Suddenly

Suddenly
Stalker. 0720,



Seperti sudah diperkirakan.


Tidak ada yang bisa terlelap.


Kai dan Jeff tidur di kursi malas dengan menata ulang di bagian ruang tengah.


Tidak ada penerangan yang dimatikan kecuali kamar mandi.


Inisial ‘K’ semakin membawaku pada seseorang, meski terus mengelaknya.


Earphone di telinga, mendengarkan lagu yang cukup kuulang setiap hari—cukup membantu. Setidaknya sedikit lebih tenang.


Jarum jam telah sampai pada angka 12.


Sudah berganti hari.


Sepanjang hari sebelum hari berganti, rasanya seperti hari ini lebih panjang dari hari-hari sebelumnya.


“Memang seharusnya kita pindah.”


“Bukankah dia harus berani karena dia tidak bisa pindah?”


Ucapan Kai teriang-iang di pikiranku.


Beberapa kali mencoba untuk terlelap tapi ucapan Kai terdengar menusuk telinga dan masuk ke dalam pikiran.


Kenapa dia telihat kesal?


Memang benar, itu pilihannya dan itu juga pilihanku. Bukankah hidup seperti itu? Penuh dengan pilihan.


Termasuk tempat tinggal, itu juga pilihan.


Sudah kukatakan berulang kali. Begitu berat untuk meninggalkannya. Ayahku mungkin bisa saja datang padaku karena sudah tahu bagaimana mencariku.


Itu adalah alasan yang masuk akal.


Keheningan semakin terasa. Saat aku telah melepas earphone.


Sofa yang seharusnya akan membatasi penglihatanku, justru telihat karena kursi malas itu membuat sofa itu tersingkirkan.


Kai jauh dari pandanganku. Ia memabawa kursi malas itu sedikit lebih jauh dari jarak di antara Jeff dan aku.


Bukankah itu semakin memperjelas bahwa dia marah padaku?


Itu telihat jelas.


Sungguh kekanak-kanakan. Mengapa tidak langsung saja mengatakannya padaku?


Apa yang akan terjadi besok?


Apa penguntit itu akan datang lagi?


Apa penjaga apartemen itu…bisa dipercaya?


Apa akan ada perselisihan di antara aku dan Kai, setelah ini?


Kekhawatiranku semakin menjadi-jadi.


Dari semua kekhawatiran itu, hanya satu yang membuatku khawatir karena satu hal yang bisa memperburuk keadaan atau justru akan memperpanjang apa yang terjadi.


Sky bangun dari tempat tidurnya.


Perutnya terasa tidak enak. Ia masuk dengan ponselnya.


Memejamkan mata dan ya…


Apa yang kupikirkan tertumpahkan pada isi perutku.


Perutku serasa diobrak-ambrik. Seperti sedang dalam wahana. Benar-benar duduk dengan waktu yang cukup lama.


Tapi anehnya masih dengan ponsel yang berada di tanganku. Hanya melihat media sosialku, mengeceknya sesekali. Bermain game dan membaca novel digital.


Pukul 1 pagi.


Wajahku terlihat pucat karena terlalu banyak yang kukeluarkan.


Tok…tok…tok…


“Kau tidak apa?”


“Tidak apa. Kau mau menggunakan kamar mandi?” jawabku.


“Tidak.”


Aku tetap menyemprot ruangan agar tercium baunya.


Kai ada di hadapanku setelah membuka pintu. Di hadapanku, Kai memelukku.


“Maafkan aku,” ucapnya.


“Harusnya tidak seperti itu. Tapi jika memang itu terjadi. Kau tidak apa berada di sini?”


“Tidak apa. Ucapanmu juga masuk akal, seharusnya memang pindah. Hmm, yang kupikirkan adalah…Ayahku tahu cara bagaimana menemukanku, Kai.”


“Iya, aku mengerti. Akan kupikirkan itu nanti.”


Kekhawatiranku runtuh satu. Semoga tidak masuk dalam daftar pikiranku yang berkecamuk meski tidak bisa dihindari—perselisihan akan itu selalu ada.


“Selamat tidur, Jeff.”


“Hei, kalian sengaja seperti itu?”


Jeff pasti menyaksikannya.


“Hahaha…”


“Hahaha…”


“Kalian puas?”


“Selamat tidur, Jeff.”


“Iya, selamat tidur,” suara Jeff terdengar lantang.


Aku tidak akan memasang alarm. Jeff akan berkerja di sore hari.


Entahlah, apa yang akan terjadi nanti?


Kedua mataku mulai terlelap tapi tidak tenang.


Tak bisa dipungkiri. Pandanganku selalu mengarah pada pintu. Dari kejauhan seakan akan terbuka dengan sendirinya.


Seseorang dengan inisial ‘K’.


Kau, siapa sebenarnya?


“Sky!”


Ting tong!


Srek!


“Sky!”


Napas terengah-engah. Mataharinya yang mencoba keluar dari ruang isolasi. Suara-suara di luar yang mulai terdengar.


“Kau sudah bangun?”


“Apa kalian juga mendengarnya?”


Rasanya seperti kembali, kembali, dan kembali.


Suara bell.


Kertas pada cela di bawa pintu.


Tiga orang itu mendekat.


Ada banyak kertas yang telah berserakan di lantai.


Mereka terdiam dengan melihat satu sama lain.


Mengumpulkan banyak asumsi dalam benak masing-masing.


Saling bergandeng tangan.


Mendekati pintu.


Kai menjadi barisan bertama membuka pintu dengan masih mengaitkan besi dan…


“Selamat pagi.”


Ada dua orang.


Dua orang itu berseragam polisi.


“Orang itu…apa sudah tertangkap?” ucap Kai di balik pintu yang terbuka sedikit.


“Kami datang untuk itu,” ucapnya.


Kai membuka pintu lebar-lebar dan tak kusangkah suasana di luar benar-benar ramai.


Salah satu di antara orang-orang itu, ada yang menjadi perhatianku. Seseorang dengan berpakaian serba hitam. “Apa dia pelakunya?” tanyaku.


Polisi itu mengangguk.


“Bukti-bukti itu bisa kalian serahkan pada kami?”


Aku, Kai, dan Jeff bergerak cepat memungut kertas-kertas yang berserakan. Memasukkan menjadi satu box bersama dengan foto-foto itu.


“Jadi kalian terpaksa harus tinggal di sini untuk menjaganya?” tanya polisi bertubuh jangkung.


“Iya, setelah ada kami berdua di sini. Orang itu juga sempat melakukan aksinya. Jadi, ya. Tidak ada cara lain selali tetap berada di sini,” jawab Kai.


“Kalian bisa ikut kami ke kantor polisi? Untuk melanjutkan proses selanjutnya.”


“Tentu, seharusnya seperti itu.”


Suasana di luar benar-benar semakin kacau. Dari unit di lantai atas juga.


Rasanya tidak nyaman. Menjadi pusat perhatian.


Tatapan Kai dan Jeff pada seseorang yang disebut menjadi dalang atas apa yang terjadi itu, benar-benar menakutkan. Tatapan mereka tidak hanya tajam. Mereka seperti ingin memukulnya.


Lebih menakutkan jika penguntit itu menatap ke arahku. Kai dan Jeff menjaga dari pandangan penguntit itu.


Siapa orang itu?


Tidak ada satu pun di antara kita bertiga yang mengenalnya.


Suara sorak-sorak yang begitu kencang mengarah pada penguntit itu.


Tapi…


Saat tiba di kantor polisi.


“Tyana?”


Untuk apa dia datang ke sini?


“Itu teman kalian, kan? Dia menjadi saksi kunci yang melaporkannya pada kami.”


Hah?


Itu tidak masuk akal.


“Bukankah pihak apartemen telah melaporkannya kejadian ini lebih dulu, penjaga apartemen itu mengatakan…”


“Penjaga apartemen itu juga di tangkap,” potong Polisi itu untuk menjawab pertanyaan Kai.


Tyana memberiku tatapan yang seolah dia benar-benar puas. Karena telah melakukan hal terpuji, dia terlihat seperti itu.


“Bagaimana kau bisa menjadi saksi kunci?” ucap Kai dengan ekspresi mukanya yang masih terheran-heran.


“Aku berniat untuk datang tapi justru menemukan seorang penguntit,” Tyana tersenyum puas. Begitu juga dengan sorot matanya.


Polisi-polisi ini meminta keterangan masing-masih dari kami.


Cukup lama.


Dengan memperjelas bukti dan kapan kejadian itu terjadi.


Penguntit itu mengakui dengan semua perbuatannya. Tapi tidak dengan 20 Juni itu.


Apa yang dikatakan penguntit itu benar-benar tidak hanya membuatku marah.


Orang itu tidak bisa hanya disebut dengan orang gila. Tapi lebih dari itu.


“20 Juni…,” ucap Tyana.


...***...