
“Kalau kau membaca tulisan ini, berarti kau sudah bangun.” —Ken
Kertas itu menempel di meja makan, ada sepiring nasi goreng dan juga segelas jahe hangat. “Whoaa!” jahe hangat yang mengalir dari tenggorokan sampai ke perut—melegakan.
Langkah kakiku terasa berat, seolah tidak ingin pergi ke mana pun. Kalau tidak ada urusan di kampus, itu akan berbeda cerita.
Paling-paling keluar hanya untuk membeli makanan pedas dan minuman dingin, sesampainya di rumah ditemani film apa pun yang ingin kutonton.
Ujian semester memang telah berakhir di semester ini tetapi tidak tahu juga atau siapa bisa menduganya, seperti hari ini.
Salah satu dosen untuk mata kuliahnya, meminta para mahasiswanya untuk mengerjakan beberapa soal lagi untuk tambahan nilai, katanya.
Benar-benar dadakan, setelah sebelumnya ada janji bertemu dengan temanku di kampus di batalkan.
Wah, rasanya seperti sedang dipermainkan.
Baru saja melepas pakaianku bahkan telah menghapus make up di wajahku, notifikasi di roomchat kelas tiba-tiba datang di siang bolong.
Iya, memang dekat jarak untuk sampai di kampus tapi tetap saja itu…
Sudahlah, sudah terjadi.
Aku pun sudah berada di kampus.
Pakaianku lebih tebal dari biasanya. Siang bolong yang panasnya minta ampun itu, berganti menjadi langit berwarna kelabu dengan aroma tanah yang seolah menguap.
Hujan sepanjang hari yang selalu akan diingat.
Jangan tanya bagaimana suasana kampus! Tentu tetap sama, tidak ada yang berubah sedikit pun. Opini masih memihak pada dua sahabatku yang entah sekarang ini apa hubungan di antara kami.
Mantan sahabat?
Mereka membicarakan seseorang yang ada si antara mereka.
“Kau hantu, Sky,” suara Sky lirih.
Tentu, aku tidak akan menunjukkan apa yang ingin mereka lihat. Terlihat sedih misalnya.
“Prof, saya boleh minta soal dan lembar jawabannya?” ucap Sky.
“Sky, kenapa kau ada di sini?” jawabnya.
“Prof?”
“Iya, kau tidak perlu mengerjakan. Apa kau tidak tahu, kalau hari ini yang datang hanya mahasiswa yang perlu memperbaiki nilainya.”
Kabar baik, sekaligus kabar buruk.
Sial!
Apa itu belum cukup bagi mereka?
Atau akan ada lagi nanti?
“Benarkah, Prof?”
“Bukankah file dari saya sudah ada di roomchat kalian?”
“File?”
“Kau sudah berusaha dengan baik, selamat liburan, Sky.”
Perlu mengingatnya, di kala hal buruk datang padamu masih ada terselip kabar baik yang tak disangkah-sangkah justru membuat hari-harimu terasa lebih mudah.
“Terima kasih. Have a good day, Prof.”
Sky tak peduli dan berjalan keluar begitu saja. Kalau ia menatap tatapan mereka, itu akan membuat mereka menjadi puas dan akan melakukan sesuatu yang lebih dari hari ini.
File yang seharusnya kulihat sebelum berangkat ke kampus, daftar nama itu ada di mading kampus dan ya, benar tertera namaku.
“Mereka melakukannya lagi?”
Sky memejamkan mata.
Ia berbicara di dalam benaknya, “Sadar, Sky! Ada apa denganmu? Itu bukan suaranya, kau hanya terbawa saja.”
“Hei…”
“Sky…”
Tapi, aku tidak salah dengar. Itu benar-benar suaranya. Aku pun tidak sedang melamun apalagi, bermimpi. Bahkan masih berada di kampus dan baru beberapa menit yang lalu masih berada di kelas.
“Sadar, Sky!” mencoba menjernihkan pikiran tetapi 99% dalam keadaan sadar, 1% sisanya hanya soal Kai.
“Sky…,” suara bisikan tepat di telinga.
“Ka…Ka—i?”
Kau bohong, Sky. Tidak mungkin kau tidak memikirkannya.
“Sudah terkumpul nyawamu?” Kai yang masih terlihat santai dan seperti tidak terjadi apa-apa.
Kupikir itu sudah berakhir.
Aku benar-benar tidak mengerti, apa yang ada dipikiran Kai?
“Sedang apa kau di sini?” sontak membuat langkah kakiku menjauh sedikit lebih jauh darinya.
“Kau lupa kalau kau punya seorang penguntit?” jawabnya.
Kai, whoaaa!
Cara dia berpakaian sesuai dengan bagaimana ia berbicara. Tidak diragukan lagi, Kai populer.
“Kau…jangan bilang kau…”
“Ya. Kita satu kampus, Sky.”
“Hah? Sejak kapan kau tahu?”
“Saat pertama kali…”
“Ah, saat kau menarik maskerku?” potong Sky.
“Hahaha, itu menyenangkan.”
“Menyenangkan?” dengan sengaja aku menginjak kaki Kai.
“Akkkggg!”
“Hahaha…”
“Est! Kau mau lari ke mana?” tangan Kai menahanku.
“Hei, lepas!” Sky tampak was-was karena berada di lingkungan kampus dan situasi sedang tidak berpihak padanya.
“Akan kutunjukkan sesuatu padamu,” bisiknya padaku.
Punggung Kai berada di hadapanku dengan tangan kanannya yang masih menahanku.
Kai melepasnya. Tangan kirinya begitu cepat meraih jemari tanganku.
“Percayalah padaku,” bisik Kai.
“Kau ingin aku terlihat bodoh, kan?”
“Tidak akan. Aku tidak akan membuat orang yang kusuka menderita.”
Detik itu juga…
Tidak ada yang bisa kulakukan.
Mematung.
Melihat Kai tersenyum padaku.
Seolah Kai sedang mengendalikanku.
“Wah…,” spontan keluar dari mulut tanpa tahu apa maksudnya.
Aku…
A—ku…
Berada di punggungnya, di punggung Kai.
Kai menggendongku dan berkeliling di lingkungan kampus.
“Percayalah padaku, tidak akan ada yang melukaimu lagi,” Kai menurunkanku tepat di kerumunan banyak orang.
Kedua mataku benar-benar terbuka lebar.
Kai, kedua matanya…begitu tulus.
Aneh.
Tidak ada respon di tubuhku, menginginkan untuk menolaknya.
Entahlah, semua kata-kataku di dalam benak menjadi kacau. Benar-benar terasa canggung dan aku tidak tahu untuk menghadapinya secara langsung.
Kai…
Kai memelukku di hadapan banyak orang.
“Kau sekarang mengerti? Hei, kau terlihat bodoh,” bisik Kai.
Sky mendorong tubuh Kai. “Kau bilang aku bodoh?”
Kai tersenyum dan merengkuh tubuhku dalam pelukannya kembali. “Aku menyukaimu, Sky.”
“Whoaaaa!!” suara sorakan yang terdengar nyaring dan serentak.
Kai menggenggam tanganku, setelah itu…
Kai dan aku…
Kai dan aku?
Apakah ini kenyataan?
Sebelumnya, tak pernah ada dalam hidupku.
Saling bergandengan dan berlari bersama.
Seolah menjadi tokoh utama.
“Kau baik-baik saja?”
Jantungku berdegup kencang.
Mulutku ingin berbicara tetapi perlu usaha lebih untuk bisa berbicara dengan lancar.
“Sky, hei!”
Kai dan aku, berada di parkiran kampus di dalam mobilnya.
“Sky, dengarkan aku baik-baik,” kedua tangannya berada di bahuku.
Kai mengatur napas. “Eh, Sky. Apa yang kukatakan tadi, itu benar adanya.”
“Aku menyukaimu.”
“Aku ingin berteman denganmu tapi…”
“Aku ingin selalu berada di dekatmu.”
“Kau mengerti, kan?”
“Wah, mengapa sulit untuk mengatakannya?”
“Kau tahu apa yang kau lakukan tadi, kau pikir aku tipe orang yang seperti itu?”
“Sky, kenapa kau diam saja?”
“Sky, aku menyukaimu.”
“Aku ingin berteman denganmu tapi, aku juga ingin melalukan sesuatu yang romantis denganmu…tapi, aku bukan tipe orang yang seperti itu tapi…”
“Ah, kau bicara apa?” Kai frustasi.
“Sky, bicaralah!”
Brrrrrrrr…
Seketika menjadi hening.
“Sky, kau lapar?”
Sky mengangguk.
“Baiklah, setelah makan…kau harus berbicara, oke?”
Sky mengangguk.
Cup!
“Hehe…,” Kai tersenyum memperlihatkan barisan giginya yang begitu rapi.
PLAK!
“Aw!”
“Tidak apa, ini tidak sakit,” senyum Kai semakin lebar.
Sky, apa kau baik-baik saja?
Tidak!
...***...