Suddenly

Suddenly
Like going back, going back, and coming back…



“Kupikir kita tidak harus pulang hari ini?” Sky melihat Kai dengan tatapan memohon.


“Besok juga hari sabtu.”


“Kita berdua juga tidak ada masalah dengan tugas yang menumpuk.”


“Meski kata orang-orang hanya melihatnya—kau dan aku terlalu bersenang-senang,” sambung Sky.


“Ya, tidak tahu betapa gilanya kita.”


Dalam 1 minggu di hari senin dan selasa adalah hari mengerjakan tugas-tugas untuk minggu depan. Sekaligus mengulang materi dan mengerjakan tugas untuk esok hari dan hari selanjutnya.


Hari jumat mengerjakan beberapa tugas dengan deadline yang masih cukup lama.


Sabtu, hari bersenang-senang dan begitu juga dengan hari minggu. Hanya saja malam harinya mengulang sedikit materi untuk di hari senin.


Tidak selalu bersama-sama. Ada kalanya di antara kami mengerjakan secara terpisah entah itu di luar atau di apartemen masing-masing.


“Kau merencanakan sesuatu? Bukan Kai, kalau tidak merencanakan sesuatu secara tiba-tiba. Apa yang kau pikirkan?”


Berminggu-minggu telah berlalu. Hubunganku dan Ken sedikit merenggang. Begitu juga dengan Kai pada Ken.


Kale dan Yuta…


Hmm, hampir melupakannya. Seperti tidak pernah ada. Tapi itu hampir dan belum terjadi.


Seperti sudah mati rasa. Meskipun pernah sedekat itu, tidak membuatku terpengaruhi dan tetap menjadi sewajarnya saja.


Mereka datang menanyakan keadaanku. Tentu yang keluar dari mulutku, ‘baik-baik saja’. Hanya itu saja. Apalagi kalau bukan itu. Pasti mereka masih berusaha untuk mengorek-ngorek tapi tetap aku masih bertahan dengan sikapku yang hati-hati.


“Jadi, selama ini kau…”


“Apa? Kau masih penasaran soal toko buku?”


“Iya, itu membuatku tidak hanya kaget,” bukannya menjawab pertanyaanku. Kai justru berbicara tentang hal yang lainnya.


Tentang pembicaraan sebelumnya yang aku dan Kai bicarakan.


“Kau pasti akan bercerita padaku walaupun itu nanti?”


“Iya, Kai pasti.”


“Baiklah, aku mengerti.”


“Terima kasih. Sekarang kita mau ke mana?”


“Marathon film.”


“Berapa film?”


“Tiga, hehe. Sampai pukul 2 pagi.”


“Jangan-jangan kau sudah memesannya?”


“Iya, baru saja.”


“Baiklah, sepertinya kita harus membeli ayam goreng?” Sky tersenyum.


“Ya, kau benar sekali. Masih ada waktu 1 jam. Kita bisa membelinya.”


Tak bisa dipungkiri sesekali pikiranku berkelana. Seperti persoalan yang belum selesai. Selayaknya masa lalu yang selalu membawamu kembali, kembali, dan kembali. Meski berusaha mengelabuhi untuk pergi untuk menjauh…ujung-ujungnya membawamu pada tujuan yang sama yaitu kembali.


“Kenapa kau orangnya?”


“Kenapa kau, Jeff?”


Jeff serius dengan ucapannya. “Bolehkah aku mengatakannya sekarang di hadapanmu bahkan di hadapan kalian? Apa itu pantas untuk didengar? Sudah kubilang jangan pernah menaruh ekspetasi apa pun padaku.”


“Jika aku telah mengatakan itu. Kurasa di antara kalian tidak perlu lagi menaruh ekspetasi yang berlebih. Itu akan menyakitkan. Seperti kau melihatku. Bukankahn ini sebagai contoh?”


“Sky!”


“Iya…”


“Iya, Kai?”


“Kau melamun lagi.”


“Kurasa aku lapar, hehe.”


“Kita sudah sampai,” ucap Kai.


“Hah?”


“Kita akan menonton.”


“Ayam gorengnya?” Sky kebingungan.


“Kita sudah membelinya tadi.”


“Kapan?”


“Lebih tepatnya aku yang membelinya karena kau melamun,” Kai terlihat kesal telihat dari raut wajahnya.


“Kai, maaf…”


“Sudah di mulai,” Kai memberikan makanan tanpa melihat ke arah Sky.


“Kai…”


Tidak ada jawaban.


Selain suasana yang seketika berubah. Kai mengambil ponselnya dalam genggamannya dan sepertinya sedang mengirim pesan. “Rania akan datang. Kebetulan dia ada di sini. Tidak masalah, kan?” itu yang diucapkan Kai.


“Kenapa tiba-tiba?” jawabku.


“Bukankah sudah tidak menjadi masalah bagimu? Kau dan dia juga sudah tidak seperti dulu.”


“Bagaimana denganmu…apa itu termasuk tidak merusak momen?”


“Tapi aku tidak mengajak seseorang untuk menjadikan alasan sepertimu…Kai.”


“Bukankah ini bagian dari rencanaku?”


“Baiklah.”


Tok…tok…tok…


Rania mengetuk kaca mobil dan tersenyum padaku.


“Hai!” sapanya dengan ceria.


“Hai!”


“Hai, Rania…”


“Wah, ada apa ini? Apa kalian…ah, kalian bertengkar?”


“Tidak.”


“Iya,” jawabku.


“Wah! Yang mana yang benar?”


“Dia yang memulai,” Sky menunjuk ke arah Kai.


“Kau,” Kai berganti menunjuk ke arah Sky.


“Bukankah kita sedang menonton film?” ucapku.


Kai memberikan ayam goreng miliknya pada Rania dan mengambil 1 porsi kentang goreng yang masih dalam genggamanku itu untuk Rania. Kai mengabaikan tatapanku saat kentang goreng itu telah berganti pemilik.


Kali ini tidak ada yang bisa kucerna dari film pertama yang masih berlangsung ini. Entah akan seperti apa di film kedua dan ketiga. Rania juga, apakah masih ada di sini?


“Apa dia juga marah? Karena kentang goreng?” ucap Kai dalam benaknya.


Sky lebih diam dari biasanya, ia juga tidak melanjutkan makanannya yang bahkan masih ia makan beberapa suap. Hanya Kai dan Rania yang saling berbicara. Berbicara banyak hal. Seperti dunia ada pada mereka.


“Kai, di mana Sky?”


“Sky…,” dilihatnya Sky tidak ada di samping Kai.


“Apa yang kau lakukan padanya?” tanya Rania.


“Tidak.”


“Hei, apa kau tidak tahu bagaimana perasaannya? Itu yang membuatnya bingung harus seperti apa atau berpuat seperti apa. Tapi pantas baginya untuk merasa seperti itu. Bagaimana tidak…setelah apa yang terjadi padanya, apa kau tidak memikirkan soal itu?”


Tak lama orang yang sedang menjadi perbincangan itu datang dengan membawa makanan.


“Kau dari mana? Kenapa tidak memberi tahuku?” ucap Kai.


“Membeli kentang goreng, kau mau Rania?”


Rania mengangguk. “Tentu.”


Tanpa bertanya pada Kai, Sky langsung memberi kentang goreng itu pada Kai.


“Kau marah karena kentang goreng?” bisik Kai padaku tapi kuabaikan.


Tiba-tiba ponselku berdering. “Maaf, aku harus mengangkat telepon,” Sky berjalan keluar.


“Siapa kira-kira yang meneleponnya?” goda Rania.


Kai terdiam melihat ke arah luar.


“Ada apa?” suara Sky terdengar malas untuk berbicara.


“Ibumu…”


“Ada apa dengan Ibu?”


Ken tiba-tiba meneleponku.


“Kurasa kau harus datang ke rumah sakit sekarang,” ucap Ken.


“Bukankah mereka akan menolakku?”


“Aku akan menemanimu,” Ken menutup telepon.


Tatapannya mengarah sekitar. Rasanya tersesat dengan pikiran yang tak penentu dan juga perasaan yang ia miliki.


Keraguan itu tengah melandanya seperti langkah kakinya yang semakin ragu untuk melangkah ke dapan untuk kembali atau justru mundur untuk menghilang.


Ponsel yang berada digenggamannya juga, di antara memutuskan untuk memberi tahunya atau tidak.


“Apa terjadi sesuatu?” Rania mulai bertanya-tanya.


Kai juga mulai tidak tenang. “Dia pasti kembali,” jawab Kai.


“Bukankah kau harus mencarinya?”


“Mungkin dia perlu waktu sebentar. Dia selalu seperti itu.”


“Ah, baiklah.”


“Sebenarnya apa yang terjadi? Apa karena kehadiranku? Ah, tidak! Kupikir bukan itu. Sky bukan orang yang seperti itu,” ucap Rania.


“Akhir-akhir ini meski terlihat baik-baik saja sepertinya tidak juga,” jelas Kai.


“Seperti yang kubilang sebelumnya, Kai. Kau harus lebih mengerti perasaannya. Dia mungkin terlihat kuat tapi, dia juga manusia Kai.”


...***...