Suddenly

Suddenly
Part 6



Happy Reading ☘️☘️


Jangan Lupa sama cucian numpuk hehehe


"Assalamualaikum" ucap Lina Mamanya Aara setelah tiba di rumah Nenek Aara.


"Wa'alaikumussalam" jawab Adima Nenek Aara sambil membukakan pintu,


"Maa Syaa Allah. Lina, Zainal, kalian datang kenapa gak bilang-bilang sama Ibu dulu. Andra dan Andre juga ikut, ayok masuk!" serunya bahagia setelah berpelukan dengan Lina karena rindu. Tentunya setelah bersalaman dengan menantu dan cucunya.


"Eh Nek, Teti mana nek?" Tanya Andra karena tidak mendapati kakaknya di rumah sang Nenek.


*Teti artinya kakak dalam bahasa pesisir*


Andra Bahra hasibuan dan Andre Bahri hasibuan adalah adik kembarnya Aara.


"Teti mungkin ketiduran di kamar soalnya udah pulang dari tadi, coba kamu suruh Teti turun pasti dia terkejut"


"Pelan-pelan aja bangunin Teti ndra. Eh, tadi Uda Salim nenek blom"


"Udah mah, masa sampe sini gak nyalim nenek. Gak sopan itu namanya" jawab Andre setelah diam dari tadi.


Keluarga yang baru bertemu itu memilih duduk di ruang tamu sambil berbincang-bincang melepas penat setelah menempuh perjalanan dan tentunya melepas rindu juga.


Tok tok tok


Pintu kamar Aara diketuk beberapa kali oleh Andra jangankan untuk membukakan pintu, jawaban dari dalam pun tidak ada.


"Amboyy si Tet tidur apa simulasi meninggoy sih, budeg bener perasaan, ah buka aja deh. Kagak dikonci juga"


"Yuhuuuu... Asamlikuuummm Teeett, tetiiiii. Astagfirullah Teeett! Makruh itu puasanya makruh udah. Nyenyak bener. Oii bangun oii Teeett, Ibu Bapak Lo udah datang noh gak mau ketemu kangen apa?." ucapnya panjang lebar sambil menarik-narik kaki Aara agar segera bangun dari tidur cantiknya.


"Ngeehhh... Apwa sih gwanggwu aja" Aara mengubah posisi tidurnya jadi tengkurap karena merasa terganggu.


"Ya Allah Gustiii punya kakak gini amat. Oke mari kita coba jurus mematikan" ucapnya pada diri sendiri.


"TETII BANGUN WOI KEBAKARAN!"


"Astagfirullah kebakaran! Dimana kebakaran, dimana, woii tolongin gue woii. Gue gak mau kebakar woii tolongggg!!. Eh perasaan gak ada api" bingungnya sambil berhenti bergerak-gerak tak menentu di atas tempat tidurnya.


"Apinya udah ilang dihembus naga terbang tadi. Ck, yuk keluar ah tet Ibu Bapakmu sudah menunggu di luar nona" ucapnya asal.


Sementara Aara masih memperhatikan Andra tanpa berkedip pertanda dia belum sadar sepenuhnya.


"Aelah, malah bengong. Makanya kalo tidur di bulan puasa itu jangan lama-lama keenakan deh jadinya. Jangan mentang-mentang tidurnya orang berpuasa adalah ibadah (betulkah)  kerjaan Teti mala jadi tidur aja. Itu salah big namanya, itu saja harus diajari dulu sama gue" sombongnya sambil menepuk dada di akhir kalimatnya.


"Lo Andra adek gue? Lo kapan datang? astagaa, eh jangan bilang Lo datang sama Papa Mama juga!"


Belum sempat Andra menjawab Aara sudah beranjak dari tempat tidur langsung berlari turun kebawah sedikit menabrak tubuh Andra. Andra yang ditabrak hanya mengelus dada sabar sambil berjalan menyusul sang kakak.


"Eh eh eh, kenapa lari-lari, nanti jatuh udah pelan aja pelan" teriak Lina dari sofa ruang tamu karena melihat anaknya yang berlari di tangga tanpa takut terjatuh.


Setelah sampai Aara langsung duduk di tengah-tengah Papa Mamanya dan memeluk Lina terlebih dahulu setelah itu Papanya.


"Aaaaa,,, Aara rindu banget sama Papa Mama, jarak Sidimpuan ke Sibolga cuma butuh 5, 6 jam padahal, tapi Aara cuma dijenguk 2 kali selama setahun ini. Kan kesel" memang jarak tempuh dari Sidimpuan ke Sibolga kurang lebih 5 jam saja, namun karena orang tua Aara yang sibuk di kampung menjadi penyebab mereka jarang bahkan hanya dua kali saja menjenguknya dalam setahun ini.


Bisa dibayangkan seberapa rindunya dia pada orang tua juga adik-adiknya ini. Apalagi Aara adalah perempuan satu-satunya di keluarga jadi dia merasa lebih istimewa mungkin.


"Ellehh anak gadis Mama ini da. Tapi lah Mama keccekkan waktu ditelpon Mama samo Papa banyak karajo yang di urus di kampong. Udah lah kami juga udah datang"


"Yauda deh yang penting kalian udah disini Aara Uda seneng, peluk lagi!" Ucapnya manja sambil memeluk kedua orang tuanya, posisinya yang di tengah mempermudahnya memeluk kedua orang tuanya.


"Kuliah kamu gimana ra" Tanya Zainal sambil meminum minuman yang tadi diambil Lina di dapur.


"Baik Pa, semuanya lancar."


"Pa, Teti kuliahnya gak serius tahu. Masa Andre pernah liat storynya si Tet sama cowok. Iya kan ndra yang pernah gue kasih tunjuk sama Lo?. " adunya kepada Zainal sambil mengedipkan matanya pada kembarannya, Andra.


"Eh sembarangan! Gue gak pernah ya posting-posting Poto berdua sama cowok kalaupun pernah pasti rame-rame. Sekate-kate Lo kalo ngomong, ngarang aja Lo!." Jawabnya nyolot sambil melempar bantal kearah Andre.


"Lah marah, berarti yang gue bilang betul dong?"


"Kayaknya Andra juga pernah liat deh Pa" Andra ikut memanasi Aara.


"Wahh, kembaran yang sweet yah kalian, bohong aja semanis ini. Gak ada Akhlak Lo brdua rasain nih" Aara mengejar Andre dan Andre keseberang sofa sambil memukul mereka dengan bantal. Terjadilah perkelahian diantara mereka.


Para orang tua hanya geleng-geleng kepala. Yah begitulah keluarga Hasibuan ini jika sudah berjumpa, terlebih lagi kakak beradik yang selalu dibarengi pertengkaran kecil apabila sudah bertemu. Namun dari pertengkaran kecil itu yang membuat hubungan mereka semakin dekat.


"Huhhh,,, capek juga ya Ampuun" keluh Aara sambil menghempaskan tubuhnya ke sofa di samping Andra, jadilah mereka tepar bertiga karena perkelahian yang melelahkan wkwkwk.


"Suruh siapa lawan kita" jawab mereka serempak.


"Sudah sudah, bentar lagi adzan magrib tadi nenek Uda masak, tapi gak banyak karena nenek gak tau kalau kalian akan datang, ayok ke meja makan nunggu buka!" lerainya sambil berjalan ke meja makan terlebih dahulu.


"Wahhh ada ikan sale! Enak nih!" Andra menatap ikannya berbinar sambil duduk anteng.


Ikan Sale adalah gulai khas Sidimpuan


"Makruh udah puasa Lo batalin batalin" tentu saja Aara akan menimpali.


"Diem deh tet, udah gak ikut masak, kerjaannya cuma tidur, sok tau lagi" kalau sudah Andra yang ngomong Aara langsung kicep.


"Pedes amat itu mulut. Cuman hari ini aja yah gue ketiduran biasanya juga gue yang masak, tanya nenek tuh. Lo aja yang sok tau"


"Di depan rejeki gak boleh berantem, bentar lagi buka diam deh tuh kayak Andre. Abis makan dilanjut lagi, Papa tau kalian masih melepas rindu" Zainal melerai perdebatan mereka.


"Noh dengar Papa! Contoh gue dong anak pendiem anak baik-baik gak suka adu mulut kayak ka–"


Allahuakbar,,, Allahuakbar,,,


Allahuakbar,,, Allahuakbar,,,


"Alhamdulillah, Allah pun tahu kalo Andre lagi ngebacot" tawa mereka pecah. Andre hanya memasang muka masam.


"Kita sholat berjamaah ya cepat makannya!" Ucap Zainal sambil menyuapkan nasi ke mulutnya yang sudah diambilkan oleh Lina sebelumnya.


Semuanya makan dengan tenang sesekali dibarengi perdebatan kecil dari siapa lagi kalau bukan mereka bertiga. Para orang tua hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka.


________________


Terimakasih sudah mampir di cerita aku😊


Jangan lupa dukungannya💛💛


_TO BE CONTINUED_