
Berangkat lebih awal tidak menentukan bertemu dengan suasana yang sunyi.
Suara hiruk-pikuk sudah terdengar sebelum pukul 6 pagi.
Apalagi, para pencari nafkah yang seperti sedang di antara mengelabuhi dirinya sendiri dan tidak. Yang pasti, mereka selalu mengingat untuk apa mereka berjalan dengan kakinya dan bergerak menyelesaikan dengan tangannya. Serta hati, pikiran, dan kedua mata.
Indera pendengaran pun juga menggambarkan suasana yang ada dengan memberikan berbagai respon sesuai suasana hati yang dimiliki tapi terkadang membuatmu bersembunyi dalam ungkapan semua baik-baik saja.
Tidak terjadi apa pun.
Tidak berarti apa-apa.
Tali sepatunya terlepas. Keringatnya bercucuran seperti air hujan. Seseorang yang menarik perhatianku. “Green?”
Orang itu menalikan tali sepatunya dengan mendongakkan kepalanya. Tatapannya padaku membeku.
“Green?” suaraku membuat kedua matanya berkedip.
Green menyekah keringatnya lalu berjalan mundur.
Selain mukanya, tidak ada perubahan yang kulihat dari Green. Orang itu akan mundur beberapa langkah karena berkeringat.
Dia pasti menjadi satu satu yang populer di kampusnya dengan gambar visual seperti itu. Rambutnya yang hitam gelap dengan potongan rambutnya jatuh ke bawah seolah memberi kesan kondisi rambut yang sehat dan lembut. Apalagi saat terkena embusan angin. Whoaa! Itu membuat iri, mengapa rambut seorang laki-laki selalu terlihat lebih indah?
Proposi bentuk mata, hidung, dan semua yang ia punya di wajahnya…hampir sempurna. Ia juga tinggi.
Kupikir Green akan berhenti berlari setelah kecelakaan yang menimpanya. Itu membuatku bernostalgia sekaligus berbahagia karena dia tidak menyerah.
“Sky?” Green seperti tidak percaya.
“Hai!” ekspresi yang ada di mukanya membuatku menahan tawa.
Green menggerakkan kedua matanya dengan kedua tangannya di atas kepala.
“Sama sepertimu, aku tidak menyangkanya kita bertemu kembali,” ucapku disela Green yang tidak bisa berkata-kata.
Green memperlihatkan barisan giginya yang rapi dan bersih, orang itu hanya bisa tersenyum terheran-heran dengan pertemuan yang tak terduga.
Saling kehilangan komunikasi.
Berbeda negara dan…
Hubunganku dan Green tidak sedekat itu.
Hanya saling tahu.
Sebatas itu saja.
Baru saling berkomunikasi akhir-akhir menjelang kepindahan Green karena bertemu beberapa kali sebagai anggota Osis.
“Kau…”
“Ya, aku tidak akan menyerah. Bagaimana kabarmu?” suaranya baru kudengar setelah sekian lama.
“Seperti yang kau lihat. Kau baru sampai?” tanyaku.
“1 tahun yang lalu.”
“1 tahun yang lalu?”
Tatapan Green berubah membuatku bertanya-tanya tapi tidak ada hak juga untuk bertanya karena tidak sedekat itu atau tidak mau terdengar sedang mengorek-ngorek.
“Sudah kuduga, Yuta tidak mengatakannya padamu.”
“Yuta?”
“Hubungan kalian sudah berbeda, ya? Yuta dan Kale.”
Bahkan Green tahu soal hubunganku dengan Yuta dan Kale?
“Bagaimana kau tahu dan apa yang kau katakan pada Yuta?”
Kuharap semua orang tidak tahu. Itu akan membuatku absen dari reuni jika ada nanti.
“Semua orang sedang membicarakannya dan beberapa bulan yang lalu bertemu dengan Yuta…”
“Aku menanyakan kabarmu pada Yuta danseharusnya waktu itu kita bertemu. Tapi hanya Yuta, Kale, dan beberapa orang yang lainnya…”
“Kata Yuta, kau tidak bisa karena sibuk berpacaran.”
“Wah! Dia berkata seperti itu?” amarahku sekita naik hampir sampai ke ubun-ubun.
Sambil menghela napas aku melanjutkan ucapanku, “Sungguh, aku tidak mendengar apa pun soal kau dari Yuta.”
“Aku sudah menebaknya. Sebenarnya…”
Green menerima telepon dan isyarat tangannya memintaku untuk menunggunya.
Ia juga masih banyak banyak waktu. Tidak perlu terburu-buru.
Sibuk berpacaran?
Wah, ada apa dengan orang-orang sekarang ini?
Bukan sekarang saja tapi sewaktu-waktu dan di mana pun kau berada tidak bisa dipungkiri selalu ada orang-orang seperti itu.
Green memberikan ponselnya padanya.
“Iya?”
“Aku akan menghubungi,” ucapnya.
“Senang bertemu denganmu, Sky.”
“Begitu juga denganku, Green.”
Pertemuan singkat yang tak terduga berakhir dengan ingatan masa lalu yang menyangkut di dalam pikiranku dan sudah pasti…
Tentang Green.
Semua tentang Green.
Green yang tak begitu dekat denganku tetapi rasanya pernah menjadi dekat tapi hanya sepihak.
15 menit kemudian, aku sampai dengan suasana yang masih sama. Meributkan portal sampah yang selalu menimbulkan cemoohan semua orang pada seseorang seperti yang terjadi padaku.
Seperti yang kudengar baru saja soal Yuta. Musuh terbesar kita terkadang justru berasal dari orang-orang terdekat. Meski aku tidak menganggapnya musuh, rasanya tidak ingin mendengarnya membual dan dia seorang laki-laki membual seperti itu padaku?
Yuta dan Kale melihatku dari kejauhan.
“Berani sekali dia datang ke kampus,” dengan suara yang sangat keras.
“Kau bilang aku berani datang ke kampus? Memangnya apa yang kuperbuat sampai menghalang-halangiku untuk datang ke kampus?” teriakku pada perempuan yang seolah terlulis di raut wajahnya dengan tulisan Si Paling Benar.
*
“Wah, kau benar-benar bermuka tebal rupanya atau kau memang tidak tahu malu?” orang itu meremas rahangku dan menggerakkannya dengan kasar.
“Ternyata benar…kau bermuka tebal,” dengan suara tawanya yang berisik.
“Arini, hei! Kau di sini rupanya…”
Suaranya?
“Hei, apa yang kau lakukan?”
Tiba-tiba ada yang melingkarkan lengannya di bahuku.
“Green?”
Orang itu melepas cengkeraman di rahangku begitu aku memanggil nama ‘Green’, itu semakin terlihat jelas saat melihat ke arahku dan Green secara bergantian.
“Baru saja kau memanggilnya, Green?” dengan mukanya yang menyebalkan.
“Iya, kita saling mengenal. Apa yang kau lakukan tadi?”
Kedua mataku memperhatikan sekitar. Orang-orang sedang menatap ke arah Green. Ya, melihat visualnya
“Bagaimana kau bisa mengenalnya?” orang Bernama Arini itu terlihat tidak terima bahkan melihatku dengan tatapan seolah dia akan memakanku.
Green tersenyum. Senyuman Green berhasil membuat perhatian semakin berpusat padanya. “Dia mantan pacarku,” ucap Green dengan tersenyum di hadapanku yang tengah membeku.
Mantan pacar?
Kau gila, Green?
Meski pernah ada sesuatu tapi menjalin hubungan dengannya…itu tidak pernah terjadi!
Terdengar suara keributan yang saling saut-menyaut dari sisi mana pun.
“Mantan pacarnya? Itu tidak mungkin!”
“Mengapa dia selalu dikelilingi laki-laki tampan?”
“Nyatanya, dia hanyalah seorang penggoda.”
“Sepertinya mereka hanya berteman tapi mengapa dia bisa mendapatkan teman sepertinya? Apa dia punya banyak teman laki-laki tampan?”
“Sepertinya dia punya keahlihan khusus untuk menggaet para laki-laki tampan. Bukankah kita tidak boleh meremehkannya dan justru mengambil perhatiannya?”
Green berbisik di telingaku yang sontak semakin menyedot perhatian orang-orang sekitar. “Kita bertemu lagi,” bisiknya.
“Kau berbohong hanya untuk menolongnya, kan?” Arini yang masih tidak bisa menerima apa yang terjadi di hadapannya.
“Bohong? Untuk apa?” jawab Green.
“Kau tidak pernah terlihat punya pacar, Green.”
“Hahaha, karena aku tidak tidak pernah tahu.”
“Tidak! Kau bohong, Green.”
“Bagaiman jika kau mendengar darinya?” Green melihat ke arahku.
Untuk mengatakan sebuah kebohongan?
“Sky!” terlihat Kai yang masuk ke dalam kerumunan dan berjalan mendekatiku.
Apa dia tahu soal Kai? Begitu mendengar suara Kai, Green melepas lengannya yang melingkar di bahuku.
“Green, mantan pacar Sky.”
“Kai, pacar Sky.”
Mereka saling berjabat tangan, menciptakan hiruk-pikuk, dan tidak menyadari Sky yang seketika tenggelam bersama lautan manusia.
...***...