
“Apa kau mengenalnya?” tanya Kai pada Jeff yang di sore itu menjadi hari pertamanya bekerja.
“Siapa?” sembari sibuk menyiapkan menu makanan.
“Tadi kau baru saja berbicara dengannya.”
“Tidak mengenalnya.”
“Hei, kau terlihat akrab. Kau pikir suara tawamu itu tak terdengar di telingaku?”
“Jangan…”
“Apa maksudmu?” Kai menatap tajam.
“Jangan dia, kau pikir aku tidak tahu apa maksudmu? Hei, Kai! Berhentilah bermain-main.”
“Wah, pertemananku denganmu hanya sebatas itu? Kau berprasangkah buruk.”
“Lantas kau mau apa?”
“Kau mengenalnya?”
“Kalau aku mengenalnya memangnya kenapa?”
“Entahlah, sepertinya aku pernah melihatnya.”
“Hahaha, kau selalu mengatakan itu, Kai. Berhentilah mencari perempuan yang kau maksud dengan mempermainkan banyak perempuan.”
“Wah, selama ini kau benar-benar tidak tahu apa-apa. Aku tidak mempermainkan mereka. Hanya saja, bukan seseorang yang kumaksud dan langsung mengakhirinya.”
“Kai, itu sudah berlalu. Apa orang itu juga mengingatnya? Kau sendiri juga tidak mengingat wajahnya.”
“Apa yang tidak mungkin bisa juga menjadi mungkin, Jeff.”
“Haha, apa—apa yang yang kau bilang? Kau aneh, Kai.”
“Karena kau tidak tahu bagaimana rasanya.”
“Untuk apa juga.”
“Selamat bekerja, aku akan meninggalkanmu. Bye, Jeff!”
“Pergilah!”
Pukul 11 malam, jarang-jarang Ibunya menghubunginya kalau tidak ada yang penting. “Ada apa, Bu?”
“Oh…”
“Kenapa harus Kai yang harus menjemputnya? Bukannya dia juga ada supir, Bu?”
Bahkan itu tidak penting.
“Bu, Kai dan Rania hanya sebatas itu…tidak lebih. Aku tidak ingin membuatnya semakin mengharapkan sesuatu yang tidak bisa kuwujudkan.”
Telinganya terasa panas. Meletakkan ponsel dan menyalakan speaker.
“Kai, setidaknya sekali saja.”
“Bu, ini sudah kesekian kalinya.”
“Ayolah, Kai! Kau anak Ibu yang terbaik karena kau mirip Ibu.”
“Itu karena anak Ibu, bukan berarti aku sama seperti Ibu. Jangan seperti itu, Bu. Bahkan Ayah bisa memahamiku.”
“Itu hanya kata-kata saja yang keluar dari mulut Ayahmu.”
“Maaf, Bu. Aku tidak bisa melakukannya…karena aku telah menemukan seseorang.”
“Kai, apa maksudmu?”
“Sepertinya aku telah menemukannya, Bu.”
“Kai?”
Tut…tut…tut…
Jarak rupanya tak menutupi seseorang untuk mengetahui keberadaan seseorang—seperti kau telah menemukannya.
Entahlah, kurang dari 10 tahun?
7 tahun atau 8 tahun? Yang pasti tidak sebentar tetapi mengapa tidak ada perubahan padanya selain…entahlah kurasa dia telah dibesarkan dengan baik.
Toko buku.
Kedai ramen.
Toko buku dan kedai ramen hanya beberapa menit—perbedaan jarak di antaranya.
“Itu artinya…”
Benarkah?
Detak jantungku yang berisik bersama dengan suara hati dan pikiran yang saling bersahutan.
Apa kau gila, Kai?
“Woy!”
“Hah?” Kai yang tersadar.
“Ramennya, Kai!”
“Kau tidak mungkin akan menghambiskannya, kan?”
“Kenapa kau tiba-tiba ada di sini?” Kai yang tampaknya belum sepenuhnya sadar.
“Wah! Apa yang sedang kau pikirkan sebenarnya? Bukan hanya waktuku yang menjadi sia-sia tapi juga mulutku.”
Kai masih tampak tak mengerti dengan ucapannya temannya itu, pandangannya pun masih pada objek yang sama.
“Kai!”
“Hei, Kai!”
“Ah, kau ingin menjadikannya target selanjutnya?” ucap Renma yang telah melihat apa yang Kai lihat.
“Woy!”
“Baiklah, aku akan pulang.”
“Wah! Terima kasih, Kai.”
Kai yang masih tak peduli dengan Renma maupun keadaan sekitar. Ia bahkan tak sadar banyak lawan jenis yang curi-curi pandang melihat ke arahnya di tengah malam.
Sorot mata Kai tak berpaling.
Seseorang itu tengah beranjak dari tempat duduknya.
Kai mengikutinya dari belakang. Untuk pertama kalinya, ia berdebat dengan dirinya sendiri. Bukannya hanya seperti penguntit, tapi dia juga meninggalkan mobilnya di dekat kedai ramen.
Kau Sky, kan?
Sky, apa itu kau?
Kau ingat aku?
Apa kau ingat aku?
Ya, sudah cukup lama. Tapi…kau masih ingat, kan?
Kuharap kau mengingatnya.
Kai menimbang-nimbang pilihannya karena benar-benar sudah tidak tahan lagi untuk memastikan seseorang yang ia maksud benar-benar seseorang yang ia tahu.
“Aku akan hidup dengan dikekelilingi tempat-tempat yang tak jauh dari tempat tinggalku. Aku akan seperti itu.”
Aku mengingatnya.
Toserba yang masih di lingkungan yang sama, tak jauh dari apartemen.
Dia membeli banyak permen dan beberapa kaleng minuman rasa buah.
Kai ingin juga membeli permen dan minuman rasa buah itu, tapi ia lebih takut kehilangan jejak.
“Hei, Nak! Kau sedang apa? Kau mengikutinya?”
Kedua mataku melebar. Seperti tertangkap basah.
Tenang, Kai!
Jangan panik!”
“Hanya ingin menjaganya karena dia sendirian. Kebetulan saya tinggal di apartemen itu. Terima kasih sudah bertanya.”
“Dia juga tinggal di apartemen itu. Kalau kau benar-benar ingin menjaganya. Besok pagi kau harus datang ke sini dan membeli setidaknya…”
“Deal!” ucap Kai tanpa ragu dengan senyuman yang lebar.
Jarak toserba dengan apartemen mungkin hanya 5 sampai 8 menit, tetapi langkah kakinya bukan yang cepat bukan juga yang lambat. Seperti seseorang yang sedang menikmati saja.
“Aneh, bukankah terlalu bahaya untuknya?” ucap Kai lirih.
Kai juga berjalan dengan hati-hati karena permukaan jalan agak berpasir, sisa-sisa bangunan yang baru saja selesai.
Suara langkah kaki yang mengeluarkan suara gesekan itu membuatnya khawatir.
“Kenapa kau meneleponku?” tiba-tiba dia menelepon seseorang dengan suara yang keras dan sekaligus menghentikan langkah kakinya.
Dan, ya.
Keringatku tidak hanya bercucuran tapi label pengungtit…itu memberatkanku. Aku bukan penguntit!
Kai bersembunyi di balik tembok bangunan baru yang di atas kepalanya ada cela yang membuatnya bisa melihat dengan jarak yang aman.
Dia menoleh ke arah belakang yang tentunya tidak ada kehadiranku. Di jalan itu juga dekat dengan jalan pintas yang membuatku berasumsi, siapa tahu dia memikirkan seseorang yang berjalan di belakangnya itu…ternyata telah berjalan di jalan pintas itu.
Meski tak menutup kemungkinan dia mungkin bisa juga menyadari kehadiranku.
Tetapi dia juga terlihat begitu tenang, tidak terlihat ketakutan.
“Jangan menelepon lagi!” dia menutup teleponnya dengan singkat. Sedikit menoleh ke belakang dan tak lama kembali berjalan.
Rasa was-was pada diriku benar-benar tengah mengujiku.
Berjalan lebih hati-hati dari sebelumnya seolah aku seperti pernah melakukannya sebelumnya.
Tak membutuhkan waktu yang lama dan sampai.
Benar.
Dia tinggal di tempat yang tak jauh dari tempat-tempat yang sering dia kunjungi.
“Apa kau percaya takdir, Kai?”
Pukul 3 pagi.
Suara detak jantungku yang mengusik membuat pikiranku semakin kacau.
Kedua matanya itu, membuatku berpikir yang tidak-tidak.
Seperti ingin mendekat padanya dan mengatakan yang sebenarnya, tapi ia selalu gagal dan menyerah begitu saja.
Saat bisa berhadapan dengannya, kurasa aku sudah gila.
Bahkan dialah yang lebih cocok mengatakannya secara langsung padaku bahwa aku adalah orang gila.
Perasaan yang ada entahlah…tidak bisa terkendali.
Secara tiba-tiba dan datang begitu saja tanpa bisa kumengerti.
Cup!
Itu yang pertama…
Untukku.
Aku tahu…
Aku tahu, kurasa itu cinta?
Aku?
Jatuh cinta?
Dengannya?
...***...