengganti kata-kata yang lain. Karena baginya jika tidak seperti itu, kenangan buruk itu akan terdengar sebagai pengingat.


“Hei, apa saja yang kau beli?” melihat Kai dengan 2 kantung kresek besar.


“Ada banyak yang kubeli.”


“Baiklah, hahaha.”


“Senang sekali bisa melihatnya,” ucap Kai.


“Aku juga merindukannya,” balasku.


“Hahaha, seperti ini?”


“Ya, hahaha.”


“Hahaha…”


“Hei-hei, sudah cukup! Kita akan menjadi orang gila.”


“Bukankah kita memang pasangan gila?”


“Tidak, kau saja, Kai.”


“Hahaha…”


Cup!


“Apa kau juga merindukannya, Sky?”


Sky memangguk.


Cup!


Cup!


Cup!


“Hahaha…”


Cup!


Kai dan aku menonaktifkan ponsel masing-masing.


Film yang kita tonton ‘Clouds’.


“Whoaa!” begitu sampai rasanya seperti tengah berada di tempat yang baru dan membuatku takjub saat melihatnya.


Drive in Cinema, pukul 4 sore.


“Bukankah cuacanya cocok dengan judul film yang kita tonton?” ucap Kai.


“Kau benar juga. Apa akan hujan setelahnya?”


“Kupikir…setidaknya itu hanya rintik hujan.”


Kai sedikit menurunkan kursiku dan kursinya. Memberiku selimut dan mengiring beberapa snack dan minuman ke depan dan tangan kirinya berada di kepalaku.


Film sudah di mulai.


“Sepertinya aku akan menangis nanti,” ucapku.


“Begitu juga denganku,” ucap Kai.


Tidak ada pikiran yang berkelana.


Seperti membayangkan kenangan buruk itu.


Atau mengingat seseorang yang berarti atau kenangan-kenangan yang lain yang ternyata sama buruknya, itu tidak ada.


Seperti sedang beristirahat sejenak.


Tidak tahu nanti jika hari ini berakhir.


Atau saatnya terlelap di malam hari.


Kai sesekali menggenggamku dengan erat.


Bersandar di pundakku.


Memainkan rambutku.


Aku pun juga melakukan hal yang sama.


Pukul 8 pagi. Tidak bisa dihindari. Suasana kampus telah menggambarkan semua berita yang telah menyebar luas tanpa tahu siapa dibalik seseorang yang menyebarkan.


“Bukankah mereka seharusnya pindah?”


“Mereka bertahan karena mereka berpacaran.”


“Wah, itu menakutkan jika orang terdekatmu justru melakukan hal yang buruk.”


“Apa yang isi rekaman di kamera itu? Bukankah kamera itu juga ada di kamar mandi? Apa kalian tidak penasaran?”


“Kuharap gambar-gambar tanpa sensor itu tidak menyebar luas. Kurasa Kai akan meninggalkannya jika itu menyebar.”


“Aku kasian padanya tapi setidaknya dia beruntung punya pacar seperti Kai.”


“Bukankah itu sebagai gantinya? Karena dia pacar Kai.”


“Wah, bagaimana perasaan Kai? Itu membuatku penasaran.


Itu yang didengar Sky sehari-hari setelah kejadian itu. Belum lagi dengan sikap Sky dan Kai yang saling menutup diri membuat semakin banyak asumsi tentang hubungan mereka yang hancur akibat pertiwa hangat yang mereka bicarakan itu.


“Kai dan Sky, mereka sepertinya memang berakhir. Bukankah lebih baik seperti itu? Demi kebaikan diri mereka.”


“Aku yakin mereka putus.”


“Aku melihatnya…mereka tidak saling menyapa.”


“Bagus! Mereka sudah mengerti kalau cara yang mereka pilih itu salah. Mereka tidak pantas bersama.”


“Haruskah aku mendekatinya?”


“Kurasa mereka akan menyakiti diri mereka sendiri jika terus bersama.”


“Sky yang seharunya bersyukur pernah ada di hatinya. Tunggu! Sepertinya hanya dia seorang yang menaruh hatinya untuk Kai tapi Kai tidak melakukannya.”


“Kai telah sadar karena pilihannya salah besar.”


“Dari awal di antara mereka tidak seharusnya terjadi.”


“Bagaimana kabar Rania?”


“Kurasa Kai akan kembali pada Rania.”


“Rania yang terbaik untuk Kai.”


“Semenjak Kai bersama dengan Sky, kurasa kejadian-kejadian itu terjadi karena kehadiran Sky yang merepotkan.”


“Iya, dia sungguh merepotkan. Tidak pantas bersamanya.”


Langit yan semakin gelap semakin mendukung suasana. Air mataku mulai mengalir, begitu juga dengan Kai.


“Sky…”


“Kai…”


Pandangan mereka kembali ke depan dengan saling menggenggam tangan.


Makanan yang mereka bawa menjadi terlupakan.


Pikiran di antara mereka mulai berkelana meski mereka masih fokus.


Pikiran yang berkelana mengaitkan apa yang baru saja terjadi.


Terkadang film yang kita tonton membuat kita berkaca di kehidupan yang sebenarnya.


“Sky…,” panggil Kai dengan masih fokus ke arah depan.


“Iya?”


“Kalau kau bertemu denganku dengan cara seperti itu, apa akan berbeda cerita?”


“Hmm, kurasa aku akan menjadi sahabatmu.”


“Aku tidak bisa membayangkan kau menjadi sahabatku. Karena aku tidak mau itu terjadi.”


“Apa maksudmu, Kai?”


“Mengapa harus sahabat? Mengapa tak menjadikannya seseorang yang ada di hatimu? Ya, jika kita bersahabat…aku akan menyatakan perasaanku padamu. Apa kau akan melakukan hal yang sama?”


“Tergantung ceritanya, Kai. Kalau pun aku menyatakan perasaanku padamu. Setidaknya ada 2 pilihan. Kita bersama atau hubungan persahabat kita hancur.”


“Ah…”


“Sky…”


“Iya, Kai?”


“Kuharap hari ini seperti langit yang kau lihat sekarang ini. Bukankah langit yang seperti itu cepat berlalu?”


“Seperti menenggelamkan dan menggantikannya dengan warna yang cerah?” ucapku.


“Ya, anggap saja seperti itu.”


...***...