Suddenly

Suddenly
Why can’t i say that i’m in love?



Energiku semakin terkuras.


Mendengar penjelasan dari Kai.


Rumit.


Rania sengaja untuk membual. Tak kusangkah bisa terjadi di kehidupanku.


Ya, dia menyukai Kai.


Orang tua mereka memang dekat. Kai terjebak akan situasi itu.


Kai pikir tidak akan ada apa-apa. Bagi Kai, Rania adalah seorang teman yang sudah ia kenal begitu lama.


Keluarga di antara mereka terlalu berlebihan. Kai tidak suka berjodohan. Rania membual dengan berbicara tentang hubungannya dengan Kai yang sudah berlangsung lama.


“Intinya kau menjadi pasrah dengan keadaan?” Sky mencoba mencerna alur penjelasan dari Kai.


Tiada tanpa perdebatan di antara Sky dan Kai.


“Aku mengerti semua yang terjadi membuatmu kesal. Bukan hanya kesal tetapi, kau tidak tahu bagaimana ada di posisiku,” jelas Kai.


“Kau juga tidak tahu bagaimana ada di posisiku,” balas Sky yang semakin memperkeruh suasana.


“Ah, kupikir ini adalah waktu yang tepat untuk menjadi jelas. Ternyata, tidak.”


Suasana menjadi hening.


Kai dan Sky, mereka saling menatap untuk beberapa saat kemudian saling berpaling.


Hujan semakin deras.


Mereka hanya menepi di dekat toko buku, berada di dalam mobil. Entah, menghabiskan berapa waktu tetapi terasa tak peduli akan waktu.


Tes…tes…tes…


“Sky…”


“Hei, aku mohon jangan! Kau membuatku semakin menjadi buruk.”


Entahlah, aku menjadi lebih sensitif. Post-menstrual syndrome? Mungkin, bisa terjadi. Apa pun alasannya, membuatku jauh lebih sensitif.


“Liburan terburuk yang pernah ada…,” suara dari saluran radio yang seolah membuatku berkaca.


“Liburan terburuk yang pernah ada…,” ucap Sky dengan tatapannya ke arah luar.


“Kau juga yang tidak membukakan pintu untukku,” sahut Kai.


“Kau yang lebih dulu di hari itu keluar bersama Rania lalu, kau diam saja tanpa memberi penjelasan.”


“Sudah kubilang Raina hanya…”


“Kau baru mengatakannya hari ini,” potong Sky.


Suasana di antara mereka kembali semula, menjadi hening.


Tak lama ponsel Kai berdering. Nada bicaranya terdengar kesal. Lalu menutupnya dengan cepat.


“Apa itu Rania?”


“Ya.”


“Aku harus kembali.”


“Turunkan saja aku di sini,” ucapku.


“Oke.”


Berakhir seperti di hari itu, di tempat yang sama.


Hujan mungkin berpihak padaku, tetapi tidak untuk soal cinta.


Sky meletakkan kembali payung itu pada tempatnya meski pemilik toserba itu mengizinkanku untuk meminjamnya.


Pakaianku hanya sedikit basah. Tidak terlalu penting sebenarnya. Hanya saja, masalahnya…saat ini aku tidak ingin kembali dan pulang.


“Apa aku terlalu egois?”


Tidak ada yang mudah, kalau itu soal cinta. Hujan telah kembali. Membasahi seluruh tubuhku.


Benakku, mengantarku pada tujuan yang sama. Seperti penyesalan yang akan datang di akhir cerita.


Suara bell mengingatkanku, bagaimana menjadi Kai.


Di antara banyak pilihan. Pilihan pertama yang terus-menerus menghantuiku.


“Kai…,” kata pertama yang terucap dari mulutku dengan kedua mata sedikit berkaca-kaca.


“Eh, Sky. Aku mengerti apa yang kau inginkan tapi bisakah kau menungguku? Percayalah padaku, oke?” Kai terlihat panik.


“Apa yang terjadi?” kupikir telah terjadi sesuatu. Kai terlihat berantakan.


Terdengar suara pecahan kaca. “Kai, ada apa?”


Sky mencoba untuk menerobos meski Kai berusaha menghalanginya untuk masuk. “Sky, kumohon!”


“Apa yang terjadi, Kai? Apa itu Rania?”


“Sky, kumohon!”


“Kalau kau tidak bisa mengatakannya…baiklah, itu Rania. Apa aku salah?”


“Sky…,” Kai menahanku.


“Kau benar, Kai. Kau dan aku, akan selalu berakhir seperti ini.”


Kai menutup pintu itu rapat-rapat tanpa melihatku berlalu dari hadapannya.


Tak ada apa pun.


Meski kehidupan perkuliahanku menjadi normal kembali.


Tidak ada lagi yang berbicara buruk tentangku secara terang-terangan.


Kai dan Rania, mereka kembali terlihat bersama.


Muncul sebuah opini yang telah menjadi fakta yang entah dari mana datangnya bahwa, aku dan Kai hanyalah sepasang sahabat yang ada kalanya tidak memiliki hubungan yang baik.


Benar-benar tidak tahu mengapa kehidupanku menjadi normal kembali.


Selalu ada sebab dan akibat tetapi benar-benar tidak tahu asal mula di balik semuanya.


Ken dan aku, menjadi terlihat seperti ada hubungan darah di antara keduanya.


“Apa kau baik-baik saja?”


“Hei, khawatirkan dirimu saja. Kau baru saja ditolak.”


Ken menyukai seseorang yang sudah ia kenal lama. Ken pikir perasaan yang mereka miliki sama. Ya, cinta bertepuk sebelah tangan.


Ken terdiam dengan minumannya yang terus ia aduk sampai es batu di dalamnya telah mencair.


“Orang itu akan menyesal karena menolakmu,” seru Sky.


“Lupakan, Sky.”


“Kau akan baik-baik saja. Begitu juga denganku,” Sky melambaikan tangan pada Ken.


Hari-hariku menjadi lebih sibuk. Karena dorongan dari diriku yang menginginkannya.


Pulang bukan lagi tujuan utamaku. Setelah kelas selesai ada rumah kedua yang akhir-akhir ini lebih sering kukunjungi.


Ruangan club yang belum lama ini kuikuti, club fotografi.


“Kau yakin tidak ingin mengikuti kompetisi itu? Kau punya peluang, Sky.”


“Hei, harus berapa kali lagi aku mengatakannya. Itu hanya hobby,” ketua club fotografi adalah kakak kelasku di kelas menengah.


“Baiklah.”


Akhir-akhir ini banyak bertemu dengan orang baru. Tetapi tidak atau belum ada satu yang menjadi dekat denganku. Hanya sekedar mengenal, itu saja.


Ya, apa yang terjadi di kampus selama ini nampaknya mempengaruhi kehidupan sosialku. Meski telah mereda tapi tak semuanya bisa mengerti.


“Aw!”


Kedua mata yang saling bertemu.


Ingatan yang menjadi otomatis memutar kenang yang telah terjadi.


Perasaan yang telah menyadari.


Mulut yang walaupun tak sanggup untuk berkata-kata tetapi perasaan yang kau miliki membenarkannya meski hanya bisa terucap dalam hati.


Benar-benar menyukainya.


Tidak ada sehari pun tidak memikirkannya.


Memang benar masih melihatnya bersamanya tetapi sekali lagi, dia mengingatkanku tepat di momen itu terjadi yang sementara aku…hanya bisa fokus pada momen dan berujung terjebak akan itu.


“Ini sudah kesekian kalinya, kau akan terus mengulangnya?”


“Maaf, apa itu sakit?”


“Tidak sesakit…”


“Hei…,” dia seolah mengerti maksudku.


Tersenyum padaku. “Apa kau lapar?”


“Sekali.”


Hujan akan turun menjelang sore hari. Tak pernah mengeluh soal hujan yang tiba-tuba turun tanpa diminta.


“Wah, kau ingin makan ramen?”


“Iya.”


“Baiklah, aku tidak bisa menolaknya, kan?”


“Kecuali, kau ingin melanggarnya.”


“Apa boleh?”


“Hmm, terserah kau.”


“Ah, oke. Ramen juga bukanlah ide yang buruk.”


“Haha, suaramu terdengar pasrah.”


“Apa perlu dibatalkan saja perjanjian konyol ini? Bukankah ini mebuatmu tersiksa? Begitu juga denganku.”


“Baiklah, akhiri saja.”


“Di antara kau dan aku?”


“Ya,” sahutnya sembari menahan tawa.


Tidak pernah sekali pun. Hal seperti ini datang padaku.


Dia yang pertama, bagiku.


“Apakah sulit untuk mengatakannya?”


“Entahlah…”


“Tanpa mengatakannya kau pasti sudah tahu itu,” lanjutku.


“Iya, tapi…”


Cup!


“Apa kau puas?”


“Hei, kau sedang meniruku?”


“Ah, kau menolakku?”


“Hahaha, biar aku saja yang seperti itu.”


“Baiklah.”


Cup!


“Hei!”


Cup!


...***...