
Telingaku tidak salah mendengar.
Bell terus berbunyi, tapi aku begitu malas untuk beranjak dari tempat tidurku.
Aku pun tidak punya ekspetasi apa pun, sama seperti tahun lalu.
Tapi tahun lalu…
“Itu Kai.”
Tidak ada orang lain selain Kai, pintu itu miliknya.
Kai menyadari tatapanku ke arahnya yang masih berlindung di balik selimut.
“Aku menyerah, apa kau juga?” ucapnya yang tengah duduk di dekatku.
“Kau bukan, Kai.”
“Benarkah?”
“Iya, kau bau…”
“Bau seseorang yang menempel di tubuhmu.”
“Sebenarnya…”
“Kau begitu merindukanku?” potong Sky.
“Tidak usah di tanya.”
Sky menepis tangan Kai, “Aku tidak suka baunya.”
“1 jam lagi tahun baru,” ucap Kai.
“Iya, lalu?”
“Aku tidak mau mandi semalam ini.”
“Kurasa kau memiliki aroma yang sama seperti tahun baru tahun lalu.”
“Sky, kau bukan ingin memojokkanku, kan?”
“Tergantung bagaimana kau menangkap ucapanku,” Sky membalikkan badannya dan menenggelamkan dirinya di balik selimut sampai tak terlihat.
“Kau akan seperti ini di malam tahun baru?”
“Memang selalu seperti ini,” jawabku.
“Sky, maafkan aku tapi…baiklah.”
“Aku akan kembali,” suara pintu yang kembali tertutup.
Sky membalikkan badan dan melihat ke arah pintu. Tatapannya sama seperti apa yang ia pikirkan.
Tapi tak lama suara pintu kembali terdengar. Kai hanya berlalu beberapa menit yang lalu. Senyumannya yang lembar membawa kursi malas yang Kai letakkan di samping tempat tidurku dengan menyisakan sedikit jarak.
Tidak hanya itu saja, ia juga membawa banyak makanan. Bahkan satu kotak ice cream dengan 3 macam rasa.
Kai memasang proyektor tepat hadapan jarak pandang. “Kau mau menontonnya?” Kai mengusang keningku lalu mengecupnya.
Sky mengangguk.
Satu kantong penuh di letakkan di sampingku. Kai juga punya kantong lain di sampingnya. Kotak ice cream berada di antara aku dan Kai dengan dua sendok yang besar.
“Kau terlihat seperti orang lain,” ucap Kai yang tengah berbaring dengan berlindung di balik selimut.
“Entahlah, kurasa kau dan aku tidak seperti biasanya. Apa kau ingin mengatakan sesuatu?” sahutku.
“Bagaimana kau tahu kalau aku akan mengatakan sesuatu?”
“Itu terlihat dari mulutmu, aku ingin berbicara.”
“Hei, apa kau sedang bercanda? Itu karena aku sedang berbicara.”
“Kau masih bau aromanya.”
“Apa kau begitu membencinya?”
“Kurasa itu akan terjadi,” jawab Sky dengan satu suap ice cream.
“Hm, enak.”
“Kau menyukainya?” tangan kiri Kai berada di kepalaku.
“Ya.”
“Bagaimana denganku?”
“Tidak,” jawabku.
“Karena aromanya?”
Terdengar suara gemuruh kembang api yang seketika membuatku bangun dengan membuka gorden dan memandang kembang api yang tengah menghiasi langit di tengah malam.
“Selamat tahun baru,” suaranya lirih.
“Aku telah…”
Sky menoleh ke arah Kai. Laki-laki itu tertidur dengan mulutnya yang masih bersuara, seolah mengigau.
“Menciumnya.”
“Tapi…”
“Dia yang…”
“Melakukannya.”
“Selamat tahun baru, Kai.”
Keesokan harinya seperti tidak terjadi apa-apa. Kai pun tidak menyadari itu. “Kau sudah bangun?” suaranya menyapaku.
“Hm.”
“Kau pasti marah karena tidur lebih dulu lalu menandingkannya dengan apa yang terjadi di masa lalu.”
“Hei, kenapa kau jadi tidak percaya diri, Kai? Itu masa lalu. Aku tidak lagi memikirkannya walau tak sepenuhnya, haha…”
“Hei, tawamu membuatku semakin dirundung rasa bersalah.”
“Baguslah kalau kau merasa seperti itu tapi setelah itu lupakan.”
“Kemarilah…”
“Tidak mau! Kau masih bau.”
“Hahaha, baiklah…”
“Aku akan menghilangkan aroma itu,” lanjutnya. Kai mengecup keningku sebelum berlalu.
1 Januari, pukul 2 siang.
Tapi tak lama Rania datang ingin berbicara pada Kai.
Awalnya Kai menolak tapi melihat Rania yang selalu bersikap berlebihan membuat Kai harus mengakhirinya.
Kupikir mereka akan pergi ke tempat lain yang jauh dari penglihatanku.
Ternyata mereka melakukannya lagi seperti sebelumnya. Berada di tempat umum yang menghadap ke arah balkon di mana aku bisa mengawasinya.
“Aku akan menyusulmu,” ucap Kai dengan melepas genggaman tangannya.
Rania tersenyum puas seolah Kai telah memilihnya dan aku kalah telak darinya meski aku tidak menganggap seperti itu.
Berlangsung begitu lama.
Membuat pemandangan itu tak lagi menarik atau membuatku bertanya-tanya.
Kedua mata sudah berpaling.
Mulutku juga ingin bersuara, mengatakan yang sebenarnya.
Jemari tanganku dengan sengaja mengambil ponsel dan menghubunginya tanpa bersuara lalu mematikannya begitu cepat saat Kai mulai mengangkatnya.
Pandanganku mengarah pada luar, mereka masih saling berbicara.
Rania menggenggam tangan Kai yang langsung ditepisnya.
“Kurasa…”
“Mereka benar-benar berakhir.”
“Tapi tidak tahu lagi.”
“Akan berlaku selamanya atau tidak.”
Kai berjalan meninggalkannya. Rania menyadari tatapanku yang mengawasinya. Tatapannya tajam meski dari kejauhan.
Ponselku berdering.
Ada garis senyuman di wajahku, begitu juga dengan Rania.
“Apa kau puas?” suara Rania di seberang sana.
“Apa yang kau bicarakan?” jawabku.
“Apa kau akan terus dalam kepura-puraan? Kupikir aku tidak tahu, Rania.”
“Hahaha, apa maksudmu?” ucapnya.
“20 Juni. Itu kau, kan?”
Tut…tut…tut…
Aku mematikannya dengan mengangkat ponselku di atas kepala dan tersenyum pada Rania lalu melambaikan tangan kananku dan menutup pintu balkon.
Suara Kai yang memanggilku menandakan akan semakin mendekat.
“Hari ini,” suaraku lirih.
Kai menghampiriku dan memelukku.
Pelukannya seolah menggambarkan…
Rania…
Seseorang yang tak mudah ia lupakan.
“Kau baik-baik saja?” ucapku dengan jemari tanganku yang mengusap-usap helai rambutnya yang jauh lebih panjang dari sebelumnya.
“Ya,” suaranya benar-benar lirih.
“Apa yang terjadi?”
“Sudah berakhir,” Kai melepas melukannya dan menatap ke dua mataku secara bergantian.
“Kau telah menciumnya,” ucapku tanpa basa-basi.
Kedua matanya melebar. Kedua tangannya sepontan menggenggam tanganku dengan begitu erat.
“Itu sebuah kesalahan, Sky.”
“Bagaimana aku bisa tahu kalau itu sebuah kesalahan? Apa kau merekamnya?”
“Itu sebuah kesalahan, dia yang melakukannya.”
“Kau terlambat mengatakannya meski aku mendengar semuanya saat kau berbicara dalam keadaan tertidur.”
Aku melepas genggaman tangan itu.
“Sky, itu sebuah kesalahan.”
“Semua yang terjadi apa akan berakhir, Kai? Rania? Apa kau tidak lelah? Kau dan aku semakin kehilangan arah. Kau juga merasakannya, Kai.”
“Kau selalu bilang bahwa perasaan yang kau punya akan sama…”
“Itu hanya aku saja, kau tidak Kai. Bahkan sekarang kau berat melepasnya, apa aku tidak salah?”
“Sky, kita bisa memulainya kembali…itu hanya sebuah kesalahan yang tidak berarti apa-apa. Apa yang kau pikirkan tidak seperti apa yang kau bayangkan.”
“Kai, apa kau tidak lelah?”
“Tidak. Sky, kumohon!”
“Aku juga tidak pantas untuk marah. Kesalahan yang kau katakan itu juga terjadi padaku…”
“Dengan Green.”
Kai menatap kedua mataku dengan sorot matanya yang tajam.
Jarak di antara aku dan Kai semakin masuk ke dalam ruang kosong.
“Sekarang kau merasakan apa yang kurasakan, Kai. Sama-sama terjadi.”
“Baiklah…”
Kai melangkah mundur dengan tatapannya yang mulai berlalu, semakin berlalu, dan benar-benar berlalu.
Masa lalu yang bertemu kembali.
Menjalin pada kehidupan yang masih berjalan dan…
Masa lalu itu kembali dengan jalan masing-masing.
Mengubur masa lalu yang tak mungkin terulang kembali.
...***...
Bersambung…