
Kurasa aku sudah gila bersama skenario yang bermunculan di dalam pikiranku.
Rania memang benar-benar annoying. Tapi tidak mungkin melakukan hal segila itu.
“Sky?”
“Ada apa dengannya?” Rania yang masih tidak mengerti dengan tatapan kosong Sky. “Dia sedang melamun?” tanyanya kesekian kalinya pada Kai yang terus menggelengkan kepalanya.
“Sayang,” Kai berbicara sedekat itu di telinga Sky.
Kedua matanya berkedip melihat ke arah Rania dan Kai secara bergantian.
“Apa dia sudah sadar? Wah, apa dia benar-benar seseorang yang kau sayangi, seperti ini?” Rania terheran-heran.
“Sa—yang?” suara Sky terdengar keras. “Si—apa yang…”
“Aku,” muka Kai berada tepat di hadapanku. Rania juga melakukan hal yang sama.
Pandangannya mengarah pada sekitar. “Kosong? Kemana perginya semua orang?” Sky terlihat seperti orang yang tak sadarkan diri.
“Wah, kacau! Kurasa kau perlu membawanya ke rumah sakit, sepertinya karena dia baru saja terjatuh.”
“Bukan, itu karena kalian. Karena kalian,” Sky melangkah pergi meninggalkan dua orang yang saling menyalahkan.
“Kau, sih. Seharusnya kau lebih terbuka padanya,” ucap Rania.
“Hei, aku baru 6 bulan bersamanya. Kau pikir ini kali kedua atau ketiga bagiku menjalin hubungan dengan seseorang?”
“Ah, itu membuatku lupa. Kau memang payah.”
“Berhentilah mengejekku! Kau juga yang menjadi penyebabnya. Akhir-akhir ini kau benar-benar menyebalkan,” Kai berjalan ke pintu keluar.
“Itu di luar kendaliku…karena aku menyukaimu, Kai.”
“Aku menyukaimu, Kai.”
Kai terus berjalan meski mendengarnya dengan jelas.
“Sa—yang?”
Hah?
Bruk!
“Maaf…,” Sky mendongakkan kepalanya untuk melihat seseorang yang tak sengaja ia tabrak.
“Ren…”
“Hai, Ren!”
“Hai!” ucap Ren. Tidak bisa dipungkiri sorot mata Ren ingin cepat-cepat berpaling. Dia melihatku lalu melihat ke arah lain.
Sebenarnya ingin bertanya, mengapa waktu itu Ren pulang duluan tapi takut akan mengingatkannya. “Kau mau ke mana?” pertanyaan klasik.
“Tadinya mau ke…,” Ren mengambil ponselnya. Ada yang meneleponnya.
Haruskah aku mengatakannya agar tidak berlarut-larut?
Ren selalu baik padaku. Dulu maupun sekarang. Kurasa tak perlu seperti ini. Suasana canggung yang tak kuharapkan.
“Maaf, Ibuku menelepon.”
“Apa terjadi…”
“Sky, aku akan terlambat.”
Ren buru-buru pergi bahkan tidak menatapku seolah aku lawan bicaranya.
Bukan waktu yang tepat.
Brrrrrrrr…
Perutku bergemuruh begitu kencang. Tapi pergi ke kantin di saat seperti ini sama saja membunuh diri sendiri dan bisa saja skenario di dalam isi kepalaku itu…bisa terjadi.
45 menit lagi kelas akan dimulai, tidak mungkin pulang. “Baiklah, tidak ada salahnya mencoba,” keberadaannya dengan hanya duduk di dekat taman saja sudah menjadi gunjingan. Jadi, tidak ada pilihan untuknya.
Langkah kakinya tidak cepat dan tidak lambat. Orang-orang yang berlalu lalang memberikan tatapan yang beragam.
Langkah kakinya akan berhenti sebentar lagi. Hiruk-pikuk sudah terdengar di telinganya. Lautan manusia akan berkumpul menjadi satu.
“Itu dia…”
“Itu dia…”
“Pengganggu di antara dua pasangan yang sebenarnya.”
Pengganggu di antara dua pasangan yang sebenarnya?
“Hei, apa maksud dari pasangan yang sebenarnya? Pengganggu? Kupikir kau hanya tidak bisa sepertiku, kau ingin menyalahkan orang lain atas apa yang tak bisa kau capai…kau seperti itu!” balasku dengan terang-terangan.
“Akkkkghh!”
Kenapa, kenapa, dan kenapa?
Senjata seorang perempuan selalu menjambak rambut?
“Gunakan kata-katamu, kau tadi bisa berbicara sekarang kau…menjabakku?”
“Kau pantas diperlakukan seperti itu. Tidak ada yang bisa dilihat, kau tidak menarik.”
“Hei, kau tak mungkin tertarik padaku. Kau mengerti maksudku? Sepertinya kau perlu merevisi ucapanmu itu.”
“Tidak ada yang akan peduli denganmu. Kau akan sendirian,” ucapnya dengan sorot matanya yang membuatku menahan tawa.
“Kau berkata tidak akan ada yang peduli padaku, dengan kau mengatakan itu padaku…sebenarnya kau peduli padaku. Sendirian? Tentu. Kau pikir setuja orang yang bisa kau punya akan datang menolongmu dan kau jadi bergantung akan itu?”
“Hahaha, kau hanya bicara omong kosong.”
“Bertahanlah jika kau bisa, hahaha…”
Orang itu menertawaiku yang diikuti dengan suara tawa orang-orang yang berlalu lalang di sekitarku.
Begitu masuk ke dalam suasana kantin, membuatku berpikir tidak perlu lagi menggunakan earphone karena sudah ada backsound yang bisa kudengar dengan jelas.
“Itu dia…”
“Dia tidak tahu malu.”
“Bukankah seharusnya dia pergi?”
“Itu sangat memalukan, jika aku menjadi Kai.”
“Dia tidak punya kelebihan apa pun.”
“Sesungguhnya dia berusaha untuk bertahan tapi sayangnya terlalu terlihat, dia gemetar.”
“Dasar pengganggu!”
“Apa dia menyadarinya? Bahwa dia terlihat jelek dan rendahan.”
Tidak perlu lagi bersembunyi di balik earphone.
Ya, tidak perlu lagi.
“Bawa ini dan cepat makan sebelum terlambat masuk kelas,” Ibu penjual makanan favoritku menghampiriku dengan memberikan kantung kresek di tanganku.
“Tapi, Bu…”
“Tidak apa, Nak. Ibu tidak ingin melihatmu makan dengan tidak tenang.”
Sky memberikan uang, “Tidak usah. Ini memang buat kamu.”
“Tidak bisa seperi itu, Bu.”
“Tidak apa, anggap saja Ibu sedang membalas kebaikanmu.”
“Bu…”
“Sudah, kamu harus cepat keluar dari sini.”
“Teri—ma kasih, Bu.”
Ibu itu tersenyum padaku.
Masih ada orang baik yang bisa tiba-tiba datang.
Apa yang kita tanam baik belum tentu mendapatkan hasil yang baik. Begitu juga sebaliknya. Setidaknya berusaha untuk berbuat baik pada siapa pun meski kau telah menyadari…tidak pernah tahu isi hati seseorang. Tapi dengan hanya memikirkannya untuk berusaha berbuat baik, itu menunjukkan kau menghargai kehidupan yang kau miliki.
“Sky!”
Suara yang tidak asing lagi di telingaku.
“Kau mau makan?”
Sky hanya mengangguk.
“Dengan tangan kiri?” ucap Kai yang tengah menghadangku.”
“Iya.”
Kai mengambil kantung kresek itu dari tanganku.
“Hei, waktu tidak banyak. Kembalikan!”
“Justru waktumu tidak banyak, aku akan membantumu.”
“Tidak perlu.”
“Kau akan terus seperti ini padaku?”
“Hei, ternyata kalian di sini?” datanglah Rania.
Datangnya Rania sekaligus membawa kembali pusat perhatian dengan segala ocehan yang mengarah padaku, ‘Sky si pengganggu’.
Padahal, siapa yang mengganggu?
“Baiklah, bantu aku.”
Tak kusangkah aku melakukan hal semacam ini di tempat umum. Di tempat umum sebenarnya tidak masalah. Yang menjadi masalah adalah dunia sedang tidak berpihak padaku.
“Kau akan menyuapinya? Biar aku saja,” ucap Rania.
Kai menepis tangan Rania. “Dia pacarku, biar aku saja.”
Bahkan belum ada satu suap yang masuk ke dalam mulutku.
“Hei, kita sama-sama perempuan selayaknya saling membantu.”
“Ada apa denganmu? Kenapa kau jadi ikut campur? Dia pacarku,” Kai mulai kesal.
“Tapi dia temanku. Bukankah seperti itu, Sky?”
“Biar aku saja.”
“Biar aku saja.”
“Aku saja.”
“Aku.”
Waktuku habis dan aku memilih untuk pergi dengan suara perutku yang sudah meronta-ronta.
...***...