Suddenly

Suddenly
Fall in love with it…



Kalau tidak ada agenda perkemahan ini, kurasa aku akan kebih gila. Menghabiskan waktu yang akan berjalan lebih lama—saat seperti ini terjadi.


Meski aku terlihat bersenang-senang dengan suara tawaku yang benar-benar membuat para anggota club terus memberikan peringatan karena suara tawaku yang tak terkontrol, bukan berarti aku tidak memikirkan apa yang terjadi padaku.


Sesekali terbesit seolah tengah mengingatkanku bahwa aku masih punya sesuatu yang menganjal.


Membawa ponsel di tempat seperti ini juga menjadi percuma dan itu cukup membantuku. Setidaknya tidak melihat jejak-jejak Kai menghubungiku.


“Hei, apa yang kau pikirkan?”


“Hei, kau hampir membuatnya berserakan,” Renren sengaja menabrakku dari belakang.


“Kau berlebihan,” ucapnya.


“Bukannya membantuku, kau tidak lihat apa yang kubawa?”


“Kau tidak selemah itu.”


“Hei, aku hanya mengandalkan satu tanganku saja. Wah, kau benar-benar, ya.”


“Hahaha, kau bisa melakukannya.”


“Ren…”


“Kenapa? Sudah kubilang bersenang-senanglah.”


“Ya, aku baru saja memikirkannya…setidaknya aku tidak perlu menghubunginya tapi sesekali juga mengganggu pikiranku.”


“Anggap saja di tidak ada. Kau tahu, kan? Seseorang di samping kita saat ini…tidak akan selalu atau tetap bersamamu.”


“Kau masih sama, Renren. Kehilangan seseorang membuatmu merubah pola pikirmu.”


“Hahaha, suaramu memanggilku dengan nama itu terasa canggung. Setidaknya itu caraku untuk bertahan hidup.”


“Iya, itu aneh. Baiklah, kau tetap Ren tapi kau bukan penguntit.”


“Hei, itu membuatku kesal kenapa penguntit itu harus punya nama yang sama denganku?”


“Hei, teman-teman! Mulai hari ini panggil ketua kita ini menjadi Ren kembali,” teriak Sky.


“Akhirnya…baru kusadari beberapa hari yang lalu rasanya aneh memanggilnya dengan nama itu.”


“Iya, benar-benar aneh.”


“Itu membuatku kesal mengapa orang sialan itu harus punya nama yang sama dengan ketua kita yang baik hati ini, hahaha…”


“Hei, hentikan bualan kalian! Ketua yang baik hati?”


“Seharusnya aku berterima kasih, bukankah kalian selalu mencoba untuk menyesuaikan apa yang terjadi padaku?” Sky menundukkan kepala.


“Hei, kau tidak akan menangis lagi, kan?”


“Berbahagialah, kau juga harus mencoba untuk bahagia.”


“Kami di sini bukan untuk mencoba untuk menyesuaikan keadaan yang ada padamu. Hanya saja kau tidak pernah pandang bulu, Sky.”


“Dan itulah mengapa semua orang ingin kau juga memikirkan dirimu sendiri sebelum orang lain.”


“Dengan cara ini, setidaknya kau bisa lebih menyayangi dirimu sendiri.”


“Whoaa! Bolehkah aku pergi sebentar sendiri? Aku tidak ingin kalian melihatku…”


“Hahaha, kau ingin menangis lagi?”


“Iya,” Sky menutup kedua matanya dengan satu tangannya.


Para anggota clubnya saling mengelilinginya. “Menangislah,” ucap mereka dengan bersorak lalu sekejap menjadi hening dan hanya terdengar suara Sky yang menangis.


Kai, apa kau juga bersenang-senang bersama Rania? Isi kepalaku mengatakannya berulang kali dengan ilustrasi wajah Kai dan Rania yang terlihat seperti pasangan yang seharusnya merayakan ulang tahun.


“Kalian benar tidak berpacaran?” ucap Ibu Rania yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik di antara Kai dan Rania.


“Tidak,” jawab Kai dan Rania kompak.


“Kalian payah dalam berbohong. Kalian pacaran, kan?” Ibu Rania yang masih kekeh.


“Tidak, Bu.”


“Benarkah, Kai? Apa Rania tak cukup membuatmu jatuh cinta?”


“Rania punya banyak laki-laki yang jatuh cinta padanya,” jawab Kai.


“Hei, kau bicara apa? Kau ingin Ibuku berpikir macam-macam padaku?”


“Lantas mengapa kau tidak jatuh cinta padanya, Kai?”


Ini adalah sebuah perayaan ulang tahun, mengapa aku harus menjawab pertanyaan di luar konteks ini?


“Kai…orang itu sudah ada yang punya, Bu.”


“Masih pacar, kan?” Ibu Rania tersenyum lebar dengan sorot matanya yang tajam. Sorot mata itu juga ada pada Rania.


Apa yang Sky lakukan sekarang? Apa dia sedang bersenang-senang? Apa dia juga memikirkanku seperti aku memikirkannya?


“Kai dan aku akan tetap seperti dulu dan sekarang. Bukankah begitu, Kai?” Rania mengedipkan matanya.


“Kau tahu siapa pacarnya?” Ibu Rania masih belum puas bertanya.


“Dia membuatku kagum, Bu. Pantas seorang Kai yang payah soal cinta benar-benar menyukainya dan membuat Kai sedikit naik level meski masih payah.”


“Hei, kau mengatakan aku payah tapi kau sendiri tak bisa menentukan pilihan untukmu sendiri. Jadi, aku sedikit lebih baik darimu.”


“Karena kau menolakku, Kai.”


Seketika suasana berubah. Sorot mata Ibu Rania mengawasiku. “Ah, anak Ibu ternyata di tolak dan hubungan kalian masih saja seperti ini?”


“Sudah kubilang aku dan Kai akan selalu seperti ini, Bu.”


“Iya, Rania dan Kai selalu seperti itu, Bu.”


“Kau masih memanggilku, Ibu?” Ibu Rania menunjuk ke arahku.


“Hei, Bu! Kai sudah lama memanggil dengan sebutan itu. Bukankah Ibu lebih menyayangi Kai dari pada aku yang bahkan anak Ibu yang sebenarnya?”


“Maafkan aku, Bu. Memang seperti itu kenyataannya,” ucapku.


Kai mengangguk. “Sangat.”


“Kau yakin, Kai? Yakin Rania tak akan membuatmu goyah?”


Goyah?


“Bu! Mengapa mengatakan hal yang tidak-tidak pada Kai?” Rania mengandeng tanganku dan beranjak dari tempat duduk.


“Pergilah dan bersenang-senang,” ucap Ibunya.


Kai melepas genggeman tangan Rania. Memeluk Ibu Rania dan berjalan keluar. “Hei, kita akan ke mana?” ucap Rania yang mengekor di belakang Kai.


“Kau ingin ke mana?”


“Entahlah, tapi pikiranmu tidak ada di sini…hanya ragamu yang berada bersamaku,” ucap Rania.


Kai terdiam seperti membenarkan ucapan Rania.


“Maafkan aku, membuatmu harus meluangkan waktu untukku.”


“Hei, bukankah aku selalu menepati janjiku?”


“Ah, kau datang untuk menepati janjimu saja bukan karena aku?”


“Karena kau juga.”


“Baiklah, kau harus bersenang-senang denganku hari ini.”


“Oke, kau mau ke mana?”


“Menonton film dan makan malam,” Rania berseru senang.


“Baiklah, itu yang kau inginkan sebagai hadiah ulang tahunmu dariku?”


“Ya, kau juga…,” suara Rania lirih.


“Apa? Kau bilang apa?”


“Tidak,” Rania mengelak.


Hari semakin malam, sementara Kai dan Rania meluangkan waktu bersama. Sky bersama anggota club menghabiskan malam mereka sebelum perkemahan berakhir.


“Apa kau pernah menyukai seseorang hinga sampai hari ini, Pak Ketua?”


Setiap orang memberi pertanyaan bebas pada siapa pun. Itu permainannya.


“Ada, tapi sayangnya aku selalu menyukai seseorang yang telah memiliki pacar.”


“Wah!”


Apa yang kau lakukan, Pak ketua?” tanya Sky.


“Hmm, mencoba untuk menyatakan perasaanku. Tapi jika orang yang kusuka itu benar-benar menyukai pasangannya, aku akan berhenti menyukainya meski memerlukan waktu.”


“Kan, masih pacar, Pak Ketua. Benar tidak, teman-teman?” Kiya bersorak dan membuat semua orang juga bersorak.


Tidak hanya Ren yang pernah satu sekolah denganku tapi Kiya juga.


“Sky…”


“Iya?”


“Tidak apa, tanyakan tentang apa pun padaku.”


“Bagaimana kau bisa menyukainya?”


“Bagaimana kau bisa menyukai, Kai?”


“Hmm, menyukai Kai?”


“Menyukai Kai sama saja masuk ke dalam kadang harimau atau semacam itu. Tapi bukankah hati dan pikiran yang sudah saling bersatu tidak bisa dipungkiri untuk mengelak perasaan yang kita miliki?”


“Whoaa!”


“Kau benar-benar menyukainya.”


“Dari hati, kau benar-benar menyukainya seperti itu.”


“Iya, Kai benar-benar populer. Wajar kau mengatakannya seperti itu.”


“Tapi kau juga sama berharganya sama sepertinya. Bukan siapa yang harus sepadan dengannya tapi siapa yang telah memikat hatinya.”


“Hei, kau dapat dari mana kata-kata itu? Hahaha…”


“Kata-kata Joes memang selalu membuat kita berkaca tapi sayang dia selalu tersakiti.”


“Hei, kau mengejekku? Mereka yang menolakkku benar-benar tidak tahu kalau aku semenarik ini,” ucap Joes dengan berseru senang.


“Hentikan! Kurasa itu yang membuat mereka menolakmu.”


“Aku menyukaimu, Sky.”


Tiba-tiba…


Semua orang saling tatap-menatap ke arah yang sama.


Seketika suasana menjadi hening.


“Kai…”


“Iya?”


“Aku tidak bisa lagi berpura-pura.”


“Kau harus menghabiskan makananmu,” Kai seperti mengerti apa yang akan Rania ucapkan.


“Aku menyukaimu, Kai.”


“Benar-benar, menyukaimu.”


...***...