
Pemandangan yang sudah cukup lama tak pernah mengelilingku, pagi ini terasa kembali ke masa lalu.
Meski tidak begitu lama tetapi tetap saja menjadi sesuatu yang pernah terjadi.
Kembali pada mode yang seharusnya, itu kata mereka.
Entahlah, mode?
Setelan pabrik?
Bukankah itu konyol?
Ada-ada saja. Di masa lalu, mungkin terdengar menyakitkan untukku. Setelah banyak yang terjadi…yang kudengar hanyalah ocehan konyol yang membuatku ingin tertawa.
“Apa yang membuatmu bahagia?” Ken menangkapku dari belakang usai melompat dari permukaan yang lebih tinggi.
“Sky yang berjalan dengan seekor monyet. Kau mau mereka mengatakan itu?”
“Tidak! Yang benar saja.”
“Hahaha…”
“Apa yang membuatmu senang hari ini?”
“Mereka mengatakan, kembali pada setelan pabrik.”
“Hah? Kai dan…”
“Ya.”
“Kau tidak apa-apa?”
“Haha, apa aku terlihat tidak baik-baik saja?”
“Hmm, baiklah.”
“Kau datang hanya untuk mengatakan itu?”
“Ya.”
“Bye, Ken!”
“Aku akan datang menginap,” ucap Ken.
“Tidak, luangkan saja waktumu sendiri!” tolak Sky dengan lambaian tangan.
Setiap langkah kakiku melangkah, telingaku akan mendengar ocehan-ocehan seperti yang sudah terjadi sebelumnya.
“Tok…tok…”
“Sky!”
Anggota clubku saling melempar pandangan. “Katakan saja…tidak apa. Sekali pun itu buruk.”
“Kau pikir kami semua apa? Kecuali kalau kau berpikir sebaliknya.”
“Hei, berterus teranglah…sungguh tidak apa.”
“Wah, kau ternyata bepikir sebaliknya. Sampai di situ saja setelah semua yang terjadi?”
“Hahaha, baiklah-baiklah. Terima kasih.”
“Jangan memelukku!” lanjut Sky yang sontak membuat teman-temannya mendekat dan hampir memeluknya.
“Jadi, sekarang kalian berdua…”
“Hmm, entahlah.”
“Hei, sudahlah jangan membahasnya lagi! Sebentar lagi sudah mendekati deadline,” ucap Ren.
“Kau tidak seru, Ren.”
“Yang kau pikirkan hanya soal deadline dan deadline.”
“Bagaimana kalau ke kantin?” ucap Sky dengan senyumannya yang lebar.
“Syukurlah…kau ingat makan. Tidak seperti…”
Ren kembali memotong, “Hei, kau membahasnya lagi, berhentilah!”
“Mereka dulu berteman baik,” bisik Rara padaku.
“Apa hubungannya denganku?” bisikku.
“Entahlah,” Rara tersenyum melirik ke arah Ren.
“Bagaimana, jadi ke kantin?” perutku mulai tidak bisa berkompromi.
“Sepertinya tidak, maafkan aku. Aku ada kelas.”
“Yang lain?”
“Baiklah, aku ke kantin sendiri.”
“Hei, bukan seperti itu…”
“Hah, ada apa? Kenapa? Tidak apa-apa. Hanya ke kantin dan apa kalian tidak tahu selama ini juga pergi sendirian?”
“Tapi kau baik-baik saja, kan?”
“Iya, baik-baik saja.”
“Oh, ya…Ren.”
“Iya, Sky?”
“Aku sudah mengirim bagianku.”
“Oke, selamat bersenang-senang. Yang lain tolong segera dikirim, ya! Setidaknya hari ini.”
“SKY!” dengan serentak.
“Hahaha, bye!”
Kai tentu melihatku…
Seperti orang asing.
“Neng, gak apa?”
Sky menggelengkan kepalanya dan tersenyum.
“Makan yang banyak, Neng.”
Mendadak air mataku seperti akan menetes hanya karena mendengar itu. “Terima kasih, Bu.”
“Wah, ternyata dia dicampakkan.”
“Hanya sebagai permainan. Ternyata Kai breng*** juga.”
“Memang dia tidak pantas bersama Kai.”
“Rania jauh lebih baik. Mereka berdua benar-benar pasangan kaya raya.”
Sky menatap ke arah sumber suara. Ia juga tersenyum dengan jemari tangannya yang seolah sedang memberi tahu seseorang dengan berbagai ocehannya itu.
Rasanya benar-benar menyenangkan dengan senyuman yang lebar. Orang-orang itu terlalu sibuk dengan ocehan mereka, sampai-sampai tak peduli dengan penampilan mereka. Ada yang menumpahkan saus kacang di pakaiannya sendiri. Ada yang mencoret mukanya sendiri dengan lipstick.
Entahlah, ada-ada saja.
Tak lama orang-orang itu pergi. Tetapi pemandangan lain datang padaku bahkan lebih dekat. Sesuatu yang sedang terjadi padaku. Menuntunku untuk tidak terlihat, mengelabuhi diri sendiri maksudnya. Jujur itu juga melelahkan tapi mau bagaimana lagi?
“Hai…,” sapanya dengan senyuman yang memperlihatkan barisan giginya yang rapi dan tentu tidak diragukan lagi, dia benar-benar cantik.
Ya, siapa lagi. Kalau bukan Rania dan Kai. Seketika suasana menjadi berpusat pada pemandangan yang tengah menjadi topik hangat seperti di kala itu.
Kai seperti robot yang diberi nyawa. Rania seperti sang pengendali robot itu. Mereka terlihat seperti itu di mataku.
“Hai…,” dengan sikapku yang terlihat tenang, menurutku. Semoga terlihat seperti itu.
“Kau makan sendirian?”
Bertanya atau mengejekku?
“Iya.”
“Boleh, kan?” Rania tersenyum dan melirik ke arah Kai.
“Oh, ini tempat umum dan bukan milikku juga,” rasanya ingin menertawai suasana yang ada. Mengapa seseorang harus bersikap seperti itu? Sengaja memperlihatkan dengan cara seperti itu. Bukankah itu justru mempermalukan dirinya sendiri? Seperti haus akan perhatian, entahlah bagaimana aku menjelaskannya. Yang pasti aku tidak akan melakukan hal seperti itu.
“Kau yakin akan baik-baik saja?”
Sebenarnya apa tujuannya?
“Ah, kau sedang peduli padaku? Tentu, aku baik-baik saja.”
“Wah, kau sangat kuat rupanya.”
“Begitulah…aku,” Kai menatapku tajam dan dengan cepat langsung membuatku berpaling.
Tidak akan berarti apa-apa. Tidak juga mempengaruhiku.
Pandanganku fokus pada layar ponsel. Membalas beberapa pesan. Setelah apa yang terjadi, aku bertemu dengan beberapa orang baru yang tentu mereka orang asing yang tak sengaja bertemu di toko buku.
Bukan lagi toko buku yang telah menjadi kenangan itu tetapi, aku telah menemukan toko buku yang lainnya yang jauh lebih dekat dengan apartemen.
“Apakah dia benar-benar bahagia?” Kai yang hanya bisa berbicara dalam benaknya.
Makananku sudah habis hanya menyisahkan perasaan yang mengganjal. Perasaan yang entahlah…
Ada apa dengannya, Kai? Kai terus diam tanpa berbicara dengan sesekali mengumbar senyuman pada Rania lalu dengan sekejap kembali terdiam dengan ekspresi mukanya yang serius.
“Kau mau ke mana?”
Baru saja aku mengatakannya sekarang harus kupatakan ucapakanku sendiri.
“Pulang.”
“Kau mengabaikanku,” ucap Kai.
Kedua mataku berkedip dan entahlah, apa sebenarnya maunya?
“Sepertinya kau tak perlu mempermasalahkan itu.”
“Ah, apa itu yang kau mau?”
“Tanyakan saja padanya,” kedua mataku mengarah pada Rania yang menatapku dengan sinis.
Kupikir akan selesai dan memang sudah berakhir.
Kupikir juga, Kai tidak akan melakukannya.
Apa yang terjadi, menjadi kejadian yang berulang yang sekaligus memecah pandangan orang lain meski aku tidak peduli lagi dengan apa yang mereka pikirkan. Tetapi, bukankah ini menjadi kisah yang terlalu dramatis?
Kai meninggalkan Rania dan juga keramaian yang terjadi.
Tanganku berada dalam genggamannya.
Kai semakin terlihat serius. Berkendara bersamaku untuk keluar dari keramaian dengan ocehan yang sudah menyebar luas.
Masih di tempat yang sama.
Pertemuan pertama.
Entah dengan perasaan yang sama atau tidak.
Cup!
Aku tahu…
Aku tahu, itu bukan cinta.
...***...