Suddenly

Suddenly
Happened again as before?



“Kenapa kau ada di sini?”


“Ah, tidak! Maksudku, bagaimana kau bisa masuk?”


Rania hendak memeluknya tapi dengan cepat Kai menghindarinya. “Kenapa, kau?” Rania tampak heran.


“Bagaimana kau bisa masuk?” Kai mengulang ucapannya sembari kedua matanya melihat ke arah lain.


“Menebaknya dan…”


“Kau bodoh! Mengapa kau menggunakan tanggal lahirmu? Tentu saja bisa kutebak dipercobaan pertama dan bukan hanya aku saja orang lain pun bisa. Gantilah sekarang juga! Atau aku yang menggantinya?”


“Tidak-tidak! Biar aku saja,” tolak Kai.


“Kenapa? Kau tidak ingin aku masuk? Bahkan kau tidak punya pacar.”


“Aku punya pacar dan kau tahu…kau harus bagaimana?”


“Siapa, dia? Kau tidak semudah itu berganti pacar dengan waktu yang singkat. Kau bohong, kan?”


“Kau pikir dengan melihatku, apa aku terlihat sedang berbohong?”


“Kau benar-benar punya pacar, Kai?”


“Iya, aku serius.”


“Baiklah, tapi…siapa?”


“Kau akan tahu nanti tapi untuk sekarang…aku tidak ingin berbicara apa-apa.”


“Kau begitu serius padanya?”


“Sangat,” jawab Kai.


“Orang itu bukan Sky, kan?”


“Kalau orang itu, Sky?” Kai justru balik bertanya.


“Kurasa…aku akan benar-benar pergi.”


“Benar-benar pergi?”


“Aku tidak pernah menyukainya dan mengapa harus dia? Mengapa tidak dengan yang lain? Apa dia sebegitu menariknya dan karena itu…banyak yang menyukainya?”


“Kau iri padanya? Bukankah seperti itu?”


“Aku iri padanya? Sama sekali tidak.”


“Tapi kata-katamu mengatakan seperti itu.”


“Tidak, untuk apa juga…aku iri pada Sky?”


“Untuk apa kau ke sini?”


“Hei, aku datang untukmu.”


“Pacarku akan datang.”


“Benarkah? Bagus, biarkan kami berkenalan.”


“Tidak sekarang, Rania. Kan, aku sudah mengatakannya.”


“Ayolah, Kai!”


“Tidak!”


“Kai?”


“Tidak, Rania!”


“Apa dia lebih cantik dariku?”


“Ya, dia benar-benar cantik.”


“Wah, benarkah? Tapi aku tidak percaya. Sky tidak cantik. Sepertinya…kau perlu kuajari bagaimana mencari seseorang yang sepadan denganmu.”


“Aku yang menjalin hubungan mengapa kau jadi yang ribut?”


“Karena kau payah, Kai.”


“Sudahlah! Apa kau bisa pulang? Pacarku akan datang.”


“Kau mengusirku?”


“Apa kau perlu kubukakan pintu?” terang Kai.


“Baiklah, tapi bisakah kau menemaniku makan…besok?”


“Tidak bisa.”


“Kau menjadi berubah saat kau sudah punya pacar.”


“Ran, aku hanya ingin melakukan yang terbaik dan aku tidak ingin memberimu sebuah harapan…”


“Ya, aku tahu.”


BRAK!


Rania melihat di pintu sebelah ada beberapa tumpukan kardus. “Apa dia pacar, Kai? Mereka tinggal bersebelahan dan akan pindah jika mereka telah putus?”


Kai membuka pintu untuk memastikan keberadaan Rania. “Tidak ada.”


“Kai!”


Langkah kakinya terhenti.


“Apa yang kau lakukan?”


“Kau juga, kenapa kau masih di sini?”


“Pacarmu bukan ada di sebelah, kan?”


“Ti—dak.”


“Tapi raut wajahnya mengatakan bahwa itu benar.”


“Aku akan makan bersamamu besok,” Kai terpaksa melakukannya.


“Benarkah?” Rania terlihat bahagia.


“Iya, hanya besok saja. Pulanglah!”


Rania memeluknya. “Hei, lepas!”


“Sampai ketemu besok, Kai!”


“Ya,” Kai menutup pintu dan mengganti passwordnya.


Kai menghela napas bukan hanya lega karena Renia telah pergi, tapi ia tidak punya pilihan dan terpaksa mengiyakan Rania.


“Sky?”


Sky telah keluar dari tempat persembunyiannya. Bersembunyi di bagian bawah ranjang yang gelap.


“Mau ke mana? Kita baru saja berbaikkan dan tiba-tiba terjadi seperti ini,” Kai menahan tangan Sky untuk tidak pergi.


“Hei, aku baru saja pindah hari ini dan belum ada satu pun yang kutata. Aku tidak marah, Kai.”


“Aku akan membantumu nanti,” Kai menarikku dalam perlukannya. “Biarkan kita seperti ini sebentar saja, ya?” ucapnya.


“Baiklah.”


“Sky, aku terpaksa mengiyakan untuk makan bersama Rania karena dia tadi berada di depan pintumu dan betanya-bertanya.”


“Ah, kurasa dia benar-benar peka. Bagaimana selanjutnya? Apa kau memikirkan hal yang sama tentang hubungan kita?” sahut Sky.


“Sepertinya kita punya pandangan yang sama,” jawab Kai.


“Benar, aku juga memikirkannya.”


“Baiklah, mari kita lakukan!” seru Sky.


“Dan sepertinya kehidupan kita selanjutkan akan lebih melelahkan tapi juga menyenangkan,” Kai memberikan kecupan di pipi kananku.


“Dan cepat atau lambat orang-orang akan…”


“Iya, pada akhirnya akan tahu.”


Ting tong!


Suara bell kembali terdengar, dengan cepat Kai mengecek lebih dahulu sebelum membuka pintu.


Itu…


“Sky, dia datang lagi…”


Raut wajah Kai berubah. Kai terpaksa memintaku untuk bersembunyi lagi.


Apa akan terjadi lagi seperti sebelum-sebelumnya?


Masa lalu yang belum selesai…yang sudah kukatakan berulang kali, apa akan terjadi lagi?


Itu sungguh melelahkan tapi aku telah memilih bersama Kai, bukankah aku harus menghadapinya lebih berani dari pada sebelumnya?


Ya!


Sebelumnya…aku seperti tidak melakukan apa pun.


Suara Rania sudah terdengar dan pikiranku kembali bergejolak. Memikirkan banyak hal serta skenario yang memungkinkan terjadi.


Apa Rania selalu berkunjung sebelum hari ini?


Apa mereka selalu melewatkan waktu di luar setidaknya?


Makan bersama misalnya?


Atau saling menemani ke beberapa tempat yang mereka ingin kunjungi?


“Kau bohong, ya? Mana pacarmu?” suara Rania terdengar nyaring.


“Kau baru keluar beberapa menit yang lalu. Dia masih diperjalanan. Kenapa kau ke sini?”


“Kenapa kau juga membukakan pintu?” Rania justru menguji kesabarannya.


“Kenapa kau ke sini?” Kai kembali bertanya dengan kedua mata yang terus melihat ke belakang.


“Sudah kubilang untukmu, Kai.”


“Rania! Tak bisakah kau…”


“Kai, luangkan waktumu sebentar sebelum pacarmu itu benar-benar datang. Aku ingin bertemu dengannya.”


“Sudah kubilang tidak sekarang dan bukan hari ini, Rania.”


“Kai, aku akan kehilanganmu lagi kalau kau lebih meluangkan waktumu untuk pacarmu dari pada denganku.”


“Ran, bukankah kita sudah membicarakannya?”


“Iya, aku tahu. Tapi rasanya berat…sudah kubilang aku tidak bisa hidup tanpamu, Kai. Kenapa kau secepat ini punya pacar? Kuharap itu tidak serius tapi kau selalu tidak pernah bermain-main.”


“Ran, mau sampai kapan kau akan seperti ini?”


“Hacih…hacih…”


“Siapa itu, Kai?”


“Hah, apa? Hacih…hacih…”


“Ada apa denganmu, Kai?”


“Akhir-akhir ini aku jarak membersihkan tempat tinggalku. Ya, seperti itu.”


Rani berjalan dan melihat sekitar bahkan membuka beberapa pintu. “Kau sendirian, kan?”


“Iya, sendirian.”


“Aku mendengar suara orang yang berbicara.”


“Kurasa aku lupa mematikan laptopku,” jawab Kai asal.


“Ah, benarkah?”


“Iya.”


“Kai, aku lapar.”


“Hei, kau bisa pulang di rumahmu banyak makanan dan kau tidak perlu repot-repot memasak.”


“Aku suka di sini.”


“Ran! Pacarku akan datang.”


“Biarkan saja dia menunggu. Untuk hari ini saja, ya? Setelah makan aku pulang.”


“Kau tidak mempermainkanku, kan?”


“Tidak.”


“Setelah makan aku pulang, janji!”


“Baiklah, kau mau apa?”


“Nasi dan telur mata sapi setengah matang yang di atasnya diberi saus tomat.”


“Kau yang masak, Kai.”


“Baiklah, kau tunggu di ruang tengah.”


“Tidak.”


“Hah?”


“Bolehkah aku tidur sebentar? Aku benar-benar mengantuk.”


“Iya, di sofa,” jawab Kai.


“Sofa? Tidak mau!”


Rania berbaring di atas ranjang.


Sial!


Aku sudah tidak tahan lagi bersembunyi di bawah ranjang yang berdebu ini.


“Hacihhhh!”


“Kai?”


“Iya, hacihhh!”


“Kau baik-baik saja, Kai?”


“Kurasa aku akan flu. Bukankah kau benci flu? Sebaiknya kau pulang.”


“Tidak, tidak apa. Asalkan itu Kau, aku tidak membenci flu.”


Wah!


Sial!


...***...