Suddenly

Suddenly
The Day Our Eyes Met. Suddenly…



“Kau yakin mereka akan datang?”


“Ya,” Rania dengan sikapnya yang dingin.


“Sebenarnya aku tidak mengerti untuk apa kau…”


“Bukankah kau ingin merebutnya kembali?”


“Kau juga menyukainya?” Rania menepis tangan orang di hadapannya itu.


“Hei, bukankah kita saling bekerja sama?”


“Tidak. Kau beranggapan seperti itu? Haha…”


“Ah, ternyata kau…”


“Kau pikir aku tidak terlihat serius?” ucap Rania.


“Wah, kupikir kau sebaiknya lebih tenang.”


Rania tak menjawab dan fokus pada layar ponselnya.


“Hmm, apa kau tahu soal seseorang yang bernama Sky, apa kau tahu dia berada di mana? Kupikir dia juga berhak ada di sini.”


“Hah? Sky? Kau mencari seseorang bernama Sky? Wah, apa kau baik-baik saja? Kau benar-benar gila. Wah, haha…”


“Iya, kau tahu dia berada di mana?”


“Kau akan segera bertemu dengannya.”


“Benarkah?”


“Iya, kau akan bertemu dengannya.”


“Kau menge…”


“Stop! Tak bisakah kau diam sampai mereka datang?” potong Rania.


“Ah, baiklah.”


“Rania…”


“Kau!”


“Iya.”


“Wah, bukankah dia benar-benar gila?” ucap Rania lirih.


“Kau bilang apa?”


Rania hanya menatap ke arahnya sekali dan kembali fokus pada layar ponselnya.


30 menit berlalu.


Sky dan Kai baru berjalan dari apartemen.


“Bukankah kita terlalu kejam pada Rania? Dia pasti sudah gila berhadapan dengan orang gila,” ucap Sky.


“Ternyata kau tak sepenuhnya membencinya?”


“Aku tidak pernah membencinya.”


“Kau yakin?”


“Ya.”


“Haha, baiklah. Kau memang selalu seperti itu. Pantas aku…”


“Menyukaiku?”


“Tidak. Aku tidak mengatakan itu.”


“Tapi kau pasti akan mengatakannya.”


“Tidak juga.”


“Biar aku saja yang mengatakannya. Kai…”


“Tidak, biar aku saja yang mengatakannya.”


Kai berbisik di telingaku.


Membuatku tersenyum seolah baru pertama kali mendengarnya.


Aku tidak tahu, apa yang akan terjadi nanti.


Semua yang datang berasal dari masa lalu.


Kai menggenggam tangan erat. “Tidak apa.”


Rania dan orang itu juga sudah mengetahui kehadiranku.


“Hai, Jeff!” sapaku.


“Ada apa?” tanya Jeff.


Sky menggoyangkan ponselnya.


“Sesuatu terjadi.”—pesan Sky untuk Jeff.


“Aku akan mengawasi kalian.”—Jeff


“Terima kasih, Jeff.”—Sky


Rania berpindah duduk di sebelah orang aneh itu dan tersenyum padaku. Tentu, aku juga melakukan hal yang sama…tersenyum padanya.


Entahlah, apa Rania memang sengaja agar aku dan Kai tetap bisa duduk bersama atau?


“Hei, kalian sengaja datang terlambat?” ucap orang aneh itu.


“Sudah kubilang mereka ada urusan yang harus diselesaikan terlebih dahulu,” ucap Rania.


“Rania, kenapa kau membela mereka? Bukankah kau ada di pihakku?”


“Sudahlah, bukankah kau akan memulai? Kalau kau terus-menerus berbicara yang tidak penting itu akan menjadi sia-sia,” ucapku yang sedari tadi menahan geram dan ya, aku akan tahu apa yang akan keluar dari mulutnya saat aku ikut berbicara.


“Lebih baik kau diam saja,” balasnya.


Kai menepuk bahuku. “Bukankah kau ingin tertawa?” bisiknya.


“Anggap aku hantu,” bisikku dengan menahan tawa.


“Oke, Rania apa kau ingat aku?”


“Ya,” jawab Rania.


“Kenapa kau tidak ingat, Kai?”


“Karena memang kau tak pernah bertemu dengannya,” jawab Rania lagi.


Apa ini?


Wah!


Jadi?


“Sudah kubilang aku tidak pernah bertemu denganmu,” tegas Kai.


“Tidak mungkin. Kita pernah bertemu, Kai.”


“Apa kau tahu namanya, Kai?” tanya Rania.


“Tidak.”


“Tapi kau menyebut namaku, Tyana. Bagaimana kau bisa tahu?”


Orang aneh itu menatapku dengan tersenyum puas.


“Kau menyebut namanya, Kai?” tanya Rania.


“Bagaimana, kau juga mendengarnya, kan? Kai menyebutkan namaku,” orang aneh itu menunjuk ke arahku.


“Entahlah, tiba-tiba aku mengingat nama itu. Tapi sama sekali tidak ingat jika aku memang pernah bertemu dengannya.”


“Yang bertemu dengan Tyana adalah aku,” ucap Rania.


“Bagaimana dia tahu soal Kai dan…”


“Tapi…aku benar-benar bertemu dengannya. Bukan karena mendengar cerita dari Rania,” Tyana yang masih kekeh.


“Hei, kau juga berbohong…kau bilang kau hanya ingin aku untuk tahu namaku dan setelah itu, kau akan pergi. Sebenarnya apa tujuanmu?” ucap Kai.


“Sebentar…dia datang ke apartemenmu?” Rania yang tampak bingung.


“Iya, dia datang ke apartemenku di malam hari dan keesokan paginya.”


“Wah, kau gila, ya? Bagaimana kau bisa sampai di sana? Kau tahu itu, Sky?” Rania terlihat geram.


“Iya, aku bersamanya saat itu,” jawabku.


“Sky?” Tyana melihat ke arahku.


“Iya, kau bilang siapa orang itu…apa kau tahu seseorang yang bernama Sky? Iya, dia orangnya. Kau bodoh atau bagaimana? Sekarang kau tengah berada di hadapannya,” ucap Rania.


Tyana terdiam.


“Kau mencariku? Bukankah kita sudah bertemu di hari itu? Sebenarnya apa maumu?” Sky menggenggam tangan Kai.


“Kenapa orang itu kau? Kau benar-benar tidak pantas. Kukira seseorang bernama Sky adalah seseorang yang tak jauh beda dengan Rania.”


Maksudnya, aku tak sebaik Rania atau tak terlihat pantas bersanding dengan Kai?


“Mengapa aku menjadi tidak pantas bersama Kai? Ya, mungkin aku tak terlihat sebaik atau secantik sesuai yang kau ucapkan itu…tapi kenapa orang sepertiku menjadi…”


“Hei, apa kau buta? Kau tidak tahu apa-apa soal Sky. Hanya aku yang tahu dan kau tak punya hak untuk menilai seseorang yang kau sendiri tidak tahu apa-apa,” tegas Kai dengan menggenggam tanganku.


“Jangan bilang…kau menguntitnya?” Rania juga terlihat semakin geram.


“Haha, aku menguntitnya?”


“Bagaimana kau bisa tahu tempat tinggalku?” ucap Kai dengan menurunkan sedikit volume suaranya.


“Sudah kubilang, aku tahu. Kita pernah bertemu. Bagaimana kau bisa tahu namaku? Apa kau bisa menjawabnya?”


“Karena aku mengingatnya…”


Semua pandangan mengarah pada Kai.


“Temanku berkata, seseorang mencariku dan aku berusaha untuk mengingat namanya…seperti itu, Tyana.”


Rasanya seperti menahan napas sampai ke kerongkongan atau saat naik pesawat dan masih bertahan di atas lalu turun…rasanya seperti itu.


“Jangan lakukan itu, Tyana. Bisa membahayakan dirimu sendiri terutama di malam hari. Jangan lalukan itu juga pada Sky.”


Padaku, maksudnya?


“Kau juga menguntitnya?” Rania yang tampak kaget.


“Apa maksudmu, aku tidak mengerti?” ucap Tyana.


“Hei, kau perlu menyadari dirumu sendiri dengan apa yang kau lalukan.”


“Iya, di juga menguntitmu, Sky. Mungkin karena kau terlihat bersamaku,” ucap Kai.


“Wah, kau gila, ya. Untuk apa kau melakukannya? Apa kau tahu, Kai menuduhku karena itu…ternyata kau yang melakukannya.”


“Jadi, yang kau maksud…orang suruhan Rania?” bisikku pada Kai.


“Iya, maafkan aku tidak mengatakannya lebih awal,” bisiknya.


“Aku melakukannya demi diriku sendiri,” ucap Tyana.


“Kau menyukai, Kai?” ucap Rania to the point.


“Tidak.”


“Ah, aku baru sadar akan itu dan semua yang kau lakukan.”


“Dari dulu kau tidak pernah tulus berteman denganku, kau ingin sepertiku. Mendengar ceritaku soal Kai. Kau ingin menjadi aku yang dengan Kai. Kau pasti diam-diam di masa lalu mengikuti Kai.”


“Dan sekarang kau melakukan hal yang sama,” lanjut Rania.


“Kau tidak tahu apa-apa, Rania. Bahkan, kau juga tidak terlihat tulus berteman denganku.”


“Hei, pada awalnya aku menganggapmu teman tapi setelah tahu apa yang kau lakukan kupikir tidak ada alasan lain selain melupakanmu dan kau tiba-tiba datang padaku dengan situasi seperti ini,” terang Rania.


“Aku tidak menyesal telah melakukan apa yang kuinginkan. Aku telah melakukan dengan benar.”


“Kau tidak pantas bersamanya,” lanjut Tyana dengan menunjuk ke arah Sky.


Tyana meninggalkan tempat tanpa berkata-kata lagi.


“Hai, Sky!” ucap Rania padaku.


“Hai, Rania!”


“Haha, ada apa dengan kalian? Kalian sedang berbaikan?” ucap Kai.


“Hmm, entahlah. Apa kita sebelumnya bermusuhan, Rania?”


“Hmm, entahlah.”


Jeff bergabung dan berkenalan dengan Rania.


“Jeff…”


“Rania…”


Tapi…


Masih ada yang mengganjal di benakku.


20 Juni, apa yang terjadi?


Tyana juga membahas tentang 20 Juni.


“Kai,” bisikku.


“Iya?”


“Kau belum mengingatnya…soal 20 Juni itu?”


“Kau mau tahu, Sky?”


“Hei, kenapa kau jadi penuh rahasia?”


“Kau penasaran, kan?”


Jeff dan Rania terlihat saling berinteraksi.


“Iya, tapi itu membuatku takut jika itu mencengangkan.”


“Haha, kau berlebihan tapi bagaimana aku mengatakannya…yang pasti itu masa lalu.”


“Apa yang terjadi?”


“Setiap tanggal 20 Juni selalu ada yang tiba-tiba memberiku sebuah paket. Entah itu dari Tyana atau bukan, aku tidak tahu.”


“Kenapa kau tidak membahasnya tadi?” Sky yang tampak heran.


“Bagiku tidak perlu karena aku ingin semuanya berakhir.”


“Apakah hari ini akan ada paket?”


“Sepertinya tidak, Sky. Ya, kurasa tidak akan ada lagi. Maafkan aku, menyimpannya sendirian karena terlalu memikirkannya dan apa kau sama sepertiku?”


“Ah, kau takut akan menyentuh orang-orang yang ada di sampingmu?”


“Ya, bagaimana kau bisa tahu? Itu yang kupikirkan sekarang…aku takut jika terjadi sesuatu padamu, keluargaku, dan mungkin Rania.”


“Hmm, waktu itu kau pindah karena itu?” tebak Sky.


“Ya, kau benar.”


“Wah, kenapa itu membuatku sedikit takut?”


“Kalau kau menemukan sesuatu yang aneh, cepat katakan padaku, oke?”


“Iya, Kai.”


...***...