Suddenly

Suddenly
Empty Space



“Hahaha…”


“Kau percaya itu?”


“Kau keterlaluan, Kai!”


BRAK!


Angin yang berembus membantuku menutup pintu dengan suaranya yang cukup kencang.


Kupikir Kai akan masuk begitu pintu tertutup, Kai justru mengirim pesan dan mengatakan dia akan kembali.


Bukankah ucapannya terdengar benar adanya?


“Aku mulai menyukai Rania.”


Apa maksudnya?


Mengapa Kai harus mengatakan itu sebagai bahan bercandaannya?


Apa yang ada di pikiranmu sebenarnya, Kai?


Tepat pukul 12 malam, Green sempat mengantarku ke apartemen sebelumnya. Bahkan aku tak menyadari itu.


Meski jaraknya tak jauh, mengapa rasanya ingin kembali?


Apa aku gegabah telah mengambil keputusan terlalu cepat?


“Kapan kau akan berangkat?” tanyaku.


“Meski kau tahu aku tidak akan membiarkanmu muncul di hadapanku karena itu akan membuatku semakin sulit untuk pergi.”


“Bukankah kau akan kembali bertemu denganku?”


“Jika itu bisa, Sky. Hei, kau semakin terlihat kejam dari ucapanmu yang terdengar seperti menahanku untuk tidak pergi.”


“Kalau aku manahanmu untuk tidak pergi, kau akan melakukannya?”


“Ya, tapi kau harus menerima pengakuanku.”


“Hei, itu pemaksaan!”


“Kau juga melakukan pemaksaan dengan menahan seseorang untuk tidak pergi.”


“Hahaha…”


“Apa itu membuatmu senang?” Green meletakkan tangannya di ujung kepalaku.


“Ah, maaf…apa sebenarnya kau tidak ingin pergi?” ucapku.


“Apa manusia bisa bertahan sampai menua? Aku tidak tahu kita sempat bertemu atau tidak.”


“Hei, ada apa dengan ucapanmu itu? Kau sungguh tidak ingin kehilangan ketampanan yang kau punya?”


“Sepertinya,” Green dengan senyumannya lagi.


Senyuman yang seolah-olah memberi tahumu, kau akan kehilangannya.


“Terima kasih untuk semuanya, Sky.”


“Kenapa kau berterima kasih padaku? Bahkan aku telah menyakitimu.”


“Tidak, kau hanya mengatakan yang sebenarnya.”


“Tapi kau menghilang begitu saja, Green.”


“Malam ini mungkin menjadi kesempatan yang datang untukku sebelum berlalu.”


“Hei, kau tak akan berlalu begitu saja, Green. Kita akan bertemu nanti.”


“Terima kasih, kau dan aku sempat bertemu sebelum…”


“Sebelum apa, Green?”


“Sebelum aku pergi, hahaha…”


“Sudah kubilang kau tidak pergi, kau dan aku hanya berbeda benua bukan dunia.”


“Rasanya seperti berbeda dunia, bagaimana jika itu terjadi?”


“Kau tidak akan pergi ke mana-mana, Green.”


“Bolehkah aku menghubungimu…setiap saat?” ucapnya dengan mengacak-acak rambutku.


“Kenapa kau bertanya? Tentu saja, kau bisa menghubungiku sekali pun berbeda waktu.”


“Haha, aku akan mebangunkanmu.”


“Tidak masalah jika kau tidak berbicara omong kosong, hahaha.”


Green mulai ngusap-usap kepalaku dengan tatapannya yang seharusnya kuhindari. “Hei, berhentilah memaikan rambutku!”


“Kenapa kau mencoba menghindari tatapanku?” ucap Green. Tidak mungkin Green tidak menyadarinya.


“Tidak.”


“Jadi, kau berangkat kapan, Green?”


“Sudah kubilang aku tidak akan memberi tahumu.”


“Kurasa itu besok, apa aku benar?”


“Mungkin,” jawab Green.


“Ya,” tatapan Green membuatku bertanya-tanya.


“Green…”


Sky berdiri menghadap Green. “Baiklah, aku akan masuk. Terima kasih telah mengantarku pulang dan entahlah, hehe…”


“Apa kau kecewa?” tanyanya.


“Entahlah, rasanya aneh tapi tidak tahu penyebabnya. Kuharap kita bisa bertemu dan terima kasih telah menjawab apa yang selama ini…”


Tidak!


Green memelukku erat. “Aku menyukaimu, Sky. Bolehkah aku mengatakan itu? Haha…,” Green mengatakan itu tepat di telingaku.


Lalu melepas pelukan itu. Berpaling dari hadapanku dan berlalu.


Sky meringkuk di dalam balutan selimut yang hanya memperlihatkan kedua matanya.


Lampunya pun padam. Hanya layar proyektor yang membuat ruangnya sedikit terang. Ia menonton film yang sama—setiap hari ia menontonnya.


Ponselnya terus berdering sampai detik-detik terakhir kehabisan daya.


Ia sempat tertidur dan terbangun begitu cepat. Seperti tidak ingin melakukan apa pun atau pergi ke mana pun. Ia juga menikmati makanannya di ranjang.


Terdengar suara pintu yang terbuka.


Sky membalikkan badannya menghadap tembok. Memejamkan matanya dan membuatnya semakin tenggelam di dalam selimut.


Terdengar suara langkah kaki yang mendekat. Kai memanggilnya berulang kali.


“Kau tidur?” Kai mengusap-usap kepalaku.


“Ya,” jawabku seketika.


“Hahaha, kau pura-pura tidur.”


“Kau mulai menyukainya?”


“Kenapa kau membahasnya lagi? Aku hanya…”


“Bercanda? Kau akan mengatakan itu? Untuk apa, Kai? Untuk apa kau tiba-tiba mengatakan itu dengan alasan kau hanya bercanda tapi seolah itu benar terjadi, bukankah seperti itu?”


“Kau mulai menyukainya, Kai?”


“Itu membuatku muak, apa yang kau pikirkan seolah benar-benar terjadi dan membuatku berkata seperti itu tanpa kusadari. Aku tidak serius dengan ucapanku dan aku melihatmu bersama Green malam itu.”


“Green akan pindah dan apa yang kau lihat hanya sebuah berpisahan. Sekacau apa pun, aku tidak akan mengatakan seperti itu, Kai. Kau terdengar seolah sengaja mengatakannya.”


“Entahlah, mengapa aku melakukannya? Tapi itu tidak terjadi, Sky. Aku tidak punya maksud seperti itu. Aku hanya—entahlah…”


“Kau sering bertemu dengannya setelah aku dan kau tidak pernah bertemu?”


“Iya, mungkin setiap hari.”


“Kurasa itu penyebabnya,” jawabku.


“Kau punya ruang kosong yang bisa kau isi jika kau mau. Kau seperti itu, Kai. Sekarang ruang kosong itu, apa terisi dengan dua pintu dan membuatmu bingung?”


Ruang kosong yang bisa kau isi jika kau mau. Ruang kosong yang bagiku adalah sebuah jebakan bagi semua orang untuk menentukan pilihannya. Di dalam pilihan itu tetap sama dengan apa terjadi di kehidupan; mengambil atau melepasnya?


Pintu-pintu itu sebagai jawaban atas pilihan yang akan terpilih.


Jika sudah mengetuknya dengan tanpa keraguan sebelum benar-benar masuk terlalu dalam dan sebelum pintu itu kembali tertutup, barulah waktu akan merasuk ke dalam pikiranmu bersama momen yang terjadi.


“Sky…”


Sky menepis genggaman tangan Kai. “Itulah mengapa kau merasa bingung dengan perasaan yang ada padamu, Kai.”


“Kita tidak bisa seperti ini, Kai. Kau memang ada di hadapanku tapi tidak juga.”


“Sky, aku tidak serius dengan apa yang kuucapkan.”


“Karena ucapan itu…itu mempengaruhi apa yang kupikirkan dan sikapmu padaku, Kai.”


“Maafkan aku, Sky. Aku tidak bermaksud seperti itu.”


“Tapi kau merasa bingung, Kai.”


“Sky, kau bukan…”


“Kurasa itu akan terjadi. Bukankah kau yang butuh waktu untuk berpikir, Kai?”


“Sky—aku tidak ingin itu terjadi.”


“Tapi sudah terjadi, Kai. Kau perlu waktu untuk berpikir dan memastikan perasaan apa yang ada padamu tapi…”


“Tapi itu membuatku takut.”


“Ruang kosong itu…”


“Ruang kosong yang kau punya untukku justru semakin luas.”


“Bisakah kau tidak memikirkan soal ruang kosong itu, Sky? Aku tidak ingin itu terjadi. Aku tetap Kai yang kau tahu. Maafkan aku, Sky.”


“Lalu bagaimana kalau kau memang benar-benar mulai menyukai Rania karena kau sering bertemu setelah hubungan kita yang seperti ini?”


“Kau salah sangkah, Sky. Aku tidak punya perasaan itu.”


“Tapi mengapa kau terlihat bingung, Kai?”


...***...