Suddenly

Suddenly
Late Night



Sabtu, sore. Tepatnya pukul 4.


Kai terus menghubungiku. Begitu juga dengan Ken.


Obat flu selalu membuatku mengantuk.


Baru saja bangun dari tidurku yang entah mengapa begitu melelahkan. Itu juga menjadi pertanyaanku selama ini. Di saat sakit dan terjaga dengan obat yang memberikan efek samping terlelap, itu membuatmu bermimpi panjang dan ya, itu yang membuatmu menjadi lelah saat terbangun.


“Apa kau sudah makan?”—Kai


“Kau tidak akan membuatku khawatir, kan?”—Ken.


Ting!


“Bolehkah aku ke sana?”—Kai


Ting!


“Ada kabar baik. Aku benar-benar akan pindah. Maafkan aku, apa kau baik-baik saja? Jangan membuatku khawatir, oke!”—Ken


Ting!


“Sky, aku menaruh makanan di pintumu.”—Kai


“Dan beri tahu aku kabarmu, oke! Cepat sembuh, Adikku sayang.”—Ken


Ting!


“Kenapa kau tidak mengambil makanannya?”—Kai


“Kau membiarkanku menerobos pintu secara paksa?—Kai


“Ah, tidak. Maafkan aku.”—Kai


Ponselku berdering. Ya, itu Kai.


Bell juga berbunya dan itu juga Kai.


Ting!


“Beri tahu aku kalau Kai keterlaluan, oke!”—Ken


Ponselku kembali berdering.


Ting!


“Sky, tolong ambil makanannya. Aku mohon!”—Kai


Kedua mataku kembali terlelap.


Pukul 12 malam.


Brrrrrrrr…


“Lapar.”


Kedua mataku sedikit berat untuk dibuka dan kelopak mataku seakan menebal.


“Makanan dari Kai?”


Bukan hanya kedua matanya tetapi tubuhnya terasa berat. Kepalanya juga.


“Tidak ada,” Kai pasti sudah mengambilnya.


Ponselnya pun kehabisan daya.


Ting tong!


“Hah, apa itu Kai?”


Karena itu sudah tengah malam. Sky melihat akan melihat terlebih dahulu sebelum membuka pintu. “Tidak ada.”


Dejavu. Seketika mengingatkanku pada masa lalu. “Kai…Kai…”


Ponselnya pun tak kunjung menunjukkan tanda-tanda untuk menyala.


“Membukannya…”


“Tidak, jangan!”


“Membukanya?”


“Tidak!”


“Tidak!”


Keringat mulai bercucuran. Kegelisahan mulai merenggutku dengan kedua tangan yang bergetar.


Krek!


Sunyi.


Gelap.


Seolah ada yang sedang memperhatikanku dan itu tidak mungkin membuatku tidak takut.


Bagiku ini situasi yang mencengkam.


Sekali lagi mengingatkanku di masa lalu.


Ting tong!


Ting tong!


“Kai!”


“Aku mohon!”


“Aku mohon, Kai!”


Ting tong!


Ting tong!


Pintu yang sudah kubuka itu, sengaja tak tertutup dengan mengganjalnya dengan box paket yang belum kubuka.


“Kai!”


“Sky?” kedua mata Kai membuka lebar.


“Kai, bisakah kau menutup pintuku dan…”


“Masuklah,” sementara Kai menutup pintu dan keluar untuk menutup pintu dan kupikir dia akan memeriksanya.


Krek!


“Kai…”


Seperti yang kuduga. Kai membawa apa yang kubutuhkan. Selain obat yang tentunya menjadi penting. Dia juga membawa ponselku berserta selimut kesayanganku.


“Terima kasih,” ucap Sky lirih.


“Hei! Apa itu menjadi keahlihanmu…membuatku kesal dan khawatir?”


“Maafkan aku.”


Kai melemparkan batal dan mendarat dengan sempurna di permukaan sofa. “Selamat tidur,” ucapnya.


“Selamat tidur, Kai.”


Apa ini?


Kupikir ini bukan sesuatu yang kuinginkan.


Tidur di sofa?


Melihat Kai yang sudah bersembunyi di balik selimut. “Oke,” Sky pun bersembunyi di balik selimut seolah menenggelamkan seluruh tubuhnya.


Perutnya benar-benar sedang berontak padanya. Selain sudah terlalu lama terlelap lapar adalah salah satu alasan sulit untuk kembali terlelap.


“Ah, lupakan saja. Kau harus tidur, Sky.”


Tentu saja, tidak mungkin mengatakannya dengan bersuara.


Kedua mataku berkedip berapa kali.


Berganti-ganti posisi tidur.


Melepas selimut dan memakainya kembali.


“Hei, kau lapar?” suara Kai membuatku rasanya ingin berpura-pura tidur daripada harus tertangkap basah.


“Bilang saja kalau kau lapar.”


Sial!


Nada bicaranya itu menyebalkan.


Balas dendam? Dia melakukannya hanya untuk balas dendam?


“Hei, kau lapar, kan?”


“Namaku Sky bukan hei.”


Suasana menjadi hening beberapa saat.


Lalu terdengar suara ponsel Kai yang begitu berisik.


Kai berbicara dengan seseorang dengan menutup pintu balkon.


Tak lama suara bell terdengar.


“Kai, biar aku saja yang membukanya.”


“Tidak usah, biar aku saja.”


Kai terlihat panik dan buru-buru membuka pintu…


“Rania…”


“Kai…”


Rania menangis di pelukan Kai.


Sky berjalan lebih mendekat dan Kai juga menyadari itu.


“Aku akan pergi,” rasanya ada yang tersendat di dalam tenggorokan dan itu terasa tidak enak. Begitu pun juga dengan rasa sesak di dada yang tiba-tiba juga terasa.


“Ya, sebaiknya kau pergi,” itu yang keluar dari mulut Kai.


Apa?


Lengkap sudah. Hubungan percintaanku tak kusangkah akan seperti ini.


Pikiranku berkecamuk seperti tidak bisa menerima kenyataan.


Haruskah berakhir lebih awal?


Berakhir begitu saja?


Tidak mungkin lagi kembali untuk terlelap.


Pikirannya samakin kacau.


“Apa kau harus melakukannya?” Sky mengambil tas ranselnya.


Pukul 3 sore. Kai melihat paper bag yang ia letakkan di pintu masih tergantung dengan barang di dalam yang masih untuh.


Ting tong!


Berulang kali tak ada jawaban.


“Ken, apa kau bersamanya?”


“Ponselnya ada padaku, tidak mungkin bisa aku menghubunginya.”


Kai mencoba menekan bell untuk kesekian kalinya tetap sama tidak ada jawaban.


“Sky, kau ada di mana?” dengan masih menekan bell.


Kedua tangannya mengepal dengan kepala yang membentur pintu.


Kai memejamkan mata. Jemari tangannya berusaha memasukkan password lama yang ia tahu. “Aku mohon!”


Krek!


“Sky!”


“Sky!”


Sky tidak ada. Semuanya terlihat rapi, seperti seseorang yang merapikan tempat tinggalnya sebelum ditinggalkan begitu lama.


“Ken, dia tidak ada. Apa kau tahu tempat yang tidak kuketahui?”


“Ah, baiklah. Terima kasih, Ken.”


Tut…tut…tut…


Senin, pukul 10 pagi.


“Apa kau melihat Sky?”


“Dia tidak masuk hari ini.”


Hari senin pun berlalu. Kai datang lagi tetapi tetap sama, tidak ada kehadiran Sky.


Ponselnya berdering. “Halo, Ken.”


“Kai, kau tidak usah mencarinya. Kurasa dia akan kembali dengan sendirinya. Itu bukan salahmu, mungkin dia hanya butuh untuk sendiri.”


“Iya, itu karena aku, Ken.”


“Hei, bersemangatlah! Dia tidak apa-apa.”


“Ken, aku tidak tahu dia berada di mana.”


“Dia pasti kembali sebentar lagi, Kai.”


“Baiklah, aku tutup. Bye, Ken!”


“Ka—i…”


Tut…tut…tut…


Selasa, pukul 11 malam. “Kai, aku berbicara denganmu?” Rania yang tampak kesal.


“Bukankah kau harus pulang?”


“Kai, ini sudah malam. Biarkan aku menginap, ya?”


Kai menepis tangannya dari Rania. “Ran…”


“Ah, soal Sky…kau serius dengannya?”


“Tidak ada yang main-main kalau itu soal hubungan.”


“Tapi…kau main-main denganku, Kai.”


“Ran, biar aku mengantarmu pulang. Jangan seperti ini…”


“Ah, kau takut, Kai?” tangannya merangkul pada leher Kai dan berbisik di telinga. “Kai, kau pengecut.”


Kai mendorongnya untuk menjauh. “Pergilah, aku mohon!”


“Haha, kau memohon padaku?”


“Ran, apa kata-katamu sebelumnya hanya sebuah sandiwara?”


“Hahaha dan kau tertipu, Kai.”


Ting tong!


“Apa itu Sky? Haha…,” Rania berjalan ke arah pintu.


Membuka pintu dan…


“Hai…”


“Dia ada di dalam. Kai, aku pergi!” teriak Rania dan pintu itu benar-benar terbuka lebar.


“Ah, aku lupa. Besok aku akan menginap. Bye, Kai! Terima kasih untuk malam ini,” Rania melambaikan tangan dan tersenyum pada seseorang di hadapannya.


Kedua mata mereka bertemu.


Saling mematung.


Menyimpan amarah satu sama lain.


Mereka benar-benar berhadapan.


Bersembunyi pada perasaan masing-masing.


“Sky…”


Kai menutup pintu. Menggiring tubuh seseorang yang ia dirindukan itu ke dalam pelukkannya yang begitu erat. “Aku mencarimu,” bisiknya di telinga Sky.


Kedua tangannya meraih di kedua sisi rahang yang memperlihatkan wajah seseorang yang membuatnya jatuh cinta. Ia menyadarinya ada air mata yang menetes.


Mereka saling menatap begitu lama.


Kai mengecup bibir di hadapannya itu dengan lembut.


Lalu kembali memeluknya erat.


“Kai! Aku berbicara denganmu.”


“Rania, kenapa kau ada di sini?”


“Hei, jadi kau tidak menganggapku? Aku berbicara panjang lebar dan kau tidak medengarku?”


Kai melihat pada layar ponselnya, pukul 11 malam. “Rania, sepertinya kau harus pergi. Kau sudah dijemput,” Kai menunjukkan pesan yang dikirim oleh supir pribadi Rania.


“Tapi, Kai…”


“Pergilah!”


“Apa kau begitu menyukainya?” Rania berbalik sebelum menutup pintu.


“Aku mencintainya.”


BRAK!


“Apa kau baik-baik saja?”


“Baik-baik saja.”


“Kau tampak kurus, Sky.”


“Tugas kuliah membuatku kehilangan beberapa dari berat badanku.”


“Kuharap kau selalu sehat.”


“Terima kasih, kau juga Kak Grace.”


Pukul 12 malam. “Wah, sudah berganti hari.”


Pikirannya kembali berkecamuk. Kedua kakinya terasa berat seolah tidak mau untuk kembali setelah beberapa hari tak terlihat.


Tetapi…


Tap…tap…tap…


“Rania?”


...***...