
Happy Reading ☘️☘️
Jangan Lupa sama dia yah hehhe
"Nampaknya ada aroma-aroma kurang tidur dan kekesalan disini" sindir Andre asal sambil memejamkan matanya dan mengendus bau ala-ala paranormal. Jangan lupakan tangannya yang menggantung layaknya paranormal yang sedang merasakan sesuatu.
Yang disindir tidak merasa tersindir sama sekali karena dia lebih mementingkan rasa kantuknya dari pada membalas sindiran adiknya itu.
Gadis itu memilih duduk di kursi meja makan bergabung dengan keluarganya. Matanya benar-benar berat karena masih mengantuk.
"Yahhh dikacangin rasain Lo" ejek Andra pada Andre yang hanya dibalas dengan cibiran olehnya.
"Loh udah masuk kuliah Ra?, Masih lebaran ke-4 loh ini" Zainal bertanya karena melihat putrinya sudah rapi dengan baju khas kuliah.
"Kamu juga kelihatan kurang tidur begitu" lanjutnya.
"Humm,,, Aara udah mulai kuliah Pa hari ini, itupun baru dikabari tadi malam sambil dosennya ngasih tugas jadilah Aara bergadang semalam. Makanya bawaannya mau tidur aja soalnya kurang tidur Pa. Ihhh kesel banget Aara sama dosennya" Aara menjawab dengan nada jengkel sambil menyendokkan secentong nasi goreng ke dalam piringnya.
"Yahh,,, kasihan hari ini kan kita mau liburan, yang sekolah gak ikut deh" Andre kembali mencoba memanas-manasi Aara.
"Apasih ndre kita gak ada rencana mau liburan yah. Baru juga liburan lebaran kedua kemarin jangan usil deh" kali ini Lina menjawab keusilan anak bungsunya itu. Pasalnya lebaran kedua mereka liburan sekeluarga ke Aek Sijorni salah satu wisata pemandian yang ada di Sidempuan. Setelah liburan itu hari ke-3 lebaran kedua Tante beserta suami dan anak-anak mereka pulang ke rumah masing-masing itu sebabnya sekarang yang ada di meja makan hanya keluarga Aara dan neneknya saja.
"Mama gak seru ah, Andre cuma mau hibur Teti aja supaya tambah berat berangkat kuliah hehehe" dapat dilihat seberapa usilnya Andre kepada kakaknya.
"Gue gak perduli kali, gak mood juga pergi liburan. Aara udah slesai Aara berangkat yah Pa, Ma, Nek" katanya sambil menyalim tangan kedua orangtua dan neneknya.
"Loh loh, sarapannya belum habis kok udah berangkat aja sih Aara" neneknya bersuara.
Aara berdehem pelan "Aara udah telat nek!. Berangkat yah Assalamualaikum"
"Jangan naik motor! Naik angkot aja dulu kamu belum sadar sepenuhnya itu" Lina berteriak memperingati anaknya yang sudah mulai hilang dibalik pintu tapi dia masih melihat anggukan kepala dari putrinya itu.
"Gara-gara Lo nih! si Tet jadi bad mood, bibir Lo kayak cewek sih" Andra menyalahkan Andre.
"Gak denger gue" katanya sambil mengunyah makanannya santai.
"Kembaran rese Lo!"
"Masih gak denger"
"Sudah ah, malah ribut. Kamu juga Andre jangan kebiasaan Teti kamu jadi gak ngabisin sarapannya" Lina menasehati Andre.
"Hehehe, asik aja gitu gangguin Teti. Iya deh gak diulangi lagi kalo gak lupa" jawabnya sambil cengengesan.
"Kare utak memang!"
*Memang keras kepala*
Andra membalasnya dengan bahasa pesisir sangking kesalnya. Andre malah cekikikan karena merasa lucu mendengar Andra berbahasa pesisir, sebab mereka sangat jarang menggunakan bahasa itu paling kalo sudah sangat kesal atau marah.
"Lah marah, kayak cewek Lo"
Hosh hosh hosh
"Ya Allah capek juga ternyata, kantuk gue sampe ilang padahal ini mata tadi berat bener" Aara berhenti di tangga karena merasa ngos-ngosan sebab kelasnya berada di lantai tiga. Tentu saja fakultasnya ini tidak menggunakan lift bukan hanya fakultasnya saja sih semua fakultas di universitas tempat Aara kuliah tidak ada lift lebih tepatnya belum ada.
Brugh...
Aara memejamkan matanya kesal baru saja dia mengatur pernafasannya tiba-tiba seseorang menabraknya dari belakang membuatnya sedikit terhayung kedepan untung saja dia masih bisa menyeimbangkan tubuhnya sehingga tidak terjatuh.
"Jangan bilang jalan sempit yah, sengaja kan Lo nabrak gue!"
"Apaan, Lo berhenti di tengah jalan"
"Di tengah jalan mata Lo! Jelas-jelas gue di pinggir ini. Emang dasar lo nya aja yang suka cari gara-gara sama gue. Dasar makhluk astral!" Aara mengeram kesal. Siapa lagi pelakunya kalo bukan Yaritza Abigail Siregar laki-laki yang sangat senang mengganggu Aara.
"Pede banget Lo, lagian bentar lagi juga nyampe ngapain Lo segala berhenti. Ngalangin jalan aja" memang betul hanya terhitung tiga anak tangga lagi Aara sampai ke atas. Namun kalau sudah terasa capek sudah sampai di atas sekalipun, siapapun pasti bakal memilih berhenti sebentar apalagi kelas belum ramai.
"Serah Lo deh! masih pagi udah bikin bad mood aja. Minggir gue mau lewat!" Aara mengalah sambil berlalu tak lupa menyenggol bahu Abi kesal.
Abi hanya tersenyum tipis melihat tingkah Aara.
"Eh eh eh, pagi-pagi udah lemas aja Lo" Ela yang baru tiba heran melihat Aara tak biasanya pagi-pagi sudah meletakkan kepalanya di atas meja alias malas.
"Angkat kepala Lo aelah masih pagi juga. Lo kurang tidur ya? Tugas Lo udah slesai?" Ela mulai kesal karena Aara tak kunjung mengangkat kepalanya bahkan sekedar bergeming pun tidak. Akhirnya Ela memaksa Aara mengangkat kepalanya.
"Astagfirullah Elaaa, ganggu aja Lo ahk biarin gue bentar dosen juga belum datang. Iya, semalam gue bergadang ngerjain tugas baru tidur tengah dua pagi" jawabnya malas.
"Mata Lo dosen belum datang! Noh lihat ke depan Bu Marni udah datang. Lo gak lihat?!"
"Yaa mana gue tau tadikan gue tidur. Biasa aja dong! Eh makhluk astral mana? Tumben gak ganggu gue?" Tanyanya heran. Biasanya Abi akan terus mengganggunya apalagi melihat Aara bad mood pagi ini dan juga Aara tidak melihat dia duduk dekat pintu seperti biasanya.
"Tuh, di sudut, dekat dosen Uda keduluan dia sama si Ucup" jawab Ela
"Baiklah semuanya kumpulkan tugas yang telah ibu kirimkan tadi malam. Tidak ada alasan tidak selesai." Suara Bu Marni menghentikan obrolan Aara dan Ela. Mereka maju satu persatu menyerahkan tugas mereka pada dosen Retorika itu. Bu Marni terlihat awet muda padahal umurnya sudah hampir kepala 5, mungkin karena beliau yang fashionable dan pandai merias wajahnya, menyebabkan wajahnya terlihat cantik dan awe muda.
Aara berbalik hendak kembali ke tempat duduknya setelah mengantarkan tugasnya ke depan. Namun masih setengah jalan kakinya di tersandung oleh kaki seseorang tentunya dilakukan dengan sengaja. Siapa lagi kalau bukan manusia yang dipanggilnya makhluk astral.
"Anj– Astagfirullah, sebentar aja bisa gak sih Lo gak gangguin gue. Kambing emang!" Hampir saja Aara mengeluarkan kata kotor walaupun diakhir katanya tetap menyebutkan kata kasar. Siapa yang tidak kesal tiba-tiba kakinya dihadang dan hampir terjatuh ke lantai kalau saja dia tidak menyeimbangkan badannya.
"Ehh, mulut Lo yah makin lemes aja" Aara hanya menghiraukannya karena benar-benar kesal. Kalau saja di sinetron-sinetron kepala Aara akan mengeluarkan tanduk dan hidungnya akan mengeluarkan asap sangking kesalnya pagi ini.
"Apes banget gue pagi ini perasaan"
"Gak heran lagi sih gue sama kalian mudah-mudahan aja kalian jodoh" tentu saja Ela menyaksikan kejadian itu bahkan semua kawan-kawannya di kelas menyaksikannya namun tidak heran lagi dengan kelakuan mereka yang selalu bertengkar.
____________________
Terimakasih sudah baca cerita aku 💛💛
_TO BE CONTINUED_