Suddenly

Suddenly
Until Sunset Comes



“Aku pernah bertemu dengannya sekali,” ucap penguntit yang sama sekali tidak ada inisial ‘K’ di dalam namanya. Nama penguntit itu, Ren.


Mengingatkanku pada Tyana yang mengatakan berulang kali pernah bertemu dengan Kai.


“Kau salah mengartikannya,” jawabku.


Berawal dari kejadian 3 tahun yang lalu. Benar aku mengingatnya. Mengingat kejadian itu. Tapi tidak dengan wajah penguntit itu.


3 tahun yang lalu, ada seorang Ibu dengan dua anaknya menunggu di halte.


Menaiki bus yang sama denganku dengan tujuan yang juga sama.


Berhenti di dekat stasiun dan tak kusangkah satu gerbong juga denganku.


Seperti yang sudah-sudah, aku yang selalu mengamati orang asing yang berada di sekitarku. Ibu dengan dua anak yang masih di bawah umur itu terlihat ceria meski kedua anaknya menangis secara bergantian.


Pertanyaan dalam benakku yang mungkin akan sama dengan pemikiran yang dimiliki oleh orang lain yang sama-sama tidak tahu apa-apa menuntunku berpikir seperti…apakah dia sendirian? Di mana suaminya?


Berpikiran seperti itu memang sulit untuk dipungkiri tapi, lebih baik kau menyimpannya saja dalam benakmu daripada harus diucapkan dengan terang-terangan. Itulah salahnya seseorang yang disebut dengan ‘Manusia’.


Usiaku 16 tahun saat itu. Tidak ada siapa pun, aku sendiri untuk kabur ke rumah teman lamaku yang memakan waktu 2 jam dengan kereta.


Tiba-tiba ada kegaduan. Seorang mahasiswa mengamuk karena tidak mendapatkan tempat duduk padahal sudah jelas, orang itu membeli tiket tanpa kursi.


Sepertinya laki-laki itu dalam keadaan sadar dan tidak sadar. Mengamuk pada Ibu itu dan membuat kedua anaknya menangis. Tangisan itu semakin menjadi-jadi saat Ibu mereka dicengkeram dengan kuat.


“Hei, kurasa kau perlu berkaca sebelum kau berada di tempat umum. Kau sangat bau,” bau aroma kurasa—minuman terlarang. Tercium kuat pada indera penciumanku.


Laki-laki itu melepas cengkeramannya. Aku pun mendekat pada Ibu itu, menyuruhnya untuk berpindah di kursiku.


“Kau, siapa?” orang itu berdiri dengan posisi yang tidak stabil.


“Bukan siapa-siapa. Pergilah!”


“Hahaha, kalau kau bukan siapa-siapa lebih baik kau diam saja. Kau pikir dengan kau yang seperti itu menjadi pemberani? Tidak ada yang bisa dilihat,” orang itu melihatku dari bawah ke atas.


“Kau juga, tidak ada yang bisa dilihat. Kau bau.”


Hal yang tak terduga terjadi. Orang itu menjambak rambutku sampai tubuhku terbentur pintu cukup keras.


Tentu, aku tidak tinggal diam meski rasa nyeri di tubuhku cukup terasa.


Kakiku menendang di tempat yang seharusnya. Orang di hadapanku itu sudah seperti zombie yang diberi kehidupan, dia tidak hanya mengerang kesakitan tapi juga tergeletak di bawah dengan memejamkan mata.


Ren ada di gerbong itu juga. Kalau orang itu tidak menyinggung soal apa yang terjadi, aku tidak akan tahu di mana penguntit itu berawal.


“Itu sebuah pertemuan,” ucapanya dengan ekspresi mukanya yang membuat bulu kudungku merinding.


“Jadi, kau menguntitku setelah itu?” tanyaku.


“Ya, selama 3 tahun. Kau tumbuh dengan baik. Membuatku semakin ingin mendekatimu.”


Sial!


Bagaimana jika tatapannya itu membuatku mimpi buruk?


Kai dan Jeff sama-sama menggenggam tanganku.


Polisi mengatur jarak di antara penguntit. Bahkan jaraknya begitu jauh tapi tatapannya itu seperti berada di hadapanku.


Sebenarnya, aku tidak perlu masuk dalam proses ini. Tapi aku ingin mendengar apa yang akan diucapkan orang itu jika ada kehadiranku.


Genggaman Kai dan Jeff semakin kuat seolah sedang menahan amarah.


“Ah, satu hal lagi. Apa kau tak menyadari sesuatu di dalam apartemenmu atau orang terdekatmu?”


Apa maksudnya?


“Kau bicara apa?” Polisi itu mendekat pada Ren.


“Hahaha, bukankah itu pekerjaan kalian? Wah, jangan-jangan kalian sama sekali tidak tahu apa-apa? Wah, itu akan menjadi sia-sia jika hanya menangkapku saja.”


“Aku sudah cukup menikmatinya. Whoaa! Bagaimana bisa kau begitu…,” Ren menggambarkan sesuatu dengan pergerakan tangannya.


“Apa yang kau taruh di apartemennya?” Polisi itu sudah pasti tahu arah ucapan penguntit itu.


Genggaman yang ada padaku semakin kuat. “Aku baik-baik saja,” ucapku pada Kai dan Jeff.


“Kau menaruhnya di mana?”


“Aku menaruhnya di mana? Kau yang harusnya bekerja. Bahkan kalau aku tidak mengatakannya. Kau tidak akan tahu,” Ren mendorong polisi itu dari hadapannya.


“Apa yang terjadi?” bisik Kai.


“Nanti kujelaskan,” bisikku.


Ren tersenyum sinis padaku. “Kau pikir hanya itu?”


“Sepertinya ada di tempatmu,” bisikku pada Kai.


Kai mengangguk.


“Kau tidak pantas bersamanya,” Ren menunjuk ke arah Kai.


Kai hanya melihat ke arah Ren tanpa membalas ucapannya.


“Apakah aku orang yang pantas bersamanya?”


Wah!


Apa dia sadar dengan ucapannya?


Tyana mengatakan itu di depan semua orang.


“Hahaha. Ah, kau berharap bersamanya?” raut wajah Ren memperlihatkan bahwa dirinya seorang penguntit.


Polisi-polisi itu hanya mengamati dengan tatapan yang beragam tapi membuatku penasaran. Apakah mereka memikirkan hal yang sama denganku, Kai, atau Jeff?


“Baiklah, kami rasa sudah cukup jelas…”


“Sebentar…,” polisi itu memeriksa ponselnya.


“Hmm, kalian boleh pulang. Selanjutnya kami akan memproses semua bukti yang sudah ada dan akan ada kabar nanti…,” polisi itu melihat ke arahku dan Kai cukup lama.


Tatapan terakhir yang diperlihatkan Ren padaku, seolah dia sedang menunjukkan tidak pernah terjadi apa-apa dan tidak pernah melakukan apa pun.


Keluar dari kantor polisi disambut dengan langit yang sudah tak lagi cerah. Terasa lagit pagi telah berganti menjadi langit sore menjelang malam.


“20 Juni…”


“Apa kau sudah ingat?”


Tyana menghentikan langkah kaki dengan membalikkan badannya untuk mengatakan itu di hadapan Kai.


Tidak ada jawaban dari mulut Kai. Kai justru melewatinya.


“Hei, kau mengabaikanku? Bukankah seharusnya kalian berterima kasih padaku?”


Kai menggenggam tanganku dan terus berjalan mengabaikan Tyana.


“Hiraukan saja,” bisik Kai.


“Kurasa orang itu sama gilanya dengan penguntit yang tertangkap,” ucap Jeff.


“Jadi, bagaimana kau menemukannya?” tanya Kai.


“Iya, bagaimana kau menemukannya?” Jeff juga.


“Nanti saja. Kita belum menyelesaikan apa yang ada di apartemen Kai.”


“Kita? Kau juga mengajakku ikut serta?” tanya Jeff.


“Iya, tapi kupikir kau tidak bisa. Maafkan aku, Jeff. Kau seharusnya kerja hari ini,” jawabku.


“Tidak. Aku tidak bekerja hari ini. Aku sudah dapat izin karena orang itu kau dan Kai.”


“Whoaa! Kurasa gajimu akan naik setelah ini.”


“Hahaha, jika itu bisa.”


“Kau menginginkan itu?”


“Tidak. Jika itu terjadi. Bukankah aku sedang menjual temanku sendiri? Haha…”


“Tapi…kau baik-baik saja, Sky? Kau juga baik-baik saja, Kai?”


Matahari pun tenggelam seperti apa yang terjadi pada hari ini. Kuharap persoalan yang terjadi di masa lalu selesai saja sampai di sini.


...***...