Suddenly

Suddenly
THE GREEN TREE and THE SKY that Looked at HIM



Pekan olahraga yang setiap tahun selalu menjadi keramaian dengan begitu banyak momen yang terjadi, kali ini berlangsung lebih ramai dari tahun sebelumnya.


Entah karena lautan manusianya yang bersemangat atau atmosfer yang tengah menemukan manusia-manusia yang bisa menghidupkan suasana.


Atau…


Hanya aku saja yang berlebihan karena…


Melihatnya.


Jarak pandangku selalu terjaga menatap ke arahnya meski dari kejauhan…


Rasanya seperti melihatnya tepat di hadapanku.


Mengagumi dalam diam, itu lebih baik. Tapi dengan caraku yang menatap ke arahnya juga bisa membahayakan diriku sendiri.


Green, terlalu sempurna untukku. Membuatku terus mengatakan, bukankah kau seharunya sadar diri?


Tidak ada yang tidak mengenalinya. Semua orang menyukainya. Selalu ada orang-orang yang mengelilinginya. Dia selalu bisa menghidupkan suasana. Kalau dia tidak ada, semua akan mencarinya.


Bagiku, dunianya dan duniaku jauh berbeda. Dia berada di dunia yang penuh keramaian dengan seisi manusia-manusia populer sedangkan aku, hanya sebuah kecil yang dihuni oleh manusia-manusia tak telihat.


“Apa yang kau lihat?” Ren menepuk bahuku.


“Tidak ada.”


“Ah, kupikir kau berbeda. Ternyata kau sama saja dengan yang lainnya yang juga menyukainya. Kau bersaing dengan banyak perempuan.”


“Lebih baik kau tutup mulut! Kalau ada yang tahu berarti kau yang membocorkannya,” tegas Sky.


“Hahaha, kau pikir aku akan melakukannya?”


“Tidak, sepertinya kau tidak akan melakukan hal seperti itu.”


“Nah…”


“Hmm, aku pun hanya menyukainya…sebatas itu saja.”


“Kau yakin?”


“Ya, hanya sebatas itu.”


“Tapi tatapanmu tak singkron dengan ucapanmu.”


“Ah, kau berlebihan.”


“Bukankah kau tidak bisa bohong?”


“Aku akan membeli minum.”


“Hei, aku selalu berusaha mengelak. Kau tidak bisa berbohong,” Ren melempar minuman dan berhasil kutangkap.


“Untukku?” tanyaku.


“Ya.”


“Terima kasih.”


Ren tersenyum pada Sky yang justru tidak melihat ke arahnya.


Rambut Green yang hitam pekat dan berkilau dengan embusan angin…


Embusan angin yang berhasil membuat banyak pasang mata terpana.


Green tengah mempersiapkan diri untuk lari sprint.


Suara-suara yang menyuara juga tertuju padanya.


Telingaku tak terselamatkan.


“Green!”


“Green!”


“Green!”


“Green, kau pemenangnya!”


“Green, kau yang paling tampan!”


“Green, wohooo!”


Begitu juga dengan suara penyemangatku dariku yang menjadi percuma tak akan terdengar, “Aku menyukaimu, bolehkah aku mengatakan itu?”


Green terlihat tersenyum dengan lambaian tangannya sebelum ia mulai berlari.


3,….2,…1…


Terdengar suara terompet yang begitu kencang sebagai bertanda lari sprint telah dimulai.


“GREEN!”


“KAU BISA GREEN!“


Sayangnya…


Hari itu…


Tidak berpihak pada Green.


Seseorang yang mengaku membenci Green mendorongnya sampai keluar arena. Di luar arena itu seseorang yang juga dengan tujuan yang sama, tengah mengendarai mobil dengan tak terkendali dan menabrak Green.


Suasana kelam itu disaksikan seluruh penonton tapi…


Tidak ada satu pun…


“Kecuali kau, Sky.”


“Kupikir orang-orang yang menyemangatiku akan datang menolongku dan kupikir…aku akan kehilangan nyawa di hadapan mereka yang menontonku tanpa berbuat apa-apa.”


“Hanya kau…kau yang datang menolongku. Kalau bukan karena kau, Sky. Aku tidak ada di sini.”


“Kau mengatakan…”


“Aku menyukaimu, bolehkah aku mengatakan itu? Bukankah kau mengatakan itu? Aku tidak salah, kan?”


“Sky!”


Green menggenggap kedua lengkanku. “Kau mengatakan itu untukku, Sky.”


Bagaimana?


Bagaimana dia tahu?


“Sky!”


Kedua mataku tertuju pada Green tapi mulutku seolah terkunci.


Green memelukku dan berkata, “Saat pertama kali bertemu denganmu setelah sekian lama. Aku ingin langsung mengatakannya tapi waktunya tidak tepat.”


“Mengapa seseorang yang datang dari masa lalu selalu terlambat?”


“Aku menyukaimu, Sky.”


Green melepas pelukannya dengan menatap kedua mataku.


4 hari sebelum pekan olahraga…


“Apa kalian sudah dengar?”


“Seseorang akan mengungkapkan perasaannya pada Green sebelum pekan olahraga dimulai.”


“Hah, benarkah?”


“Hmm, dengar-dengar dia juga populer.”


“Apa itu, Arini?”


“Arini?”


“Whoaa! Itu bukan hanya cantik tapi hampir sempurna seperti halnya Green.”


“Mereka akan terlihat serasi.”


“Tidak akan ada yang mencaci maki hubungan mereka.”


“Kecuali…”


“Hahaha, dia seseorang yang biasa saja.”


“Hahaha….”


“Biasa saja?”


“Buruk rupa maksudmu? Hahaha…”


“Hei, mulutmu benar-benar, ya…”


“Benar-benar…benar, hahaha.”


Kretek!


“Hei, siapa itu?”


“Ah, kurasa ada yang menguping.”


“Hei, kau!”


Sky yang bersembunyi di balik tembok menjadi panik dan berjalan mundur.


“Hei!”


Suara di belakangku…


Green?


“Tidak apa,” ucapnya dengan senyumannya yang membuatku di antara percaya dan tidak percaya Green ada di hadapannya.


Green menggenggam pergelangan tanganku dan berjalan keluar dari persembunyianku. Perasaanku bercampur aduk. Di antara senang, gugup, dan seperti orang bodoh yang mematung.


“Siapa dia?” tanya seseorang yang kutahu bernama Jehan.


Green melepas genggaman tangannya sebelum sampai mendekati orang-orang itu.


“Hei, kau melupakan sesama anggota osismu?” ucap Green.


“Anggota osis? Dia, siapa?”


“Kalian mengenalnya?”


Semuanya menggelengkan kepalanya.


Ya, hanya Ren yang tahu.


“Wah! Kalian benar-benar parah. Dia, Sky. Dia yang selama ini menghasilkan banyak foto-foto bagus,” terang Green.


“Hah?”


“Bukankah itu kerjaan Joe?”


“Wah, apa kau baik-baik saja?” tanya Green padaku.


Aku hanya bisa mengangguk.


“Kalian benar-benar dibutakan hati dan penglihatan kalian. Semua hasil foto yang kalian tahu itu kerjaan Sky dan juga…”


“Ren,” sambungku.


“Ah, Ren. Mereka berdua yang mengerjakan.”


“Bagaimana kalian bisa tidak tahu sama sekali? Bukankah kalian keterlaluan?”


Karena itu, beberapa orang jadi lebih mengenalku dan Ren meski bisa dihitung jari.


“Bagaimana kau bisa tahu dengan apa yang kukatakan?”


Green justru tersenyum dengan memperlihatkan barisan giginya yang begitu rapi. “Bukankah kau selalu mengatakannya saat diam-diam mengamatiku?”


“Hah?” Sky tak percaya dengan apa yang ia dengar.


“Ternyata selama ini kau tak menyadarinya.”


“Bagaimana kau bisa tahu, Green?”


“Kau kira hanya kau saja yang bisa memandangimu dari kejauhan…”


“Dan kau kira dari jarak pandang yang menurutmu begitu jauh itu tak akan membuatku tahu dari gerak mulutmu yang selalu mengatakan seperti itu?”


“Green?”


“Sudah kubilang, seseorang dari masa lalu mengapa selalu terlambat? Maafkan aku, Sky. Aku datang terlambat dan kenyataan telah berubah.”


“Aku menyukaimu, Sky. Bolehkah aku mengatakan itu?”


Satu hari setelah kejadian…


Semua orang sedang memandang ke arahku dengan tatapan yang menusuk. Tidak hanya itu, mereka mencemoohku dengan kata-kata yang tak pantas kudapatkan.


“Siapa dia?”


“Bukankah dia sengaja melakukannya agar mendapat simpati banyak orang?


“Lihatlah! Aku sama sekali tidak pernah melihat wajahnya.”


“Dia hanya ingin orang-orang melihatnya sebagai pahlawan menyelamatkan seorang Green. Bukankah dia terlihat tidak tulus? Seperti ada niat terselubung.”


“Dasar buruk rupa!”


5 bulan kemudian Green kembali, semua orang menyambutnya tapi beberapa hari kemudian Green memutuskan untuk pindah.


“Bagaimana kau bisa tahu aku yang menolongmu saat itu?”


“Bukankah kau kehilangannya?” Green menunjukkan gelang yang selama ini kucari sampai menyerah dan memutuskan untuk merelakannya.


“Ternyata gelang itu…”


Green memakaikan gelang itu tangan kananku.


“Sky, bolehkah aku mengatakan itu?”


“Aku menyukaimu, Sky.”


“Tapi…”


Kai berdiri di hadapanku dengan tatapannya yang berarti.


“Aku juga…”


“Juga merindukanmu…”


“Aku merindukanmu, Kai. Bolehkah aku mengatakan itu?”


...***...