Suddenly

Suddenly
There’s something…like having seen it?



“Wah, benar-benar orang gila.”


Tak ada henti-hentinya Sky mengomel bahkan telah sampai di depan pintunya, ia pun masih mengomel…meski itu hanya di dalam benaknya.


“Maaf…,” tiba-tiba ada seseorang di sampingnya. Seorang kurir paket. Memberikan sebuah paket pada dengan ekspresi mukaku yang kebingungan.


“Saya tidak memesan apa pun,” sahutku. Di dalam pikiranku mengingat-ingat dan benar, tidak memesan apa pun. Kalau pun ada, aku tipe orang yang tidak sabar menanti suara-suara nyaring ‘Paket’. Bahkan saat notifikasi ada di ponselku, apa yang kulakukan? Ya, aku siap siaga menanti dengan memasang telinga meski tidak tahu paket itu kapan tepatnya sampai ke tanganku.


“Seseorang yang telah mengirim.”


Benar itu namaku dan pengirimnya…


Ken?


Apa itu paketnya?


“Ah, iya.”


“Tanda tangan di sini,” pinta kurir itu.


Sky menatap paket itu dengen terheran-heran. Apa isi paket itu? Untuk apa Ken mengirim itu… untukku? Atau miliknya yang sengaja dikirim padaku? Tapi untuk apa? Bahkan tidak ada kabar darinya. “Terima kasih,” ucapku.


Itu membuatku ragu di antara meletakan paket itu di luar begitu saja atau membawanya masuk? Bukan miliknya juga meski ada tanda namanya. Tidak mungkin juga menghubunginya.


“Baiklah,” Sky membawanya masuk. Meletakkannya di dekat pintu.


‘Ken Kasavandikeen’ nama yang tertera di paket itu. Sky mengambil foto setidaknya sebagai bukti.


Keraguan itu semakin menjadi-jadi. Kedua matanya tidak berpaling ke arah paket yang ia letakkan jauh dari jarak pandangnya. “Membukanya atau mengirim pesan pada Ken?”


“Membukanya?”


“Menghubunginya?”


“Membukanya?”


“Menghubunginya?”


“Atau membuangnya saja?”


“Menyimpannya saja?”


Wah, lupakan!


Sky berbaring di ranjangnya. Suhu tubuhnya mencapai 38 dejarat celcius. Air matanya juga mengalir dengan sendirinya. Hidungnya, apalagi. Tapi ia harus tetap makan. Ia membeli sup tahu dengan bihun yang di dalamnya juga ada wonton dan extra daun bawang. Sebenarnya bisa membuatnya sendiri tapi apa daya tidak memungkinkan.


Seharusnya ia tidak memaksakan diri untuk membeli beberapa makanan karena ia juga bisa memesan makanan saja. Itu semua karena perutnya begitu lapar dan sedang berada di pusat yang menjual berbagai makanan yang tidak pernah gagal membuatnya gelap mata.


Sampai tidak mengenal waktu. Matahari sudah berada di atas kepalanya. Di perjalanan pulang, ia justru bertemu dengan orang gila.


“Wah, bisa-bisanya dia melakukannya? Tapi bukankah seharusnya orang itu juga malu?”


Sup yang ia beli benar-benar tidak pernah gagal. Itu enak, sekali pun tidak enak badan. Di depannya ia menonton film pendek yang pernah menjadi tugas di masa sekolah.


Membuatnya bernostalgia. “Orang itu…”


“Kurasa benar…”


“Pernah melihatnya.”


Pikirannya kembali berkelana. Film pendek yang ia tonton menjadi samar-samar.


Supnya sudah habis tak bersisa.


Obat yang ia tebus di apotek sudah berada di tubuhnya tinggal menunggu reaksi yang segera mungkin akan terasa.


“Di mana aku bertemu dengannya?” Sky tertidur dengan dua bantal dengan menatap langit-langit kamarnya.


Makanan ringan yang ia beli sebagian ada di atas kasur dan sebagiannya lagi berserakan di lantai.


Ia juga mengisi air mineral pada botolnya yang berisi 1 liter penuh.


Selalu seperti itu daripada harus bolak-balik berjalan.


“Aku pernah melihatnya tapi tidak yakin itu di mana.”


“Benar-benar tidak asing.”


“Apa orang salah mengenali seseorang atau justru mengenalku?”


“Atau sama sepertiku?”


“Ada apa sebenarnya? Mengapa itu mengganggu pikiranku?”


Kedua matanya mulai terasa menunjukkan sinyal-sinyal rasa kantuk yang membuatnya mengedipkan mata berulang kali.


Hidungnya terasa tidak enak. Ia memakai in healer yang diberi sebuah gantungan seperti gantungan pada kunci lalu memakainya di jari tangannya seolah tengah mengenakan cincin.


“Hei, siapa kau?”


“Kau mengenalku atau aku yang mengenalmu?”


Orang itu juga berhenti di jalur yang sama denganku. “Apa dia salah satu dari penghuni apartemen atau bahkan satu unit denganku?”


Lupakan!


Itu akan membuat isi kepalaku menjadi lebih kacau.


“Paket itu…haruskah aku membukanya?”


Apa yang kupikirkan berulang kali. Sepertinya harus kulakukan. “Ya, membukanya.”


Sky beranjak dari tempat tidurnya. Berjalan dengan kepalanya yang sedikit pening.


Kedua tangannya menggoyang-goyangkan paket di dekat telinganya. Bukan barang yang berat tapi sepertinya ukurannya cukup besar.


Membukanya dengan hati-hati. Siapa tahu, Ken datang untuk menanyakan paket itu dan setidaknya aku bisa membungkusnya kembali tanpa merusaknya.


“Apa ini?” di dalamnya, barang itu terbungkus dengan kertas berwarna putih.


Membukanya masih dengan hati-hati karena kertas itu juga cepat robek. Pelan-pelan membuka selotip yang untungnya hanya ada 3. Di bagian tengah, atas, dan bawah.


“Kurasa aku hanya akan membuka bagian atasnya,” itu masuk akal untuk tahu isinya.


Tidak hanya itu.


Perasaanku juga tidak enak.


Perasaan yang juga bercampur dengan seseorang yang tak asing, seperti pernah bertemu atau melihatnya tapi tidak tahu kapan dan di mana.


Sky memejamkan mata sebelum benar-benar membukanya.


Sudah membukanya.


“Boneka?”


Hah?


Boneka?


Untuk apa?


Ken, seorang Ken memberiku boneka?


Itu aneh.


Atau memang bukan untukku?


Boneka beruang berwarna pink berukuran sedang. Kalau saja aku menyentuhnya, kurasa aku akan tahu kalau itu adalah sebuah boneka. Masalahnya ada pada kertas putih itu. Kertas yang mudah robek dan kusut.


Sky memandangi boneka itu dengan perasaannya yang semakin tidak enak.


Mengingatkannya pada peristiwa-pertiwa ganjil yang pada umumnya terjadi di sebuah apartemen.


“Aku tidak bisa menyimpannya.”


Sky membungkus ulang paket itu dengan hati-hati. Meski itu akan terlihat bahwa paket itu dibungkus ulang, setidaknya barang yang ada di dalamnya masih utuh.


“Ah, jadi begitu ceritanya? Wah, kau gila, Kai! Tapi bukankah kau juga malu? Kau menarik maskernya? Wah, hahaha…”


Kai dan Jeff akan menginap lagi.


Kai menundukkan kepalanya.


“Hei, Kai! Hahaha…”


“Wah, mukanya benar-benar merah. Sky, lihatlah?”


“Hahaha, kau benar-benar malu?” Sky mendekat tepat di hadapan muka Kai.


Kai justru beranjak dari duduknya dan berteriak lalu tertawa—berjalan dari pintu ke ruang tengah dan berulang kembali dengan masih berteriak.


“Hahaha, lihatlah…”


“Dia benar-benar malu.”


“Hei, Kai! Sudah lupakan saja soal itu. Bukankah kalau tidak ada itu kau dan aku tidak akan seperti sekarang? Ingatlah itu saja, ya? Hahaha…”


“Hahaha…”


“Hei, mau sampai kapan kalian terus menertawaiku?”


“Entahlah, hahaha…”


“Tapi…”


“Apa?”


“Apa, Jeff?”


“Hmm…”


“Apakah kita benar-benar tertawa?”


“Anggap saja seperti itu. Meski masih ada mengganjal.”


“Kau baik-baik saja Sky? Kau juga, Kai.”


Kai dan aku saling bergandeng tangan di hadapan Jeff.


“Bukankah kita harus mengakhirinya?”


“Ya, kau benar.


“Tapi…”


“Apa?”


“Apa, Sky?”


“Itu juga semakin membuatku takut. Jika itu adalah orang terdekatku.”


Ting tong!


Suara bell yang semakin membuat anggapan sesuatu akan terjadi.


Sky berjalan membuka pintu tanpa ragu. Tangannya memberi isyarat pada Kai dan Jeff untuk bersembunyi.


“Ken?”


“Hai,” ucapnya.


“Kau sendirian?”


“Iya, sendirian. Kita lama tidak bertemu,” tanganku masih menahan pintu.


“Maafkan aku, Sky. Semuanya baik-baik saja, kan?” tanyanya.


“Iya, baik-baik saja. Kau…”


“Ah, iya. Aku…”


“Apa kau datang untuk menjelaskan?”


...***...