
"Bukankah mengingatkanmu di hari itu?” hanya berjarak sejengkal jari dari mukaku.
“Hmm?” kedua matanya seolah membawaku masuk semakin dalam.
Huk…huk…huk…
Sudah dipastikan itu akan terjadi. Sky manusia cegukan, sebutan untuk diriku sendiri.
Kai mendekat. Menyentuh ujung kepalaku, “Apa yang sedang kau pikirkan?” ucapnya.
Sky memejamkan mata lalu berpaling dengan melihat ke arah luar.
Rasanya ada yang menahan di dalam kerongkonganku untuk membiarkanku tidak bisa berbicara.
Itu tidak enak. Sama saja mengumpat untuk diri sendiri di dalam hati.
“Kau pikir berakhir begitu saja? Tidak ingat siapa yang memulai?” Kai yang tiba-tiba melingkarkan lengannya lalu mendekapku dalam pelukannya.
Sial! Suasana yang terjadi sama halnya dengan menggambarkan diriku yang telah kalah telak.
“Jadi…pada akhirnya kau akan menyerah?” bisiknya dan baru melepas pelukkannya.
Ponselku berdering. Ya, itu Ken.
“Ya, aku bersamanya.”
Kai melempar senyumannya padaku seperti tidak terjadi apa-apa.
“Kau ingin bicara padanya?”
Cup!
Kedua mataku terbelalak dengan ponselku yang terlepas begitu saja tapi tak kusangkah-sangkah…Kai menangkapnya. “Bukankah ini baru? Wah, hampir saja. Hei, ini bukan kali pertamanya…mengapa reaksimu tetap sama?”
Huk…huk…huk…
“Baiklah, kita tidak akan saling bicara selama 30 menit.”
“Di mulai dari sekarang.”
Aku mengangguk begitu saja. Lalu mengirim pesan pada Ken, memberinya beberapa alasan klasik seperti…aku akan menghubungimu lagi nanti dan tidak terjadi apa-apa. Tentu, Ken tidak mungkin percaya dengan isi pesan itu. Ken pun masih mengirimiku banyak pesan.
Kai membiarkan sejuknya angin sore masuk ke dalam, selalu seperti ini…tidak pergi ke mana pun hanya di parkiran di depan toko buku yang menghadap pantai.
Dalam lubuk hatiku rasanya sangat ingin berbicara banyak tapi ujung-ujungnya aku hanya melakukan hal kebodohan dan membisu seolah pasrah Kai mempermainkanku. Itu membuatku marah karena tidak bisa melakukan apa-apa.
Ting!
Sebuah pesan masuk yang kukira dari Ken ternyata seseorang di sebelahku. “Kalau kau kalah karena berbicara sebelum waktunya, itu artinya…kau harus mengabul permintaanku. Begitu juga sebaliknya, aku akan melakukan hal yang sama.”—Kai
“Oke,”—Sky
Lagi-lagi masuk dalam permainannya.
“Aku akan keluar membeli minum.”—Sky
“Kau tunggu saja di sini.”—Kai
“Kau tidak tahu apa yang kuinginkan.”—Sky
“Hubungan kita yang hampir selesai ini membuat apa yang kau suka juga jadi berubah?”—Kai
“Aku masih punya air mineral.”—Sky
“Lemonade?”—Kai
“Tidak.” —Sky
Kai mengacak-acak rambutku lalu keluar, berjalan ke arah toko buku.
“Karena harus membeli sesuatu, aku akan menggunakan suaraku.”—Kai
“Ya.”—Sky
Kepalaku bersandar di sisi kiri dan melihat ke arah luar.
Cup!
Ah, sial!
Bisa-bisanya pikiran kotor itu teriang di pikiranku.
Kai keluar dari toko buku dengan dua minuman di tangannya.
“Ini bukan lemonade,”—Kai
Kai memberi minuman itu padaku. “Matcha?”—Sky
“Itu tidak gratis. Kau harus bayar, haha.”—Kai
“Pasti Jeff yang memberi minuman itu.”—Sky
Sky menunjukkan pesan yang dari Jeff untuknya dengan tersenyum puas.
“Jangan tersenyum seperti itu!”—Kai
“Seperti ini?”—Sky
“Sudah kubilang, jangan!”—Kai
Sky menunjukkan mukanya yang tak berekspresi. “Seperti ini?”—Sky
“Iya, itu lebih baik.”—Kai
Apa yang terjadi di luar dengan suara-suara orang-orang yang tengah berbincang, semuanya bisa terdengar.
Kai dan aku saling melempar tatapan saat mendengar orang-orang dengan ocehan-ocehan yang menyebalkan atau yang tak pantas untuk di dengar.
“Bukankah para laki-laki itu terdengar keterlaluan?”—Kai
“Bukan hanya keterlaluan. Para laki-laki juga bisa bergossip? Bahkan mereka lebih dari para perempuan yang tengah bergossip.”—Sky
“Ya, mereka juga bisa bergossip. Kau benar, itu membuatku malu sebagai seorang laki-laki.”—Kai
“Kai. Sebenarnya…kau dan aku benar-benar aneh. Tidak seperti pasangan pada umumnya.”—Sky
“Kau tidak mengerti maksudku.”—Sky
“Kau mau seperti apa? Jangan samakan dengan hubungan orang lain. Sampai kapan pun tidak akan sama,” Kai kaget dengan ucapannya.
“Kau kalah, Kai.”
“Wah! Baiklah, apa permintaanmu?”
“Jelaskan semuanya padaku. Apa yang terjadi? Itu permintaanku. Kau sudah pasti tahu maksudku.”
“Tidak ada yang lain?”
“Tidak ada, hanya itu yang kuinginkan.”
“Kalau itu menjadi permintaanmu, itu sama saja dengan apa yang kuinginkan. Bukankah kau juga perlu menjelaskannya padaku?”
“Baiklah, aku akan menjelaskan semuanya padamu setelah selesai mendengar penjelasan darimu. Kau yang membuat aturan itu sendiri, Kai. Itu permintaanku.”
“Tapi kau tidak memberiku aba-aba dan langsung berbicara saat aku tiba-tiba berbicara.”
“Kau curang, Kai.”
“Kau juga curang. Bukankah ini semua hanyalah permainan?”
“Kau sedang mempermainkanku, Kai? Termasuk apa yang dilakukan Rania di kantin?”
“Jangan bawa-bawa Rania.”
“Kau yang telah membawa Rania di hubungan kita, Kai.”
“Wah, kau pikir aku tidak tahu. Kau juga membawa orang asing itu dalam hubungan kita.”
“Orang asing?”
“Iya, laki-laki itu.”
“Tidak ada laki-laki yang kau maksud itu. Hanya kau dan Ken, orang-orang terdekatku. Justru kau yang perlu dipertanyakan. Rania…”
“Kenapa kau terus menyalahkan Rania?”
“Kau menyukainya?”
“Apa maksudmu?”
“Kau menyukainya…kau menyukai Rania. Aku tidak salah, kan? Kau menyukainya.”
“Tidak, aku tidak menyukainya. Hanya saja…”
“Apa, Kai?”
“Kurasa kau yang seharusnya memberiku penjelasan. Kau yang menghilang lalu mengabaikanku.”
“Lalu bagaimana dengan perasaanmu? Adanya Rania membuatku semakin melihatmu seperti orang lain, Kai.”
“Ah, kau jadi tidak percaya diri hanya karena Rania menurutmu lebih darimu seperti perkataan orang-orang?”
“Lagi-lagi ini bukan waktu yang tepat untuk saling berbicara, Kai.”
“Kau mau kabur lagi, Sky?”
Kai dan Sky saling berpaling. Kai tiba-tiba memutar kemudi, entah akan membawaku ke mana. Ponselku terus berdering, Ken menghubungiku tapi kuabaikan.
Suasana menjadi hening. Meski Kai tengah memutar lagu.
Bukan ke arah jalan pulang.
“Kau mau mengajakku menonton?”
“Iya,” dengan mukanya yang serius.
Sudah kubilang itu benar, hubunganku dan Kai tidak seperti pasangan pada umumnya.
Menonton film dengan suasana seperti ini?
Tak lama sampai di tempat tujuan.
Eh…
Kai putar balik.
“Kenapa, Kai?” sontak membuatku bertanya-tanya.
Kai yang masih dengan mukanya yang serius, tidak menjawab apa pun.
Wah!
Dilihat dari jalannya, itu adalah arah pulang.
Kai memeriksa ponselnya dengan serius.
“Kenapa, Kai?” tanyaku lagi.
“Apa terjadi sesuatu?”
“Rania…”
Apa lagi?
Dia lagi?
Sky terdiam dengan pandangannya ke arah luar.
Kai seperti terburu-buru dan dengan cepat sampai. “Kau tunggu di sini, percayalah padaku,” ucapnya.
“Baiklah.”
Kai meninggalkanku di basement.
Pikiranku mulai ke mana-mana.
Entahlah, apa yang akan terjadi setelahnya?
...***...