Suddenly

Suddenly
Undefined Feelings



“Apa yang kau lakukan selama dalam hubungan…yang sebenarnya belum berakhir?” suara Kai menggambarkan suasana yang tengah berlangsung. Suasana pagi hari yang terlalu dini.


Kai meneleponku di pukul 3 pagi.


“Tentu, itu tidak mudah dan kau masih bertanya?” Sky yang tampak heran dengan pertanyaan yang dilontarkan Kai.


“Kupikir kau akan menjadi biasa saja.”


“Hei, bukankah itu kau? Kau yang menghindariku, Kai. Kau juga yang menghilang.”


“Tidak, aku menjadi penguntit. Apa kau sadar itu?”


“Ah, kau mengikutiku? Aku tidak tahu karena terlalu sering melamun.”


“Kenapa kau selalu terbangun?” alarm Kai selelu berbunyi pukul 3 pagi dan juga selalu meneleponku. Terkadang aku ikut terbangun dan bisa juga tidak.


“Entahlah, tiba-tiba.”


“Ada apa? Ada yang mengganggu pikiranmu?” tanyaku. Suara Kai terdengar seperti itu.


“Bukankah aku terlalu jahat padamu?” Kai tiba-tiba berkata seperti itu.


“Hah, jahat? Kenapa kau jadi berpikir yang tidak-tidak? Hmm, tapi…”


“Wajar kau juga bisa berpikiran seperti itu dan kita baru saja kembali setelah…”


“1 atau hampir 2 bulan, bukan?”


“Lebih tepatnya 1 tahun, hahaha…”


“Begimu itu 1 tahun, Kai?”


“Ya.”


“Kau ingin tahu apa yang ada dipikiranku?”


“Ya, itu tujuanku karena akhir-akhir ini membuatku memiliki perasaan-perasaan aneh,” sahut Kai.


Perasaan-perasaan aneh…


Perasaan yang tak terdefinisi, bukankah seperti itu?


Perasaan yang tak terdefinisi tang membuat semua orang merasa bimbang dengan pilihannya.


“Mulai!”


Kai dan Green benar-benar sama gilanya.


Terlihat seperti orang yang benar-benar kelaparan.


Apa yang ada dipikiran mereka? Melihat makanan yang begitu banyak itu sudah cukup membuatku mual.


Rania tak berpaling pada Kai, seperti berharap kemenangan ada pada Kai dan ia yang akan dipilih.


Kupikir Kai akan mengajakku karena dia pasti tahu bahwa aku tidak sabar film itu release.


Mereka berencana menontonnya bersama?


Itu membuatku memiliki perasaan yang aneh tapi masih bisa terdefinisi, itu di antara sedih dan senang…sama halnya di kehidupan kesedihan dan kebahagiaan selalu beriringan.


Sedih, Kai justru mengajak Rania menonton bersama. Meski aku tidak tahu fakta yang sebenarnya tapi itu berhasil merasuk ke dalam pikiranku dan muncullah berbagai prasangkah.


Green memotong steak menjadi dua bagian saja dan melahapnya satu per satu.


Kai mencampurkan steak bersama denga spagetti dan melahapnya dengan mencoba membesarkan diameter mulutnya.


“Hei, kurasa kalian tidak perlu menghabiskan semuanya. Kalian akan sakit perut,” ucapku.


Mereka hanya menggelengkan kepala sementar Rania justru berkata, “Kau pikir Kai akan mengajakmu? Itu tiket milikku dan Kai.”


“Aku lebih mementingkan keadaan mereka dari pada tiket itu. Bisa menontonnya di lain hari,” balasku.


“Baiklah, dasar orang baik!” sahutnya.


“Orang baik?”


“Ya, bukankah mereka melabelimu seperti itu?”


“Ah, kau diam-diam memperhatikanku?” balasku.


“Aku?”


“Hei, kau bangga dengan sebutan itu?”


“Aku tidak pernah mendengarnya…atau jangan-jangan kau sendiri yang membuat sebutan itu?” rasanya ingin segera mengakhirinya tapi Rani terus memancingku untuk meresponnya.


“Selain kau yang terlalu percaya diri kau juga tidak tahu malu, kau pikir kau siapa?” ucapnya dengan sengaja menaikkan volume suaranya.


“Bukan siapa-siapa dan kau juga bukan temanku.”


“Kau juga bukan siapa-siapanya.”


“Kai maksudmu?”


“Sky yang akan menonton bersamaku.”


Pukul 5 pagi.


Kedua mataku terasa sedikit berat. Angin yang berembus sedikit demi sedikit membiusku. Membuat kedua mataku di antara terbuka dan tertutup. Tapi suaranya masih bisa kudengar.


“Aku menyesalinya…membiarkannya menyewa apartemen yang sebenarnya yang lebih dari apartemen yang sekarang.”


“Bukankah aku terlambat, Sky? Mengapa aku memutuskan untuk pindah? Mengapa semudah itu aku melakukannya?”


“Apa yang Green katakan padamu? Bukankah itu baru satu atau dua minggu?”


“Hmm, sebenarnya…”


Suasana menjadi berubah karena ucapan Kai.


“Dan kau senang mendengarnya?” Rania dengan tatapannya yang tajam dan beruntut dengan omelannya yang tak ada hentinya.


“Kenapa harus dia? Kau juga?” Rania menunjuk ke arah Green.


“Apa yang kalian darinya?”


“Kai! Kenapa kau justru bertingkah konyol dengan tiket yang seharusnya telah milikku?”


“Tiket itu milikku!”


“Hentikan permainan konyol ini!”


“Apa kau senang atau kau menjadi bingung karena ada dua pilihan di hadapanmu? Ah, tidak…bukankah aku salah menyebutnya?”


“Kai yang bersamaku jadi, dia milikku. Berhentilah mengganggu hubungan orang lain!”


Mengganggu hubungan orang lain?


“Mengganggu hubungan orang lain?” ucapku.


Kai menggelengkan kepalanya memberikan isyarat padaku.


“Tiket itu milikku! Bukankah kita telah sepakat, Kai?” ucapan Green yang membuat Rania kembali dengan energinya yang seolah tidak akan habis.


“Tiket itu milikku! Kai membelinya untukku. Bisa-bisanya kau mengatakan seperti itu. Kau bisa mengajaknya menonton tapi tiket ini tetap berlaku untukku.”


Semua karena tiket.


Perlombaan konyol demi sebuah tiket.


Aku sangat menginginkannya tapi tidak dengan cara seperti ini.


Kai membelinya untukku.


Kai membelinya untuk Rania.


“Hmm, sebenarnya…”


Kai membuatku penasaran dengan ucapanya. Karena suaranya juga yang membuatku bertanya-tanya.


“Apa yang ingin kau katakan?”


“Hmm…”


“Dia hanya memastikannya, apa dia akan melakukannya atau tidak. Seperti yang kubilang itu membuatku menyesal.”


“Aku tidak mengerti maksudmu, Kai.”


“Bolehkah melupakannya saja? Itu sama halnya dengan membicarakan kebodohanku yang hampir kehilangan kau karena memberikan kesempatan pada orang lain.”


“Kau meragukanku, Kai? Kau pikir semudah itu dengan waktu yang singkat aku bisa menjalin hubungan baru dengan orang yang berbeda?”


“Entahlah, itu yang ada dipikiranku saat itu.”


“Itu membuatku kecewa, Kai. Seperti bukan kau yang kutahu. Kalau kau mengatakan seperti itu, kau yang telah mengakhiri hubungan dan kita baru saja kembali dari hubungan yang sempat berakhir itu.”


“Bukankah kau pernah menyukainya?” Kai justru membahas persoalan masa lalu.


“Iya, tapi itu masa lalu.”


“Kenapa kau berhenti menyukainya?”


“Kau ingin aku tetap menyukainya, Kai?”


Adu mulut di antara Rania dan Green semakin sengit.


“Tiket itu milikku!”


“Itu milikku!”


“Hei, Kai yang memulai dan aku yang mendapatkan tiketnya.”


“Wah! Kau tidak bisa membaca suasana?”


“Hahaha, bukankah itu hanya kau yang mengenginginkannya? Sesuai ucapan Kai padamu.”


“Hei, apa kau sedang menghibur diri? Haha, bukankah itu menyakitkan? Green, kau bodoh!”


“Lalu kau apa?”


“Memaksakan kehendak seperti caramu memperlihatkan pada semua orang?”


“Tutup mulutmu!”


“Kau yang lebih pantas menutup mulut.”


“Tiket itu milikku!”


Suasana ramai menggambarkan betapa semua orang menginginkannya.


Seperti yang kukatakan. Saat ini aku berada di antara kesedihan dan kebahagiaan. Meski hanya terlihat begitu biasa saja.


“Kau baik-baik saja?” ucapnya yang sudah pasti menyadari dari raut wajahku.


“Iya, baik-baik saja. Apa itu membuatmu tidak nyaman?”


“Hmm, sedikit.”


“Tapi…”


“Kurasa aku…”


“Kau mau ke mana, Green? Sebentar lagi akan dimulai.”


...***...