
Beberapa hari setelah pernikahan berlangsung.
Tak pernah membayangkan akan terjadi di depan mataku.
Memiliki Ayah dan Kakak sambung yang hanya beberapa kali bertemu, bahkan di antara pertemuan itu tidak ada satu pun yang membuatku berkesan.
Ada apa dengan Ibuku? Menikahi laki-laki sepertinya. Laki-laki berwajah dingin dengan tatapannya yang selalu melihatku seperti memeriksa sesuatu yang ada padaku.
Siapa, dia? Kakakku? Sejak kapan aku memilikinya?
“Sky, apa makanan itu tidak enak? Sedari tadi kau hanya menatapnya,” tegur Ibunya.
“Hmm, perutku sedikit tidak enak, Bu.”
Keen melihat ke arahku begitu juga dengan Ken.
“Tapi kau harus menghargai masakan Ibu,” ucap dengan seutas senyuman lalu kembali menjadi dingin.
“Baiklah, Bu.”
Sejujurnya, Ibu telrlihat seperti kehilangan jati dirinya. Ibu sudah yang terbaik pada versi Ibu yang seperti itu tapi rupanya tak membuat Ibu menjadi cukup dan ingin menjadi lebih.
Seperti masakan yang Ibu masak.
Tidak seperti masakan Ibu yang selalu kurindukan itu.
“Apa kau akan selalu seperti ini? Merasa tidak nyaman seperti ingin melarikan diri,” ucap Keen.
“Hei, jangan terlalu keras padanya,” bisikan Ibu pada Keen yang masih bisa kudengar.
“Siapa yang kau maksud?” ucapku dengan menatap ke arah Keen.
“Aku atau anakmu sendiri?” lanjutku.
“Sky, jaga tata bahasmu itu! Kau berbicara dengan Ayahmu,” tegas Ibu.
“Dia bukan Ayahku, Bu.”
“Biarkan saja, tidak apa. Anak muda selalu seperti itu, belum mengerti artinya menjadi dewasa. Kau tidak ingin tinggal di sini?”
Keen sedang membual.
“Ada apa dengan anak muda dan orang tua yang seolah mereka telah menjadi yang paling dewasa?” rasanya seperti mengeluarkan sesuatu yang mengganjal di benakku.
“Sky, kau membuat Ibu malu. Ibu tidak pernah mengajarimu seperti itu. Ah, kau terlalu dekat dengan Ayahmu.”
“Kenapa Ibu selalu membicarakan seolah Ayah telah melakukan kejahatan? Ayah tidak bersalah, Bu.”
“Ibumu tidak bersalah. Kau yang bersalah. Kau selalu merusak suasana. Berhentilah merengek anak manja!” Keen semakin membuatku ingin memukul wajahnya.
Ken meletakkan garpu dan sendoknya dengan suara keras. Lalu beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan tempat.
Begitu juga denganku. Melakukan hal yang sama.
Aku berjalan keluar dengan pikiran yang kacau.
“Kenapa kau tidak bisa menahannya?” suara Ken tepat di belakangku.
“Apa maksudmu?”
“Amarahmu itu.”
“Kau bilang, amarahku?”
“Iya, tak bisakah kau hanya diam dan menghabiskan makananmu setelah itu selesai. Kau bisa kembali ke kamarmu dan mengunci pintu.”
“Ah, apa kau sedang bersikap bodoh?”
“Aku mengerti apa yang kau rasakan tapi setidaknya berpura-pura sajalah.”
“Maafkan aku, tapi aku tidak sepertimu.”
“Kau dan aku memang tak sepantasnya menjadi Kakak dan Adik.”
“Itu memang benar.”
“Apa kau tidak lapar? Kau selalu tidak pernah menghabiskan makananmu.”
“Hmm, pertanyaannya…kau hanya sekedar bertanya atau peduli denganku?”
“Keduanya.”
“Hah, untuk apa kau peduli padaku?”
“Sudah kubilang, itu hanyalah sikap kepura-puraan. Kau tak paham maksudku, ya?”
“Ah, begitu. Kau lucu sekali. Hidup dengan kepura-puraan.”
“Bukankah kau juga. Hidup dengan kepura-puraan. Kau terlihat baik-baik saja, sebenarnya tidak. Apa bedanya kau denganku?”
Ucapannya membuatku terdiam. Ken duduk dengan berjarak denganku.
Laki-laki itu memejamkan matanya dengan memakai earphone.
“Apa itu sebuat topeng?” tanyaku.
Ken melihatku dengan tatapan yang bingung.
“Apa yang kau pakai,” jemariku mengarah pada telinga.
“Kau bertanya karena peduli atau penasaran?”
“Keduanya,” seolah sedang mengikutinya.
Ken tersenyum lalu kembali dingin. “Kau sepertinya membutuhkannya,” Ken melempar 2 bungkus coklat padaku.
“Oy! Kau yang menaruh kertas di bawah pintuku?” tanyaku.
“Anggap saja itu bagian dari kepura-puraan yang kumiliki.”
“Berhentilah menaruh kertas-kertas itu di bawah pintuku, kau mengerti!”
“Baiklah, untuk sementara. Setidaknya bersikaplah dengan tenang dan aku tidak akan melakukannya seperti ucapanmu.”
Ken kembali masuk ke dalam rumah.
Keesokan harinya terjadi lagi sampai waktunya tiba. Waktu bagiku untuk mengakhirinya.
“Aku harus pindah, Ibu.”
“Bu, aku akan pindah.”
Tidak ada yang mendengarku. Ibu makan dengan tata cara makan yang Ibu pelajari di kelas yang ia ikuti baru-baru ini. Keen seperti biasa tidak menganggapku ada. Ken hanya menatap ke arahku.
“Bu, aku akan pindah hari ini.”
Sekali lagi aku mengulangnya.
“Ya, Ibu tahu.”
“Akan apa? Apa sebenarnya yang kau mau?”
“Uang?” Keen tiba-tiba berbicara.
“Ayah, kurasa kata-kata itu tidak pantas untuk didengar.”
Ken?
Dia berbicara?
“Kau membelanya, Ken? Atau hanya sebagai formalitas saja? Formalitas sebagai seorang Kakak?” tawa Keen terdengar puas dengan sorot matanya yang tentu mengarah padaku.
“Apa yang kau butuhkan?” ucap Ibu padaku.
“Hei, kau salah…yang benar kau butuh berapa?”
Keen semakin membuatku ingin memukulnya. Orang itu benar-benar pantas mendapatkan sebuah pukulan.
Tapi…
Aku tidak mungkin melakukannya.
“Hahaha, apa semuanya karena uang, Bu? Menikahi kakek tua kaya raya sepertinya.”
“Kau bilang Ayahku, kakek tua?”
Sorot mata Ken padaku, menyeramkan.
“Sky, lebih kau pergi sekarang!” itu yang keluar dari mulut Ibu.
“Kau tidak akan dapat apa-apa dariku, pergilah anak manja!” Keen meleparkan gelas yang pecahannya hampir mengenai kakiku.
“Kau tidak apa?” Ken menarik tanganku untuk menjauh dari pecahan gelas yang sudah menyebar di lantai.
“Ayah, kenapa kau melakukannya? Ayah hampir melukainya.”
“Ayah tidak peduli, Ken. Dia tidak pantas diperlakukan dengan baik.”
Ken mengandeng tanganku dan membawaku ke lantai atas. “Kau sudah gila, ya. Apa kau tidak tahu? Ayahku bisa melakukan yang lebih dari itu.”
“Ah, sungguh malang nasibmu hidup dengan Ayah sepertinya.”
“Sky!”
“Apa kau sedang menolongku? Sebagai Kakak formalitas?”
“Wah, kau sungguh melihatku seperti itu?”
“Terima kasih, kau perlu itu, kan?”
“Kau benar-benar akan pindah?”
“Ya.”
“Lalu bagaimana dengan kehidupanmu?”
“Ah, kau sedang berbicara soal uang?”
“Sky, takbisakah kau lebih serius?”
“Apa pedulimu, Ken? Bagiku, kau bukan siapa-siapa. Untuk apa juga aku menjawab pertanyaanmu.”
“Sky, aku hanya ingin bersikap baik.”
“Baiklah, apa yang ingin kau lakukan?”
“Mengantarmu keluar gerbang.”
“Hahaha, seolah sedang melepas kepergianku?”
“Terserah kau saja dan ini…,” Ken memberiku sebuah kertas.
“Apa ini?”
“Buka saja.”
“Kau terlihat keren hari ini.”—Isi kertas itu.
“Kenapa kau tidak mengatakannya secara langsung di hadapanku?”
“Kau akan menganggapku tida tulus.”
“Ah…”
“Kau akan pindah ke mana?” tanyanya sembari membawa 2 komperku turun melewati tangga.
“Rahasia.”
“Oh, oke.”
“Perlu kupanggilkan—taxi?”
“Tidak, sudah ada yang menjemputku.”
“Benarkah? Kau punya pacar?”
“Hei, sebenarnya kau kenapa?” Sky yang tampak heran dengan pertanyaan itu.
Ibu dan Keen hanya menatapku lalu berlalu. Begitu juga denganku.
“Itu dia.”
“Kau yakin?”
“Iya. Terima kasih, telah membantuku.”
“Koper ini maksudnya?”
“Ya.”
“By—e, Sky!”
Sky sudah tidak ada di hadapannya.
Krek!
“Sky!”
“Hei, Sky!”
“Kau ada di mana, Sky?”
“Kai, aku ada di sini.”
“Kai!”
...***...