Suddenly

Suddenly
Hide and Seek



Pukul 10 malam.


Tiga orang itu berpikir keras. Menemukan sesuatu yang menarik perhatian bagi mereka tanpa harus mengacak-acak semua barang.


1 jam yang lalu mereka hanya menggunakan kedua mata dan apa yang mereka pikirkan.


Sebelumnya mereka memesan banyak makanan. Itu ide Jeff sebagai amunisi sebelum berperang, katanya.


Tapi justru rasa kantuk mulai menyerang tapi masih memiliki tekad yang kuat.


Bahkan mereka membatasi diri untuk berinteraksi.


Apalagi, untuk Kai dan Sky.


Begitu juga dengan Jeff.


Interaksi di antara mereka juga bisa disalah artikan.


“Mau sampai kapan kita terus memikirkannya?” Jeff yang mulai lelah.


“Kau tidak tahu apa? Sekuat tenaga melewan rasa kantukku,” ucapku.


“Yang pastu kuncinya ada padaku karena berada di tempat tinggalku,” sahut Kai.


“Ah, kau benar juga. Baiklah, biar aku dan Sky berhenti sejenak sementara kau berpikir.”


“Hei, tidur maksudnya? Kau bisa tidur dengan keadaan seperti ini?”


“Iya, juga. Itu tidak mungkin.”


Ting!


Sky mengirim pesan di room chat mereka bertiga.


“Komunikasi saja dari sini.”—Sky


“Dengan saling menjaga jarak juga,”—Kai


“Apa kita seharusnya berpencar?”—Jeff


“Itu ide yang buruk. Lebih baik berpindah tempat secara bersamaan.”—Kai


“Kau mau sampai pagi, Kai?”—Jeff


“Percayalah, Jeff! Kai pasti punya alasan atau dia akan menemukan apa yang kita cari.”—Sky


“Ah, baiklah aku kalah telak.”—Jeff


Apartemen ini tidak dikunjungi banyak orang. Setidaknya masih bisa dihitung dengan jari tangan. Selain Sky yang sudah cukup sering bersamaku. Ada Rania, Jeff, dan Ken. Bahkan itu hanya 4 orang. Ken?


“Kau mau ke mana, Kai?”


“Mengambil tangga.”


“Tangga?”


Tak lama Kai kembali dari ruang belakang dengan membawa tangga. Jeff mengangguk. Tangga itu diletakkan di bawah lampu di ruang tengah Kai.


Kai yang menaiki tangga sementara Jeff membantu memegang tangga.


Apakah Kai benar-benar menemukannya?


Kurasa dia sedang mengingat sesuatu.


Tidak mungkin tidak karena dia langsung bertindak.


Tidak hanya membuatku penasaran. Tapi juga ingin merasa lega. Ini sudah cukup melelakan. Di hantui dengan sesuatu yang belum jelas.


“Sky, kau tahu kan di mana aku menyimpan senter?”


“Oke, aku akan mengambilnya.”


Senter itu ada di dekat meja belajar Kai.


“Akgghh!”


Bukan aku kalau tidak ada-ada saja.


“Aw!”


“Ada apa, Sky?” teriak Kai.


Pinggulku menatap bagian siku meja dan ya. Itu bagian pucuk meja yang runcing.


“Ti—dak a—pa.”


Sky mengambil senter itu.


“Kai!”


“Iya?”


“Kau punya yang lain? Senternya tidak menyala.”


“Coba kau cari di tas yang kupakai kemarin ke kampus.”


“Ah, itu.”


Kamar Kai tidak terlalu banyak barang. Masih space kosong yang sebenarnya masih bisa diisi dengan perabotan lainnya.


“Tidak ada, Kai. Kau punya korek, Kai?”


“Hei, kalau korek aku ada. Kenapa tidak memakai korek saja dari tadi?” ucap Jeff.


“Ah, iya. Tapi kau juga kenapa tidak bilang?”


“Iya, juga. Kenapa baru terpikirkan?”


“Wah, kurasa kita bertiga benar-benar sudah gila,” sabung Sky.


Tunggu!


Kenapa?


Ada…


“Kai…”


“Jeff…”


“Hei, kenapa?”


“Ada apa?”


“Tidak, tidak apa.”


“Wah!”


“Kurasa kau yang gila,” ucap Jeff.


“Hei, berani-beraninya kau menyebutnya gila?” protes Kai.


“Wah, senangnya…andai aku juga bisa.”


“Hei, kau juga yang terlalu pilih-pilih, Jeff.”


“Hei, omong-omong kau belum memberikan korek itu pada Kai, Jeff.”


“Ah, iya. Kau benar.”


“Sudah kubilang, kita bertiga benar-benar sudah gila.”


“Hei, kalian juga lupa bagaimana cara kita berinteraksi,” ucapan Kai yang membuat semuanya baru saja mengingatnya.


“Aahhhh, iya.”


“Oke, kau benar, Sky. Kita bertiga gila,” ucap Jeff.


“Baiklah, saling berbicara seperti biasanya saja. Serahkan padaku korek milikmu, Jeff.”


“Ya, kita hanya berbicara.”


“Sebenarnya apa yang sedang kau lakukan, Kai?” suara Jeff terdengar keras.


Suasana kembali hening.


Hanya saling tatap-menatap.


Kai pun menjadi serius. Tidak tahu apa yang orang itu cari.


Jeff sedang melihat keadaan sekitar.


Sky pun juga melakukan hal yang sama.


Rasanya seperti ada yang mengawasi.


Mengawasi setiap gerak yang terjadi.


Ponselku bergetar beberapa kali dan kuputuskan untuk mematikan ponselku.


“Ada apa?” Kai yang menyadari itu.


“Dia menghubungiku.”


“Ah, orang itu?” Jeff juga menyadarinya.


“Aku sudah mematikan ponselku.”


“Bagus,” ucap Kai.


“Hei, Kai! Apa kau sudah menemukannya?”


“Belum.”


Lampu di ruangan tengah Kai bentuknya tidak begitu rumit hanya susunan bola-bola yang menggantung. Entahlah, aku tidak tahu apa yang dilakukan Kai.


“Hei, Kai! Bukankah lampu itu sudah cukup terang?”


“Hahaha, Jeff! Kau baru tanya sekarang? Apa kau tidak melihatku? Justru itu masalahnya, Jeff. Aku tidak ingin menyentuh lampu-lampu itu dan hanya sekedar melihatnya.”


“Wah, sudahlah aku tidak mengerti kau, Kai.”


“Sudahlah, tunggu saja.”


“Aku akan ke kamarmu, Kai.”


“Baiklah.”


“Kau menemukan sesuatu, Sky?”


“Entahlah.”


“Wah, kalian berdua benar-benar pasangan aneh sekaligus menjadi dua temanku yang aneh.”


Pikiranku mengarah pada apa yang seharusnya terjadi.


Seharusnya juga berada di sini. Bukankah seperti itu?


“Kai, paket-paket itu apa ada yang kau simpan?” teriak Sky.


“Tidak ada. Kenapa?”


Bukan paket-paket itu.


Sky membuka tiap-tiap laci di kamar Kai tapi tidak menemukan apa pun. Di meja berlajar juga tidak ada sesuatu yang aneh.


Wah, mengapa 2 hari ini menjadi hari yang begitu melelahkan?


Menebak-nebak selayaknya seorang detektif? Kurasa ini tidak ada apa-apanya.


Ting tong!


“Kau datang untuk menjelaskan?”


“Menjelaskan?”


“Iya, bukankah seperti itu?”


“Ah, karena akhir-akhir ini aku tidak menghubungimu?”


“Kau akan terus bersembunyi, Ken? Kau yang telah memberiku harapan, Ken dan itu berarti bagiku.”


“Aku tidak mengerti, apa maksudmu?”


“Ken, sebelum terlambat lebih baik mengaku lah.”


“Mengaku untuk apa? Apa yang kau bicarakan?”


“Ken, bukankah kau tidak ingin membohongiku?”


“Katakan yang sebenarnya, apa yang kau bicarakan? Setidaknya biarkan aku masuk.”


“Tidak, sebelum kau mengatakannya.”


“Katakan yang sebenarnya, Sky!”


“Aku ingin mendengarnya dari mulutmu, Ken.”


“Aku benar-benar tidak tahu apa maksudmu, Sky.”


“Baiklah, apa kau bisa menjelaskan soal paket itu?”


“Paket?”


“Iya, paket yang kau kirimkan padaku. Sebuah boneka. Kau ingat itu?”


Ken terdiam dan menatap tajam ke arahku.


Detak jantungku berdetak semakin kencang. Kedua kakiku melangkah mundur.


“Apa kau ingat itu, Ken?”


“Boneka itu…”


“Memang untukmu, memangnya kenapa?”


“Kau tidak tahu apa yang di dalam boneka itu?”


“Hah?”


“Ken, aku tidak pernah menyangkahnya kau akan berbuat seperti itu.”


“Itu hanya sebuah boneka. Aku hanya ingin bersikap baik…”


“Ah, itu caramu untuk bersikap baik?”


“Maafkan aku, Sky. Kau ternyata tidak menyukainya. Aku tidak tahu mana yang bagus. Aku juga terlalu malu untuk menanyakan soal boneka itu. Pantas aku tidak pernah melihatnya berada di kamarmu.”


“Kau dapat dari mana boneka itu?”


“Jeff.”


“Bahkan, Jeff juga yang mengirimnya untukku.”


Apa ini?


Apa lagi?


Sky membuka pintu lebar-lebar.


“Kai…”


“Jeff…”


Mereka pun keluar.


“Apa orang itu kau, Jeff?”


Kai berjalan mendekatiku dan menggenggam tanganku dengan kuat. Berada di tengah-tengah di antara Ken dan Jeff.


“Jeff!”


Jeff justru terpaku tak bersuara dengan kepala yang menunduk.


...***...