Suddenly

Suddenly
Same thing but…



Terkadang hidup pernah juga terasa membosankan.


Jika itu soal hubungan—bersama seseorang. Apa seharusnya berlaku?


Bagiku, tergantung siapa orangnya.


Memang wajar merasa bosan tapi biarkan itu menjadi sesaat.


‘Bosan’ bukankah itu hanyalah sebuah alasan?


Alasan yang selalu digunakan untuk mengakhiri sebuah hubungan?


Tapi jika itu alasannya, setidaknya mengatakan yang sebenarnya dan cukup setalahnya biarkan itu berakhir.


Jangan pernah menjadikannya alasan lalu menjadi bertele-tele dan berada pada ambang ketidakjelasan.


“Kai, bukankah minggu depan kita pergi menonton dan seperti biasa makan di luar atau kau ingin pergi ke mana? Kau selalu punya rencana,” ucapku pada Kai. Akhir-akhir ini Kai selalu sibuk dengan ponselnya.


1 bulan lagi, tepat 6 bulan hubunganku dan Kai berlangsung. Tapi itu bukan apa-apa. Entahlah ada sebuah perayaan atau tidak. Sama halnya dengan sebuah perayaan ulang tahun yang sampai sekarang membuatku ragu untuk melakukannya.


“Sepertinya kita tidak pergi ke mana pun. Menonton saja di tempatku atau di tempatmu dan memesan makanan atau kita berdua memasak,” jawabnya dengan masih menatap pada layar ponselnya.


“Kai, bukankah aku ada di hadapanmu? Akhir-akhir ini kau seperti tidak benar-benar berbicara denganku.”


“Apa lagi? Kau juga, akhir-akhir ini selalu mengeluh tentang aku yang menjadi serba salah. Aku harus seperti apa agar kau merasa puas?”


“Hidupku bukan hanya kau, Sky.”


“Kai, aku hanya pertanya kenapa kau membuatnya semakin panjang seolah kau dan aku sedang dalam sebuah pertengkaran?”


“Kau yang memulainya, Sky. Kau selalu memancingku untuk berkata yang tak ingin kukatakan. Bukankah aku selalu ada untukmu? Kau bahkan terlalu cuek padaku seolah kau tidak menginginkanku.”


“Kai, kau membuatnya semakin runyam.”


“Itu berkat kau, Sky.”


“Baiklah, maafkan aku. Aku akan diam.”


Tidak perlu diperjelas suasana tentu bukan hanya tidak enak. Kupikir Kai akan datang mendekat seperti biasanya. Nyatanya, dia kembali fokus pada ponselnya.


Karena berada di tempatku, aku yang berkuasa melakukan apa yang kumau.


Bahkan ini hari sabtu. Biasanya Kai terlihat bersemangat. Datang padaku dan membangunkanku.


Menahan amarah membuatku lapar.


Sudah lama ia tidak berada di dapur setelah terlalu sering meluangkan waktu bersama Kai.


Sky berjalan ke dapur. Melihat stock bahan makanan yang ia punya. “Spaghetti?”


Ya.


Sementara Sky berada di dapur. Kai berbaring di sofa tengah berbicara dengan seseorang.


“Kau akan datang ke sini?” suara Kai terdengar nyaring.


Siapa yang akan ke sini?


Bukankah itu sama saja melangkai aku sebagai tuan rumah?


Bahkan dia tidak mengatakan apa pun padaku.


Apa itu…Rania?


Sepertinya iya, siapa lagi kalau bukan Rania.


“Siapa yang akan ke sini?” tidak tahan untuk tidak berbicara.


“Kau akan tahu nanti,” masih tidak menatap ke arahku.


“Sebenarnya…apa yang terjadi denganmu, Kai? Itu sangat terlihat dari sikapmu. Kau mengabaikanku.”


“Bukankah kau ingin diam?”


“Kau keterlaluan, Kai. Bahkan ini masih tempat tinggalku, kau tidak memberi tahuku siapa yang akan ke sini?”


“Rania.”


“Kau menjadikannya alasan lagi?”


“Bukankah kau pernah merasakan kehilangan dirimu sendiri? Seperti kau ingin kembali pada versi lamamu sebelum kau punya pacar.”


Apa ini?


Apa maksudnya?


Dia ingin hubungan ini berakhir?


“Apa maksudmu?”


“Tidakkah kau juga menginginkan itu? Kita selalu sama saja dan selelu seperti ini, Sky. Bukankah itu semakin membuatmu menjadi bosan?”


Bosan?


Apa maksudnya yang sebenarnya dibalik kata-kata yang Kai katakan?


“Bukankah kau juga yang seharusnya memperjelas apa maksud yang kau katakan? Kau ingin hubungan ini berakhir, Kai?”


Ting tong!


“Ah, itu dia.”


“Kai! Kita belum selesai bicara,” Kai buru-buru membukakan pintu.


Kai dan Rania…


Mereka masuk dengan bergandeng tangan. Bahkan Rania tidak menyapaku.


“Kau hantu, Sky.”


“Ini untuk kalian,” ucapku seperti pelayan di restaurant.


Aku kembali ke dapur untuk cuci piring. Melihat mereka menyantap makanan dengan menonton film seperti sepasang kekasih yang sesungguhnya tanpa mempedulikan kehadiranku.


Suara gemuruh perutku yang lapar semakin terdengar jelas. Sky memutuskan keluar untuk membeli makan cepat saji atau beberapa makanan yang ingin ia beli. Setidaknya itu yang ada dipikirannya.


Mereka juga tetap tak peduli dengan kepergianku.


“Kai, kau benar-benar gila. Kau serius melakukannya? Kau tidak lihat bagaimana raut wajahnya?”


“Kau tenang saja. Dia akan baik-baik saja.”


“Aku sudah memberimu peringatan, kau bisa saja kehilangannya di hari ini juga.”


“Tidak akan. Lalu kenapa kau setuju membantuku?”


“Entahlah.”


“Hei, kata-katamu itu jadi tidak berlalu karena aku bersedia membantuku.”


“Terserah kau, Kai.”


“Hahaha, apa aku barus saja mendengar sebuah kekalahan?”


Krek!


“Dia datang.”


“Ah, iya.”


Kai dan Rania sedang mengatur volume suara mereka, seolah mereka sedang bersenang-senang.


“Apa yang kalian lakukan?” Sky yang baru saja datang melihat Kai merangkul Rania seperti Kai melakukannya padanya.


Tidak ada yang menjawab.


“Hei, aku berbicara pada kalian. Apa yang kalian lakukan?”


Cup!


“Kai! Apa yang kau lakukan? Kau baru saja menciumnya? Bukankah itu sebuah ciuman? Kau menciumnya, Kai.”


Sky mendekat. Mengambil paksa remot yang berada di tangan Kai. Lalu mematikan TV.


“Hei, apa yang kau lakukan?” itu yang keluar dari mulut Kai.


“Hei, justru kau…apa yang kau lakukan? Kau juga, Rania…apa yang kau lakukan?”


Mereka saling berpelukan.


“Kalian bermain di belakangku dan menunjukkannya padaku? Jika itu benar, bukankah itu gila?” air mataku mulai menetes dan berubah Kai menatapku.


“Hahaha,” Kai dan Rania berseru senang dengan tawa mereka.


“Kalian menertawaiku karena aku menjadi lemah?”


Air mataku semakin menjadi-jadi. Tidak bisa terkontrol.


Rania terlihat bingung lalu menjauh dari Kai. “Eh, Sky. Bukan seperti itu. Mengapa jadi seperti ini?”


Kai mendekatiku. “Sky…”


“Aku sangaja melakukannya. Hanya mencobanya. Itu tidak benar-benar tenjadi. Hanya rekayasa. Itu semua ideku,” jelas Kai.


“Hahaha, haruskah aku tertawa seperti itu dan mengiyakan bahwa itu adalah sebuah lelucon yang kau buat?”


“Sky, aku tidak tahu kalau kau akan beraksi seperti ini. Maafkan aku, Sky.”


Kai mendekatiku tapi aku lebih memilih menjauh.


“Kumohon, lebih baik kalian pergi.”


“Sky…”


“Bukan seperti itu…”


Air mataku semakin mengalir. “Pergilah, kumohon!”


Suara pintu yang tertutup. Memecahkan tangisanku.


Segala pertanyaan yang menumpuk semakin membuat tangisanku tidak terkontrol.


Apa akan segera berakhir?


Mereka akan kembali bersama seperti sebelum-sebelumnya?


Ting tong!


Krek!


“Sky…”


Seseorang yang ia cari, tidak ada.


“Dia tidak ada dan meninggalkan ponselnya,” Kai menutup telepon.


Senin.


Selasa dan…


Keesokan harinya.


Tetap sama.


Tidak ada keberadaannya.


...***...