Suddenly

Suddenly
Sick in Love



“Hmm?”


Tangannya beraba-raba menyalakan lampu tidur. Jam analog di dekat lampu tidurnya menunjukkan pukul 2 pagi.


Jari tangannya menyalakan speaker dan menaruh ponselnya di sisi kanannya.


“Sky? Haha, kau pasti masih tidur.”


“Hmm?”


“Haha, tidurlah…”


“Bye, Green!”


Perbedaan waktu di antara aku dan Green berjarak 6 jam. Orang itu sudah pasti tahu waktunya selalu tidak tepat tapi Green tetap saja menghungiku di waktu-waktu itu.


Terkadang aku mendengarnya bercerita sedangkan aku berada di antara sadar dan tidak sadar. Terkadang juga sama-sama saling berbicara satu sama lain tapi juga keadaan aku dan Green.


Kedua matanya tidak bisa kembali terlelap. Apa lagi kalau bukan soal pikirannya. Pikiran yang tak pernah usai karena tak tahu bagaimana cara untuk mengakhirinya.


“Tapi mengapa kau terlihat bingung, Kai?”


Kai terdiam dengan tatapannya padaku.


“Kau terlihat bingung, Kai. Apa yang ada padamu sebenarnya?”


“Kai!”


“Mungkin kau benar tapi tidak seperti yang kau ucapkan.”


“Aku tidak mungkin menyukainya, Sky. Semua sudah jelas aku tidak mungkin menyukai Rania. Aku hanya merasa bingung apa kita sudah melakukannya dengan benar tentang hubungan ini?”


“Kai, aku tidak pernah tahu kalau kita akan tinggal bersebelahan. Yang kau maksud soal kita yang cenderung sering bertemu…itu maksudmu?”


“Iya, tapi aku tidak tahu…”


“Baiklah, semoga itu menjadi jawaban untukmu.”


Kai pergi diikuti dengan suara pintu yang telah tertutup.


Semua orang bisa datang dan pergi semaunya tanpa diminta atau tidak. Datang untuk kembali pun sama.


Lalu apa yang membuatnya berbeda?


“Orang-orang yang berlalu-lalang yang silir berganti,” Sky duduk menghadap pusat kota dengan keramaian yang ada dengan mengamati banyak orang yang berlalu-lalang.


Ia tahu ponselnye terus bergetar di dalam saku hoodienya. Lamunannya semakin dalam seperti telah kehilangan arah karena jiwanya telah tenggelam.


Mengapa waktu cepat berlalu?


Apa akhir-akhir ini aku sedang kembali bertaut dengan waktu…karena itu waktu tengah mengejarku?


Semakin ingin kembali ke masa lalu dan menyesali apa yang telah terjadi. Waktu membawaku pada perasaan itu.


“Kau tidak mengangkatnya?”


Sumber suara itu menghentikan lamunanku. Senyumannya sudah lama tak terekam diingatanku. Jemari tangannya menyapa dengan sentuhan lembut di rambutku lalu mengacak-acaknya. Duduk bersebelahan denganku dengan tatapannya yang seolah memberi tahu bahwa akan banyak kata-kata yang akan keluar dari mulutnya.


Ken seperti pahlawan kesiangan yang tiba-tiba datang atau seperti tamu yang tiba-tiba datang tak di undang. Selalu muncul tiba-tiba setelah tidak saling bertemu cukup lama dan anehnya di saat—tidak bisa memberi penjelasan. Ken akan tiba-tiba datang di saat-saat itu.


“Ah, kau rupanya?” ponsel yang telah berada di gengamanku membenarkannya. Ken meneleponku sebanyak 10 kali. Mengingatkanku di kala itu.


“Mengingatku juga,” ucapnya.


“Kau kebetulan melihatku atau kau?” ucapku dengan mendongakkan kepala karena Ken memberikan tempat duduknya untuk pria paruh baya.


“Apa kau selalu berjalan seperti itu? Kau ingin kehilangan nyawamu dengan kesembronoanmu itu?”


“Berhentilah mengikutiku! Kenapa kau selalu dikelilingi oleh para penguntit?” tatapan Sky menjadi kosong.


“Kau sedang menjadi hubungan dengan seorang penguntit, kau tidak ingat itu?”


“Seorang penguntit? Dia…”


Ken menatap ke arah Sky. Meraih jemari tangannya. Tubuhnya seperti dibawah terbang oleh angin yang mengayun-ayun. Langkah kakinya juga menjadi lebih ringan. Rambutnya pun berterbangan bersama angin yang berembus.


Tubuhnya juga hangat di udara sore yang sejuk meski polusi berterbangan di udara. Tangannya ikut mengayun-ayun di atas kepalanya.


Senyumannya merekah bersama dengan langit yang seolah menjadi dirinya sendiri.


Meski itu hanya sesaat.


Cinta?


Ada rasa sakit yang tidak mudah untuk dijelaskan.


Meski tahu itu apa namun terasa sulit untuk diutarakan.


Membuatnya semakin kalut dalam perasaan-perasaan yang tak terdefinisi atau perasaan yang entah silit berganti dan berubah-ubat seperti pikiran atau pun hati. Bukankah aku sedang membicarakan yang diberi kehidupan? ‘Manusia’.


“Bagaimana perasaanmu?” tanyanya dengan langkah kakinya yang masih bertahan.


“Kau sedang menghiburku?” jawabku di balik punggungnya.


“Kau kehilangan berat badanmu?”


“Kau sedang membual? Turunkan aku!”


“Tidak, biarkan seperti ini sampai kau benar-benar ingin berhenti.”


“Kau yakin, Ken?”


Ken mempercepat langkah kakinya seolah tidak ada beban. Mengapa aku semakin dirundung rasa bersalah yang begitu besar? Bukankah selama ini Kenlah yang sebenarnya selalu ada untuknya? Hanya saja…


“Ken…”


“Ken, apa kau…”


“Masih…”


“Masih menyukaiku?”


Langkah kakinya tak berhenti. Pusat kota yang dipenuhi dengan suara-suara keramaian seolah terasa senyap.


Langit yang tampak cerah sebelumnya, telah berganti dengan langit berwarna kelabu yang menandakan waktu akan menjadi lebih cepat.


Tinggal beberapa bulan lagi akan menjadi tahun yang baru. Sungguh cepat berlalu tapi mengapa terasa baru saja terjadi?


Apa yang akan terjadi nanti?


Banyak timbul pertanyaan yang semuanya belum tentu menemukan jawabannya atau memang tidak perlu menunggu sebuah jawaban.


Keinginan pasti ada meski tahu tidak semuanya berjalan sesuai denga apa yang kita mau. Begitu juga soal hubungan.


Berani bertaut dengan ‘Cinta’ yang bukan hanya soal berpasangan tapi juga dengan dalam bentuk cinta yang lainnya­—akan menyentuh rasa sakit dalam suasana apa pun. Sekali pun itu menyakitkan cinta itu masih ada dan itu membingungkan. Benar-benar aneh, apa maksudnya?


Karena cinta bukan hanya soal manisnya tapi pahit pun juga bisa menjadi cinta.


“Apa lamunanmu sudah selesai?” Ken berada di hadapanku dengan posisi mukanya yang sejajar denganku.


Kedua mataku berkedip beberapa saat. Menatap Ken lalu berpaling dengan langkah kakiku yang melangkah mundur.


“Kau masih punya perasaan itu, Ken?”


Ken juga melangkah mundur dengan senyumannya yang masih menghiasi wajahnya. “Apa aku terlalu kentara? Sejak kapan kau tahu?” ucapnya dengan sikapnya yang tenang.


“Kau tahu jawabannya, Ken.”


“Tapi kau tetap mencurigaiku.”


“Maafkan aku, Ken. Kau menghindariku bukan hanya itu saja, kan?”


“Apa yang kau tahu?” Ken justru berusaha membuatku berbicara banyak setelah telingaku sepenuhnya mendengar suaranya bercerita tentang banyak hal yang membuatku dirundung dengan perasaan yang tidak hanya mengarah padanya.


“Kau ingin mengakhirinya. Tidak ada yang salah dengan perasaan yang ada padamu. Kau juga tidak perlu cepat-cepat mengakhirinya, Ken. Apakah Ren juga merasakan hal yang sama denganmu?”


“Benarkah aku tak perlu cepat-cepat mengakhirinya? Kau yang akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu yang mungkin bisa terjadi?”


“Ren hanya perlu waktu,” Ken melanjutkan ucapannya.


“Apa semua orang selalu bertaut dengan waktu, Ken? Aku hanya ingin menemanimu di saat-saat kau butuh seseorang seperti yang kau lakukan padaku selama ini, Ken. Hanya itu yang bisa kulakukan, apa itu sudah cukup menjadi tanggung jawab yang kau maksud?” berbicara seperti tidak menghela napas tapi membuatku lega bisa mengucapkannya dengan menatap langsung ke arah Ken.


“Bagiku…kau adalah waktu, Sky.”


...***...